Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Apes


__ADS_3

"Hhaahh", kata Nina tak percaya.


"Kalau kamu gak mau ya udah pakai lagi aja sepatunya", katanya sambil menarik kembali sandal jepit yang tadi di berikannya kepada Nina.


"Sebenarnya itu sepatu kesayangan aku kak, aku nyaman pakenya, tadi cuma hanya karena buru-buru kaki akhirnya terkilir, keseleo gini", sesal Nina.


"Besok nggak usah pakai sepatu heels dulu kalau masih sakit, pakai saja sandalnya dulu, sepatu kamu masukan dalam boks motor atau masukan dalam plastik aja", katanya lagi.


"Iya kak ma kasih",kata Nina.


"Kalau memang masih sakit kamu bisa pulang lebih awal hari ini", katanya pada Nina.


"Gak koq udah agak enakan", kata Nina.


"Ya udah hati-hati kerjanya", katanya seraya memutar badannya ingin berlalu dari hadapan Nina. Nina memegang tangannya.


"Kak Jimmy...", Jimmy memandang tangan Nina yang sedang memegang tangannya. Nina melepaskan tangannya.


"Ada apa?", kata Jimmy lembut.


"Ma kasih ya",kata Nina dengan senyum manisnya.


Jimmy memandang bibir yang sedang tersenyum itu. Pikirannya sudah traveling kemana-mana. Jimmy balas tersenyum dan masih menatap bibir indah Nina. Nina jadi salah tingkah di tatap seperti itu.


"Auuww", kata Nina membuyarkan lamunan Jimmy.


"Kamu kenapa?", tanya Jimmy gelagapan.


"Kakiku sedikit menyut kak tapi sekarang gak lagi", kata Nina.


"Iya udah aku ke ruangan dulu, nanti bawa berkas-berkas yang kemarin ke ruanganku", kata Jimmy sambil berlalu.


"Huhhh ada apa dengan jantungku?", kata Nina setelah Jimmy masuk ke dalam ruangannya.


Nina mengelus dadanya. Menarik nafasnya dan menghempaskannya kasar.


"Ini pasti salah, gak mungkin", kata Nina membuang pikirannya tentang Jimmy.


Nina kembali bekerja. Membuat laporan, menyiapkan berkas dan memeriksa kembali file-file perusahaan.

__ADS_1


****


Seperti janji Nina pada Ferdy, setelah pulang dari kerja Nina menemui Ferdy. Nina akhirnya menepati janjinya dengan menemui Ferdy di sebuah taman. Tempat yang di tentukan oleh Ferdy.


Nina mencari-cari keberadaan Ferdy. Tapi Ferdy tidak kelihatan batang hidungnya.


"Mana sih tuh orang?", Nina celangak celinguk mencari Ferdy.


Tiba-tiba ada yang memeluk Nina dari belakang. Nina kaget dan langsung menyikut orang tersebut dengan sikunya. Nina segera menjauh saat pelukan orang tersebut lepas dari tubuhnya. Orang itu sedikit terpekik menahan sakit. Nina memutar tubuhnya. Nina kaget ternyata itu Ferdy.


"Kau?apa yang kau lakukan padaku?", tanya Nina mulai geram.


"Nin aku sangat merindukanmu sayang", kata Ferdy berusaha mendekat ke arah Nina lagi.


"Jangan mendekat", kata Nina sambil memasang kuda-kuda.


"Nin aku terpaksa menikahinya karena dia hamil, tapi aku tidak mencintainya, aku hanya mencintaimu, ku mohon Nin, aku tidak bahagia bersamanya, kembalilah padaku", kata Ferdy memelas.


"Tidak Fer, kau jangan mempermainkan perasaan seorang wanita. Kau jangan merasa kalau aku masih mencintaimu, kau sudah menikah, bahagiakanlah isterimu, sayangi dan cintai dia, aku tak mau di sebut sebagai pengganggu rumah tangga orang, pulanglah", kata Nina dan memutar tubuhnya untuk menuju motornya.


"Nina tunggu", kata Ferdy seraya memegang tangan Nina. Nina menepiskan tangannya.


"Nina Nina tunggu Nin", kata Ferdy memelas.


"Apa lagi sih?", bentak Nina.


"Ku mohon Nin maafkan aku, aku tahu aku salah, tapi semua itu terjadi begitu saja, aku khilaf", kata Ferdy sambil memgang bahu Nina.


"Entah cinta atau tidak kamu sama dia itu bukan urusanku, kamu menghamili dia kamu bilang tidak cinta?kalau bertindak itu mikir dulu jangan sembarang main sikat aja, aku minta maaf aku tak bisa kembali sama kamu, aku sudah punya pengganti kamu, lepaskan aku, gak enak kalau ada yang lihat, di kira aku selingkuhan kamu lagi, minggirlah aku mau pulang", kata Nina seraya berjalan dengan jalan sedikit pincang.


"Kaki kamu kenapa Nin?",tanya Ferdy sok perhatian.


"Gak apa-apa, sakit sedikit kena sepatu", kata Nina sambil terus berjalan. Nina menaiki motornya dan siap menstarternya. Ferdy menunggu di depan dengan merentangkan kedua tangannya.


"Kamu udah gila ya, kalau kamu gak minggir ku tabrak nanti", ancam Nina.


"Lakukan kalau kamu berani, tapi aku tahu seorang Nina takkan berani melukai apalagi membunuh", tantang Ferdy.


"Dasar wong edan", gumam batin Nina.

__ADS_1


"Sepertinya Ferdy orangnya perlu di halusi, baiklah ku ladeni apa maumu", batin Nina.


"Jadi mau kamu apa sih Fer?kamu itu udah nikah, bentar lagi punya anak, aku gak mungkin kan masuk dalam kehidupan kamu, aku juga wanita, hatiku pasti sakit kalau suamiku bermain di belakangku dengan wanita lain, apalagi wanita itu mantan kekasih suamiku, mengertilah...sayangi isterimu. Setiap dia memberikan barang yang paling berharga baginya artinya dia sangat mencintai kamu, pulanglah jangan seperti ini, aku tidak mau di tuduh perusak rumah tangga orang, kisah kita sudah berlalu, aku adalah masa lalumu, isterimu adalah masa depanmu, ayolah jangan seperti anak kecil", kata Nina dengan lemah lembut.


"Dia tidak seperti dirimu Nin, dia orangnya kasar, tidak seperti kamu, kamu cantik, baik dan penuh kelembutan, kalau kamu mau balik sama aku, aku akan menceraikannya, kembalilah padaku Nina sayang", kata Ferdy sambil memegang tangan Nina. Nina menariknya halus takut Ferdy nekad.


"Sudah Fer, jangan jadikan alasan, tidak baik", kata Nina lagi.


"Siapa pria yang sudah merebut hatimu dariku?", kata Ferdy geram.


Nina mulai gerah dengan Ferdy. Tapi Nina berusaha untuk tenang.


"Gini, jodoh itu sudah di atur tuhan, dan kita tidak berjodoh, sadarlah Ferdy jangan memaksakan diri. Aku yakin isterimu orang baik, terimalah dengan tulus. Kalau kamu ikhlas pasti kamu akan bahagia, pulanglah isterimu menunggumu, kasihan dia lagi hamil", bujuk Nina.


"Baiklah aku akan pulang, tapi jangan paksa aku untuk bisa melupakan kamu", kata Ferdy.


"Belajarlah kamu pasti bisa", kata Nina lagi.


"Aku akan rebut kamu dari priamu", ancam Ferdy sambil berlalu.


Nina menghela nafasnya. Nina sedikit lega setelah Ferdy pergi.


"Silakan saja, orang akunya belum punya pacar koq", gumam Nina sambil senyum penuh kemenangan.


Nina menstrarter sepeda motornya. Nina melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Nina berpikir apa yang akan dia lakukan seandainya Ferdy benar-benar berbuat nekad.


"Ya allah kenapa Ferdy masih mengganggu kehidupanku, aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan dia ya allah", bisik batin Nina.


Nina berpikir keras bagaimana caranya biar Ferdy tidak lagi muncul dalam kehidupannya. Nina tak melihat kalau di jalanan turunan di samping kirinya ada becak yang melaju kencang. Sang si pengendara becak sudah berusaha menahan dan mengerem becaknya tapi karena jalannya menurun dan membawa banyak barang akhirnya tabrakan tidak dapat di hindarkan lagi.


Gebrakkk...


"Auuwww", pekik Nina yang sudah berada di bawa motornya.


---------++-------


Selamat membaca ya readers...


Bantu like, komen dan juga votenya ya...

__ADS_1


__ADS_2