Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Berdamai dengan hati


__ADS_3

Setelah acara resepsi usai, Jimmy berinisiatif untuk membawa Prili ke rumahnya. Bagaimanapun Prili sudah menjadi bagian hidupnya.


"Sayang bagaimana kalau Prili tinggal di sini juga, apa kamu setuju?", tanya Jimmy pada Nina.


"Bang, Prili sekarang sudah menjadi isteri sah kamu, kamu berhak membawanya kemanapun kamu mau tapi tidak ke rumah ini. Cukup cinta yang kamu bagi tapi tidak dengan rumah dan kamar tidur", ucap Nina pelan tapi menyengat.


"Prili tidak mempunyai saudara, rumah orang tuanya megah, mana mungkin dia mau tinggal di rumah kecil seperti ini ", ucap Nina lagi.


"Ooh jadi maksud kamu rumah ini kurang besar begitu?dan apa kalau rumah besar Prili baru boleh tinggal bersama kita begitu, iya?!", tanya Jimmy.


"Jangan cari ribut Bang, aku tidak mau tinggal seatap bersama dia. Kalau kamu mau dia keluar dari rumah orang tuanya silakan abang carikan dia rumah, tapi tidak tinggal di sini", ucap Nina tegas.


"Sayang, Prili lagi hamil dia butuh aku", ujar Jimmy.


"Bukan urusanku", jawab Nina kesal.


Nina keluar dari kamar. Jimmy ingin mengejar tapi di batalkannya. Dia memilih diam di kamar. Jimmy serba salah. Mau tinggal bersama Prili itu sangat tidak mungkin karena Nina juga sendiri. Mau di bawa ke rumah Nina sangat tidak setuju.


"Terpaksa harus bagi waktu", batin Jimmy.


Sudah dua jam Nina belum kembali ke kamar. Jimmy akhirnya keluar dari kamar mencari keberadaan Nina.


"Kemana dia?di dapur nggak ada, euang tamu gak ada, atau mungkin di kamar depan kali ya", kata Jimmy mencoba menebak.


Benar saja, di lihatnya Nina tidur meringkuk di kasur. Jimmy mendekati Nina. Jimmy melihat bantal Nina basah.


"Sepertinya dia tertidur setelah habis menangis, maafkan abang sayang. Abang terpaksa", batin Jimmy.


Jimmy tidak mau mengganggu tidur Nina. Jimmy naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sebelah Nina. Di pandanginya wajah Nina yang ayu.


Jimmy merapatkan tubuhnya ke dekat Nina. Nina tak bergeming. Jimmy mengelus bibir tipis Nina. Jimmy mengecup bibir itu, terasa dingin. Nina menggeliat. Tak sengaja dada Nina menyentuh tangan Jimmy. Jimmy merasakan sensasi dengan ada gesekan tersebut.


Tangan Jimmy mulai nakal. Tangannya menjamah bukit kembar Nina. Nina yang masih sangat mengantuk membuka sedikit matanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?", tanya Nina setengah sadar.


Jimmy tak menjawab. Melihat Nina ada reaksi, Jimmy semakin berani. Jimmy menyusuri setiap inchi tubuh Nina. Nina masih terpejam. Jimmy memasukkan tangannya di sela celana tidur Nina. Nina melenguh saat tangan Jimmy menyentuh area sensitifnya.


Jimmy menangkup bibir tipis Nina dengan sentuhan bibirnya. Nina menggeliat. Nina semakin terlihat seksi di mata Jimmy dengan menggeliat seperti itu.


Nina membuka matanya. Nina berusaha untuk bangun dan menjauhi Jimmy. Jimmy cepat memeluk tubuh Nina dengan mengapit kedua tangan Nina.


"Lepas!", kata Nina dengan menghentakkan tangannya agar terlepas dari cekraman Jimmy.


"Dosa menolak ajakan suami", kata Jimmy berdalih.


"Lagi gak mood", ucap Nina seraya berusaha melepaskan pelukan Jimmy.


"Jangan marah kalau aku mendatangi Prili untuk bercinta karena kamu menolak", ucap Jimmy.


"Sekarang kamu sudah bisa mengancam juga ternyata", ucap Nina sedikit mencibir.


"Makanya jangan menolak", kaya Jimmy seraya mempererat pelukannya. Bibir Jimmy menempel di leher jenjang Nina. Jimmy tak memberi kesempatan pada Nina untuk mengelak. Sekuat apapun tenaga Nina masih tidak sebanding dengan tenaga Jimmy suaminya.


Nina masih memberontak. Jimmy tak mau hilang gairah. Dia kembali beraksi. Di telusurinya leher Nina yang jenjang. Tangannya kembali ke dada Nina. Dengan kasar Jimmy memainkan tangannya di dada Nina. Nina meringis. Ada kemarahan dalam setiap gerakan-gerakan Jimmy. Nina bak patung bernyawa. Ia membiarkan Jimmy beraksi di tubuhnya.


Nina tak memungkiri sentuhan-sentuhan yang di ciptakan Jimmy telah membangkitkan gairahnya. Tapi Nina tetap dalam diam.


"Ayo sayang jangan hanya diam", ujar Jimmy melihat Nina tak ada reaksi.


Nina tetap membisu. Ia memejamkan matanya saat Jimmy mulai berpacu di atas tubuhnya. Air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Sudah berhentilah menangis, nikmatilah", ucap Jimmy seraya menghapus air mata Nina.


Melihat Nina tak lagi menangis Jimmy kembali berpacu dan berpacu. Tubuh Nina terguncang mengikuti irama gerakan Jimmy. Jimmy melenguh panjang saat laharnya akan keluar. Sambil berpacu tangan Jimmy tidak tinggal diam. Bergerilya di dada Nina. Nina benar-benar bak patung hidup tak ada reaksi apapun.


Sampai akhirnya pacuan Jimmy berakhir. Hentakannya sangat dahsyat. Tak sadar Nina pun melenguh seiring hentakan Jimmy.

__ADS_1


Aarrhhgggg...


Jimmy mengeluarkan laharnya. Semburan hangat mengalir di rahim Nina. Jimmy memeluk erat tubuh Nina.


Jimmy terkulai di atas tubuh Nina. Nina melihat wajah Jimmy. Ada kepuasan di sana. Beda dengan Nina yang merasa seakan dirinya sebagai pemuas nafsu bagi suaminya.


Setelah mengatur nafas Jimmy turun dari atas tubuh Nina. Dia merebahkan tubuhnya di samping Nina.


"Sudahlah jangan begini terus, semua tak akan mengubah keadaan. Bersikaplah seperti biasa",ucap Jimmy yang tangannya kembali memeluk tubuh Nina.


Nina malah cengeng, ucapan Jimmy malah membuat air matanya kembali mengalir. Jimmy mengelus rambut dan punggung Nina.


Di kecupnya kening Nina dengan lembut secara berulang. Nina memejamkan matanya. Jimmy menghapus air mata Nina. Di elusnya pipi Nina dengan kasih. Nina akhirnya luluh juga. Nina membalas pelukan Jimmy suaminya. Ada damai di hatinya.


Berdamai dengan hati itu lebih tepatnya untuk Nina sekarang ini.


"Kalau kamu tidak ingin Prili tinggal di rumah ini tak masalah, tapi jangan pernah menolak kalau suami lagi minta",ucap Jimmy. Tangan Jimmy menggelitik pinggang Nina. Nina menggelinjang kegelian.


Jimmy ingin suasana hati Nina kembali normal. Dia tidak ingin semua jadi rusak karena pernikahannya dengan Prili. Nina memang bukan anak orang kaya tapi Nina wanita yang kaya hati, dan itu tidak di miliki oleh Prili.


Jimmy tak kehabisan akal untuk membuat mood Nina kembali membaik. Jimmy menggendong Nina seperti ngemong anak bayi. Dan Jimmy kembali beraksi. Bibirnya menjelajah wajah Nina. Nina memberontak untuk turun dari gendongan Jimmy. Nina lolos. Jimmy tak mau kalah. Tangannya cepat menarik kembali Nina ke dalam pelukannya. Dia menekan tengkuk Nina agar Nina tidak memberontak lagi. Aksi Jimmy berlanjut. Bibirnya kembali beraksi. Sekarang bibir Nina yang jadi sasaran. ******* Jimmy benar-benar tidak memberi kesempatan pada Nina untuk melawan. Lidah Jimmy bermain di mulut Nina.


Sejenak Jimmy menghentikan aksinya, memberi kesempatan pada Nina untuk mengambil nafas. Nina memejamkan matanya. Melihat Nina sudah mulai tenang, Jimmy kembali melakukan aksinya tapi sekarang lebih halus dan lembut. Tidak memaksa seperti tadi. Nina mulai menerima. Walau tidak ada balasan yang berarti dari setiap aksinya tapi sudah membuat Jimmy lebih leluasa untuk bermain.


Permainan pun berlanjut ke ranjang. Jimmy benar-benar kecanduan. Baginya Nina mempunyai daya tarik tersendiri.


Kembali Jimmy mereguk kenikmatan yang luar biasa. Tulang Jimmy seakan remuk. Tubuhnya lunglai akibat dua kali mencapai puncak kenikmatan. Nina memandangi wajah suaminya. Ada rasa ngilu di hatinya mengingat wajah Prili. Tapi harus bagaimana takdir cinta telah membawanya seperti ini. Berdamai dengan hati itu lebih baik.


Nina menyelimuti tubuh Jimmy suaminya. Nina menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian Nina ikut masuk ke dalam selimut. Keduanya akhirnya bisa melewati malam dengan tenang. Mereka tertidur dengan sangat pulasnya.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA READERSKU SAYANG...


Jangan lupa juga mampir ke karyaku lainnya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2