
Melihat reaksi Nina, Jimmy tertawa kecil. Nina kembali ke mejanya. Nina mengatur nafasnya yang memburu.
"Hhuuuhhh", Nina menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Lama-lama bisa serangan jantung aku kalau begini terus", gumam Nina.
Nina mengusap bibirnya. Menghapus bekas air liur Jimmy di sekitar bibirnya.
"Kak Jimmy gak mikir amat jadi orang, gimana kalau ada yang lihat, mati aku", batin Nina.
Nina menenangkan pikirannya. Beberapa kali Nina mengatur nafasnya. Setelah agak tenang Nina menyiapkan berkas dan file-file perusahan yang akan di bawanya saat rapat nanti.
"Ayo ke ruangan rapat, semua sudah menunggu", kata Jimmy pada Nina.
Nina yang sudah siap, hanya bisa mengangguk tanpa bicara. Nina mengikuti langkah Jimmy menuju ruang rapat.
Marsel memperhatikan gerak-gerik Jimmy dan Nina. Nina tak berani beradu pandang dengan Jimmy setelah kejadian tadi. Jimmy tetap tenang memberikan paparannya. Sesekali pandangan Jimmy tertuju pada Nina. Nina masih tertunduk. Tatapannya hanya tertuju pada kertas-kertas yang ada di depannya. Sesekali Nina mencatat hal-hal penting yang di bicarakan oleh Jimmy.
Setelah rapat berakhir sifat jahil Marsel muncul kembali. Dia ingin melihat reaksi Jimmy padanya. Marsel mendekati Nina.
"Makan siang bareng yuk", ajak Marsel pada Nina.
Nina belum sempatmenjawab tapi Jimmy sudah tegak di dekat mereka.
"Bawa berkas-berkas tersebut ke ruangan saya sekarang", kata Jimmy sambil berlalu.
Nina menoleh kepada Marsel seraya mengangkat kedua bahunya. Nina beranjak dari tempat duduknya. Tapi sebelum pergi Marsel cepat menghadang perjalanan Nina.
"Eiitt tunggu dulu", kata Marsel.
"Ada apa pak?", tanya Nina heran tak biasanya Marsel begitu.
"Boleh tanya sesuatu?", tanya Marsel.
"Gimana kalau nanti aja nanyanya, soalnya pak bos udah nungguin ini", kata Nina buru-buru.
"Tapi ini ada..", kata Marsel.
"Maaf pak saya tinggal dulu", kata Nina memotong pembicaraan Marsel dan berlalu dengan langkah cepat dari hadapan Marsel.
Marsel garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya udah deh, nanti juga pasti ketahuan", gumam Marsel.
*****
"Ini pak berkasnya", kata Nina menyodorkan map besar pada Jimmy.
__ADS_1
Nina memutar tubuhnya untuk meninggalkan ruangan Jimmy tapi baru selangkah Nina melangkahkan kakinya suara Jimmy menghentikan langkahnya.
"Mau kemana, duduk", kata Jimmy tegas.
Nina kembali ke hadapan Jimmy. Nina duduk di kursi di depan Jimmy.
"Kan sudah pernah aku bilang, jangan keganjenan sama Marsel aku tak suka", kata Jimmy pada Nina.
"Dia cuma mau tanya sesuatu katanya tapi aku bilang nanti saja karena kamu udah nungguin berkas ini", tunjuk Nina pada berkas yang tadi di bawanya.
Jimmy bangun dari tempat duduknya dan mendekat pada Nina. Nina hanya diam.
"Dengar, Marsel dan aku sudah seperti saudara sendiri, bukan hanya rekan di kantor. Kamu harus jaga sikap, apa lagi Marsel belum tahu tentang hubungan kita", jelas Jimmy.
Nina menatap tajam pada Jimmy. Nina bangun dari kursi duduknya.
"Kamu kira aku suka berada di posisi seperti ini, aku ingin hubungan kita juga untuk sementara waktu tidak ada yang tahu karena aku tidak mau jadi bahan gosip di kantor ini, tapi kamu sendiri yang memamerkannya kan?kamu tahu ini kantor, kamu masih bertingkah aneh, mesra-mesraan di sini. Kamu kira aku tidak takut saat kamu memeluk dan menciumku di sini. Apa kata mereka kalau melihat kita seperti itu di kantor ini?apa lagi aku yang berbanding terbalik dengan kehidupan kamu, kamu kira aku suka, kamu kira aku besar kepala. Justru itu jadi bumerang buat aku, paham?!", kata Nina dengan kata-katanya yang panjang lebar.
Jimmy tak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Bagaimana pun yang di katakan Nina ada benarnya. Jimmy meraih Nina ke dalam pelukannya tapi Nina cepat menepis tangan Jimmy. Nina meninggalkan Jimmy dan kembali ke meja kerjanya.
Nina sangat kesal. Di ambilnya pulpen yang ada di atas mejanya. Kertas kosong yang selalu tersedia di atas mejanya tak luput jadi sasaran. Dengan hati yang masih panas. Di coretnya kertas tersebut sepuas hatinya. Satu lembar dua lembar dan seterusnya sampai akhirnya sampah penuh di atas mejanya.
Nina menghela nafasnya. Nina memejamkan matanya, berharap hatinya bisa tenang dan melupakan masalahnya barusan.
"Ini kantor Nina, kalau ada yang melihatmu seperti ini, mereka malah akan curiga", batin Nina.
"Aku tunggu di kantin ya", kata Nina pada Tika.
"Luncur", jawab Tika singkat.
Nina menuju kantin. Tika datang di waktu yang bersamaan.
"Kusut banget, ada apa?", tanya Tika melihat air muka Nina yang tak seceria biasanya.
"Gak ada lagi malas aja", kata Nina seraya memesan makan siang mereka.
"Yakin?emangnya malas kenapa?", tanya Tika lagi.
Mereka duduk di ruang pojok. Tika meneliti wajah Nina.
"Kamu ngapain?", tanya Nina pada Tika.
"Nggak, cuma mastiin kalau kamu benar tidak apa-apa", kata Tika enteng.
"Udah gak usah jadi dokter dadakan, nih makanan kita udah nyampe, kita eksekusi sekarang", kata Nina yang memang sudah lapar dari tadi.
Mereka makan sambil ngobrol. Suap demi suap masuk ke dalam mulut. Tak butuh waktu lama isi piring sudah berpindah ke dalam perut dan tanpa terasa piring mereka sudah kosong.
__ADS_1
"Nin, boleh nanya nggak?tapi janji dulu jangan marah", kata Tika seraya mengacungkan jari kelingkingnya pada Nina.
Nina terpaksa mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Tika.
"Iya janji, mau nanya apa?", kata Nina.
Tika melepaskan kaitan jari kelingking mereka. Tika melihat ke wajah Nina sesaat. Lalu membetulkan tempat duduknya.
"Akhir-akhir ini sikap pak Jimmy perhatian banget sama kamu, apa kalian ada hubungan khusus?", tanya Tika ke pokok permasalahan.
Nina melihat kanan kiri, takut nanti ada yang ada dengar.
"Kamu sok tahu banget", kata Nina masih belum menjawab pertanyaan Tika.
"Beberapa hari yang lalu aku gak sengaja melihat di parkiran kamu pulang sama pak Jimmy, sementara motor kamu tinggalkan di kantor, apa itu hanya kebetulan terjadi atau memang ada hal yang betul terjadi?", kata Tika tak bermaksud untuk menyinggung perasaan Nina.
"Kamu pengen tahu aja atau pengen tahu banget?", Nina balik bertanya.
"Pengen tahu banget", kata Nina sambil senyam-senyum.
"Tapi jangan bilang-bilang siapa-siapa ya, aku takut", kata Nina hampir berbisik.
"Iya aku janji, tenang aja aku orangnya pandai menyimpan rahasia", kata Tika meyakinkan Nina.
"Sebenarnya kami udah jadian sih tapi aku yang melarangnya untuk tidak memberitahu atau memamerkan atau mengumumkan hubungan asmara kita, aku takut Ka", kata Nina.
"Laaahh takut kenapa?kamu kan gak jual diri, kalian saling cinta, biarkan semua orang tahu", kata Tika.
Mereka bicara sangat kecil sekali. Setengah berbisik. Kalau bisa cicak pun dapat mendengar cerita mereka.
"Bukan apa-apa sih, kamu tahu sendirikan aku di besarkan di keluarga biasa buka golongan mereka, aku takut nanti orang tuanya menolakku", kata Nina.
"Nina sayang cinta itu tak pandang harta dan rupa, kalau memang mereka sayang pada anak mereka pasti kamu akan di terima dengan baik di keluarga mereka", jelas Tika.
"Gitu ya, tapi ada baiknya tak ada yang tahu dulu", kata Nina.
.
.
.
Bantu vote, like dan komen nya ya readers...
Mampir juga ke karyaku yang lain:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1