
Setelah selesai makan keduanya kembali ke kantor. Jimmy sengaja menggandeng tangan Nina biar karyawannya melihat aksinya. Benar saja, mereka ada yang mulai bergosip. Jimmy berhenti di tengah ruangan tersebut.
"Ohh iya untuk semuanya, besok kita ada acara di kantor, untuk syukuran kita berdua, di harapkan untuk datang tepat waktu", kata Jimmy mengumumkan pada karyawannya.
Nina melongo tak percaya akan apa yang Jimmy lakukan..
"Gea tolong urus semuanya ya, nanti Marsel akan turun tangan bantu kamu", kata Jimmy pada Gea yang di percaya di bagian perlengkapan di kantor tersebut.
"Siap Pak", kata Gea tegas.
Jimmy menoleh pada Nina.
"Ayo sayang", kata Jimmy mengajak Nina kembali ke ruangan mereka.
"Jadi benar pak bos sudah nikah sama si Nina?wah ini baru berita hangat", kata salah satu pegawai Jimmy.
"Husss jangan ngegosip kerja sana", tegur Gea.
Mereka pun bubar. Berita tersebut akhirnya sampai ke telinga Tika sahabat Nina. Tika memang tahu kalau Nina sudah lama tidak masuk kerja tapi Tika tidak tahu kalau semua itu ada hubungannya dengan pernikahan Nina dengan pak bosnya.
Tika menelpon Nina.
"Halo sobatku apa kabar?", kata Nina setelah tersambung.
"Kamu tuh ya, kasih kabar nggak, apa-apa juga nggak, tiba-tiba ada kabar udah nikah, benaran nggak sih kabar yang beredar?", Tika nyerocos.
"Nggak enak ngomong di telepon, kita bicaranya di luar saja ya, di taman samping", kata Nina.
"Kapan? sekarang?", tanya Tika.
"Iya sekarang Tika sayang, masa besok", kata Nina.
"Oke cepatan ya gak pakai lama", kata Tika.
"Iya", jawab Nina.
Obrolan pun berakhir. Mereka pun bertemu di tempat yang telah di janjikan.
"Benaran nih berita yang santer terdengar tentang kalian?", tanya Tika langsung.
Nina mengangguk pelan.
"Koq gak ngundang aku sih Nin?", Tika kesal.
"Ceritanya panjang Ka, dadakan juga. Bang Jimmy juga buat acaranya tanpa ngasih tahu aku dulu. Aku juga sempat shock. Ini di lakukannya karena dia menolak perjodohannya dengan anak teman mamanya. Bayangin coba, menikah dadakan di tempat orang lain juga. Aku tak ada pilihan. Semua telah di siapkannya sangat rapi", jelas Nina.
"Jadi kalian menikah tanpa mengantongi restu dari orang tua?", tanya Tika penasaran.
"Ibuku hadir, ibu merestui tapi tidak dengan orang tuanya", jelas Nina lagi.
"Trus sekarang dengan beredarnya berita tersebut apa kamu tidak takut akan di cerca oleh keluarganya pak bos?", tanya Tika lagi.
"Aku sudah terlanjur jauh, aku akan mempertahankan rumah tanggaku", kata Nina tegas
__ADS_1
"Ya semoga orang tuanya pak bos dapat menerimamu di dalam keluarganya", kata Tika memberi sedikit kekuatan untuk Nina.
"Memang susah kalau sudah urusan cinta, sebagai teman aku cuma bisa mendoakan semoga cinta kalian tetap langgeng dan abadi", kata Tika lagi.
"Ma kasih sayang, kamu memang sahabat yang baik", puji Nina.
"Ya udah yuk kita kembali lagi ke ruangan, nanti pak bos bingung nyariin kamu", canda Tika seraya merangkul pinggang Nina.
Tika menghentikan langkahnya.
"Kamu sekarang lebih berisi, apa kamu sedang hamil?", tebak Tika.
Tika meraba pinggang dan perut Nina.
"Kamu apaan sih?geli tahu", kata Nina sambil meliuk-liuk kegelian.
"Kamu hamil kan?", tebak Tika lagi.
Nina hanya bisa mengangguk.
"Tuh oan benar, udah berapa bulan?", tanya Tika lagi.
"Jalan empat bulan", jawab Nina.
"Tokcer juga si pak bos", kata Tika sambil tertawa.
Nina mencubit pinggang Tika. Tika menahan sakit tapi masih tetap tertawa. Keduanya masuk kembali ke dalam ruangan mereka masing-masing.
"Dari mana kamu?dari tadi di cariin gak ada. Lain kali kalau mau pergi ngomong dulu atau ponselnya di bawa biar enak", kata Jimmy pada Nina setelah Nina tiba di ruangannya.
"Apa pun alasannya yang kamu lakukan tetap salah, biasakan komunikasi", kata Jimmy sambil berlalu.
"Cerewet banget sih, cuma gitu doang koq di besar-besarin", gerutu Nina.
Nina kembali ke meja kerjanya.
"Hari yang melelahkan", gumam Nina sambil membuka kembali laptopnya.
Nina asik dengan laptopnya tak menyadari Marsel datang menghampirinya.
"Duh penganten baru pada asik dengan laptopnya, sono tuh dengan yayangmu, sepertinya dia uring-uringan kalau elu gak ada", canda Marsel.
"Kak Marsel sejak kapan di situ?", tanya Nina dalam keterkejutannya.
"Udah lama, lihat kamu asik dengan benda itu terpaksa akhirnya aku buka suara juga", canda Marsel lagi.
Nina hanya terkekeh.
"Sebenarnya besok ada apa sih?aku masih belum connect", ujar Marsel.
"Kalau soal itu tanya aja sama bos kamu langsung", kata Nina tak mau bercerita panjang lebar.
"Iya udah deh, aku masuk dulu ya", kata Marsel menuju ruangan Jimmy.
__ADS_1
"Besok ada acara apa sih?", tanya Marsel tanpa basa-basi pada Jimmy.
Jimmy menghela nafasnya. Jimmy merapikan semua berkasnya. Baru kemudian dia fokus dengan Marsel yang ada di hadapannya.
"Kamu tahu kan kami menikah hanya acara kecil-kecilan, aku ingin adakan syukuran di sini di kantor ini", jelas Jimmy.
"Tapi apa tidak memancing amarah dari pihak Prili?",protes Marsel.
"Justru itu yang aku inginkan, aku ingin lihat reaksi mereka ketika tahu aku sudah menikah, apa mereka masih menginginkan aku sebagai mantunya?", kata Jimmy dengan pandangan sulit di artikan.
"Gila lu bro, kasihan Nina. Apa kamu tidak mikir, ialau imbasnya akan ke Nina juga. Pikir dulu kalau bertindak jangan gegabah", petuah Marsel.
"Aku memang akan menikahi Prili sebagai bentuk tanggung jawabku padanya tapi aku ingin lihat juga apa keluarganya masih menginginkan aku menjadi pendamping Prili atau tidak setelah mengetahui kalau aku sudah menikah", jelas Jimmy.
"Prili itu kan orangnya mudah nekad, bagaimana kalau dia mencelakai Nina, urusannya lebih ribet lagi", nasehat Marsel lagi.
"Gak mungkin sejauh itu, Nina adalah cintaku, aku akan melakukan pagar betis buatnya", kata Jimmy dalam.
"Iya udah kalau itu memang maunya kamu, aku akan menyiapkan semuanya dari sekarang. Kamu tenang aja, di jamin acaranya sukses", kata Marsel meyakinkan Jimmy.
"Aku percaya dengan kemampuan kamu, thanks bro!", kata Jimmy tulus.
"Yuupss sama-sama, aku permisi", kata Marsel lalu keluar dari ruangan Jimmy.
Jimmy tersenyum penuh arti.
"Semoga tuhan memberkatimu", kata Marsel pada Nina sambil berlalu.
Nina mengernyitkan keningnya. Walau tak begitu paham maksud dari perkataan Marsel tapi Nina tetap menjawab doa Marsel.
"Aamiin semoga", jawab Nina.
Nina mencoba menebak maksud dari perkataan Marsel. Tapi Nina tak menemukan jawabannya.
"Ya Allah aku tak berharap banyak, dengan keadaan sekarang aku sudah bahagia, aku ingin satukan kami selalu dalam keadaan apapun", doa Nina dalam hati.
Nina memejamkan matanya mengharap doanya di kabulkan oleh yang maha kuasa.
"Kamu minta apa?", suara orang mengagetkan Nina.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readers...
Terima kasih yang sudah membaca, memberi like dan komen di tulisan author ini. Author jadi tambah bersemangat.
Jangan lupa mampir juga ke karyaku lainnya ya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).