Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Sanksi


__ADS_3

Mendengar ada suara mobil yang datang, Nina mengintip dari balik gordennya. Dia melihat Jimmy keluar dari mobilnya. Nina membukakan pintu buat suaminya. Jimmy masuk ke dalam rumah tanpa melihat ke arah Nina. Nina menutup dan mengunci pintu rumahnya. Nina mengejar Jimmy menuju kamar mereka.


"Bang koq telepon nggak di angkat?jam segini baru pulang emangnya Abang dari mana?setahuku Abang gak ada dinas luar hari ini",tanya Nina beruntun.


"Abang capek banget, besok aja ya ceritanya", kata Jimmy mengelak.


Jimmy melepas pakaiannya dan mengambil celana pendeknya, Jimmy menghempaskan tubuhnya di kasur lalu tidur. Nina menghela nafasnya. Kesal, marah dan kecewa berkecamuk dalam dadanya. Segampang itu jawaban yang di berikan Jimmy padanya. Nina ingin menangis tapi itu percuma karena itu tak akan mengubah keadaan.


Nina berbaring di samping Jimmy. Lama Nina memandangi punggung Jimmy yang membelakanginya. Karena Jimmy sudah terlihat pulas, akhirnya Nina ikut tertidur juga.


Pagi harinya Nina terbangun lebih awal. Di lihatnya sang suami masih tertidur dengan pulasnya. Nina memandang wajah Jimmy yang sekarang tidur menghadap ke arahnya.


"Kelihatannya sangat letih tidurnya nyenyak sekali", batin Nina.


Nina beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Nina mengerjakan kewajiban sebagai umat muslim. Setelah itu Nina langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk sang suami dan dirinya.


Nina sangat piawai dalam urusan dapur. Dia memasak dengan lihainya. Setelah selesai memasak Nina kembali ke kamarnya. Di lihatnya sang suami membuka matanya.


"Jam berapa ini?", tanyanya pada Nina.


"Masih pagi, baru jam enam. Nyenyak tidurnya Bang", jawab Nina.


Jimmy tak menjawab perkataan isterinya. Dia malah menarik Nina ke pelukannya.


"Eehh", Nina limbung dan jatuh tepat di atas tubuh Jimmy.


Nina merasakan ada mengganjal di pahanya.


"Bang...", Nina bermaksud bertanya.


Jimmy merasakan aliran darahnya berdesir. Tubuhnya terasa panas dingin.


"Aahh ada apa denganku?aku menginginkan itu lagi", batin Jimmy.


"Sudahlah jangan banyak tanya, aku ingin kamu sekarang", kata Jimmy lagi tak selera untuk bicara.


Nina diam. Nina merasakan permainan yang di ciptakan Jimmy suaminya terasa kasar. Tapi sebagai seorang istri Nina tetap melayani suaminya, memberikan pelayanan terbaiknya untuk sang suami.


"Kamu memang yang terbaik sayang", puji Jimmy tulus.


Nina hanya tersenyum. Nina tak mau mengecewakan suaminya. Ia selalu menuruti apa yang di mau oleh Jimmy. Biar suaminya tidak bosan batinnya.


Kata-kata manis dan pujian tak henti-hentinya keluar dari bibir Jimmy. Jimmy benar-benar menikmati permainan yang di ciptakan oleh Nina pagi ini. Terasa indah dan mengasikkan di rasakan Jimmy.

__ADS_1


Jimmy bak kuda liar. Dia sangat tangguh. Nina hampir kewalahan. Tapi tetap berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyenangkan hati suaminya.


Sampai akhirnya Jimmy tak kuat lagi bertahan. Dia mengakhiri permainannya dengan rasa puas. Keduanya mencapai klimaksnya. Jeritan kecil lolos dari mulut keduanya.


Jimmy terkulai lemas. Berbeda dengan Nina walau terasa sangat melelahkan tapi dirinya tetap bugar.


"Mandi sana nanti kan mau kerja, selesai mandi kita sarapan", ucap Nina.


"Aku ingin mandi bareng kamu, boleh ya?", tanya Jimmy memandang wajah Nina. Ada rasa bersalah di hati Jimmy. Bagaimanapun dia telah mengkhianati cinta mereka.


"Tapi Bang...", Nina protes.


"Tidak ada kata bantahan oke", kata Jimmy sambil mengecup lembut bibir Nina.


"Bisanya maksa mulu", kata Nina cemberut.


Jimmy turun dari tempat tidurnya. Dia menggendong tubuh isterinya menuju kamar mandi. Nina melingkarkan tangannya di leher Jimmy sang suami dengan manja.


Pikiran Jimmy menerawang mengingat kejadian dia bersama Prili. Jimmy benar-benar kalut. Pikirannya berkecamuk. Lamunannya buyar saat Nina mengguyur tubuh Jimmy dengan air dingin.


"Ahh dingin sayang", Jimmy kaget.


"Makanya jangan melamun", kata Nina.


"Iishh", Nina memalingkan mukanya.


Jimmy memandikan Nina seperti anak kecil. Di sabuni, di keramas. Nina merasa sangat di manja.


"Sayang ini bangun lagi lho", kata Jimmy menggoda Nina.


"Bang udah ahh jangan macam-macam aku udah mandi ini", kata Nina ingin mengambil handuk.


"Tidak baik menolak keinginan suami", rayu Jimmy.


"Tadi kan udah Bang, malam lagi aja ya, kamu kan mau ngantor", bantah Nina.


"Bentar aja, apa nggak kasihan melihat Abang nanti uring-uringan", kata Jimmy sambil mualai beraksi.


Nina tak dapat bicara lagi saat bibir Jimmy sudah hinggap di bibirnya. Permainan pun tak terelakkan. Mereka kembali mereguk nikmatnya surga dunia. Jimmy benar-benar merasa puas. Dua kali bertempur membuat energinya terkuras. Tapi dia merasa lega dan sangat bahagia.


Selesai aktivitas mereka segera mandi. Lalu sarapan.


"Bang kemarin kemana pulangnya sampai malam gitu?", tanya Nina hati-hati.

__ADS_1


"Ada meeting dadakan, nunggu kliennya lama jadi malam baru selesai", Jimmy beralibi.


"Ooh gitu", kata Nina singkat tapi dalam hatinya masih sanksi atas jawaban suaminya.


"Abang berangkat dulu ya, jaga anakku jangan capek-capek", kata Jimmy seraya mengelus perut Nina.


"Iyaa", jawab Nina singkat.


Nina merasa ada yang janggal pada suaminya. Perhatian lebih yang di berikan Jimmy padanya seakan ada sesuatu yang di tutupi oleh suaminya. Nina sangat peka. Tapi Nina tak berani menebak atau memvonis apa yang sedang terjadi.


"Hati-hati di rumah, kalau mau di rumah mau keluar biar supir yang antar", kata Jimmy.


"Nggak ahh Bang, aku kalau ingin keluar mending nunggu Abang pulang aja", jawab Nina.


"Iya udah Abang berangkat dulu ya", Jimmy memeluk erat Nina. Lalu mencium dahi Nina cukup lama. Setelah itu barulah Jimmy pergi.


Nina mengelus perutnya yang masih rata. Nina masih berdiri di teras walau Jimmy sudah tidak terlihat lagi di pandangannya. Nina duduk di kursi teras rumahnya. Lama dia merenung di sana.


"Apa ada yang di sembunyikannya ya?sikap dan caranya dari semalam terlihat aneh ku rasa. Dia sepertinya tidak jujur padaku, tapi ahh sudahlah mungkin hanya perasaanku saja, mungkin karena dia sangat menginginkan anak ini", gumam Nina sambil mengelus lembut perutnya.


Nina masuk ke dalam rumahnya. Tiba-tiba Nina merasakan mual kembali. Nina cepat mengambil obat yang di berikan dokter. Ia meminum obat tersebut untuk mengurangi rasa mual yang timbul.


"Ahhh perutku kram", gumam Nina.


Nina memegangi perutnya yang terasa kram. Nina berbaring di ranjangnya yang empuk. Nina merasakan nafasnya sesak. Nina menselonjorkan kakinya. Beberapa kali mengambil nafas untuk meredakan kram di perutnya.


"Apa aku telepon Bang Jimmy dulu ya?", gumam Nina.


Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi, tanda ada tamu yang datang. Dengan masih memegang perutnya Nina membuka pintunya.


"Bang koq pulang lagi?", tanya Nina setelah melihat siapa yang datang sambil meringis memegang perutnya yang terasa kram.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen dan beri votenya ya readers.


Mampir juga ke karyaku yang lain:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2