
Nina menghela nafasnya. Jimmy melihat wajah Nina yang berubah.
Jimmy jadi tak enak hati.
"Ya sudah kerja kembali, lain kali ijin dulu kalau mau keluar", kata Jimmy.
"Baik pak", kata Nina sambil menunduk.
Jimmy kembali ke ruangannya. Nina menarik nafas lega setelah Jimmy berlalu dari hadapannya.
"Gitu amat sih jadi bos, orang cuma makan doang koq", batin Nina.
Flashback on#
Waktu Nina kembali ke ruangannya sehabis meeting, Jimmy bermaksud menghampiri Nina. Tapi karena Nina asik dengan ponselnya, Jimmy membatalkan niatnya untuk menghampiri Nina.
Jimmy melihat Nina meninggalkan ruangannya setelah mengirim beberapa pesan. Jimmy yang penasaran melihat Nina yang agak terburu-buru. Jimmy pun mengikuti Nina dari kejauhan. Jimmy mengepalkan tangannya saat melihat Marsel membawa Nina keluar dari kantornya. Muka Jimmy merah padam menahan marah.
"Marsel, awas kamu ya. Nina itu milikku kamu tak akan bisa untuk mendapatkannya", batin Jimmy.
Jimmy pergi keluar untuk makan, dia pergi dekat-dekat kantor saja. Selera makannya sudah hilang. Namun untuk menjaga kesehatan nya Jimmy tetap mencari untuk makan siangnya.
Setelah selesai Jimmy kembali ke kantornya. Jimmy melihat meja Nina yang masih kosong. Jimmy duduk di sofa tamu. Sampai akhirnya dia mendengar Nina sudah kembali ke ruangannya.
Flashback off#
Nina kembali menghadap laptopnya. Nina menyelesaikan laporan hasil meeting mereka tadi.
Waktu terus berlalu. Hingga hari sudah mulai sore. Nina mengantarkan laporan yang tadi di buatnya untuk di serahkan kepada Jimmy.
Nina mengetuk pintu ruangan Jimmy.
"Masuk", kata Jimmy yang sedang berkutat dengan ponselnya.
Nina mengedarkan pandangannya saat melihat Jimmy tak ada di kursinya. Nina menuju Jimmy dan memberikan berkas yang ada di tangannya.
"Ini pak laporannya", kata Nina.
"Iya, letakkan saja di meja, oh iya Nin, nanti malam aku ke rumah kamu ya, boleh?", tanya Jimmy.
"Boleh pak, pintu rumahku selalu terbuka untuk siapa saja", kata Nina dengan senyum manisnya.
Jimmy terpesona. Senyum Nina seakan ada magnetnya. Lama Jimmy memandang wajah Nina.
"Apa Nina tahu kalau aku suka sama dia?", batin Jimmy.
Nina mulai merasa risih dengan pandangan Jimmy.
"Maaf pak, permisi", kata Nina sambil berlalu.
Jimmy tersadar saat Nina sudah berlalu dari hadapannya.
"Sial...kenapa aku jadi begini sih?", gumam Jimmy.
Jimmy ingin mengikuti langkah Nina tapi dia takut Nina akan salah paham padanya. Jimmy melihat arlojinya. Sudah waktunya pulang. Jimmy mengambil berkas yang tadi di bawah Nina dan memasukkannya berkas tersebut ke dalam tasnya. Jimmy keluar dari ruangannya. Di lihatnya Nina masih berberes.
"Nin ayo pulang", ajak Jimmy.
"Bentar pak tanggung", jawab Nina tanpa mengalihkan pandangannya.
"Udah besok kan bisa", kata Jimmy.
__ADS_1
"Iya pak ini hampir selesai, lagian masih nunggu Tika juga pak",kata Nina tersenyum.
"Senyum itu, sepertinya aku menyukai senyum itu Nina, adem", batin Jimmy.
"Emang kalian mau kemana?yang aku tahu Tika tinggalnya tak jauh dari sini", kata Jimmy.
"Jalan aja pak, cari angin", jawab Nina sekenanya.
"Ohh gitu, ikutan boleh gak?", tanya Jimmy enteng.
Nina menghentikan aktifitasnya. Sejenak Nina berpikir.
"Pasti pak bos bergurau ini", batin Nina.
"Emang bapak tak malu jalan sama kami?kami cuma jalan-jalan memutari kota pak, menghabiskan sore", kata Nina
"Nina mengertilah aku selalu ingin dekat dengan kamu", batin Jimmy.
"Gak lah, kenapa emang?", tanya Nina.
"Iya karena kita berdua kan bawa motor masing-masing, trus bapak apa mobilnya mau di tinggal?", kata Nina berusaha memberi pengertian pada Jimmy.
"Iyaaa di bawa dong, aku bisa ngiring di belakang kalian", kata Jimmy santai.
"Sembarangan, emangnya aku sama Tika pengawalnya apa?", batin Nina.
"Gini aja deh, nanti malam kan bapak mau ke rumah, kita jalan malam aja ya, khusus sore ini aku sama Tika dulu, boleh ya?", tanya Nina seakan meminta ijin pada orang tuanya.
"Iya udah deh, aku duluan ya, nanti malam aku ke sana", kata Jimmy sedikit kecewa.
"Oke pak bos", kata Nina kembali dengan senyum khasnya.
Jimmy akhirnya meninggalkan ruangan dan menuju parkiran di sana. Sedangkan Nina menerima pesan dari Tika kalau mereka tidak bisa jalan-jalan karena ada sedikit urusan.
"Iyaa batal dong, pak Jimmy juga udah pulang, Tika gimana sih, dia yang mengajak dia yang membatalkan, iya udah deh, aku pulang aja", gerutu Nina.
Nina.mengambil tas dan ponselnya. Nina menuju tempat parkir. Mengambil motornya dan pulang.
*****
Malam harinya Nina menunggu kedatangan Jimmy. Tapi yang di tunggu belum datang-datang juga. Nina melihat jam dinding yang ada dalam ruang keluarga.
"Spa kak Jimmy gak bisa datang ya?", gumam Nina.
Nina mondar-mandir di ruangan tersebut. Entahlah hati Nina terasa cemas. Nina menelpon Jimmy tapi tak di angkat juga.
"alSku kenapa sih, cemas gini?", kata Nina sambil meremas jari-jari tangannya.
Lagi-lagi Nina melihat jam dinding. Sudah pukul 8.15 WIB tapi bayang-bayang Jimmy belum juga terlihat.
"Kak Jimmy.kemana sih?apa gak jadi datang kali ya?",gumam Nina.
Di saat Nina sudah mau mematikan lampu ruang tengah, terdengar suara deru mobil. Nina menuju ruang tamu dan mengintip dari balik hordeng.
"Kak Jimmy", kata Nina dengan senyum di bibirnya.
Nina membuka pintu rumahnya.
"Maaf ya telat, tadi bannya bocor jadi terpaksa pasang sendiri karena bengkel udah tutup, untung saja bawa serepnya", jelas Jimmy.
"Oohh gitu, kirain ada apa.Tadi aku juga telpon tapi gak di angkat", kata Nina.
__ADS_1
"Ponselnya di silent,, jadi tak terdengar karena aku juga di luar mobil ganti bannya", jelas Jimmy.
"Yuk masuk", ajak Nina pada Jimmy.
Jimmy mengiringi langkah Nina.
"Kak Jimmy duduk dulu ya, aku mau ambil minum dulu, pasti kak Jimmy haus", kata Nina.
"Oke", jawab Jimmy.
Nina mengambil segelas air putih untuk Jimmy.
Jimmy meneguk minum tersebut tak bersisa.
"Mau aku buatkan teh?", tanya Nina.
"Gak usah, kita keluar yuk, bentar aja", kata Jimmy.
"Aku pamit sama ibu dulu ya", kata Nina.
Jimmy mengangguk. Tak lama Nina kembali ke depan.
"Yuk", ajak Jimmy seraya bangun dari tempat duduknya.
"Bentar", kata Nina.
Nina menuju meja sudutnya. Nina mengambil satu lembar tissue. Nina mendekat pada Jimmy. Nina mengelap pipi Jimmy yang ada noda hitamnya.
"Pipi kamu ada bekas oli, aku lap ya", kata Nina langsung membersihkan noda tersebut tanpa di minta.
Jimmy terpana.. Mereka tegak sangat dekat hampir tak ada jarak. Nina mendongak membersihkan bekas noda tersebut di wajah Jimmy. Jimmy memandang wajah Nina yang begitu dekat dengan dirinya.
Jimmy menyentuh tangan Nina. Jantung Nina seakan berhenti. Aliran darahnya mengalir cepat.
"Udah bersih belum?", tanya Jimmy.
Nina mengangguk.
"Yuk", ajak Jimmy.
Jimmy menggandeng tangan Nina keluar dari rumah. Nina menurut saja tanpa penolakan. Nina menutup pintu rumah tersebut. Mereka menuju mobil Jimmy. Jimmy membukakan pintu untuk Nina dan Nina masuk ke dalam mobilnya. Sesaat keduanya terdiam.
"Maaf", kata Jimmy buka suara.
"Untuk apa?", tanya Nina.
"Untuk kelancanganku tadi", kata Jimmy.
Nina cuma tersenyum. Jimmy pun tersenyum
.
.
.
Bantu vote, like dan komennya ya readers.....
Yuuk mampir ke karyaku yang lain :
MASIH ADA PELANGI
__ADS_1