
"Koq gak bilang dari kemarin sih bang, aku kan bisa siap-siap. Suka banget dadak-dadakan deh", ujar Nina setelah tiba di rumah mereka.
"Lupa sayang. Apalagi kalau sudah dekat sama kamu lupa segalanya", ucap Jimmy.
"Gombal! jangan-jangan Prili juga dapat rayuan seperti itu dari kamu", kata Nina cemberut.
"Maaf nyonya, saya bukan tipe pengobral gombalan", kata Jimmy dengan mimik di buat-buat.
Nina mencibir.
"Mana aku tahu", kata Nina seraya menuju kamar mandi.
Tak lama Nina keluar kembali.
"Kamu gak mandi?", tanya Jimmy karena melihat Nina cuma sebentar ke kamar mandi.
"Udah dong. Pagi-pagi udah mandi", kata Nina.
Nina mengambil baju kerjanya. Dan memakainya.
"Bang, gimana ini?", kata Nina setelah memakai baju kerjanya.
Jimmy malah tertawa lepas. Nina cemberut.
"Koq ketawa sih bang, gak muat lagi ini bajunya. Gimana dong?", tanya Nina.
"Baju kerja kamu kan banyak, coba cari yang lain", kata Jimmy masih dengan tawanya.
Nina melepaskan pakaian tersebut. Nina kembali memakai dasternya. Nina mencari pakaian kerjanya. Akhirnya Nina menemukan celana kulot berwarna hitam dengan pinggang karet. Nina tersenyum.
"Akhirnya dapat juga, padukan dengan kemeja ini aja terlihat lebih besar. Tinggal luarnya nanti pakai blezer aja", gumam Nina.
Nina mengambil kemeja kotak-kotak dan blezer yang tergantung di lemarinya. Nina meletakkannya di tempat tidur. Nina kemudian menyiapkan pakaian untuk Jimmy suaminya. Kemudian Nina duduk di depan meja riasnya dan mulai memoles wajahnya. Jimmy memakai pakaiannya yang sudah di siapkan oleh Nina.
Nina selesai memoles wajahnya. Nina selalu menggunakan make-up tipis di wajahnya. Lalu Nina memakai pakaian yang tadi di siapkannya. Setelah selesai Nina menyisir rambutnya dan membentuknya seperti gelungan dengan menggunakan jepit tusuk. Jimmy terpana melihat penampilan Nina. Nina terlihat sangat elegan walau perutnya sudah membuncit.
"Wooww", kata Jimmy refleks.
"Kamu makin cantik saja sayang, aku jadi maunya nempel terus ini", kata Jimmy.
"Kita mau kerja jangan di pandang terus, nanti yang ada urung kerjanya", kata Nina seraya mengambil tas kecil yang ada di lemarinya.
Nina yang melihat Jimmy sudah selesai, langsung menggandeng tangan Jimmy.
"Ayo kita berangkat", ajak Nina.
"Oke cintaku", Jimmy melangkah dengan menggandeng tangan Nina.
"Seandainya tidak ada Prili, mungkin kebahagiaan ini hanya menjadi milikku", batin Nina sambil bergelayut manja di lengan Jimmy.
Jimmy dan Nina masuk ke dalam mobil. Perlahan Jimmy melajukan kendaraannya menuju tempat bekerjanya.
__ADS_1
"Sya, mulai hari ini pak Marsel tidak masuk kerja. Menjelang hari pernikahannya sampai dengan bulan madunya berakhir maka tugasnya akan di ambil alih oleh ibu Nina isteri saya selama satu bulan kedepan. Jadi kalau ada apa-apa dan kurang jelas bisa di musyawarahkan langsung dengan beliau ", jelas Jimmy pada Marsya sekretarisnya setelah tiba di kantor.
"Baik pak", kata Marsya sambil mengangguk hormat pada Nina.
"Oke itu saja, silakan lanjutkan pekerjaan kamu", kata Jimmy pada Marsya.
"Baik pak", jawab Marsya kemudian kembali menuju meja kerjanya.
"Kamu boleh menuju ruangan kamu sekarang atau kalau mau Marsya bisa mengantar kamu ke ruangan",kata Jimmy pada Nina.
"Tidak usah bang, aku bisa sendiri koq", jawab Nina.
Nina menuju ruangannya sedangkan Jimmy menuju ke ruangannya. Di saat menuju ruangannya Nina berpapasan dengan Tika sahabatnya.
"Hei bumil cantik, tumben ke kantor", sapa Tika.
"Kangen kamu", Nina berseloroh.
"Masa' sih!?", ucap Tika.
Kedua sahabat itu tertawa. Mereka akhirnya cipika-cipiki dan berpelukan membuang rasa rindu.
"Montok kamu sekarang ya", ujar Tika.
"Berkat di pupuk jeng", canda Nina.
Keduanya kembali tertawa. Nina mengajak Tika ke ruangan Marsel yang sekarang jadi ruangannya.
"Ikut aku bentar", ajak Nina.
Keduanya wanita tersebut menuju ruangan Marsel.
"Koq ke ruangan pak Marsel, ada apa?", tanya Tika tak mengerti.
"Kak Marsel di kasih cuti selama satu bulan, dan kursi ini untuk sementara waktu aku yang dudukin", jelas Nina.
"Serius?", tanya Tika tidak percaya.
Nina mengangguk sambil tersenyum.
"Asiikk bisa kumpul tiap hari sama kamu", kata Tika seraya menepuk bahu Nina.
"Asal jangan lupa kerjaan aja, aku bisa pecat kamu", kata Nina.
Kembali kedua sahabat itu tertawa lepas. Walau sekarang Nina sudah menjadi isteri bos besar tapi cara dan hatinya masih tidak berubah.
****
Prili merasa Jimmy tidak peduli lagi padanya. Dua hari ini Jimmy tak ada kabar berita. Prili benar-benar kesal di buatnya.
"Kemana tuh orang ya. Jangan mentang-mentang anaknya tidak ada lagi di perutku, dia tidak mau lagi berhubungan denganku", gerutu Prili.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan si Nina sudah menggunakan pelet sehingga Jimmy tak ada peluang untukku", tebak Prili.
"Lihat saja nanti, tunggu aku sehat", gerutu Prili.
Prili mengambil ponselnya. Ia mencari nama Jimmy suaminya. Dan mulai menghubungi Jimmy. Telepon tersambung tapi tidak di angkat. Prili mencoba beberapa kali tapi tetap gak ada jawaban.
"Jangan bilang kamu mau jaga jarak denganku", gerutu Prili.
Prili mencoba duduk di sandaran tempat tidur. Prili merenungi nasibnya. Tiba-tiba air mata Prili jatuh membasahi pipinya. Ia tidak sanggup bila harus berpisah dari Jimmy. Cintanya untuk Jimmy begitu besar sehingga tak ada tempat yang tersisa untuk lelaki manapun.
"Kamu cintaku mas, aku tidak akan bisa hidup tanpamu, ku mohon jangan pergi dariku ", batin Prili.
Sementara itu Jimmy yang baru saja keluar selesai dengan berkas-berkasnya, baru bisa meregangkan otot-ototnya. Jimmy melenturkan ototnya dengan posisi pinggang di tegak luruskan dan kedua tangan di angkat dengan telapak tangan saling menggenggam satu sama lainnya.
"Hhhh", Jimmy menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Selesai juga. Sebaiknya ku telepon ayang beib dulu", ucap Jimmy.
Jimmy mengambil ponselnya. Jimmy bermaksud menelpon Nina. Jimmy terkejut saat melihat ada beberapa kali panggilan tak terjawab dari Prili.
"Prili, jangan-jangan dia kenapa-napa lagi", Jimmy coba menebak.
Ponsel Jimmy sengaja di mode silentnya semalam, Jimmy lupa mengembalikannya ke mode normal. Sehingga dia tak mendengar panggilan masuk dari Prili. Jimmy mencoba menghubungi Prili. Belum sempat bicara, Jimmy sudah di sambut dengan omelan.
"Kamu kemana aja sih. Di telepon gak di angkat. Kamu sengaja kan mau menghindari aku?kamu kecewa karena aku gak jadi beri kamu anak, iya kan?kamu tidak lihat kalau aku tulus cinta sama kamu?kamu...", Prili tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Ia menangis sesenggukan.
"Kamu ngomong apa sih?aku lagi sibuk. Ini baru selesai ngurus berkas dan lain-lainnya. Kamu jangan berpikiran yang nggak-nggak. Ponselku sengaja ku silent, biar kerjaku fokus bukan menghindari kamu", jawab Jimmy.
"Sudah berhentilah menangis. Sebaiknya kamu istirahat, makan dan minum obatnya biar cepat sehat. Jangan berpikiran yang macam-macam ", lanjut Jimmy lagi.
Prili perlahan menghentikan tangisnya. Ia mengusap air mata yang masih menempel di pipinya.
"Tapi sore nanti kamu kesini kan?", tanya Prili.
"Iya", jawab Jimmy singkat.
Pintu ruang kerja Jimmy terbuka. Jimmy melongo saat tahu siapa yang masuk.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku terkasih.
Jangan lupa like, komen dan votenya juga ya.
Terima kasih ya buat yang sudah like dan komennya.
__ADS_1
Yuukk mampir juga ke karyaku yang lain:
Masih Ada Pelangi (tamat).