
Nina mulai masuk kerja kembali ke tokonya. Setelah beberapa bulan tak masuk, kini Nina kembali terjun langsung melihat keadaan tokonya. Masih seperti biasa, tak ada perubahan. Nina melihat Desi sedang melayani pembeli yang baru datang. Doni yang melihat kedatangan bu bosnya langsung memberi salam.
"Pagi ibu", sapa Doni.
"Pagi. Kamu ikut ke ruangan saya sekarang ya", kata Nina halus.
Walau tak mengerti maksud dan tujuan bosnya tapi Doni tetap melangkahkan kakinya mengikuti langkah bosnya.
Nina meletakan tas tangannya di atas meja kerjanya. Doni menunggu instruksi dari si bos.
"Duduk", kata Nina pada Doni.
Tanpa membantah Doni duduk di kursi di depan meja Nina.
"Begini, kamu tahu Dina akan menikah dan dia cuti selama satu bulan", kata Nina.
"Satu bulan, lama amat bu", celetuk Doni dengan gayanya yang sedikit gemulai.
"Cuma satu bulan Don. Dan tugas Dina saya percayakan sama kamu. Mulai sekarang kamu adalah tangan kanan saya setelah Dina", ujar Nina mantap.
"Apa Doni tidak salah dengar bu?Doni kan tidak sehebat Dina bu", kata Doni.
"Jangan merendah. Saya tahu kamu orangnya ulet dan pandai mengambil hati para pembeli. Kamu bisa menguasai dunia perbisnisan. Kamu juga jago dunia IT. Saya yakin kamu lebih pandai membuat usaha ini lebih maju melalui dunia IT. Saya lihat kamu juga orangnya jujur. Oleh sebab itu saya percayakan semuanya sama kamu", jelas Nina.
Doni seperti mimpi mendapat perlakuan istimewa dari sang bosnya. Doni diam tanpa kata. Hanya ekspresi wajahnya kalau saat ini hatinya sangat bahagia bisa mendapatkan posisi istimewa tersebut.
"Don, kamu baik-baik saja?", tanya Nina melihat Doni yang diam terpaku.
"Eehh iya bu maaf. Apa ini tidak berlebihan bu?", tanya Doni.
"Kamu pantas mendapatkannya. Mulai sekarang tugas Dina kamu yang handle. Kita juga rencananya akan membuka cabang di mall terbesar di kota ini. Dan nanti Dina yang akan mengurusnya. Kamu tetap disini dulu", kata Nina lagi.
"Baik bu. Saya akan laksanakan. Mohon bimbingannya kalau ada salah-salah dalam bertindak ", kata Doni.
"Pasti. Mulailah. Desi dan Desti biar saya nanti yang kasih tahu", kata Nina.
"Baik bu. Kalau tidak ada hal lain lagi, saya permisi dulu bu", kata Doni sopan.
"Iya silakan", jawab Nina.
Doni keluar dari ruangan Nina sang bigboss. Keluarnya Doni dari ruangan sang bigboss mengundang penasaran Desi dan Desti. Mereka berdua langsung menghampiri Doni.
"Ada apa bu bos manggil kamu?", tanya Desti penasaran.
Doni hanya tersenyum.
"Dapat bonus ya?", tebak Desi.
__ADS_1
"Besti-bestiku yang cantik nanti kalian juga tahu, udah kerja aja. Jangan kumpul-kumpul gini entar bigboss marah", kata Doni seraya berlalu dari hadapan kedua temannya tersebut.
Desi dan Desti hanya saling pandang.
"Hei, koq bengong. Ada yang belanja tuh", teriak Doni pada Desi dan Desti dengan gaya khasnya.
Desi dan Desti cepat menghampiri orang yang akan belanja tersebut. Para pengunjung mulai ramai. Toko Nina di datangi banyak pengunjung. Disamping tempatnya yang strategis, di toko Nina juga kategori barangnya lengkap. Jadi kalau mau cari oleh-oleh atau hanya sekedar cemilan, pusatnya ada di toko Nina. Nina juga menawarkan harga yang relatif murah. Nina belajar dari pengalaman saja. Dulu Nina pernah bekerja di rumah makan dan rumah makan tersebut menawarkan harga murah dari rumah makan lainnya dan alhasil banyak yang makan atau beli makanan disana. Yang penting lancar begitu kata yang punya rumah makan.
Nina yang melihat bisnis oleh-oleh di setiap daerah sepertinya sukses meraup banyak keuntungan. Nina tertarik untuk menekuni dunia bisnis tersebut dan ternyata membuahkan hasil.
Apalagi menjelang hari-hari besar seperti ini, banyak yang beli untuk sekedar oleh-oleh disaat mudik ke kampung halaman mereka.
"Mari bu silakan, ini kuenya enak lho bu. Kita banyak variannya", kata Desi pada seorang pengunjung.
"Iya sepertinya enak nih ma", kata lelaki di samping ibu tersebut. Bisa di pastikan kalau bapak itu adalah suami dari ibu tersebut. Ibu tersebut mengambil beberapa varian dan memasukkannya ke dalam keranjangnya.
"Kita juga punya makanan khas dari indonesia bagian timur bu, itu ada di sebelah sana. Ibu bisa mendapatkannya semuanya disini dengan harga terjangkau", ujar Desi lagi.
"Boleh juga tuh, ayo ma kita beli juga. Sekali-kali mencicipi makanan dari sana. Indonesia memang oke. Setiap daerah mempunyai makanan khas masing-masing", kata bapak tersebut seraya menuju tempat yang di maksud oleh si Desi.
Nina keluar dari ruangannya bermaksud menemui Desi dan Desti. Tapi ketika keluar dia melihat Desi sedang melayani pembeli. Nina tersenyum saat tahu siapa orang sedang berbelanja di tokonya tersebut.
"Om Bowo tante Hanny", sapa Nina pada kedua orang tersebut.
"Nina kamu disini juga", kata ibu itu pada Nina.
"Ooh jadi ini toko kamu, hebat kamu. Rame lagi", puji mama Hanny.
"Alhamdulillah tan, walau baru setahun buka tapi kita sudah banyak relasi dan pelanggan disini", kata Nina.
"Keren kamu Nin. Oh iya apa kabar cucu mama?mama pingin main kesana tapi masih sibuk", kata mama Hanny.
"Baik. Ini hari pertama di tinggal. Semoga saja tidak rewel", ucap Nina.
"Des, ini belanjaan om dan tante nanti gak usah bayar ya. Hari ini gratis aja buat mereka", kata Nina lagi pada Desi.
"Baik bu", jawab Desi manut.
"Tante tahu dari mana toko ini?", tanya Nina pada mama Hanny.
"Om kamu. Katanya dia lihat di medsos. Om kamu kan penjajal makanan. Dia suka mencari atau mencicipi makanan yang belum pernah di makannya", kata mama Hanny seraya melirik pak Bowo yang ada di sampingnya.
"Itu baru pencinta kuliner benaran. Iya gak om?", kata Nina.
Pak Bowo hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Nina dan mama Hanny tertawa.
Setelah puas bercengkrama, mama Hanny dan pak Bowo mengambil beberapa makanan dari Indonesia bagian timur. Nina menyuruh Desi untuk mengambil paper bag untuk mengemas makanan yang ada di keranjang mama Hanny.
__ADS_1
"Benar nih gak usah bayar?", tanya pak Bowo pada Nina.
"Iya om, gratis untuk om dan tante", kata Nina sambil terkekeh.
"Iya udah kalau gitu. Terima kasih banyak ya. Nanti kapan-kapan kesini lagi", ucap pak Bowo.
"Iya om. Ajak para koleganya om biar saling menguntungkan", kata Nina.
"Siap", kata pak Bowo.
"Ayo Nin kita pulang dulu. Terima kasih banyak ya. Semoga usahanya tambah lancar", kata mama Hanny.
"Iya sama-sama tan. Aamiin", jawab Nina.
Mama Hanny dan pak Bowo keluar dari toko tersebut dan pulang. Nina kemudian memanggil Desi dan Desti.
"Desi, Desti kemari", kata Nina.
Desi dan Desti mendekat.
"Iya ada apa bu?", tanya Desi yang paling vokal di antara mereka.
"Dina kan ambil cuti dan setelah habis masa cutinya dia akan saya pindahkan ke cabang. Oleh sebab itu tugas dan tanggungjawabnya saya alihkan ke Doni. Jadi mohon kerjasamanya ya demi kelancaran usaha kita ini", kata Nina.
"Siap bu", jawab Desi dan Desti serempak.
"Iya sudah kembali kerja sana, kalau ada apa-apa konfirmasi langsung dengan Doni", kata Nina lagi.
"Baik bu", jawab Desi dan Desti kembali bersamaan.
.
.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku.
Jangan lupa like, komentar dan votenya ya.
Mampir juga yuk ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1
Salam...