
Pagi harinya seperti biasa Nina, Adel dan Marni ibunya sarapan bersama.
"Mbak nanti sepulang sekolah kami ada kerja kelompok di rumahnya Wina", kata Adel di sela makan mereka.
"Emangnya di bolehin sama mamanya?", tanya Nina tanpa melihat ke arah Adel.
"Iya boleh, kata Wina mamanya malah siapin makan siang untuk kami", kata Adel semangat.
"Oohh gitu, jangan macam-macam ya di sana", kata Nina mempertegas.
"Macam-macam gimana sih, orang ke sana mau kerja kelompok", Adel berkilah.
"Iya cuma ngingetin doang, kalau memang tujuan kesana mau belajar ya gak apa-apa", kata Nina seraya mengambil air minumnya dan meneguknya.
"Pulangnya naik ojek aja ya", kata Nina lagi.
"Iihh mbak gimana sih gak peka banget, Adel cerita ke mbak kan maksudnya Adel minta jemput sama mbak, gitu", jelas Adel.
"Sepertinya gak bisa deh, mbak hari ini jadwalnya padat banget, naik ojol aja ya", kata Nina seraya bangun dari tempat duduknya dan mengambil tasnya.
Sang ibu hanya senyum melihat kelakuan dua putrinya.
"Pelit amat sih", gerutu Adel seraya mengambil gelas minumnya dan meneguknya.
Nina dan Adel pamitan sama sang ibu. Nina mengambil motornya. Adel nangkring di belakang Nina. Mereka berangkat, sang ibu masuk kembali ke dalam rumah.
Baru saja bu Marni mau mengambil piring bekas sarapan tadi, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya. Bu Marni segera menuju ke depan dan membuka pintunya.
"Eehh nak Jimmy, ada apa?", tanya Bu Marni.
"Nina nya ada bu?", tanya Jimmy pada ibunya Nina.
"Barusan aja berangkat", kata Bu Marni.
"Oohh ya sudah kalau gitu, saya permisi dulu bu", kata Jimmy pada ibunya Nina.
"Iya nak hati-hati", kata bu Marni ibunya Nina.
Jimmy pergi. Bu Marni kembali masuk ke dalam rumahnya.
****
Sementara itu di dalam perjalanan Jimmy sangat kesal. Beberapa kali dia memberi klakson tidak jelas pada pengendara lain. Pada hal dia tidak untuk mendahului.
"Dasar wong edan main klakson aja, di kiranya ini jalan bapaknya barang kali", gerutu pengendara lainnya.
"Kenapa sih tuh anak, dah di janjiin mau di jemput, main tinggal aja", gumam Jimmy.
__ADS_1
Walau tak di sebutkan siapa yang di maksud, pikiran Jimmy tertuju hanya pada Nina. Jimmy mempercepat laju kendaraannya. Hingga sampai di kantornya, Jimmy tak melihat motor Nina di parkiran.
"Belum ada, kemana dia perginya", gumam Jimmy.
Jimmy masuk ke ruangannya. Di sana sudah ada Marsel.
"Tumben dah siap", ledek Jimmy pada Marsel.
"Sudah beberapa hari ini, aku kembali hidup normal, bangun pagi, olah raga bentar biar fresh, baru berangkat kerja", ujar Marsel.
"Hebat lu, pasti ada obatnya nih", kata Jimmy berusaha menebak.
"Biasalah bro seperti juga halnya kamu, hati kalau lagi happy bawaannya semangat trus", kata Marsel berusaha membuat Jimmy terbuka dan jujur tentang Nina.
"Maksudnya?", tanya Jimmy tak mengerti.
"Iya pura-pura lagi, aku itu seperti anjing placak, gak usah main rahasia-rahasiaan, akui saja kalau kamu dan Nina sudah resmi jadian", kata Marsel pada Jimmy.
"Siapa yang bilang?udah deh gak usah buat gosip", kata Jimmy menghindar.
"Siapa juga yang buat gosip, orang aku lihat sendiri kalian gandengan tangan mesra banget", kata Marsel sambil senyum penuh kemenangan.
"Mata kamu yang salah kali", kata Jimmy berkelit.
"Mataku masih normal belum rabun bro, akui saja kenapa sih, lagian apa ruginya sih ngasih tahu ke aku", kata Marsel sedikit kesal.
"Aahh sudahlah lupakan saja, pagi ini kita ada rapat penting, siapkan saja segala keperluannya", kata Jimmy tanpa menatap Marsel.
Setelah keluar dari ruangan Jimmy, Marsel berpapasan dengan Nina.
"Hai", sapa Marsel pada Nina.
"Eh pak Marsel, maaf pak saya datangnya telat, tadi macet", kata Nina sambil menunduk.
"Gak usah formal gitu juga kali Nin, masa' dengan Jimmy kamu bisa tidak formal dengan aku formal gitu", kata Marsel menggoda Nina.
Nina berusaha untuk tenang.
"Ini kantor pak, kalau saya panggil kakak nanti karyawan yang lain bikin gosip tentang saya", ujar Nina berdalih.
"Oke kamu benar juga, oh iya tolong jaga Jimmy ya dia orangnya susah di atur", kata Marsel sambil senyum.
Nina mengernyitkan dahinya. Berusaha memahami kata-kata Jimmy.
"Apa itu artinya kak Marsel sudah tahu tentang hubunganku dengan kak Jimmy?", batin Nina.
Nina menghela nafasnya. Nina menuju mejanya.
__ADS_1
"Aku harus ke ruangan kak Jimmy, apa maksudnya memberitahukan semuanya pada kak Marsel", kata Nina seraya menuju ruangan Jimmy.
Marsel yang masih kesal, memukul mejanya sehingga barang-barang di atas mejanya jadi berantakan.
Nina yang sudah berada di ambang pintu membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan Jimmy.
Nina mematung di depan pintu. Mendengarkan kalau Jimmy masih marah-marah. Tapi sudah sepuluh menit dia di situ tidak terdengar apa-apa lagi. Sunyi.
Tiba-tiba pintu ruangan Jimmy terbuka. Nina yang merasa kepergok, jadi tak enak pada Jimmy. Nina seperti maling ke tangkap basah. Nina memutar tubuhnya untuk kembali menuju mejanya. Melihat itu Jimmy bertindak cepat. Jimmy menarik tangan Nina untuk kembali ke dalam ruangannya.
Tanpa basa-basi lagi Jimmy langsung memeluk tubuh Nina erat. Nina yang mendapat serangan secara tiba-tiba tersebut kaget. Nina berusaha melepaskan diri dari Kungkungan Jimmy. Nina mendorong Jimmy hingga Jimmy mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kamu itu ya, cari kesempatan dalam kesempitan, kamu sengaja kan memberitahu kak Marsel tentang hubungan kita?kamu sengaja kan ingin mempermalukan aku?",Nina nyerocos.
Jimmy mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Jimmy mendekat kepada Nina.
"Jangan mendekat", kata Nina seraya mundur ke belakang.
Jimmy terus maju mendekat, Nina terus mundur hingga akhirnya Nina mentok di dinding dalam ruang tersebut.
Nina terkungkung di antara kedua tangan Jimmy.
"Kamu mau apa?", tanya Nina.
Nina ketakutan ketika melihat tatapan mata Jimmy yang seakan mau memangsanya.
"Aku mau...", Jimmy tak menyelesaikan kalimatnya.
Tangan Jimmy sudah berpindah ke pinggang ramping Nina. Di tariknya tubuh Nina sehingga tubuh mereka menyatu. Nina kaget. Mulutnya menganga. Melihat reaksi Nina seperti itu Jimmy jadi gemas. Tanpa persetujuan lagi Jimmy mencium Nina. Jimmy mengecup bibir Nina. Nina terdiam. Melihat Nina hanya diam, Jimmy meneruskan aksinya. Bibir tipis Nina di hisap, di *****. Lama Jimmy bermain di bibir Nina. Nina terengah-engah hampir kehabisan nafas. Jimmy tak memberinya jedah sedikit pun. Nina melepaskan ciuman Jimmy.
"Bibir kamu manis rasa strawberry", goda Jimmy.
"Bentar lagi ada rapat, aku siapkan berkas beserta filenya dulu", kata Nina meninggalkan Jimmy dengan terburu-buru.
Melihat reaksi Nina, Jimmy tertawa kecil. Nina kembali ke mejanya. Nina mengatur nafasnya yang memburu.
"Hhuuuhhh", Nina menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Lama-lama bisa serangan jantung aku kalau begini terus", gumam Nina.
.
.
.
Bantu vote, like dan komennya ya readers...
__ADS_1
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).