
"Iya udah kita pulang saja ya", kata Jimmy lagi.
Nina cuma mengangguk tanpa bersuara.
"Hadeehh", batin Jimmy seraya menghela nafasnya.
Tak ada pembicaraan di antara mereka. Mereka mengikuti alur pikiran masing-masing.
"Kak Jimmy aku malu tahu, makanya aku hanya bisa diam sekarang", batin Nina.
Nina tanpa sadar menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kejadian tadi membuat Nina terasa sangat malu. Nina ingat betul saat tangan kekar Jimmy memeluknya. Dan hembusan nafasnya sangat terasa di kulit Nina. Nina merasakan tubuhnya menggigil seketika.
Jimmy melihat itu. Jimmy menghentikan mobilnya secara mendadak. Terdengar bunyi ban mobil yang berdecit kencang.
"Aahhhhhh", keluh Nina. Tangan Nina cepat berpegangan.
Nina baru sadar kalau yang di pegangnya adalah tangan Jimmy.
"Mmmmmaaf", kata Nina gugup seraya melepaskan pegangannya.
"Kamu ada masalah apa sih kak?main berhenti aja, kaget tahu", kata Nina sedikit kesal dengan mulut mencucuh. Nina mengatur nafasnya mengatasi rasa gugup yang menderanya.
"Kamu yang kenapa?dari tadi diam aja", kata Jimmy balik bertanya.
"Aku..oh anu aku...ahh sudahlah", kata Nina mengurungkan kalimatnya.
"Kamu tambah gemesin kalau seperti itu", batin Jimmy.
"Kak di sini sepi banget, ayo kita pulang, Nina takut", kata Nina pada Jimmy.
"Baiklah aku akan antar kamu pulang sekarang", kata Jimmy seraya melajukan kendaraannya.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di rumahnya Nina.
"Udah sampai", kata Jimmy pada Nina.
"Ma kasih banyak ya kak tuk malam ini", kata Nina.
"Iya sama-sama", kata Jimmy.
__ADS_1
"Gak mampir dulu?", tanya Nina.
"Gak usah udah malam", kata Jimmy.
"Masuklah, setelah kamu masuk aku baru akan pergi", kata Jimmy.
Nina mengangguk. Nina menuju pintu rumahnya dan mengetuknya. Pintu di buka. Terlihat ibunya yang membukakan pintu.
Jimmy mengklakson dan kemudian berlalu. Nina masuk dan menutup serta tak lupa mengunci pintunya.
"Duduk dulu ibu mau bicara sebentar", kata ibunya Nina.
"Ada apa bu?", tanya Nina setelah mereka duduk.
"Kamu sudah dewasa, ada baiknya kamu memikirkan untuk masa depan kamu. Ibu sudah tua, kalau kamu sudah ada keinginan untuk menikah, lakukanlah gak usah lama-lama. Lagian ibu lihat nak Jimmy suka sama kamu", kata ibunya Nina.
"Ibu ngomong apa sih, Nina dan kak Jimmy itu cuma antara bos dan bawahan gak lebih, malam ini Nina di traktirnya makan dan jalan-jalan, itu saja", jelas Nina.
"Tak ada laki-laki yang rela datang ke rumah dan mengajak makan kalau tidak ada hati", kata sang ibu.
"Kak Jimmy itu orangnya baik Bu, dia baik dengan siapa saja tanpa terkecuali, apa lagi padaku, aku kan sekretarisnya Bu jadi masih wajarlah kalau kak Jimmy memberikan sedikit perhatian padaku",protes Nina.
"Sekarang Nina fokus pada Adel dulu bu, Adel sekarang sudah kelas tiga, bentar lagi tamat, dan katanya dia pingin kuliah dan itu perlu biaya, Nina tidak mau terburu-buru ", kata Nina pada ibunya.
"Iya udah ibu hanya ingin kamu juga memikirkan masa depan kamu", kata sang ibu bijak.
"Iya Bu itu pasti tapi saat ini Adel lebih penting", jawab Nina.
"Ya sudah kalau begitu, ibu mau tidur", kata sang ibu.
"Iya Bu", kata Nina.
Sang ibu pergi ke kamarnya, sementara Nina menuju kamarnya. Nina duduk di pinggiran tempat tidurnya. Dia merenungkan apa yang barusan di katakan ibunya.
"Menikah?menikah sama siapa, cowok aja gak punya?kak Jimmy itu bos aku, gak mungkinlah dia mau sama aku yang bukan level dia, ada-ada saja sih ibu", gumam Nina.
Nina meletakkan ponsel dan dompet kecilnya di meja hiasnya. Nina menuju kamarnya mandinya untuk gosok gigi, kebiasaan yang Nina lakukan sebelum tidur. Tak lama Nina kembali ke tempat tidurnya. Nina naik ke tempat tidurnya dan menarik selimutnya. Tak butuh waktu lama Nina sudah menuju ke alam mimpi.
*****
__ADS_1
Sementara itu Jimmy yang baru saja sampai, langsung menuju kamarnya. Jimmy meletakkan dompet dan ponselnya di meja kecilnya. Jimmy menghempaskan tubuhnya di kasurnya yang empuk. Terbayang kembali kejadian tadi waktu bersama Nina. Jimmy melihat bagaimana gugupnya Nina saat itu. Jimmy jadi senyum-senyum sendiri.
Sejak pertemuannya kembali dengan Nina. Nina telah banyak menyita waktunya. Relung hatinya telah terukir nama Nina. Senyum Nina yang manis selalu menghias hari-hari Jimmy.
Jimmy tak memungkiri kalau dirinya banyak mengenal wanita-wanita cantik. Apalagi dia adalah seorang Dirut perusahaan ternama. Banyak wanita-wanita cantik yang berada di sekelilingnya. Tapi Jimmy tak merasakan apapun terhadap mereka.
Tapi ini beda. Nina beda dengan yang lainnya. Sikapnya yang anggun dan sedikit lugu menurut Jimmy justru menjadi daya tarik tersendiri.
"Aahh Nina apa yang harus ku lakukan dengan hatiku?rasa ini sungguh menyiksaku", gumam Jimmy.
"Kenapa kamu jadi pengecut gini sih Jim?bilang aja ke Nina kalau kamu suka sama dia dan cinta sama dia, kan beres..", batin Jimmy yang lain.
"Tapi apa Nina tidak akan menolakku?, karena yang aku lihat dia sepertinya menghindariku, apa dia sudah punya cowok ya?", gumam Jimmy lagi.
"Tapi melihat dia gugup seperti tadi aku yakin dia belum punya cowok, dekati terus aja deh siapa tahu nanti dia ngerti", batin Jimmy.
Jimmy ingin tidur tapi bayangan Nina masih nampak jelas di pelupuk matanya. Jimmy miring kiri miring kanan, membolak-balik kan tubuhnya agak matanya bisa terpejam tapi hasilnya nihil.
Jimmy duduk dan menyandarkan tubuhnya di tempat tidurnya. Jimmy mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa jadi gini sih?apa Nina merasakan hal yang sama denganku?apa dia juga tidak bisa tidur sepertiku?", gumam Jimmy.
Jimmy menghela nafasnya dan menghempaskan nafasnya dengan kasar.
"Kalau begini terus bisa gawat", batin Jimmy.
Jimmy bangun dari tempat tidurnya dan menuju dapur. Jimmy mengambil segelas air dan meneguknya sampai habis.
Jimmy kembali ke kamarnya. Merebahkan kembali tubuhnya. Jimmy melihat jam bekernya. Jam sudah menunjukkan pukul 1.00 WIB dini hari. Jimmy mendengus.
"Begini rasanya kalau sedang kasmaran ya, ahh sulit sekali menghilangkan bayang wajah Nina, untung dia bekerja di dekat ruanganku jadi aku bisa melihatnya setiap saat, Nina oh Nina", gumam Jimmy.
Jimmy mematikan lampu kamarnya, itu di lakukannya biar dia cepat bisa memejamkan matanya. Benar saja, tak nunggu waktu lama akhirnya Jimmy dapat memejamkan matanya. Nafasnya yang teratur menandakan dia sudah berada di alam bawa sadarnya. Jimmy tertidur dengan pulasnya. Setelah dengan pikiran yang penuh oleh Nina, akhirnya Jimmy dapat tertidur juga.
.
.
Bantu vote, like dan komennya ya readers...terima kasih, selamat membaca
__ADS_1