Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Rasa seorang isteri


__ADS_3

Nina yang biasanya sibuk mengurus segala sesuatu di rumahnya, kini tak lagi di sibukkan dengan segala sesuatunya. Sejak ada asisten rumah tangga yang standbye di rumahnya kini Nina terlihat lebih santai dan tenang.


Hari sudah menjelang malam tapi Jimmy belum pulang juga dari tempat kerjanya. Nina mulai gelisah karena dari tadi siang Jimmy tak mengangkat telepon darinya.


"Kenapa kamu Bang, sesibuk apapun biasanya juga teleponnya di angkat", gumam Nina.


Nina jadi kepikiran tentang pesan whatsapps yang di temukannya pagi tadi.


"Atau ada hubungannya dengan pesan tersebut, tapi siapa?ada keperluan apa?", gumam Nina mondar-mandir di ruang tamunya.


"Apa aku harus ke kantornya saja kali ya?!", gumam Nina dalam bingungnya.


"Ahh mungkin dia lagi ada urusan di luar kantor jadi gak sempat telepon", gumam Nina menenangkan hatinya sendiri.


Nina menutup gordennya. Kemudian Nina menuju kamarnya.


Setelah pukul sembilan malam akhirnya Jimmy pulang ke rumahnya. Nina sudah tertidur karena kondisinya memang belum begitu sehat.


Jimmy mengetuk pintu rumahnya. Seorang wanita berkisar umur 40 tahun berdiri tegak membukakan pintu untuknya.


"Tuan dah pulang", kata sang asisten menebak kalau yang datang adalah majikannya.


"Kamu pasti mbak Yuni ya, mana isteri saya?", Jimmy yang sudah mengetahui kalau wanita tersebut adalah Yuni sang asisten rumah tangganya yang baru. Itu di ketahui Jimmy dari pesan whatsapps yang di kirim Marsel padanya.


"Iya den, saya Yuni. Nyonya di kamar, mungkin udah tidur",jelas Yuni sang asisten.


"Iya udah, tutup pintunya jangan lupa langsung di kunci", kata Jimmy pada mbak Yuni.


Jimmy segera menuju kamarnya. Di bukanya pintu kamar secara perlahan. Di lihatnya Nina tidur dengan meringkuk di tempat tidur mereka. Perasaan bersalah menyelimuti hati Jimmy. Di dekatinya Nina. Di sentuhnya kepala Nina dengan lembut. Nina membuka matanya. Nina cepat bangun dari tidurnya.


"Tidur saja, istirahatlah", ujar Jimmy.


"Abang koq baru pulang, di telepon gak di angkat, kemana sih?", kata Nina tak memperdulikan perintah Jimmy.


"Tadi hp di silent, ada rapat luar, lupa mengaktifkan deringnya, memangnya ada apa?", tanya Jimmy seraya melepas pakaiannya dan mengambil handuknya.


"Ohh, kirain kemana, lain kali jangan begitu, aku kan cemas di rumah, gimana kalau kamu kenapa-napa?aku mau cari kemana?", ucap Nina.


"Oh jadi pengennya suamimu ini mati gitu?", ucap Jimmy mencoba beralibi.


"Iya bukan gitu sih bang, kalau kamu pergi aku tahu arah tujuan abang kan enak, aku gak cemas, trus aku tahu kamu ada kerjaan di luar sana ", jelas Nina.


"Iya ngerti, udah ahh gak usah di bahas, aku mau mandi dulu, gerah", ujar Jimmy sambil menuju kamar mandi.


Nina menghela nafasnya. Ia memunguti pakaian Jimmy yang berserakan dan memasukkannya ke keranjang tempat pakaian kotor.


Nina menuju dapur menyiapkan makan malam untuk suaminya. Setelah selesai Nina kembali ke kamarnya. Di lihatnya Jimmy sudah selesai mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


"Makannya udah siap bang, makan yuk", ajak Nina. Nina sengaja belum makan menunggu Jimmy pulang dulu untuk makan bersama.


"Kamu saja yang makan, aku sudah makan tadi sama klien", jawab Jimmy sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


Hati Nina terasa sakit mendengar ucapan Jimmy. Bagaimana tidak, Nina menunggu berjam-jam untuk makan bersama sang suami, ternyata yang di tunggu malah sudah makan di luar sana. Nina merasakan matanya panas. Air matanya mulai mengambang. Nina cepat memutar tubuhnya menuju dapur. Nina mengambil nasi sedikit untuk di makannya. Rasa laparnya telah hilang. Tapi karena Nina di tuntut untuk meminum obat, akhirnya Nina memaksakan dirinya untuk makan walau makanan tersebut sangat susah untuk di telan.


Nina menghabiskan sisa makanannya setelah itu kembali ke kamar. Di dapatinya Jimmy sudah tidur dengan nyenyaknya. Sangat letih kelihatannya. Nina mendekat ke tempat tidur.


"Bang", panggil Nina kepada Jimmy.


Tapi Jimmy sudah terbang ke alam mimpi. Tidurnya sangat pulas, suara Nina yang memanggilnya pun tidak lagi terdengar olehnya.


Nina menghela nafasnya. Nina merebahkan tubuhnya di samping suaminya. Nina mencoba memejamkan matanya walau terasa sulit. Pikirannya berkecamuk. Nina merasakan ada yang beda pada suaminya. Tapi Nina tak bisa menebak, apa penyebab suaminya sedikit berubah. Setelah pikirannya sudah berkelana cukup panjang dan melelahkan, akhirnya Nina dapat juga memejamkan matanya.


****


Nina bangun seperti biasanya. Nina melihat ponsel Jimmy berada di samping bantalnya. Nina mengambil ponsel tersebut. Ponsel tersebut dalam keadaan di nonaktifkan.


"Mati", batin Nina.


Nina melihat ke Jimmy.


"Sepertinya dia sangat kelelahan, sampai jam segini tidurnya masih sangat pulas", gumam Nina.


Nina meletakkan kembali ponsel Jimmy ke tempat semula. Jimmy menggeliat. Nina menunggu sebentar, melihat Jimmy yang menggeliat.


"Bang udah siang nih, bangun yuk", kata Nina sambil duduk di pinggir tempat tidur.


"Nanti aja, pagi-pagi begini enaknya tidur", jawab Jimmy sambil memeluk erat gulingnya.


"Abang kan mau kerja, tidurnya nanti lagi aja", kata Nina.


"Nanti aja, masih ngantuk", jawab Jimmy seraya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Bang", seru Nina lagi.


Tapi tak ada respon dari Jimmy. Nina memandangi tubuh Jimmy yang tertutup selimut. Nina mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Nina bangun dari tempat duduknya. Nina mengambil keranjang pakaian kotor mereka dan membawanya ke belakang.


"Eh nyonya, biar aja Nya biar saya aja yang ambil, nyonya istirahat saja di dalam", ujar Yuni seraya mengambil keranjang dari tangan Nina.


"Gak apa-apa. Bosan gak ada yang di kerjakan", jawab Nina.


"Jangan Nya, kalau tuan tahu bisa kena damprat saya nya", kata Yuni sang asisten.


"Iya udah kalau gitu", kata Nina seraya memutar badannya untuk menuju teras depan. Nina mencari udara pagi. Masih sangat sejuk.

__ADS_1


Nina menghirup udara segar di sana. Beberapa kali Nina menarik dalam-dalam nafasnya melalui hidungnya, di tahannya sebentar, lalu di hembuskan melalui mulutnya. Nina mengulanginya beberapa kali sampai dadanya terasa lega. Setelah merasa cukup Nina kembali ke kamarnya. Tapi tiba-tiba Nina membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam karena Nina mendengar suara dari dalam kamarnya.


"Bang Jimmy teleponan dengan siapa pagi-pagi begini?", batin Nina.


"iya iya tunggu aja", suara Jimmy dari dalam kamar.


"Tunggu apanya?", batin Nina.


"Oke", suara Jimmy kembali terdengar.


Tak ada lagi suara. Nina masuk ke dalam kamarnya. Jimmy bangun dari tidurannya dan langsung menuju ke kamar mandi.


Nina mendekati ponsel Jimmy. Nina mengambil dan membuka ponsel tersebut.


"Nomor itu lagi", gumam Nina.


Nina mencoba menelpon nomor tersebut melalui ponsel Jimmy. Nina hanya ingin mendengar suara pemilik nomor tersebut. Tapi sayang nomor tersebut tidak aktif.


Nina menghapus panggilan untuk nomor tersebut.


Tanpa Nina sadari Jimmy sudah keluar dari kamar mandi.


"Sayang", seru Jimmy pada Nina.


Nina kaget. Hampir saja ponsel Jimmy lepas dari genggamannya.


Bersambung......


.


.


.


.


Selamat membaca ya readers...


Terima kasih yang sudah like dan komen.


Maaf ini hanya sebuah cerita, kalau ada persamaan cerita dan nama itu hanya kebetulan saja.


Ini hanya cerita fiksi, bagi yang tidak suka mohon jangan di buli.


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2