Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Hasrat Jimmy


__ADS_3

Nina memandang kagum di depan sana. Pemandangan yang sangat indah. Nina membetulkan posisi duduknya. Memakai rok membuatnya susah untuk bergerak duduk di atas seperti ini. Beberapa kali Nina membenahi roknya karena kakinya terasa dingin.


Jimmy memperhatikan gerak-gerik Nina.


"Kenapa, dingin ya?", tanya Jimmy.


Nina tak menjawab. Nina hanya nyengir. Jimmy turun dan merentangkan kedua tangannya pada Nina.


"Sini turun",kata Jimmy.


Nina memegang tangan Jimmy dan melompat turun. Jimmy yang ada di bawah Nina menyambut Nina dengan sigap.


"Tunggu di sini", Jimmy masuk ke dalam mobilnya dan mengambil tikar plastik kecil dan jaketnya yang selalu di bawanya di dalam mobilnya.


"Duduk sini", kata Jimmy setelah menggelar tikar di atas rumput hijau di depan mobilnya.


"Kalau tahu mau ke sini, aku gak akan pakai pakaian seperti ini",batin Nina.


Nina menuruti perintah Jimmy. Nina duduk di tikar tersebut dengan kaki memangku tubuhnya.


"Apa gak capek duduk seperti itu? selonjoran saja kakinya", kata Jimmy.


Nina agak malu. Tapi Jimmy ada benarnya. Nina selonjorkan kakinya. Jimmy tahu Nina akan merasa malu dengan kaki terpampang seperti itu, oleh sebab itu Jimmy memberikan jaket pada Nina untuk menutupi kakinya.


"Ini tutup kakinya biar gak dingin dan di gigit nyamuk", kata Jimmy pada Nina.


Nina menerima jaketnya dan menutup kakinya yang terbuka. Jimmy duduk di samping Nina.


"Dulu waktu masih sekolah, aku dan kawan-kawan sering ke sini, waktu itu masih suka kebut-kebutan pakai moge. Tapi sekarang sudah insaf", kata Jimmy tertawa kecil.


Nina pun ikut tertawa. Jimmy memandang wajah Nina dari samping.


"Kamu cantik banget sayang", gumam Jimmy tanpa sadar.


Nina melihat ke Jimmy. Pandangan keduanya bertemu. Nina tersenyum pada Jimmy.


"Ooh tuhan senyum itu", batin Jimmy.


Jimmy meraih tangan Nina dan di genggamnya erat. Darah Nina berdesir. Ada aliran hangat mengalir di tubuhnya. Lama keduanya saling tatap. Mata keduanya seakan ada magnit yang tidak bisa untuk di lepas.

__ADS_1


Sebagai laki-laki normal, Jimmy tak tahan saat melihat bibir merah miliknya Nina. Jimmy mendekatkan wajahnya ke wajah Nina. Pandangan Jimmy terarah ke bibir ranumnya Nina. Sesaat Jimmy terpana dengan bentuk bibir Nina yang indah. Nafas Jimmy menerpa wajah Nina. Nina memejamkan matanya. Aliran hangat yang di berikan Jimmy melalui remasan di tangannya dan hembusan nafas Jimmy di wajahnya membuat Nina terlena.


Jimmy melepaskan genggaman tangannya. Kini tangannya berpindah ke tengkuk Nina. Nina merinding saat tangan Jimmy menyentuh tengkuknya. Tanpa sengaja Nina mendesah. Jimmy tergoda. Bibirnya menangkap bibir Nina yang sedikit terbuka. Di tariknya tengkuk Nina untuk lebih mendekat kepadanya. ******* di bibir Nina pun tak terelakkan. Nina meresapi sentuhan bibir Jimmy di bibirnya. Semakin lama ciuman itu semakin dalam dan menuntut. Tangan kanan Jimmy menjalar dan akhirnya singgah di bukit kembarnya Nina. Nina melenguh. Tangan kanan itu tak tinggal diam. Bergerilya. Nina terkulai dalam pelukan Jimmy. Ciuman itu semakin menuntut. Lidah keduanya saling kejar. Saling belit. Lidah Jimmy menari-nari di rongga mulut Nina. Tempat yang dingin dan sunyi membuat keduanya terlena.


Gejolak hati Jimmy ingin mendapatkan lebih. Tangan itu menyelusup masuk ke dalam bajunya Nina dan menemukan benda lembut dan kenyal. Nina mendesah kenikmatan.


"Sayang kita ke mobil aja yuk", ajak Jimmy pada Nina.


Nina yang sudah lemas cuma bisa mengangguk. Jimmy membopong tubuh Nina dan masuk ke mobil di jok tengah. Jimmy meletakkan tikar plastiknya dan mengunci pintu mobilnya.


Jimmy yang birahinya sudah di ubun-ubun, merebahkan tubuh Nina di jok tersebut. Dengan halus Jimmy kembali meraih bibir Nina. Kembali ciuman panas itu tercipta. Kini kedua tangan Jimmy mengangkat baju dan mengangkat bra Nina ke atas, terpampanglah pemandangan yang indah. Melihat itu bibir Jimmy berpindah tempat. Bukit kembar itu di lahap oleh Jimmy. ******* manja dari mulut Nina menambah gairah Jimmy. Keduanya terbuai oleh indahnya cinta.


Tangan Jimmy tak tinggal diam. Menyelusup ke area Nina yang paling sensitif. Jimmy menemukan gundukan itu. Di gosoknya pelan lalu di remas. Nina kaget.


" Jak jangan, jangan ke lewat batas", kata Nina yang tersadar.


"Tidak akan sayang, hanya begini doang, kamu tenang aja", kata Jimmy sambil meremas bukit kembar Nina.


Nina yang menikmati sentuhan-sentuhan Jimmy tapi alam sadarnya masih bekerja.


"Aku pusing sayang, bantu aku ya", kata Jimmy berbisik di telinga Nina.


Jimmy yang birahinya sudah di ubun-ubun tak kuasa menahan gejolak dalam dirinya.


Bibir Nina kembali di lumatnya. Tangan Nina di tariknya untuk lebih mendekat padanya. Nina terlena dengan sentuhan-sentuhan lembut Jimmy. Nina hampir kehabisan nafas. Nina melepaskan pegangan tangan Jimmy di tangannya. Dan menarik kembali tangannya. Ciuman mereka terlepas.


"Sayang, aku hanya ingin melepaskan hasrat ini, tolong bantu aku, aku akan meminta lebih setelah kita menikah nanti", kata Jimmy yang sudah panas dingin.


"Ayo lah sayang lakukan", kata Jimmy memelas.


Nina teringat dia pernah menonton blue film. Dalam film tersebut tidak melakukan hubungan intim tapi bisa memuaskan pasangannya. Tapi tidak mungkin itu harus di lakukanya pada Jimmy yang belum menjadi suaminya.


Jimmy yang sudah tak tahan lagi, kembali menyerang Nina. Pergumulan panas kembali terjadi.


"Sayang, i love you", bisik Jimmy di telinga Nina.


Nina terbuai. Jimmy semakin ganas. Mendengar lenguhan Nina membuat gairahnya semakin bertambah. Jimmy mendesah. Kedua insan ini seakan lupa, terlena dengan nafsu birahi mereka. Tangan Jimmy bergerilya kemana-mana. Nina bergidik. Tubuhnya menggelinjang.


Jimmy menyentuh area sensitif Nina. Nina kaget.

__ADS_1


"Jangan kak", kata Nina memegang tangan Jimmy.


Nina masih sadar walau sudah lemas, tak berdaya dengan aksi Jimmy tapi Nina masih bisa mengingat secara sadar. Nina mendorong tubuh Jimmy. Jimmy tersandar di pintu mobilnya.Nina bangun dari tidurannya. Nina membenahi pakaiannya yang lusuh akibat ulah Jimmy.


"Kamu gila ya, kamu hampir kelewat batas", kata Nina kesal.


"Kan kamu juga menikmatinya, kamu itu seperti candu, aku bisa gak kuat kalau gak cepat-cepat nikahin kamu, aku sangat mencintaimu Nin, maaf tadi di luar kendaliku", kata Jimmy.


"Udah ahh pulang yuk, aku takut nanti kamu nakal lagi", kata Nina.


"Oke sayang", kata Jimmy sambil mengecup kembali bibir Nina. Nina kaget.


"Ayo pindah ke depan, kalau masih di sini nanti kamu kena terkam lagi", kata Jimmy menggoda Nina. Nina memukul bahu Jimmy. Jimmy hanya tertawa kecil.


Jimmy melajukan kendaraannya menyusuri jalan hitam yang meliuk-liuk seperti ular yang sedang menari tersebut.


"Sayang jangan marah ya, aku janji kita akan secepatnya menikah, aku akan bicara sama mama dan papa nanti", kata Jimmy ketika sudah sampai di rumahnya Nina.


Nina tersenyum. Jimmy paling tak tahan kalau lihat Nina tersenyum. Jimmy bermaksud mencium bibir Nina kembali tapi cepat di halangi Nina dengan telunjuknya.


"Sabar, semua akan jadi milik kamu setelah kita nikah nanti", ucap Nina.


"Untuk obat tidur", kata Jimmy sambil menunjuk pipinya.


Dengan terpaksa dan malu-malu, Nina mengecup pipi Jimmy. Jimmy terkekeh.


Nina turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Jimmy meninggalkan rumah Nina dan kembali ke rumahnya.


.


.


.


Selamat membaca...


Jangan lupa like, komen dan votenya ya readers.


Mampir juga ke karyaku yang lain:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi(tamat).


__ADS_2