
Jimmy masuk kedalam ruangannya. Dia mendengus kesal. Dia meraba pipinya yang sedikit nyeri akibat pukulan yang di lancarkan oleh si Ferdy.
"Gila tuh orang. Sudah gak waras", gerutu Jimmy.
Jimmy mengambil air minum yang selalu tersedia di samping mejanya. Setelah minum air putih tersebut, Jimmy merasa lebih tenang. Jimmy seperti memikirkan sesuatu. Dia manggut-manggut sendiri.
Jimmy duduk di kursinya. Setelah merasa lebih tenang, Jimmy memanggil Nina untuk masuk kedalam ruangannya. Nina mengetuk pintu ruangan Jimmy.
"Masuk", kata Jimmy tanpa menoleh ke arah pintu.
Nina masuk kedalam ruangan Jimmy. Dengan sedikit gugup Nina memberanikan diri untuk bertanya.
"Ada apa pak?", tanya Nina.
"Duduk", kata Jimmy datar.
Dengan sedikit membungkuk, Nina menarik kursi yang ada di depan meja Jimmy. Nina kemudian duduk dengan menunduk dan meremas jari-jarinya.
Jimmy memandang wajah Nina sebentar.
"Tadi waktu Ferdy dan saya berantem, saya mendengar kamu menyebutnya dengan sebutan kakak. Apa Ferdy adalah kakak kamu?", tanya Jimmy.
"Iya pak, dia kak Ferdy adalah kakak sepupu saya", jawab Nina tanpa berani memandang wajah bos besarnya tersebut.
"Saya lihat kamu orangnya baik, tidak sama dengan si Ferdy. Kamu punya skill yang mumpuni. Kamu orangnya bertanggungjawab dan berdedikasi tinggi. Perusahaan kita ini punya cabang di luar kota", Jimmy menghentikan sejenak kata-katanya.
"Saya bukan tidak suka dengan kamu. Saya sangat suka dengan orang yang pintar dan cekatan seperti kamu tapi..", Jimmy memandang wajah Nina yang sudah mulai berubah. Nina seperti orang yang ketakutan.
"Begini, saya akan mutasi kamu ke cabang yang ada di luar kota. Ini saya lakukan karena saya tidak mau berurusan dengan si Ferdy lagi bukan karena tidak suka dengan kerja kamu. Apa kamu bersedia Nin?", tanya Jimmy tegas.
"Kalau itu sudah menjadi keputusan bapak, saya akan terima dengan lapang dada. Saya tidak bisa menolak keputusan bapak. Saya akan laksanakan perintah bapak dengan senang hati", jawab Nina memberanikan diri menatap wajah sang bos.
"Bagus. Kamu sangat profesional. Mulai besok kamu akan saya kirim kesana. Untuk segala sesuatunya kamu bisa tanyakan langsung dengan Marsel", kata Jimmy senang.
"Baik pak. Terima kasih. Saya permisi dulu pak", kata Nina.
Nina keluar dari ruangan Jimmy dan kembali ke mejanya.
Jimmy menyuruh Marsel ke ruangannya.
"Ke ruanganku sekarang", kata Jimmy setelah ada suara Marsel di seberang sana.
Tak menunggu waktu lama Marsel muncul di depan Jimmy. Sudah menjadi kebiasaan Marsel kalau masuk ke ruangan Jimmy tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Hai bro tadi ku dengar kamu adu jotos ya sama Ferdy rival kamu itu?", Marsel langsung nyerocos setelah berhadapan dengan Jimmy.
__ADS_1
Jimmy mendengus.
"Iya itu sebabnya aku manggil kamu kemari", kata Jimmy seraya menutup map yang ada di hadapannya.
"Apa hubungannya denganku?jangan bilang kalau kamu ingin aku menghajar balik si Ferdy itu", kata Marsel menebak.
"Lagakmu. Kamu berani menghadapi si tengil kelas sarden itu?", tanya Jimmy.
"Kalau kamu yang nyuruh aku akan buat dia jadi peyek sekalian", kata Marsel enteng.
Jimmy memoncongkan bibirnya. Dia tidak menanggapi ucapan Marsel. Dia tahu Marsel orangnya sangat suka bercanda.
"Jadi kamu ingin aku bagaimana nih?", tanya Marsel setelah tak ada tanggapan dari Jimmy.
"Ku dengar Rini kan kerjanya pulang pergi kerja disana, bagaimana kalau Rini kita tarik kesini lagi?kasihan dia harus bolak-balik kesana kemari", kata Jimmy.
"Terus kalau dia kita tarik lagi kesini, kita mau letakkan di posisi mana?disini tak ada lowongan lagi buat dia", kata Marsel tak mengerti.
"Kamu yang urus semuanya. Nina kamu pindah kesana dan Rini tarik kembali kesini", jelas Jimmy.
"Ehhmm kenapa di tukar bro, Nina itu masih muda belum berkeluarga, ulet dan lebih cantik dari Rini. Kenapa di tukar?rasanya agak aneh. Nina baru beberapa hari kerja disini sudah di alihkan kesana. Apa ada masalah dengan kerjanya?", kata Marsel.
"Rini sudah berpengalaman. Dia lebih telaten. Soal sudah berkeluarga itu bukan bagian target kita. Yang penting dia konsisten. Sebenarnya ada alasan lain kenapa Nina ku pindahkan kesana", kata Jimmy memberi alasan.
"Tapi kita mencari Nina dengan proses bro, dia terlihat ulet dan konsisten. Memangnya ada alasan lain apa?", tanya Marsel penasaran.
Marsel gelagapan.
"Iya gak gitu juga sih bro. Kan cuma sekedar saran. Lagian aku kan bukan bujangan lagi. Sofi segalanya bagiku", ucap Marsel.
"Alasan klise. Tadi waktu kami berantem si Nina datang dan aku baru tahu kalau Ferdy adalah kakak sepupunya", Jimmy sambil tersenyum.
"Jadi apa karena dia adik sepupu Ferdy, dia di pindahkan kesana? jadi kapan kita akan dilaksanakan ide ini?", tanya Marsel.
"Besok. Besok pagi Nina sudah di kirim kesana. Suruh Rinal yang urus. Dan Rini, kamu bisa menghubungi dia sekarang biar besok dia sudah masuk ke kantor ini. Sebenarnya bukan karena dia adik sepupunya Ferdy aku pindahkan kesana, cuma karena aku tidak mau berurusan lagi dengan si Ferdy. Aku bisa saja memberhentikan si Nina karena dia adik sepupunya Ferdy tapi rasanya tidak manusiawi karena ini bukan kesalahan Nina", kata Jimmy tegas.
"Siap bos. Siap laksanakan. Aku akan urus secepatnya", kata Marsel sambil berlalu.
Marsel berlalu dari hadapan Jimmy. Marsel menghentikan langkahnya setelah melewati meja kerja Nina.
"Pagi pak", sapa Nina.
"Pagi. Oh iya besok pagi kamu akan di berangkatkan ke perusahaan cabang. Jadi kamu harus siapkan segala sesuatunya ya", kata Marsel pada Nina.
"Baik pak. Tadi pak Jimmy sudah memberi tahu saya", kata Nina sopan.
__ADS_1
"Oke. Kalau gitu saya permisi dulu. Besok pak Rinal yang akan bersama kamu kesana", kata Marsel pada Nina.
"Baik pak", kata Nina sambil manggut.
Marsel meninggalkan Nina. Marsel menuju ruangan Rinal yang tak jauh dari ruangannya.
"Belum datang, pengantin baru selalu telat datangnya. Hadeehh", kata Marsel setelah melihat ruangan Rinal masih kosong.
Marsel kembali ke ruangannya. Dia menelpon Rinal dari ponselnya.
"Dimana?", tanya Marsel langsung.
"Sudah di parkiran. Nanti aku langsung ke ruang kak Marsel", kata Rinal dari seberang.
Marsel memutuskan obrolan mereka. Selang beberapa menit Rinal datang ke ruangannya.
"Kakak kamu ingin kita memindahkan Nina ke perusahaan cabang", kata Marsel setelah Rinal duduk di kursinya.
"What?!", Rinal terkejut.
"Besok kamu yang antar Nina kesana", ucap Marsel lagi.
"Koq dadakan gini sih kak, biar aku yang bicara sama kakak. Sepertinya ada yang salah ini", ucap Rinal seraya bangun dari tempat duduknya.
"Eehhh tunggu", kata Marsel.
Tapi Rinal sudah berlalu menuju ruangan sang kakak.
.
.
.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku terkasih...
Beri likenya ya. Komentarnya juga di tunggu. Votenya juga ya.
Mampir juga ya ke karyaku lainnya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).