
Wibowo dan Hanny duduk di kursi di hadapan dokter tersebut. Dokter tersebut tersenyum pada keduanya.
"Maaf ini dengan siapanya pasien?", tanya sang dokter.
"Kami orang tuanya dok", kata Wibowo.
"Suaminya ada?", tanya sang dokter.
"Maaf ada apa ya dok?", tanya Hanny mamanya Prili.
"Saya hanya ingin ngasih tahu kalau anak ibu sedang hamil sekarang", jelas sang dokter.
"Apa?", kata Wibowo dan Hanny kompak.
Wibowo dan Hanny bagai di sambar petir. Keduanya kaget bukan alang kepalang. Kehamilan Prili merupakan berita buruk dan aib buat mereka.
"Iya Pak Bu, anak bapak dan ibu sekarang lagi hamil, selamat ya", kata sang dokter tersenyum.
"Apa dokter gak salah dok?", tanya Hanny masih tidak percaya.
"Tidak Bu ini benar adanya", jawab sang dokter lagi.
Wibowo menahan gejolak emosinya.
"Kalau begitu terima kasih dok", kata Wibowo.
Dokter mengangguk. Setelah selesai semuanya, Wibowo membawa Prili pulang ke rumah mereka.
"Katakan pada Papa siapa ayah biologis anak yang sekarang kamu kandung?", kata Wibowo lembut. Dia menahan luapan emosinya.
Prili tertunduk. Ia nenangis sejadi-jadinya.
"Jawab pertanyaan Papamu", kata Hanny pada Prili.
"Untuk apa Papa tahu, walaupun tahu Papa tak akan merestui pernikahan tersebut", kata Prili tajam.
"Maksud kamu ayah anak itu adalah Jimmy, gitu?", tanya Wibowo langsung.
Prili mengangguk pelan. Wibowo yang emosinya sudah di ubun-ubun, tangannya langsung melayang ke pipi Prili.
"Bedebah", kata Wibowo kasar.
Prili menjerit kesakitan. Hanny kaget atas perlakuan suaminya pada Prili.
"Apa yang papa lakukan?ini tak akan menyelesaikan masalah", kata Hanny sembari memeluk Prili.
"Kamu lihat kan kelakuan anakmu sekarang, dia rela menyerahkan tubuhnya untuk lelaki brengsek itu, aku akan buat perhitungan sama mereka", kata Bowo sambil berlalu.
Hanny berusaha mencegah dan menenangkan suaminya tapi tangannya di tepis kasar oleh Bowo suaminya.
Wibowo pergi menuju kediaman Purnama.
"Purnama keluar kamu!", kata Wibowo lantang.
Mendengar ada keributan di rumah mereka, semua penghuni rumah keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Maaf tuan tadi saya sudah berusaha mencegahnya tapi tuan ini maksa untuk masuk", kata snag satpam merasa tak enak hati.
"Biarkan, kamu boleh pergi", kata Purnama bijak pada sang satpam.
Purnama mendekati Wibowo.
"Silakan duduk, kita bicara baik-baik", kata Purnama.
Wibowo duduk di sofa tersebut. Wina dan ibunya Liana juga duduk di samping Purnama.
"Katakan dengan baik-baik. Ada keperluan apa kamu datang kemari?", tanya Purnama.
"Aku perlu bicara sama Jimmy. Aku ingin dia bertanggungjawab", kata Wibowo kesal.
"Jimmy tidak tinggal di sini lagi. Dia sudah punya rumah sendiri. Memangnya ada hal apa kamu mencarinya?", tanya Purnama.
"Dia telah menghamili Prili, suruh dia bertanggungjawab kalau tidak aku akan laporkan dia ke yang berwajib", tantang Wibowo.
"Setelah anak kamu hamil baru kamu menginginkan pernikahan ini? bukannya kamu tidak mau anak kamu menikah dengan Jimmy?", ledek Purnama.
"Aku ke sini cuma ingin Jimmy bertanggungjawab, tidak untuk membahas yang lainnya",kata Wibowo tak mau kalah.
"Kamu telepon kakak kamu sekarang, mama mau bicara", kata Liana pada Wina.
Wina mengangguk. Telepon tersambung.
"Ada apa Win?", tanya Jimmy.
Sang mama langsung mengambil alih ponselnya Wina.
"Tapi Jimmy masih di rumah sakit kekarang Ma", jelas Jimmy.
"Kenapa kamu di rumah sakit? pokoknya mama ingin kamu pulang ke rumah sekarang, penting!!", tanya Liana tegas.
"Ada apa lagi sih Ma?Nina masuk rumah sakit Ma, dia butuh aku di sini", kata Jimmy.
"Mama ingin kamu pulang sekarang, ini menyangkut Prili, papanya sekarang ada di rumah, cepat kemari", gertak Liana mamanya Jimmy.
"Ma...", Jimmy ingin protes tapi sang mama telah memutus pembicaraan mereka. Jimmy bingung dengan keadaan yang di hadapinya sekarang. Di satu sisi Nina sedang terbaring lemah di rumah sakit, di sisi lain ada sang mama yang menginginkan dia pulang sekarang juga.
"Ya Tuhan aku harus bagaimana', batin Jimmy.
Jimmy memandangi wajah Nina yang masih pucat.
"Sayang, aku pulang bentar ya ke rumah mama, nggak lama. Nanti aku ke sini lagi, tadi aku sudah telepon ibu, mungkin bentar lagi mereka datang", kata Jimmy seraya mengelus lembut rambut Nina.
Nina hanya mengangguk pelan. Walau hatinya berat di tinggal oleh sang suami walau cuma sebentar, tapi Nina tidak mau kalau suaminya menjadi anak yang durhaka. Nina mengijinkan Jimmy untuk pulang ke rumah orangtuanya.
Benar saja, tak lama Jimmy pergi, Ratmi ibunya Nina datang bersama Adel adiknya.
"Ya ampun nak, koq bisa begini. Kamu jatuh ya?", tanya sang ibu sambil menggenggam erat tangan Nina.
"Nggak Bu, Nina juga gak ngerti. Tiba-tiba perutku sakit, katanya aku mengeluarkan darah, aku juga gak tahu kenapa. Aku tidak jatuh, tidak terhempas tapi aku bisa keguguran. Aku gagal menjaganya Bu",kata Nina sedih.
"Sudahlah jangan jadi pikiran, kamu masih muda, masih banyak kesempatan", kata sang ibu menenangkan.
__ADS_1
"Iya mbak, nanti bikin lagi aja", kata Adel bercanda.
"Huss anak kecil jangan banyak omong. Tahu apa kamu?kasih mbak kamu makan aja, di suapin",kata sang ibu.
"Iya deh", kata Adel.
Adel menyuapi Nina makan sedangkan sang ibu hanya duduk di pinggir tempat tidur sambil mengelus rambut Nina.
Sementara itu Jimmy telah tiba di rumahnya. Wibowo langsung bangun dari tempat duduknya setelah melihat kedatangan Jimmy.
"Tega kamu ya menghamili anak saya, kamu bilang tidak mau menikah dengannya tapi sekarang kamu buat dia hamil, kalau kamu tidak menikahi anak saya maka jangan harap saya akan berdiam diri, Prili adalah anakku satu-satunya, kalau kamu tidak mau bertanggung jawab maka kamu akan berurusan dengan yang berwajib ", kata Wibowo lugas.
Jimmy terpaku ditempatnya tegak. Sungguh ucapan papanya Prili membuatnya sangat terpukul. Nina keguguran, Prili malah hamil.
"Apa maksudnya semua ini?", tanya Jimmy dalam kekalutan.
"Tidak usah pura-pura lagi, sekarang Prili sedang mengandung anak kamu, saya ingin kamu menikahinya secepatnya", Ujar Wibowo.
"Tapi aku sudah mempunyai isteri Pak, bagaimana aku bisa menikah dengan Prili?", kata Jimmy.
"Jangan bilang kamu tidak mau bertanggung jawab", ucap Wibowo.
"Itu urusan kamu, tapi aku tak akan rela kalau kamu menyia-nyiakan Prili", kata Wibowo.
"Bowo, keputusan ada di tangan Jimmy, beri dia waktu", kata Purnama.
"Saya tidak mau tahu, nikahi Prili atau ke polisi", tantang Wibowo sambil berlalu.
Jimmy terduduk lemas.
"Kamu tuh ya main serobot aja, lihat ulah kamu, kamu telah menghamili anak orang, bikin malu", kata Liana sang mama.
"Ini gara-gara mama juga kan", celetuk sang
suami.
"Anak kamu nih yang bodoh, kalau saja dia nurut waktu itu semua ini takkan terjadi, lagian kenapa juga bisa menghamili Prili. Kalian memalukan sekali", jawab Liana kesal.
"Gugurkan kandungan Prili Ma", kata Jimmy mantap.
"Apa?!", kata Mamanya, Papanya dan juga Wina.
Bersambung ...
.
.
.
Bantu like, komen dan votenya juga ya.
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1