Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Mencari sebuah pengakuan


__ADS_3

Adel tak tahan menahan tangisnya. Ia menangis sambil mengendarai sepeda motornya. Sampai tiba di rumah Adel masih meneteskan air matanya.


"Adel koq nangis ada apa?", tanya Ratmi ibunya.


Adel duduk di sofa. Ia masih sesunggukan. Ia menghapus air matanya yang masih meleleh di pipinya.


"Ayo cerita ada apa?tak seperti biasanya kamu begini", Sang ibu mengelus punggung Adel yang terguncang akibat lama menangis.


Adel mengendorkan pelukannya. Adel menghapus sisa air matanya yang masih mengambang di kelopak matanya.


"Mbak Na", kata Adel terputus.


"Ada apa dengan mbakmu?", kata Ratmi cemas.


"Kak Jimmy Bu", kata Adel kembali air matanya mengalir di kedua pipinya.


"Bicara yang jelas nak, jangan buat ibu takut", ujar sang ibu.


"Kak Jimmy menikah lagi", kata Adel sambil memeluk sang ibu.


Tubuh Ratmi bergetar. Kata-kata Adel bagai petir di siang bolong bagi Ratmi.


"Ibu maafkan aku, aku tak sanggup menahan ini sendiri, mbak Na masih belum tahu. Katanya mau tanyakan pada kak Jimmy langsung, dia masih tidak percaya", jelas Adel pada ibunya.


Ratmi merasakan bumi seakan berputar. Kepalanya pusing seketika. Adel merasakan ibunya limbung. Adel merebahkan ibunya di sofa.


Adel cepat-cepat ke dapur untuk mengambil air minum.


"Ibu minum airnya, maafkan aku Bu, aku tidak bermaksud membuat ibu sakit, kita tidak bisa merubah keadaan Bu, semua sudah terjadi", jelas Adel pada ibunya.


Adel memberikan minum pada ibunya. Ibunya sedikit lebih tenang. Adel memeluk sang ibu yang masih terbaring di sofa dengan air mata mengalir membasahi pipinya. Ibu dan anak menangis, mengingat nasib Nina yang tidak beruntung.


"Nasib seperti mempermainkan mbakmu, tapi ini sudah takdir. Mbakmu orangnya sabar dan kuat, mungkin tuhan sedang mengujinya", kata sang ibu bijak.


"Mbak Na terlalu mudah percaya Bu, dia orangnya terlalu baik, kenapa mereka tega membuat mbak Na menderita, kalau menurutku suruh pisah saja mbak Na sama kak Jimmy, untuk apa hidup dalam kemewahan kalau selalu menderita, makan hati ", gerutu Adel.


"Kita lihat saja nanti, kalau memang harus pisah iya apa boleh buat. Semoga ada jalan keluarnya ", ucap Ratmi sang ibu.


"Kalau aku lebih memilih pisah saja Bu, mbak Na juga belum punya anak dari kak Jimmy jadi untuk apa bertahan ", ujar Adel panas.


"Kamu belum merasakan bagaimana berumah tangga, ketika kamu sudah membuat komitmen maka sangat sulit untuk melepaskan, apalagi rumah tangga yang memang di dasari oleh cinta pasti banyak pertimbangan-pertimbangan", ujar sang ibu bijak.


"Dari pada tersiksa lebih baik pisah cari yang lain, memangnya lelaki di dunia ini cuma dia", kata Adel emosi.

__ADS_1


"Kita doakan semoga mbak Na tabah dan menemukan jalan keluarnya ", kata Ratmi tenang walau di dalam lubuk hatinya yang paling dalam sangat tidak rela Nina anak sulungnya harus menerima kenyataan pahit tersebut.


"Iya Bu semoga", jawab Adel di sela nafasnya yang memburu menahan amarah.


"Besok kita menemui mbak Na tapi telepon dulu jangan sampai ada kak Jimmy", kata Adel tenang.


"Sebaiknya kita tunggu dulu kabar dari mbakmu, nanti baru kita kesana", jawab sang ibu.


"Ini tidak bisa di biarkan Bu, lihatlah mbak Na belum mendapat pengakuan dari keluarganya kak Jimmy dan sekarang kak Jimmy malah menikah lagi, ini sangat keterlaluan ", ujar Adel kesal.


"Iya ibu tahu, ibu ngerti tapi perlakuan Jimmy selama mereka menikah tidak pernah berlaku buruk pada mbakmu, dia lelaki bertanggung jawab, dia baik dan perhatian. Kita lihat dulu apa yang akan mbakmu lakukan pada rumah tangganya. Kita boleh memberi saran tapi tidak boleh terlalu jauh turut campur urusan mereka ", ucap sang ibu bijak.


Adel menghela nafasnya dan menghembuskannya secara kasar. Sang ibu mengelus bahu Adel untuk menenangkan Adel yang terlihat masih emosi. Adel terlihat lebih sedikit tenang. Kedua wanita tersebut diam, larut dengan pikiran masing-masing.


****


Sementara itu Nina menunggu kepulangan Jimmy suaminya. Berkali-kali Nina melihat jam dinding yang ada di ruang tengahnya tapi Jimmy belum pulang juga. Nina mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Jimmy tapi ponselnya tidak aktif.


"Ponselnya tidak aktif atau jangan-jangan memang benar adanya berita tersebut. Ya Allah begini amat nasibku", batin Nina.


Air mata mulai membasahi pipi Nina. Ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti kalau Jimmy benar-benar sudah menikah.


Nina terhanyut dalam kesedihan. Ia akhirnya tertidur di sofa setelah pikirannya berkecamuk mengingat rumah tangganya yang baru seumur jagung tersebut.


Nina tertidur sangat pulas sampai-sampai dia tidak tahu kalau Jimmy sudah pulang.


"Di ruang tengah tuan, tadi mau saya bangunkan tapi takut mengganggu nyonya, kelihatannya capek sekali",jawab mbak Yuni.


"Oh iya udah, kamu kunci pintunya ya", kata Jimmy pada mbak Yuni untuk mengunci pintu depan.


"Baik tuan", jawab mbak Yuni.


Jimmy menuju di mana Nina tidur. Dia mengangkat tubuh Nina untuk di bawa ke kamar mereka. Nina kaget merasakan tubuhnya terangkat tubuhnya terangkat.


"Gak apa-apa tidur aja, aku akan bawa kamu ke peraduan kita", kata Jimmy sambil tersenyum.


Nina membiarkan Jimmy menggendongnya menuju kamar mereka.


"Tuan mesra amat yak, jadi iri. Semoga mereka selalu bahagia dan tetap langgeng selamanya ", gumam mbak Yuni melihat perhatian yang di berikan Jimmy pada Nina isterinya. Mbak Yuni kembali ke belakang.


Jimmy merebahkan tubuh Nina di kasur empuk mereka.


"Kalau mau tidur, tidur aja lagi. Di sofa itu tempat duduk bukan tempat tidur. Sayang kan kalau kasur empuk gini di angguri", canda Jimmy.

__ADS_1


Nina bukannya kembali tidur, ia malah bangun dan menyuruh Jimmy duduk di sampingnya.


"Kemarilah, duduk di sini. Ada yang ingin aku tanyakan",ujar Nina berusaha untuk tenang.


Jimmy menuruti kemauan Nina. Dia duduk sangat dekat dengan Nina. Tangannya melingkar di pinggang ramping Nina.


"Ada apa?apa kamu sedang menginginkannya?", goda Jimmy seraya mencolek pinggang Nina.


"Ini masalah serius, ini menyangkut kamu dan kelangsungan rumah tangga kita", kata Nina dengan wajah serius.


Jimmy membetulkan posisi duduknya dan melepaskan tangannya dari pinggang Nina.


"Baiklah, kamu mau bahas apa?", tanya Jimmy pura-pura tidak mengerti.


Nina memandang tajam ke bola mata Jimmy. Ia ingin mencari sebuah kejujuran di sana.


"Media sosial sedang marak menulis sebuah berita tentang kamu, apa kamu sudah tahu?", tanya Nina tidak langsung ke pokok permasalahan.


"Lalu?", tanya Jimmy enteng.


"Apa kamu tidak tahu sama sekali tentang hal itu?", tanya Nina lagi.


Jimmy membalas tatapan tajam mata Nina. Dia ingin mencari kekuatan di sana. Jimmy sudah tahu arah tujuan omongan Nina tapi dia tidak tahu harus di awali dari mana untuk menyampaikannya.


"Kamu tidak sedang beralibi kan?", tanya Nina lagi.


Jimmy menatap bola mata Nina sangat dalam.


"Bang!", pekik Nina.


Bersambung........


.


.


.


.


Selamat membaca ya readers ku sayang...


Jangan lupa beri like, komen dan juga votenya ya.

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2