Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Pilihan sulit


__ADS_3

Semenjak tahu kehamilan Nina, Jimmy menjadi suami yang siaga. Dia selalu ada buat Nina isterinya. Segala kebutuhan Nina, Jimmy yang siapkan. Jimmy merasa kasihan melihat Nina yang mengalami mual dan muntah yang sangat berpengaruh pada aktifitasnya sehari-hari. Hari itu Jimmy membujuk Nina agar Nina tidak bekerja lagi. Apalagi sekarang Nina lagi mengalami masa sulit dalam kehamilannya.


"Sayang aku tidak tega lihat kamu seperti ini, mulai hari ini kamu tidak usah bekerja lagi, kamu di rumah saja. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Jaga kandungan kamu, jaga anak kita. Kamu istirahat saja di rumah ya", ujar Jimmy.


"Tapi aku bosan di rumah terus Bang, lagian kamu tak ada yang bantu di kantor", bantah Nina.


"Untuk sementara biar Marsel yang bantu, selanjutnya kita rekrut sekretaris baru jadi tak usah risau", ujar Jimmy.


"Aku terima untuk sementara waktu kak Marsel yang bantu tapi aku tidak mau Abang cari sekretaris baru", jawab Nina.


Jimmy mengeryitkan dahinya.


"Kenapa?", tanya Jimmy.


"Aku akan tetap bekerja setelah melewati masa ini, aku tidak mau hanya makan tidur di rumah saja", jawab Nina.


"Bukan karena kamu cemburu kan?", goda Jimmy.


" Enggaklah Bang, aku hanya ingin kerja gak ada hal lainnya. Di rumah sendirian akan tambah membuatku jenuh", bantah Nina.


"Baiklah kalau itu mau kamu tapi jangan capek-capek ya, soal itu akan kita pikirkan lagi nanti", kata Jimmy sambil mengelus rambut Nina.


Nina tersenyum sambil mengangguk. Jimmy berangkat kerja tidak lupa ia Jimmy memberikan ciuman di perut Nina.


"Papa kerja dulu ya sayang, jangan buat susah mama ya", kata Jimmy.


"Iya Papa sayang", jawab Nina sambil terkekeh. Jimmy tersenyum.


"Abang pergi dulu ya", kata Jimmy.


"Iya Bang, pulangnya jangan telat ya", kata Nina manja.


"Pasti sayang", kata Jimmy sambil mencolek dagu Nina yang bak lebah menggantung.

__ADS_1


Nina mencium punggung tangan suaminya Jimmy. Nina mengantar Jimmy sampai pintu depan. Jimmy masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraannya pelan.Nina melambaikan tangannya pada Jimmy. Nina kembali masuk setelah Jimmy menghilang dari pandangannya.


****


"Eh mama tumben pagi-pagi udah di sini?", tanya Jimmy sedikit kaget melihat sang mama sudah ada di ruangannya.


"Mama mau bicara sama kamu", kata Liana sang mama tegas.


Jimmy menuju meja kerjanya. Meletakkan tas kerjanya. Lalu menghampiri sang mama yang ada di kursi tamu.


" Bicara masalah apa Ma?", tanya Jimmy setelah duduk di samping sang mama. Walau dalam hati Jimmy sudah bisa menebak apa yang akan di sampaikan oleh sang mama, tapi Jimmy tetap bertanya pada sang mama.


"Mama langsung saja ke pokok permasalahannya. Mama ingin kamu memikirkan masalah kemarin. Mama tidak mau keluarga kita di cap sebagai pembohong Jimmy. Mama tidak mau keluarga kita malu. Mama Prili adalah teman baik mama. Tolong bantu mama berpikir", kata sang mama dalam kebingungannya.


"Ma cinta itu tidak bisa di paksakan. Jimmy tidak mencintai Prili Ma, Jimmy hanya mencintai Nina. Apa susahnya sih Ma bilang ke mamanya Prili kalau perjodohan ini di batalkan. Banyak cara untuk menjalin silaturahmi Ma. Pokoknya Jimmy tetap tidak mau menikah dengan Prili", jawab Jimmy tegas.


"Kamu mau lihat Papa dan Mama mati cepat rupanya, kamu ingin perusahaan kita hancur", ujar sang Mama sambil menangis.


" Mama ngomong apa sih Ma. Jimmy hanya tidak mau menikah dengan Prili itu saja", jawab Jimmy.


Sang mama bangun dari tempat duduknya dan bermaksud keluar dari ruangan meninggalkan Jimmy. Jimmy kaget dengan kata-kata sang mama. Jimmy cepat menyambar tangan mamanya, menahan sang mama untuk tidak keluar dari ruangannya.


"Mama omong apa sih Ma. Kenapa Mama memberikan pilihan sulit untuk aku Ma. Jimmy hanya ingin menentukan pilihan Jimmy sendiri. Kenapa soal cinta pun aku harus di atur Ma?", ucap Jimmy kesal.


"Kamu sudah menentukan jalan hidupmu, jalanilah dan pergilah menjauh dari mama. Anggap saja kami sudah mati bagimu", kata Liana sambil berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Jimmy.


Jimmy yang selalu di sayang sang mama, hari ini dia seakan tak percaya sang mama bisa mengatakan itu semua dengan lantangnya.


Sang mama memberikan pilihan sulit bagi Jimmy. Satu sisi dia sangat mencintai Nina, satu sisi Jimmy sangat menyayangi kedua orang tuanya. Jimmy tidak mau kehilangan keduanya. Keduanya sangat di sayangi dan di cintainya.


"Ya Allah apa yang harus aku lakukan sekarang?", batin Jimmy.


"Menyingkir dari hadapan Mama, kamu akan saksikan mayat kami nantinya", ucap Liana berusaha menyingkirkan Jimmy dari hadapannya.

__ADS_1


"Ma tolong jangan berkata seperti itu, Jimmy sangat menyayangi kalian tapi Jimmy juga sangat mencintai Nina Ma. Tolong berikan Jimmy waktu untuk berpikir", kata Jimmy membuat keputusan.


"Baiklah, Mama kasih waktu pada kamu sampai besok pagi", kata sang mama sambil berlalu.


Jimmy terduduk lemas di kursinya. Pikirannya melayang pada Nina yang lagi hamil mengandung anaknya.


"Ya allah bagaimana ini?apa yang harus aku lakukan?aku sudah memiliki Nina, mana mungkin aku harus menikah dengan Prili juga", gumam Jimmy.


Jimmy benar-benar bingung. Dia tidak tahu harus bagaimana. Ini benar-benar pilihan sulit untuknya. Tidak mungkin dia memilih antara Nina dan orang tuanya. Dia sangat menyayangi keduanya. Apalagi Nina yang sekarang lagi hamil, mengandung anaknya. Sangat tidak mungkin untuk meninggalkan atau berpisah darinya.


Jimmy menarik-narik rambutnya. Kepalanya terasa sangat sakit memikirkan semuanya.


"Kalau ku terima usulan Mama, bagaimana perasaan Nina?dia pasti hancur. Kalau aku memilih Nina, aku juga sangat menyayangi kedua orang tuaku. Mereka pasti sangat kecewa dan malu, ohh my god, aku harus bagaimana?", kata Jimmy seraya memijit-mijit dahinya.


Jimmy bangun dari tempat duduknya. Jimmy mondar-mandir dalam ruangannya. Beberapa kali Jimmy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Jimmy menggebrak meja kerjanya. Dia benar-benar bingung harus bagaimana. Pikirannya kalut. Dia tidak bisa berpikir jernih. Jimmy melihat ke arah luar jendela. Tatapannya nanar. Dia tidak menyadari kalau ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya. Dan memeluknya dari belakang.


"Apa aku bisa membantumu?", kata suara tersebut.


Jimmy kaget bukan alang-kepalang.


"Kau!apa yang kau lakukan di sini?", kata Jimmy gugup.


.


.


.


Selamat membaca readers....


Jangan lupa like, komen dan votenya ya....

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku yang lain:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2