
Telepon di atas mejanya berdering. Nina mengangkatnya.
"Kemarilah", kata suara yang tak lain adalah Jimmy.
Nina meletakkan telepon tersebut dan menuju ruangan sang suami.
"Hari ini ada rapat penting di hotel XX tapi aku tak bisa hadir, aku ada urusan. Nanti kamu temani Marsel ke sana", terang Jimmy.
"Tapi aku kan tidak tahu apa yang akan di bahas", Nina protes.
"Tugas kamu itu hanya nemani Marsel, karena aku tak bisa hadir, ingat kamu itu isteriku, kamu harus siap menggantikan aku kalau aku berhalangan", jelas Jimmy.
"Baiklah. Emangnya Abang ada urusan apa?", tanya Nina penasaran.
"Mau ketemu teman, masalah saham", jelas Jimmy singkat.
"Oohh gitu, baiklah", kata Nina seraya berlalu dari ruangan Jimmy.
"Aku pergi dulu ya, ingat jangan nakal", ancam Jimmy.
"Iya abang sayang", kata Nina lembut.
Jimmy meninggalkan kantornya. Dia menuju sebuah hotel yang di janjikan oleh seseorang.
"Kenapa harus di sini sih bertemunya?kalau ada yang lihat gimana?", tanya Jimmy.
"Peduli amat. Aku butuh kejelasan dari kamu tentang hubungan kita", katanya.
"Prili aku butuh waktu, aku tidak tahu caranya bagaimana menjelaskannya pada Nina. Aku yakin dia akan kecewa berat kalau tahu ini semua", kata Jimmy lemas.
Jimmy duduk di kursi dalam kamar tersebut. Tanpa ragu Prili duduk di dekat Jimmy. Jimmy menggeser tubuhnya.
"Kenapa sih?bentar lagi kita juga akan menikah, kaku banget", kata Prili kembali mendekat kepada Jimmy.
"Prili mengertilah ada hati yang harus aku jaga, aku tak mau dia shock mendengar ini semua", jelas Jimmy.
"Aku tak mau tahu. Pokoknya kalau kamu ingkar, kamu akan tahu akibatnya", ancam Prili.
"Prili jangan begitu, aku bukan pengecut, aku akan tanggung jawab tapi tolong jangan lampaui batasanmu", jelas Jimmy.
"Oke. Sekarang temani aku ke mall", kata Prili santai.
"Prili gak mungkinlah, sekarang Nina sudah kerja lagi, dia pasti menungguku di kantor, ku mohon mengertilah", ujar Jimmy memelas.
"Kalau begitu aku ikut ke kantor, biar aku yang bicara padanya", kata Prili bangun dari tempat duduknya.
"Prili jangan gila kamu, atau aku akan membatalkan semuanya", ancam Jimmy seraya menarik tangan Prili.
Prili malah tertawa.
"Jimmy sayang, kamu kira aku takut dengan gertakan kamu. Sudahlah temani aku ke mall sekarang. Aku tak akan macam-macam", kata Prili.
"Ya sudah, bentar aja ya", kata Jitu dong dari tadi jadi gak perlu kencang urat leher", ledek Prili.
"Ayo", kata Jimmy pada Prili.
Prili dengan sigap menggandeng tangan Jimmy. Jimmy menepis tangan Prili.
"Jangan norak", ucap Jimmy.
"Pelit amat sih", kata Prili.
Jimmy mempercepat langkahnya. Prili terpaksa mengimbangi jalaanya Jimmy.
Mereka tiba di sebuah mall. Jimmy berjalan di belakang Prili.
__ADS_1
"Kamu itu calon suami aku, ngapain juga jalan di belakang aku terus, mesra dikit kenapa sih, jual mahal amat jadi orang", gerutu Prili
"Baru calon, belum jadi suami", bantah Jimmy.
"Iya iya tapi gak harus di belakang juga kali", kata Prili mensejajarkan tubuhnya dengan Jimmy.
"Kamu mau beli apa?aku gak banyak waktu, cepetan!", kata Jimmy mengingatkan Prili.
"Iya. Bawel banget sih", ujar Prili.
Sudah satu jam Prili mencari barang belanjaannya tapi belum ada tanda untuk menyudahi pencariannya.
"Kalau kamu masih lama, aku terpaksa meninggalkan kamu di sini", bisik Jimmy di telinga Prili.
"Gak koq udah selesai, yuuk", ajak Prili.
Jimmy hanya memperhatikan Prili yang menuju kasir. Jimmy menunggu di depan pintu. Barang belanjaan Prili sangat banyak. Prili kesusahan membawanya Jimmy tak tega, akhirnya Jimmy membantu Prili membawa barang belanjaan Prili.
"Lain kali kalau mau belanja bajyak gini harus bawa sopir atau satpam biar gak ribet gini", protes Jimmy.
Prili tak menghiraukan perkataan Jimmy. Jimmy dan Prili keluar dari mall tersebut. Saat akan menuju parkir mereka berpapasan dengan Adelia adiknya Nina.
"Kak Jimmy", seru Adel.
"Adel", kata Jimmy kikuk.
"Koq kak Jimmy gak ngantor malah ke mall?ini siapa?", tanya Adel curiga.
"Ohh ini klien kakak, tadi kebetulan kami ada meeting jadi sekalian dia belanja di sini", kata Jimmy sedikit berbohong.
Adel mengeryitkan dahinya.
"Meeting pakai acara belanja-belanja segala", batin Adel.
"Iya kak, sekalian jalan-jalan cari angin", jawab Adel seraya melirik ie arah Prili.
Prili hanya tersenyum tak ada sepatah kata pun dari mulutnya. Dia hanya menjadi pendengar yang baik.
"Oh ya udah kak, Adel masuk dulu", kata Adel, matanya sempat menangkap senyum sinis dari Prili.
"Baiklah, hati-hati ya salam buat ibu', kata Jimmy.
"Iya kak", kata Adel sambil berlalu.
"Siapa?", tanya Prili ke Jimmy.
"Adel adik iparku, adiknya Nina", jelas Jimmy.
"Ooh", kata Prili singkat.
Jimmy memasukkan barang-barang belanjaan Prili. Jimmy mengantarkan Prili pulang. Setelah itu Jimmy kembali ke kantor tepat jam makan siang.
"Bagaimana hasil meetingnya?", tanya Jimmy ke Nina.
"Sukses. Kak Marsel memang patut di acungi jempol. Dia pinter banget mengambil hati mereka, salut!", puji Nina ke Marsel.
"Koq jadi muji Marsel", kata Jimmy.
"Mulai deh, aku memujinya itu tulus, orang dia memang berbakat, jadi patutlah dapat pujian", protes Nina.
"Asal tidak ada maksud lain", sindir Jimmy.
"Jangan bicara ngawur Bang, aahh sudahlah sekarang kita makan aja dulu, udah laper nih", ujar Nina.
"Itu lebih baik", kata Jimmy seraya merengkuh bahu Nina.
__ADS_1
"Nanti ada yang lihat", kata Nina seraya melepaskan tangan Jimmy dari bahunya.
"Biarin, biar semua orang tahu bahwa kamu adalah isteriku", jelas Jimmy.
"Ayo ahh kelamaan", kata Nina melangkahkan kakinya mendahului Jimmy.
Jimmy mensejajarkan langkahnya dengan Nina. Mereka menuju mobil dan Jimmy mulai melajukan kendaraannya. Mereka menuju rumah makan favoritnya Jimmy.
"Mau makan apa?", tanya Jimmy pada Nina
"Terserah abang aja deh, aku nurut aja", ucap Nina
Jimmy memesan menu favoritnya. Tak lama pesanan pun datang.
"Silakan Pak, Bu", kata pramusaji pada keduanya.
"Terima kasih Mas", kata Nina sambil tersenyum.
Pramusaji pun tersenyum dan meninggalkan Jimmy dan Nina.
"Obral banget tuh senyum", sindir Jimmy.
Rasa cemburu menyelimuti hati Jimmy. Nona menghela nafasnya.
"Sudah ahh jangan mulai lagi, yuuk kita makan", kata Nina tak lagi memperdulikan raut wajah Jimmy yang sedikit dongkol.
Jimmy memandang wajah Nina dalam. Jimmy sangat takut kehilangan Nina. Jimmy tidak tahu harus mulai dari mana untuk bilang ke Nina tentang hubungannya dengan Prili. Jimmy merasa tak tega. Apalagi sekarang Nina lagi mengandung anaknya. Nina tak sengaja menangkap basah pandangan Jimmy.
"Ada apa?masih marah yang tadi", tanya Nina.
Jimmy menggelengkan kepalanya. Ada perasaan bersalah di hatinya. Jimmy menyelesaikan makannya dengan sangat cepat. Ada emosi di sana. Nina merasa ada yang aneh pada suaminya. Tapi Nina tak mau menebak. Takut salah.
Setelah selesai makan keduanya kembali ke kantor. Jimmy sengaja menggandeng tangan Nina biar karyawannya melihat aksinya. Benar saja, mereka ada yang mulai bergosip. Jimmy berhenti di tengah ruangan tersebut.
"Ohh iya untuk semuanya, besok kita ada acara di kantor, untuk syukuran kita berdua, di harapkan untuk datang tepat waktu", kata Jimmy mengumumkan pada karyawannya.
Nina melongo tak percaya akan apa yang Jimmy lakukan..
"Gea tolong urus semuanya ya, nanti Marsel akan turun tangan bantu kamu", kata Jimmy pada Gea yang di percaya di bagian perlengkapan di kantor tersebut.
"Siap Pak", kata Gea tegas.
Jimmy menoleh pada Nina.
"Ayo sayang", kata Jimmy mengajak Nina kembali ke ruangan mereka.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readers.....
Maaf slow respon.
Bantu like, komen dan juga votenya ya...
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi(tamat).
"
__ADS_1