
Jimmy ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Nina. Setelah beberapa hari dia dan Nina tidak tidur satu ranjang. Rasa rindu di hatinya ingin berdekatan dengan sang isteri.
"Kamu sekarang lebih berisi lho sayang", ujar Jimmy sambil menyentuh pantat Nina yang sekarang lebih berisi.
"Maksudnya gemuk,gitu?",tanya Nina mempertegas.
"Iya sepertinya", kata Jimmy tanpa ada maksud menyinggung perasaan Nina.
Nina yang tadi membelakangi Jimmy, kini membalikkan tubuhnya ke arah Jimmy.
"Jadi kamu nggak suka kalau aku gemuk", ucap Nina.
"Sepertinya aku tambah menyukainya", kata Jimmy seraya matanya tertuju pada dada Nina yang membesar.
"Iihh ganjen amat jadi orang sih bang, matanya jelalatan kalau lihat yang menarik", ujar Nina menutupi dadanya yang sedikit terbuka karena kerah bajunya yang sedikit lebar.
"Kan genit sama isteri sendiri juga, tapi benar lho abang suka. Gemas jadinya", ucap Jimmy sambil tangannya gentayangan.
"Eeiitt gak boleh bang, nanti ke setrum. Entar yang repot abang juga kan. Ingat empat puluh hari bang bahkan bisa enam puluh hari", jelas Nina.
"Lama amat sayang. Baru empat hari aja abang udah panas dingin gini", ucap Jimmy sekenanya.
"Makanya tangannya jangan kelayapan biar gak nyetrum", kata Nina seraya menyingkirkan tangan Jimmy dari dadanya.
"Iya udah deh, abang akan menahannya. Abang akan tidur menghadap dinding saja, biar gak nyetrum", kata Jimmy seraya membalikkan tubuhnya ke arah dinding.
Nina menahan tawanya. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Jimmy menarik selimutnya dan tak perlu menunggu waktu lama, Jimmy perlahan terdengar dengkuran kecilnya. Melihat Jimmy sudah tidur, Nina pun ikut tertidur juga.
Keduanya seperti habis begadang. Begitu memejamkan mata langsung saja terlelap.
Pagi harinya Jimmy bangun lebih awal. Dia melihat Nina isterinya masih tertidur. Jimmy membetulkan letak selimut Nina yang tidak menutup tubuhnya secara utuh. Nina menggeliat tapi matanya tetap terpejam. Jimmy turun dari tempat tidur. Dan menuju kamar mandi.
Nina terbangun saat Jimmy sedang melaksanakan sholat subuh. Nina tersenyum bahagia karena Jimmy perlahan mau menunai sholatnya. Nina sangat bersyukur akhirnya kebahagiaan itu menghampirinya secara utuh.
Jimmy bersiap untuk pergi ke kantor. Dia menghampiri Nina yang dari tadi hanya memandanginya tanpa berbuat suatu apapun. Dan itu memang atas kemauan Jimmy sendiri. Nina tidak boleh melakukan apapun sebelum sembuh betul.
"Ayo kita sarapan dulu, mbak Yuni sudah membuat sarapan. Abang hari ini ada rapat jadi harus datang lebih awal",ucap Jimmy sambil membantu Nina untuk bangun dari tempat tidur.
"Tapi hari ini aku ingin jenguk anak kita bang", ucap Nina setelah berhasil berdiri tegak di samping Jimmy.
__ADS_1
"Tapi kamu kan belum sembuh betul, masih sakit", Jimmy memberi alasan.
"Aku gak kenapa-napa. Abang lihat kan aku bisa berdiri dan berjalan walau lambat", dalih Nina.
"Anak kita masih dalam perawatan, walau kita kesana juga gak bisa melihatnya secara dekat apalagi untuk memegang atau menggendongnya", ujar Jimmy lagi.
"Pokoknya aku mau kesana, kalau abang gak mau biar aku sendiri kesana, naik taksi aja", kata Nina sedikit merajuk.
"Ini bukan alasan kamu untuk bertemu dengan si Dedi itu kan!?", kata Jimmy mencoba menebak.
"Ngomong apa sih bang, aku kesana untuk anak kita bukan untuk Dedi. Heran,,,", ucap Nina seraya berusaha untuk memutar tubuhnya meninggalkan Jimmy. Tapi Jimmy dengan sigap memegang tangan kanan Nina sehingga Nina tidak bisa bergerak dengan leluasa.
"Lepas!aku bisa sendiri", ucap Nina kesal.
Jimmy menarik Nina ke dalam pelukannya. Nina yang degup jantungnya bergemuruh karena menahan marah, Jimmy yang sudah paham tentang Nina isterinya segera menenangkan Nina.
"Iya sudah nanti sore saja ya, abang janji setelah abang selesai meeting abang akan langsung pulang jemput kamu", ucap Jimmy seraya menggandeng tangan Nina untuk menuju meja makan.
"Janji ya?", kata Nina. Seulas senyum terukir di sudut bibirnya.
"Iya", jawab Jimmy singkat.
Mereka menuju meja makan. Nina akhirnya sangat senang karena Jimmy mau mengantarkannya ke rumah sakit menjenguk buah hatinya.
Sore harinya Jimmy menjemput Nina di rumah mereka. Nina sudah siap menunggu kedatangan suaminya Jimmy. Nina sengaja menunggu Jimmy di teras rumah mereka, biar ketika Jimmy datang mereka segera bisa berangkat secepatnya ke rumah sakit.
Nina segera masuk ke dalam mobil. Senyumnya mengembang.
"Senang banget sepertinya", goda Jimmy.
"Apa abang tidak merasa senang?", Nina balik bertanya.
"Senang dong bisa jenguk anak sama sang isteri tercinta", kata Jimmy mencoba menyenangkan hati Nina.
"Syukurlah", jawab Nina sambil menoleh keluar jendela mobil.
Jimmy menghela nafasnya. Dia tahu sepertinya Nina masih marah padanya.
Mereka tiba di rumah sakit. Jimmy keluar dari mobil dan membukakan pintu mobilnya untuk Nina. Jimmy membantu Nina keluar dari mobil. Mereka menuju ruangan dimana bayi mereka di rawat.
__ADS_1
Jimmy dan Nina melihat bayi mereka dari luar jendela. Terlihat bayinya menggerakkan mulutnya. Nina tersenyum. Hatinya bahagia walau cuma bisa melihat bayinya dari luar.
Satu jam lebih Jimmy menemani Nina disana. Jimmy yang memang sudah capek, sudah tidak sanggup untuk berlama-lama lagi disana.
"Sayang udah yuk kita pulang dulu, lihat bayi kita semakin membaik. Besok-besok kita kesini lagi", kata Jimmy pada Nina.
"Nanti dulu bang, masih pingin disini. Masih ingin bersama dengan dengan bayi kita", ujar Nina.
"Abang capek banget ini sayang, besok-besok lagi ya. Kita doakan saja supaya anak kita cepat sehat dan cepat pulang ke rumah biar cepat bisa berkumpul bersama kita", kata Jimmy.
Nina terlihat kecewa. Tapi dia juga tak mau kalau sampai suaminya jatuh sakit cuma gara-gara tak cukup istirahat. Karena kondisinya juga belum begitu sehat betul. Kalau suaminya sakit, tambah ribet urusannya.
"Iya udah deh kita pulang, kasihan juga abang kelihatannya letih sekali", ucap Nina mengajak suaminya untuk pulang ke rumah mereka.
Jimmy hanya tersenyum. Dia menggandeng tangan Nina untuk keluar dari rumah sakit tersebut.
"Jadi isteri itu harus nurut sama suami. Karena suami itu tidak mau melihat isterinya menderita. Abang tidak mau kamu itu susah hati, susah berpikir. Ingat kamu masih sakit, belum sembuh betul. Kalau ada apa-apa yang repot abang juga, iya kan?",jelas Jimmy.
"Aku hanya ingin menjenguk anakku", ucap Nina merajuk. Nina menepiskan tangan Jimmy dan berjalan dengan cepat di depan Jimmy. Jimmy kelabakan.
"Sayang tunggu, aduh gimana ini?aku salah ngomong apa ya?", gerutu Jimmy seraya menyamakan langkahnya dengan Nina isterinya.
Nina terus berjalan tanpa melihat Jimmy di belakangnya.
Nina mempercepat langkahnya. Ia segera menuju mobil.
"sayang, hati-hati ya jalannya, kamu belum sehat lho", kata Jimmy mengimbangi langkah Nina.
Setelah tiba di dekat mobil, Jimmy membuka kunci mobilnya dan Nina langsung masuk saja tanpa komando.
"Sudah melahirkan malah sensitif gini sih", batin Jimmy.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku semuanya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komennya dan votenya juga dong.
Baca juga yuk karyaku yang lainnya "Masih Ada Pelangi (tamat).