
Hari-hari di jalani Nina dengan rasa mual yang tiada henti. Muntah pun terkadang tak terhindarkan. Begitu menyiksa. Jimmy kasihan melihat Nina isterinya tapi tak ada yang bisa di lakukannya selain memijit punggung Nina.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan sungguh sangat menyiksa. Kehamilan Nina kali ini tidak seperti kehamilan sebelumnya. Sudah tiga bulan kehamilannya mual muntah masih tetap ada.
Nina terlihat sangat memperihatinkan. Badannya lebih kurusan karena apa pun yang di makannya pasti akan kembali keluar.
"Kita ke dokter saja sayang, aku gak tega lihat kamu begini", ucap Jimmy suatu hari.
"Gak usah. Ini cuma bawaan bayinya aja. Nanti juga hilang", kata Nina.
"Beliin buah semangka aja Bang yg banyak, aku mual lihat nasi", ujar Nina.
"Apa nantinya kamu gak muntah lagi?", tanya Jimmy ragu.
"Mudah-mudahan tidak lagi", ucap Nina sambil memegangi perutnya yang mulai membuncit.
"Baiklah abang cari buahnya dulu ya", ucap Jimmy.
Nina mengangguk. Jimmy pun berangkat mencarikan Nina buah semangka. Nina ke dapur untuk membuat susu.
"Minum susu hangat biar mual dan muntahnya reda", batin Nina.
"Eehh nyonya lagi ngapain?biar saya aja yang buatin susunya",ucap mbak Yuni cepat.
"Biar aja mbak cuma buat susu koq", kata Nina.
"Tapi nyonya kan ...", kata mbak Yuni cepat di potong oleh Nina.
"Mbak Yuni kerjakan yang lain aja, ini cuma buat susu juga gak papa ", kata Nina.
Mbak Yuni mengalah. Ia mengerjakan pekerjaannya kembali. Nina selesai membuat susu. Nina langsung meminum susu hangat yang baru saja selesai di buatnya tersebut.
"Lumayanlah dari pada perut gak ada isinya ", gumam Nina setelah meneguk habis isi gelasnya.
Nina mengambil cemilan yang selalu sedia di rumahnya, baik itu roti, kripik dan kacang-kacangan. Nina mengambil beberapanya. Setelah itu ia membawanya ke depan televisi.
Nina mencoba memakan cemilan tersebut. Di cobanya sedikit sedikit. Nina tidak merasakan penolakan di perutnya.
"Sepertinya nggak mual", batin Nina.
Nina terus memakan beberapa cemilan tersebut karena memang perutnya terasa lapar.
Sementara itu Jimmy membeli semangka pada penjual buah di pinggir jalan tak jauh dari rumahnya.
"Manis gak pak?", tanya Jimmy seraya menepuk-nepuk buah semangka tersebut.
"Manis. Kalau gak manis boleh di kembalikan", sahut sang penjual.
"Aahh bapak bisa aja", kata Jimmy sambil tertawa.
"Satu buahnya berapa kilo pak?", tanya Jimmy.
__ADS_1
"Macam-macam sih tergantung besarnya. Ada yang dua kilo, ada yang tiga kilo. Malah ada yang enam sampai tujuh kilo per buahnya. Pokoknya tergantung besarnya lah", jelas pak penjual buah.
"Mau lihat semangka merah atau kuning itu dari mananya pak?", tanya Jimmy penasaran.
"Ini orang mau beli buah atau sensus sih", batin sang penjual buah.
"Dari kulitnya pun udah beda warnanya, kebetulan kita tidak jual semangka kuning di sini", kata penjual buah sudah mulai risih.
"Cuma nanya aja perbedaannya. Saya mau semangka merah. Yang sebesar ini empat buah ya", kata Jimmy menunjuk semangka yang di maksud.
"Mau hajatan ya mas?", tanya penjual buah karena Jimmy membeli banyak buah semangka.
"Ahh nggak pak, buat isteri saya. Dia lagi pengen makan buah semangka", kata Jimmy.
"Ohh", kata sang penjual tanpa banyak kata lagi.
Jimmy membayar ke penjual setelah itu Jimmy langsung pulang ke rumahnya.
Sementara itu di rumah Nina masih asik dengan cemilannya.
"Alhamdulillah muntahnya gak lagi, mualnya juga sudah berkurang. Semoga selera makan juga kembali normal", batin Nina seraya membuka cemilan kedua.
Tiba-tiba mbak Yuni datang dari belakang Nina.
"Apa nggak makan dulu Nya?", celetuk mbak Yuni.
Nina kaget dan hampir saja makanan yang di pegangnya terlepas.
"Maaf Nya", kata mbak yuni sambil terkekeh.
"Makan dulu Nya udah siap", kata mbak Yuni lagi.
"Nanti aja lagi pengen ngemil, enak lho mbak. Ayo duduk sini kita ngemil bareng", ajak Nina pada mbak Yuni.
"Nggak usah Nya, yang di belakang juga ada", tolak mbak Yuni halus.
Dan di saat yang bersamaan Jimmy pulang dengan membawa empat buah semangka dengan ukuran sebesar kepala manusia.
"Ini semangkanya", kata Jimmy seraya nafas tersengal.
"Waaahh pasti manis ini, ayo mbak bawa ke belakang kita buka", ajak Nina sambil bermaksud mengangkat semangka tersebut.
"Eeiiitt nggak gak gak, biar abang sama mbak Yuni aja yang angkat", kata Jimmy mengambil kembali kantong besar berisi semangka tersebut.
"Iya udah deh", kata Nina sambil tersenyum.
Nina merasakan perhatian dan kasih sayang Jimmy bertambah semenjak kehamilannya. Nina sangat bersyukur. Tapi bila mengingat wajah rivalnya dada Nina terasa sesak. Nina menghela nafasnya. Ia menyusul Jimmy dan mbak Yuni ke belakang.
Mbak Yuni membuka buah semangka tersebut. Buahnya sangat merah. Sangat menarik hati. Nina tersenyum lebar. Nina seperti melihat permata.
"Waauuww", kata Nina tanpa berkata banyak.
__ADS_1
Tanpa banyak kata Nina langsung melahap semangka yang sudah di iris mbak Yuni itu. Satu iris berlalu. Lanjut irisan kedua, ketiga dan seterusnya. Mbak Yuni dan Jimmy melongo melihat Nina yang makan semangka bak orang kesurupan. Jimmy meneguk air ludahnya sendiri.
Akhirnya satu buah semangka habis di makan oleh Nina sendiri. Nina mengambil tissue dan mengelap air semangka yang tersisa di bibir dan dagunya. Nina tersenyum. Wajahnya menggambarkan kepuasan. Nina bersendawa.
"Kenyang Bang, manis semangkanya", kata Nina tanpa dosa.
Jimmy hanya tersenyum.
"Apa tuan mau juga?", tanya mbak Yuni pada Jimmy.
"Mau dong, lihat dia makan tadi pasti ini buah manis banget ", kata Jimmy seraya melirik Nina.
"Koq lihatnya gitu?", kata Nina tidak senang.
"Maksudnya kalau ini manis, aku juga mau", kata Jimmy sambil tersenyum.
"Orang kalau lagi hamil moodnya susah di tebak ya", batin Jimmy.
"Iya udah buka mbak semangkanya. Berhubung aku sudah kenyang, aku balik ke kamar aja. Kalian lanjut aja makannya ", kata Nina enteng.
Jimmy dan mbak Yuni saling pandang. Jimmy menghela nafasnya.
"Ayo mbak buka semangkanya sepertinya enak", ujar Jimmy.
Mbak Yuni membuka semangka dan mengirisnya. Jimmy mengambil satu iris dan memakannya.
"Biasa aja. Kenapa tadi Nina memakannya sepertinya enak banget ", gumam Jimmy.
"Namanya juga bawaan orok tuan", celetuk mbak Yuni.
"Iya juga sih. Mbak Yuni aja yang makan ya", kata Jimmy menghabiskan sisa semangka di tangannya.
Jimmy meninggalkan mbak Yuni dan menyusul Nina ke kamarnya.
"Iya gak mungkinlah tuan aku menghabiskan satu buah semangka gini. Kalau nyonya sih sah-sah saja selain bawaan orok, nyonya juga gak makan nasi", kata mbak Yuni ngomong sendiri.
Mbak Yuni menyimpan semangka yang sudah di kupas ke dalam kulkas. Sedangkan yang belum di kupas di simpan mbak Yuni di tempat lain.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku terkasih semuanya.
Cuuss lanjut like, komen dan kasih votenya juga dong.
Mampir juga ke karyaku lainnya ya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1