
Mereka mulai dengan ritual makan mereka. Awalnya Rini agak malu karena walau dia bekerja cukup lama di sini tapi baru kali ini dia makan di ruangan pak bos dalam satu meja.
Mereka makan tanpa bersuara. Sesekali Jimmy memberikan suapannya kepada Nina. Nina menerimanya dengan senang hati. Jiwa kesendirian Tika meronta melihat kemesraan yang di perlihatkan oleh pak bos mereka. Rini hanya senyum-senyum.
"Jadi pingin cepat nikah", celetuk Tika sambil menikmati makanannya.
Jimmy dan Nina saling pandang. Mereka akhirnya tertawa. Rini pun ikut tertawa. Tika hanya terkekeh melihat ketiga orang itu mentertawakannya.
"Makanya cepat nikah", kata Nina seraya menyuap nasi ke dalam mulutnya.
Mereka sedang menikmati ritual makan siang mereka. Mereka di kejutkan dengan satu suara dari arah pintu.
"Waww makan besar gak ngajak-ngajak lagi",
Seperti di komando mereka berempat menoleh ke arah pintu.
"Elu, tumben menyapa. Biasanya juga langsung nyelonong aja. Ayo sini kita makan, mumpung masih banyak", kata Jimmy pada orang tersebut yang tidak lain adalah Marsel.
"Sebenarnya sih aku kemari mau ngajak kamu makan, eehh gak taunya ada pesta disini", kata Marsel seraya merapat ke meja tempat makanan berada.
Tanpa basa-basi Marsel langsung mengambil piring dan mengambil nasi beserta lauk pauknya. Marsel menuju kursi yang ada di depan meja Jimmy. Dia menyantap makanannya memisah dengan mereka berempat.
"Disini aja pak, biar enak kalau mau nambah", celetuk Tika.
"Gampang kalau soal nambah, yang penting cepat ambil jatah kalian. Telat sedikit saja kalian bisa tidak kebagian", seloroh Marsel.
Kembali mereka tertawa mendengar gurauan Marsel. Jimmy yang terlihat dingin dan kaku kalau berhadapan dengan karyawan tapi tidak kalau sudah berkumpul seperti sekarang ini. Mereka terlihat akrab dengan suasana yang hangat.
Selesai makan Nina minta ijin dengan sang suami untuk ikut Tika ke ruangannya. Sedangkan Rini kembali ke meja kerjanya.
"Bang, aku ikut Tika dulu ya ke ruangannya", kata Nina pada Jimmy.
Jimmy hanya mengangguk. Tinggallah Jimmy dan Marsel dalam ruangan tersebut. Nina dan Tika keluar menuju ruangannya.
Tika mempersilahkan isteri dari bosnya sekaligus sahabatnya tersebut untuk masuk dan duduk.
"Ayo masuk. Silakan duduk", kata Tika.
Nina meletakkan tas kecilnya di atas meja Tika. Dan duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh Tika.
"Sebenarnya kamu mau cerita apa sih? sampai harus ketemu segala", tanya Nina langsung.
"Aku mau ngundang", kata Tika menghentikan ucapannya.
"Kamu mau nikah?", tebak Nina.
Tika tersenyum sembari mengangguk.
"Serius?koq gak ngomong-ngomong. Calonmu orang mana? pulangnya kemana?", tanya Nina beruntun.
__ADS_1
"Nanyanya kayak wartawan aja sih mbak ee", kata Tika bercanda.
Nina terkekeh.
"Sebenarnya kami tidak lama kenalnya. Waktu dia bilang mau kenal dekat denganku, aku bilang, kalau kamu mau cari pacar, kamu salah orang", cerita Tika.
"Lah terus?", tanya Nina penasaran.
"Dia jawab gini, kalau aku mau cari isteri apa kamu mau?", ujar Tika.
"Terus kamu jawab mau?", Nina nyeletuk.
"Iya nggak lah orang juga baru kenal. Aku malah balik nanya. Kamu yakin gak ada yang marah?lagian kita baru kenal. Aku gak yakin kalau kamu tulus", kata Tika berhenti sejenak.
"Trus gimana kelanjutannya?", tanya Nina dengan keingin tahuannya
"Dia ikut ke rumah, dan dia langsung melamar aku sama ibu. Aku bengong saat itu tak tahu harus ngomong apa. Ibu meyakinkan aku, karena di lihatnya dia orangnya baik dan sepertinya tulus. Ibu menerima lamarannya tapi aku tak mau gegabah karena perkenalan kami yang relatif singkat membuatku masih belum bisa menerimanya begitu saja. Aku masih ingin memastikan apa dia tulus atau tidak terhadapku", jelas Tika.
Hening sejenak. Nina menunggu kelanjutan cerita Tika.
"Sebulan kami tidak ketemu, karena dia bekerja di luar kota. Kami ketemu hanya lewat ponsel. Aku tidak menanyakan lagi tentang niatnya ingin mempersuntingku. Beberapa hari kemudian saat aku pulang dari kantor aku menerima kejutan dari dia. Tanpa memberi tahuku, dia datang ke rumah dengan membawa ibunya. Dia benar-benar membuktikan kalau dia benar-benar komitmen dengan ucapannya. Hari itu dia melamarku ke ibu", kata Tika.
"Oohh so sweet", ujar Nina dengan ekspresi wajah bahagia.
"Tapi aku masih bingung gimana nantinya. Apa tetap kerja disini atau ikut dengannya", ujar Tika.
"Itu bisa di bicarakan nanti. Yang penting hadapi dulu yang ini. Lamarannya sudah tinggal nunggu hari ketuk palunya", kata Nina.
"Gak papa. Ini aja aku turut bahagia mendengarnya. Jadi kapan ni hari 'H' nya?", tanya Nina.
"Masih lama koq dua minggu lagi", kata Tika sumringah.
"Apanya lama?dua minggu itu gak lama say...iya udah selamat ya. Jangan pergi jauh-jauh. Calon pengantin itu harus banyak di rumah. Pamali kata orang tua-tua dulu. Kalau perlu bantuan hubungi aku. Karena aku gak bisa full nemani menjelang hari 'H' kamu. Secara sudah ada bontot", kata Nina sambil terkekeh.
"Kamu kan tahu, aku juga orangnya orang rumahan. Pulang kerja gak kemana-mana lagi. Langsung pulang. Males juga jalan-jalan. Pulang kerja capek duluan. Gak papa yang penting pas hari 'H' kamu hadir. Jangan lupa si imut nya juga bawa", ujar Tika.
"Pasti dong", jawab Nina.
Tika mengambil ponselnya dan menunjukkan foto calon suaminya pada Nina.
"Ini orangnya", kata Tika.
"Laahh ini kan Dedi", ucap Nina spontan.
"Kamu mengenalnya?", tanya Tika penasaran.
"Kenal banget. Orang dia teman kuliahku dulu", kata Nina senang.
"Syukurlah akhirnya Dedi menemukan pasangan yang tepat untuknya", batin Nina.
__ADS_1
"Serius?", tanya Tika tak percaya.
"Iya serius. Kamu melabuhkan hatimu di tempat yang tepat. Dia orangnya super baik. Wiihh gak nyangka ya. Dunia memang kecil ternyata", celoteh Nina.
"Jadi penasaran. Telepon dulu ahh", ujar Tika.
"Iya gak percaya", kata Nina pada Tika.
Tika menelpon Dedi. Tapi tak di angkat.
"Gimana?", tanya Nina.
"Gak di angkat", jawab Tika.
"Iya udah kamu nanyanya nanti aja. Pokoknya aku turut bahagia untuk kalian. Selamat ya. Aku mau pulang dulu. Kasihan my baby. Nanti kita teleponan aja", kata Nina seraya bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Tika.
Mereka berpelukan dan cipika-cipiki bak teletubbies.
"Ingat jangan kemana-mana. Pulang kerja langsung pulang ke rumah", kata Nina mengingatkan Tika.
"Iya nyonya", jawab Tika dengan candanya.
Mereka berdua tertawa. Nina keluar dari ruangan Tika dan kembali ke ruangan suaminya.
"Sudah ceritanya? Seru banget sampai jam segini", kata Jimmy seraya melihat arlojinya.
"Namanya juga jarang ketemu. Kalau udah ketemu, ceritanya panjang bang kayak rel kereta api ", ucap Nina santai.
"Iya udah yuk kita pulang", ucap Nina lagi.
"Kamu duluan aja, abang masih ada kerjaan", kata Jimmy.
"Iya udah deh. Aku pulang dulu ya", kata Nina.
"Iya hati-hati ", kata Jimmy.
"Iya suamiku sayang", ucap Nina.
Jimmy tersenyum. Dia memandangi tubuh Nina isterinya sampai menghilang di balik pintu.
.
.
.
Yuukk lanjut lagi bacanya ya readersku terkasih..
Like, komen dan votenya di tunggu ya.
__ADS_1
Mampir juga ke karyaku lainnya ya:
Masih Ada Pelangi (tamat).