Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Jadwal kontrol


__ADS_3

Setelah mengantar Nina pulang ke rumah dan berganti pakaian, Jimmy langsung meluncur ke kediaman Wibowo. Jimmy melihat Prili sudah menunggunya di teras rumah.


"Mas", Prili langsung bergelayut manja saat Jimmy mendekatinya.


"Koq kamu di sini bukannya istirahat?", tanya Jimmy.


"Dokter bilang harus gerak mas, jangan tiduran terus. Biar otot dan saraf perutnya gak kaku", kata Prili.


"Oh gitu. Iya udah kita jalan aja keliling komplek", canda Jimmy.


"Ngomong apa sih mas, yang ada bukannya jalan tapi di gendong akhirnya",kata Prili bersungut.


"Gendong kamu?gak ahh berat", Jimmy berseloroh.


"Tuh kan gak tanggungjawab. Dah yuk kita masuk aja", ajak Prili sambil bergelayut manja di lengan Jimmy.


Jimmy dan Prili masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang keluarga.


"Mas, boleh gak kalau aku minta mas tinggal di sini dulu sampai aku sembuh?", tanya Prili hati-hati.


"Iya gak bisa gitu dong, Nina sendiri di rumah


Mbak Yuni gak bisa apa-apa. Kalau ada apa-apa yang repot aku juga. Kalau kamu disini kan ada mama sama papa. Sopir keluarga juga ada. Aku kan kesini terus, gak usah risau ", Jimmy berusaha untuk tidak membuat Prili galau.


"Buktinya kemarin kamu gak kesini", kata Prili merajuk.


"Kemarin itu kami nginap di rumah mama, mama ulang tahun karena sudah malam jadi gak di suruh mama pulang, jadi nginap disana deh", jelas Jimmy.


"Mama ulang tahun?koq gak ngasih tahu aku sih mas. Apa nanti kata mama, aku gak ngucapin dan gak kasih apa-apa ke mama", kata Prili protes.


"Kamu kan lagi sakit, mama juga ngerti. Tenang aja mama bukan orang seperti itu ", kata Jimmy.


"Tapi aku kan merasa gak enak, kalian pada kumpul sedangkan aku tidak ada di sana", ucap Prili dengan mulut sedikit mencucuh bak ikan gabus.


"Ahh sudahlah gak usah di bahas, pikirkan saja kesehatan kamu, aku tak mau berdebat. Aku capek", kata Jimmy.


Prili terdiam. Ia merasa di abaikan. Padahal Jimmy dan keluarganya hanya ingin melihat Prili cepat sembuh. Bukan menolak kehadiran Prili.


Jimmy menuju kamar Prili dan merebahkan tubuhnya di sana. Prili menyusul masuk kedalam kamar, di lihatnya Jimmy sudah berbaring di tempat tidur.


"Mas apa tidak mau mandi dulu biar segar", tanya Prili hati-hati.


"Nanti aja, badanku terasa pegal-pegal semua. Biarkan aku istirahat dulu ya", kata Jimmy dengan mata yang sudah tertutup.


Prili mendekati tempat tidur dan ikut rebahan di samping Jimmy. Jimmy yang sudah memejamkan matanya tidak tahu apa-apa lagi.


"Semudah itukah dia memulai tidurnya?", batin Prili.


Prili hanya bisa memandangi suami yang sudah terbang ke alam bawah sadarnya.


"Nina sudah menyita banyak waktunya sehingga setiap dia kesini hanya tidur yang di lakukannya", Prili senyum menyeringai.


"Jimmy Jimmy kamu tuh gak ngerasa apa cuma di bebani oleh si Nina, Nina itu hanya mau manfaati kamu, bego amat jadi orang ", batin Prili.

__ADS_1


Lama kelamaan Prili pun akhirnya ikutan tidur di samping Jimmy.


Hari sudah menjelang malam, Prili terbangun dan di lihatnya Jimmy masih tidur dengan pulasnya. Prili menuju kamar mandi. Tak lama terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi itu.


Prili menyudahi ritual mandinya. Prili mengganti pakaiannya dan setelah itu ia mendekati Jimmy yang masih tertidur.


"Mas bangun udah malam ini", Prili menggoyang-goyangkan tubuh Jimmy.


Jimmy menggeliat dan sedikit membuka matanya.


"Ada apa?", tanya Jimmy.


"Bangun udah malam ini", ujar Prili.


Dengan sedikit malas Jimmy bangun dari tidurnya. Jimmy menuju kamar mandi. Terdengar bunyi air yang jatuh ke lantai. Tak lama Jimmy keluar lagi dari kamar mandi.


"Kamu gak mandi?koq gak ganti pakaian", tanya Prili yang melihat Jimmy masih memakai pakaiannya tadi siang.


"Mandi. Bajunya masih bersih gak kotor", jawab Jimmy.


"Jadwal kontrol kamu kapan?", tanya Jimmy sambil menyisir rambutnya.


"Kalau gak salah tiga hari lagi", jawab Prili masih di tempat duduknya di pinggiran tempat tidur.


"Mana jadwal kontrolnya coba lihat", kata Jimmy.


"Di dalam laci itu, di dalam tas", sahut Prili.


Jimmy melangkah menuju laci. Jimmy membuka laci dan mengambil tas kecil berwarna hitam yang Prili maksud. Jimmy membuka tas kecil tersebut. Jimmy membongkar isi tas tersebut karna banyak kertas-kertas kecil di dalam tas tersebut. Struk belanja yang paling banyak. Jimmy membuang kertas-kertas kecil tersebut.


Prili hanya diam tapi bibirnya mencucuh tanda tak setuju dengan kata-kata Jimmy.


Jimmy mengambil satu buah plastik kecil dan di dalamnya ada kertas kecil. Jimmy bermaksud membuka plastik tersebut tapi Prili cepat menyambar plastik kecil tersebut dari tangan Jimmy.


"Hei kamu kenapa?", tanya Jimmy kaget.


"Gak kenapa-napa", jawab Prili sedikit gugup dan menyembunyikan plastik kecil tersebut.


"Ya ampun Prili kamu teledor banget sih", batin Prili.


"Itu bungkus apa?koq kamu panik gitu", tanya Jimmy curiga.


"Itu hmm itu cuma kantong vitamin sisa aku waktu itu, lupa buangnya", kata Prili sambil nyengir.


"Ohhh takut di sebut jorok ya makanya cepat di ambil. Ini aja kertas pada penuh gini di dalam tas, gimana sih?", Jimmy menggerutu.


Jimmy mengambil kertas kecil yang dia pastikan adalah jadwal kontrol Prili. Jimmy membukanya. Dan membaca tulisan yang tertera di kertas tersebut.


"Ini kan besok kontrolnya, kata kamu tiga hari lagi, gimana sih?", Jimmy ngedumel.


"Masa sih?", tanya Prili tak yakin.


Jimmy memperlihatkan kertas tersebut pada Prili.

__ADS_1


"Eehh iya ya, aku yang lupa atau dokternya yang salah tulis. Perasaan waktu dokternya bilang lima hari ke depan", jawab Prili mencoba mengingat.


"Ah sudahlah gak usah di bahas, besok aku antar kontrolnya", jawab Jimmy mengambil kembali kertas tersebut dari tangan Prili.


****


Keesokan harinya Jimmy menepati janjinya pada Prili. Dia mengantar Prili kontrol ke dokter.


"Sus, dokter Andrean nya ada kan?", tanya Jimmy pada suster yang melayani pasien tersebut.


"Oh dokter Andrean nya gak masuk pak, beliau ada urusan ke luar kota tapi beliau di gantikan oleh dokter lain. Apa bapak tetap mau dengan dokter Andrean atau mau dengan dokter yang ini yang menggantikan beliau?", tanya sang perawat sopan.


"Dokter Andrean nya pulang kapan?", tanya Jimmy.


"Kata beliau sampai urusan beliau selesai. Itu saja pesan beliau", kata sang perawat lagi.


"Iya udah deh dokter ini aja, tanggung mau pulang", kata Jimmy.


"Duduk dulu ya pak, nanti di panggil. Boleh minta jadwal kontrolnya pak?", tanya sang perawat.


Jimmy mengambil kertas kecil yang ada di dalam dompetnya. Jimmy menyerahkan kertas tersebut pada sang perawat.


"Di tunggu ya pak, segera kita panggil", ujar sang perawat.


Jimmy hanya mengangguk. Jimmy mengajak Prili duduk di kursi tunggu.


"Ibu Prili", panggil sang perawat.


Jimmy bangun dari tempat duduknya di iringi Prili. Mereka masuk dalam ruangan dokter tersebut. Prili salah tingkah.


"Dokter",


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku...


Terima kasih yang udah mampir, like dan komennya.


Capcuss jangan lupa like, komen dan votenya ya.

__ADS_1


Mampir juga ke karya ku lainnya ya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2