
Nina memberikan bayinya kepada mama mertuanya. Nina memberikan isyarat pada Jimmy untuk keluar dari kamar. Jimmy mengerti. Nina dan Jimmy menuju meja makan. Mereka mulai menyantap makanan yang sudah di hidangkan oleh mbak Yuni.
"Lucu ya bang melihat mereka rebutan gitu", ucap Nina di sela makan mereka.
"Mungkin kita juga begitu nanti dengan cucu kita", jawab Jimmy.
"Ini aja baru merojol, sudah ngomong cucu kita", ujar Nina.
"Iya minta sama yang di atas, minta di panjangkan umur biar bisa gendong cucu kita nantinya", ucap Jimmy.
"Aamiin", jawab Nina.
Jimmy dan Nina menyudahi ritual makan mereka. Setelah selesai mereka kembali ke kamar. Di lihatnya kedua nenek tersebut masih asik mengajak putri kecilnya bermain di tempat tidur mereka.
"Ma, bu, makan dulu ya udah siang lho ini. Nanti lagi mainnya. Si imut juga mau makan dulu", ucap Nina pada mama mertuanya dan ibunya.
"Iya udah deh kami makan dulu tapi jangan di boboin ya cucu ibu", kata bu Ratmi sambil mengelus pipi si kecil.
"Iya oma, si imut juga mau makan dulu", kata Nina pada kedua nenek tersebut.
Si imut menangis.
"Tuh kan dia masih mau main sama oma nya ", protes bu Ratmi.
"Mungkin dia juga sudah lapar bu", ujar Nina.
"Iya juga ya. Ayo Li kita makan dulu. Nanti kita lanjut main sama cucu kita", ujar bu Ratmi pada mama Liana besannya.
Kedua nenek itu keluar dari kamar Nina dan Jimmy. Mereka menuju meja makan. Kedua nenek tersebut menikmati makan mereka. Sedangkan Nina mulai memberikan ASI nya untuk putri kecilnya.
Jimmy yang melihat Nina menyusui sang bayi menelan ludahnya. Benda kenyal milik Nina yang membesar membuat Jimmy meneguk ludahnya. Jimmy menghela nafasnya. Tak tahan dengan pemandangan tersebut, Jimmy bangun dari tempat duduknya. Dia bermaksud keluar dari kamar, menjauh dari Nina yang lagi menyusui anaknya.
"Abang mau kemana?", tanya Nina.
"Gerah di kamar, abang ke teras aja ya", ucap Jimmy menyamarkan kalimatnya.
"Koq gerah!?kan ada AC bang", jawab Nina.
"Mungkin bawaan sudah makan kali ya, abang keluar aja deh. Ibu dan mama juga bentar pagi balik ke kamar ini", kata Jimmy.
"Iya udah kalau gak mau disini", ucap Nina cemberut.
"Mama dan ibu kan masih mau lihat cucunya, abang keluar aja biar mereka lebih leluasa", dalih Jimmy seraya matanya kembali melihat daging kenyal Nina yang menggantung indah tersebut.
"Iya udah deh", kata Nina.
Jimmy mengusap tengkuknya yang panas dingin. Lalu Jimmy keluar meninggalkan Nina dan bayinya di kamar.
Mama Liana dan bu Ratmi sudah selesai makannya. Mereka kembali menuju kamar Jimmy dan Nina.
"Eh si imut tidur", ujar bu Ratmi setelah mereka tiba di kamar Nina.
__ADS_1
"Yaaa padahal kita masih mau main sama dia", jawab mama Liana.
"Iyaa nih", ucap bu Ratmi seraya mendekat pada bayinya Nina.
"Iya udah deh kita keluar aja, nanti kalau dia udah bangun kita ajak main lagi", ucap mama Liana.
"Iya kamu betul, kita nonton televisi aja. Jam segini ada sinetron bagus di salah satu stasiun televisi", ucap bu Ratmi.
"Ayo", jawab mama Liana.
Kedua nenek tersebut keluar dari kamar. Mereka menonton televisi. Mbak Yuni lewat di depan mereka.
"Yun, duduk disini aja kita nonton televisi. Kamu nyesel lho kalau gak nonton, bagus sinetronnya", ujar bu Ratmi.
"Tapi bu..", kata mbak Yuni ingin menolak, karena memang dia tidak terbiasa duduk dengan majikannya. Nina selalu mengajaknya untuk makan bersama mereka tapi mbak Yuni selalu menolak secara halus.
"Sudah duduk aja disini, pekerjaan kamu kan sudah beres juga", kata mama Liana seraya memang tangan mbak Yuni untuk duduk di dekat mereka.
Mbak Yuni salah tingkah oleh perlakuan kedua nenek tersebut yang menganggapnya seperti keluarga mereka tidak selayaknya seperti pembantu pada umumnya.
"Lihat tuh! seru kan", kata bu Ratmi seraya menunjuk pada siaran televisi.
Mbak Yuni hanya senyum-senyum melihat ibu dari majikannya tersebut.
"Mereka baik banget, lucu lagi", batin mbak Yuni.
"Maaf bu, saya ke belakang bentar ambil minum sama cemilannya", ucap mbak Yuni sopan.
"Siap bu", kata mbak Yuni.
Mbak Yuni meninggalkan kedua nenek yang lagi asik nonton tersebut. Ia menuju ke arah dapur. Tak lama mbak Yuni kembali lagi dengan dua gelas teh manis lengkap dengan cemilannya.
Mereka sangat menikmati tontonannya. Di tambah lagi dengan adanya cemilan membuat tontonan bertambah asik dan seru. Mbak Yuni pun akhirnya ikut berbaur dengan mama Liana dan bu Ratmi.
Mendengar keseruan dari dalam rumah, akhirnya Jimmy masuk ke dalam rumah. Dia melihat keseruan di depan televisi. Penontonnya sewot dengan tontonan mereka. Jimmy hanya geleng-geleng kepala.
"Kirain ada apa, gak tahunya nonton sinetron", kata Jimmy seraya mengangkat kedua bahunya.
"Sebaiknya aku ke kamar saja", ucap Jimmy sembari langkahnya gontai menuju kamarnya.
Nina berbaring di tempat tidur bersama si kecilnya. Si kecilnya tertidur dengan sangat nyenyaknya. Sepertinya ia tak terganggu dengan keseruan oma-oma nya itu.
"Iza papa udah tidur rupanya", kata Jimmy pada si kecilnya.
"Iza?", tanya Nina tak mengerti.
"Oryza Eka Jini saputri", jawab Jimmy.
Nina mengerutkan dahinya.
"Oryza itu padi. Padi melambangkan kemakmuran. Eka adalah satu atau bisa di artikan pertama. Jini adalah Jimmy dan Nina. Sedangkan saputri karena dia seorang putri, perempuan", jelas Jimmy.
__ADS_1
"Nama yang cantik", puji Nina.
"Kamu suka?", tanya Jimmy sembari duduk di pinggir tempat tidur.
"Suka, emangnya abang dapat ide dari mana buat nama itu?", tanya Nina.
"Tiba-tiba saja. Tadi buka media sosial abang. Ada yang posting sawah, terus lihat ada padinya. Abang tahu nama latin padi oryza sativa, langsung aja terbersit buat nama si kecil kita dengan kata oryza itu", ujar Jimmy.
"Oohh", kata Nina singkat. Nina manggut-manggut.
"Sepertinya nama itu cocok buat dia yang imut dan cantik", kata Jimmy sambil memandang wajah anaknya.
"Lihat dia tersenyum mendengar ucapan abang tadi, sepertinya dia juga suka dengan nama itu", kata Jimmy lagi.
"Iya sepertinya dia suka", kata Nina sambil terkekeh.
"Semoga nama itu membawa kebaikan dan keberkahan untuknya", Jimmy bergumam.
"Aamiin. Benar kata orang nama itu adalah doa. Jadi kita harus memberikan nama yang baik kepada anak kita karena itu adalah bentuk doa orang tua pada anaknya", jawab Nina.
"Pasti dong sayang", jawab Jimmy seraya memencet hidung mancungnya Nina.
"Iihh abang sakit tahu", kata Nina cemberut.
"Abang nggak", jawab Jimmy sambil terkekeh.
"Awas ya ku balas nanti", kata Nina sengit.
"Paling kamu juga yang kalah", kata Jimmy seraya menggerakkan kedua alisnya.
Nina ingin mencubit perut suaminya tapi Jimmy cepat menangkap tangan Nina dan mendekap tubuh Nina. Bersamaan dengan itu pintu kamar mereka terbuka.
"Kalian ngapain?",
.
.
.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku semuanya.
Jangan lupa like, komen dan kasih votenya ya.
Mampir juga yukk ke karyaku lainnya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).