
Menstruasi bulan pertama setelah kunjungan ke dokter membuat Nina sedikit tenang. Bulan kedua Nina kembali mengalami menstruasi dan sedikit lebih lama dari biasanya. Sebagai orang awam, Nina merasa takut dengan darah menstruasi yang di alami karena sudah sepuluh hari masih juga belum berhenti. Nina kembali mendatangi sang dokter di tempat prakteknya. Nina menceritakan ketakutannya tentang darah menstruasinya tersebut.
"Saya takut dok, apa saya menderita penyakit lain lagi dok?", tanya Nina cemas.
Sang dokter tersenyum. Ia maklum akan ketakutan pasiennya tersebut.
"Begini, menstruasi pada setiap orang itu berbeda-beda. Masa atau jangka waktu pada orang itu pun tidak bisa sama. Biasanya bisa cepat dan bisa juga lambat selesainya. Dan paling cepat biasanya tiga hari dan paling lambat biasanya lima belas hari dan itu normal. Kecuali kalau dalam lima belas hari belum juga berhenti kemudian berlanjut di minggu-minggu berikutnya itu bisa di pengaruhi hormon atau bisa ada penyakit lain dengan catatan itu berlangsung terus menerus di bulan selanjutnya. Untuk sekarang menstruasi ibu masih normal", jelas sang dokter.
"Apa itu tidak ada hubungannya dengan penyakit yang saya derita dok?", tanya Nina masih bingung. Sang dokter kembali tersenyum.
"Bulan lalu ibu mengalami menstruasi dan sekarang, bulan kedua ini ibu juga mengalami menstruasi. Itu tandanya menstruasi bu Nina sudah teratur, bu Nina sudah sembuh sekarang", kata sang dokter pasti.
"Benaran dok?", tanya Nina seakan tak percaya.
Sang dokter mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih dok", kata Nina bahagia.
"Tapi perlu di ketahui penyakit itu bisa muncul lagi di kemudian hari. Yang terpenting bagi ibu jaga pola makan dan pola tidur, jangan stres dan jangan lupa olahraga", kata sang dokter.
"Apakah saya bisa hamil dok?", tanya Nina kembali cemas.
"Bisa. Jangan letih berusaha. Semoga ibu hamil dalam waktu dekat. Tingkatkan kerja malamnya ya bu", canda sang dokter sambil terkekeh.
"Dokter bisa aja", ujar Nina dengan senyum simpul.
"Yang terpenting hindari stress. Ini saya kasih obatnya lagi, makan yang teratur ya bu obatnya. Habiskan obatnya", kata sang dokter seraya memberikan secarik kertas berwarna putih pada Nina. Nina mengambil dan menyimpannya di dalam tas kecilnya.
"Terima kasih banyak dok, kalau begitu saya permisi dulu dok", kata Nina seraya menjabat tangan sang dokter.
"Sama-sama bu", jawab sang dokter.
Nina keluar dari dalam ruangan tersebut. Nina sedikit lega mendengar keterangan dokter yang menyatakan kalau dirinya sudah sembuh dari penyakit yang di deritanya. Nina bergegas menuju mobilnya. Tiba-tiba dia di kejutkan oleh tepukan di bahunya. Nina melihat ke belakangnya.
"Tika", ucap Nina refleks.
"Ngapain kamu kemari?", tanya Tika yang melihat Nina keluar dari ruangan dokter spesialis kandungan tersebut.
"Eh itu anu aku lagi gangguan datang bulan, sakit banget ini. Gak tahan, makanya kemari. Kamu sendiri kenapa kemari?", tanya Nina sekenanya.
"Jadi malu nih", jawab Tika dengan muka merah.
"Kamu hamil?", tebak Nina dengan muka bahagia.
Tika mengangguk malu.
"Waaww senang dengarnya, selamat ya. Sudah memasuki usia berapa bulan?", tanya Nina sambil memandangi perut Tika yang masih rata.
__ADS_1
"Baru satu bulan jeng", kata Tika tersenyum simpul.
"Sejak kapan kamu panggil aku dengan sebutan jeng?", tanya Nina.
"Sejak saat ini", jawab Tika sekenanya. Keduanya tertawa.
"Kamu sendiri kesini?", tanya Nina yang tak melihat siapapun bersama Tika.
"Iya sendiri. Mas Dedi belum pulang. Maklumlah secara kerja jauh", jawab Tika.
"Gak papa dong kan cari uang. Yang penting anaknya ada bersama kamu", kata Nina seraya mengusap perut Tika.
"Bisa aja kamu. Temani aku masuk ya", kata Tika seraya menggandeng tangan Nina.
"Kamu aja yang masuk, aku tunggu di luar aja ya", kata Nina.
"Boleh, yuuk!", ajak Tika.
Nina kembali ke ruangan dokter tersebut tapi dia lebih memilih untuk tinggal di luar. Tika masuk ke dalam ruang periksa dokter. Nina duduk di ruang tunggu. Selagi matanya asyik menelusuri setiap sudut ruangan, tiba-tiba ponsel Nina berdering.
"Bang Jimmy. Duh gimana ini?", gumam Nina ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Nina membiarkan ponselnya berbunyi. Ia tak mengangkat telepon dari Jimmy suaminya.
Ponsel Nina kembali berbunyi untuk kedua kalinya. Sejenak Nina memandang ponselnya.
"Angkat aja kali ya. Bilang aja tadi lagi di kamar mandi", gumam Nina.
"Kamu itu kemana sih?", tanya Jimmy setelah tersambung.
"Kamar mandi mana?", tanya Jimmy seakan mendeteksi keberadaan Nina.
"Di rumah lah bang, mau dimana lagi?", kata Nina menutupi keberadaannya.
"Di rumah?kamu yakin?kamu tahu sekarang abang ada dimana?", tanya Jimmy beruntun.
Nina terdiam.
"Kenapa abang nanyanya begitu ya?apa jangan-jangan dia sudah ada di rumah?", batin Nina.
"Dimana kamu sekarang?", tanya Jimmy lagi.
"Abang dimana?", Nina balik bertanya.
"Di rumah, abang tiba di rumah kamunya gak ada", jawab Jimmy.
"Bentar lagi pulang bang, tadi ketemuan sama Tika. Ia minta di temani ke dokter. Jadi aku temani. Tapi udah mau pulang. Aku baru keluar dari wc ini, masih nunggu Tika ", jelas Nina.
"Kalau sudah selesai langsung pulang, jangan kemana-mana lagi", ujar Jimmy.
__ADS_1
"Iya suamiku sayang", Ucap Nina.
Jimmy mengakhiri obrolan mereka. Nina kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya. Nina menghela nafasnya.
"Huuhh untung ada Tika jadi alasannya masuk akal", gumam Nina.
Setelah beberapa menit, Tika keluar dari ruangan tersebut. Nina langsung tegak dari tempat duduknya dan memberikan beberapa pertanyaan kepada Tika.
"Apa kata dokter?gimana keadaannya, sehatkan?sudah kelihatan belum jenisnya?", tanya Nina beruntun.
"Nanyanya satu-satu jeng", jawab Tika seraya melangkahkan kakinya keluar ruangan. Nina mengikuti langkah Tika.
"Kata dokter semuanya bagus. Tidak ada pantangan apapun. Bebas mau makan apapun. Yang penting jaga kesehatan", lanjut Tika lagi.
"Syukurlah, senang mendengarnya", sahut Nina.
"Kamu mau kemana lagi setelah ini?", tanya Tika.
"Pulang", jawab Nina singkat.
"Gimana kalau kita cari angin dulu?", tanya Tika ingin mengajak Nina jalan-jalan dulu.
"Pinginnya sih gitu tapi pak bosku sudah nelpon, di suruh cepat pulang", jawab Nina.
"Ohh. Padahal aku masih kangen sama kamu. Tapi ya udahlah lain kali aja. Entar pak bos marah lagi denganku, bisa di pecat aku dari perusahaan", jawab Tika sambil tertawa. Nina pun ikut tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Kita pisah disini aja ya, hati-hati di jalan", ucap Nina pada Tika.
"Yuupp. Kamu juga hati-hati", jawab Tika.
Setelah cipika-cipiki mereka menaiki kendaraan masing-masing dan pulang ke rumah masing-masing.
.
.
.
.
.
.
Lanjut lagi bacanya ya pembaca yang budiman.
Jangan lupa like, komen dan votenya juga ya.
__ADS_1
Mampir juga yuk ke karyaku yang lain:
Masih Ada Pelangi (tamat).