Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Tergantung bawaan orok


__ADS_3

Tak berapa lama, dokter datang. Dokter dengan cepat melakukan pemeriksaan kepada Marsya.


"Untuk lebih memastikan, saya minta pemeriksaan urinenya sedikit. Ini alatnya. Kamu tampung air seni kamu, lalu gunakan alat ini. Caranya ada di situ. Kami tunggu disini", kata sang dokter seraya memberikan alat tes kehamilan pada Marsya.


Marsya menuruti perintah sang dokter. Rinal yang belum mengerti apa yang terjadi, masih cemas, takut terjadi apa-apa dengan sang isteri.


Marsya keluar dari kamar mandi dan memperlihatkan hasilnya pada sang dokter. Dokter tersenyum.


"Selamat pak Rinal, isteri anda hamil", kata sang dokter langsung.


"Hamil?!",


Ucap Rinal seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Iya isteri pak Rinal sekarang sedang mengandung. Selamat ya pak", ucap sang dokter.


Mata Rinal berkaca-kaca. Rasa bahagia, haru bercampur menjadi satu. Penantian panjang akhirnya berbuah manis. Rinal langsung memeluk isterinya dan menggendongnya tanpa rasa malu.


"Aku akan jadi seorang ayah, aku akan jadi seorang ayah, aku akan jadi seorang ayah", teriak Rinal lantang seraya mencium pipi Marsya bertubi-tubi.


"Mas malu tahu, turuni aku", kata Marsya dengan wajah sudah merah bak kepiting rebus.


Mereka semua yang melihat aksi Rinal menjadi tertawa. Rinal menurunkan Marsya secara perlahan.


"Dokter terima kasih", ucap Rinal pada sang dokter.


"Iya sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu. Jaga kandungannya ya bu. Ini saya kasih obat untuk mengurangi rasa mual dan vitaminnya", kata sang dokter seraya memberikan kertas kecil kepada Rinal.


"Baik dok", kata Rinal seraya menerima kertas resep obat yang di berikan oleh sang dokter.


Dokter meninggalkan kamar Marsya. Marsya kembali merasakan mual di perutnya. Ia cepat-cepat menuju kamar mandi kembali.


" Cepat ikuti isterimu. Jaga cucu mama", kata mama Liana seraya keluar dari kamar Rinal. Bik Ina mengikuti langkah majikannya. Rinal cepat menuju kamar mandi untuk melihat keadaan sang isteri.


"Semoga saja cucuku yang ini laki-laki", gumam mama Liana seraya berjalan menuju dapur.


"Emang kalau perempuan kenapa Nya?", tanya bik Ina dari belakang.


"Iya biar ada penerus keluarga Purnama", jawab mama Liana santai.


"Emang kalau perempuan gak bisa ya Nya jadi penerus?", tanya bik Ina kepo.


"Bisa sih tapi kalau laki-laki urusannya lebih mudah gak ribet. Jaman nabi aja semua nabi laki-laki, kenapa? karena gak mungkin jika terjadi perang harus nunggu pemimpinnya selesai haid atau selesai masa nifas dulu. Ribet kan urusan ", jelas mama Liana seraya duduk di kursi meja makan.


"Iya juga sih", kata bik Ina sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Bik Ina kembali menyelesaikan tugasnya yang sempat tertunda. Mama Liana membantu bik Ina ala kadarnya. Terkadang sudah di cegah oleh bik Ina tapi mama Liana tidak menggubrisnya dengan alasan kalau banyak gerak itu baik untuk kesehatan. Alasan yang cukup logis, bisa diterima oleh akal sehat semua orang.


*****


Kabar kehamilan Marsya sampai ke telinga Nina. Nina sangat gembira mendengar kabar tersebut. Nina meminta Jimmy untuk menemaninya ke rumah sang mertua untuk bertemu dan mengucapkan selamat kepada Marsya secara langsung.


"Bang, ini kan hari Minggu kita ke rumah mama yuk. Kita berkunjung ke Marsya sekalian", kata Nina semangat.


"Kenapa dengan Marsya?", tanya Jimmy tidak tahu dengan apa yang terjadi.


"Marsya kabarnya hamil. Kita kesana ya?senang banget dengar kabar ini bang", kata Nina lagi.


"Iya udah ayo, bawa Iza juga kan?", tanya Jimmy yang lagi asik bermain dengan si imut Iza.


"Iya dong abang sayang. Kita kan mau berkunjung ke rumah sang nenek. Nanti cucunya di tanya, kita gak bisa jawab kalau cucunya gak di bawa", ucap Nina seraya mengambil baju untuk Iza dan mengganti pakaiannya.


Selesai mengganti pakaian Iza mereka berangkat menuju kediaman orang tuanya Jimmy. Tiba disana Iza langsung di ambil oleh Wina dan di bawa ke kamarnya.


"Halo cantik, sini sama tante aja ya. Kita ke kamar tante aja. Disini rame", kata Wina seraya mengambil Iza dari gendongan Nina.


Iza hanya tersenyum seakan mengerti dengan ucapan sang tante.


"Marsya nya mana ma?", kata Nina sambil menciumi punggung tangan ibu mertuanya.


"Ada di kamarnya. Masih suka mual muntah, jadi lebih banyak tiduran", ucap mama Liana tanpa bermaksud meremehkan.


"Ayo mama antar", kata mama Liana.


"Abang gak ikut?", tanya Nina pada Jimmy.


"Kalian aja, aku mau rebahan aja sambil nonton TV", jawab Jimmy seraya menuju ruang keluarga dan menyalakan televisi.


Mama Liana dan Nina menuju kamar Marsya dan Rinal. Mama Liana membuka pintu kamar tersebut. Terlihat pemandangan yang sangat indah. Dimana Rinal sedang memangku kepala sang isteri dan membelai rambut Marsya dengan kasih sayang. Terlihat sekali kalau Rinal sangat bahagia atas kehamilan sang isteri. Dia tambah menyayangi Marsya isterinya. Marsya terlihat memejamkan matanya.


"Mama, mbak Na", kata Rinal tanpa menghentikan aksinya.


"Apa kami mengganggu?", tanya Nina.


"Ahh tidak. Silakan masuk mbak", kata Rinal.


Marsya membuka matanya dan berusaha bangun untuk duduk.


"Gak usah bangun kalau terasa masih pusing. Guling aja. Kami cuma mau lihat keadaan kamu", kata Nina setelah dekat dengan Marsya.


"Iya nih mbak, pusing dan mual. Gini rasanya hamil ya", ucap Marsya seraya bersandar di kepala tempat tidur.

__ADS_1


"Setiap orang bawaan hamilnya beda-beda. Tapi biasanya hanya satu atau tiga bulan saja mualnya setelah itu normal kembali", ucap Nina.


"Tiga bulan?!lama amat mbak", kata Marsya seraya menahan pusing di kepalanya.


"Iya tapi gak terus-terusan sih. Hanya kadang-kadang. Kadang cuma seminggu dua minggu sudah hilang. Tergantung bawaan oroknya", kata Nina menjelaskan.


"Berbaring aja kalau masih pusing", sela sang mama mertua.


"Sedikit ma", jawab Marsya.


"Mbak dulu juga gitu. Apa yang masuk di perut eehh keluar lagi. Tapi lama-kelamaan normal kembali. Yang penting minum obat yang di kasih dokter dan perbanyak makan buah khususnya buah berair", jelas Nina bak seorang dokter.


"Hmm maksud kamu anak Marsya perempuan juga gitu?", sergah mama Liana.


"Iya gak gitu sih ma, maksudku setiap kehamilan pasti ada fase mualnya. Cuma volumenya biasanya beda-beda. Aku bisa tahu karena aku pernah baca di internet", jelas Nina.


"Iya mama berharap cucu mama ini adalah laki-laki", kata mama Liana seraya mengelus perut Marsya.


"Ma, Marsya hamil baru beberapa hari. Belum bisa melihat jenisnya. Jadi mama jangan terlalu terobsesi dengan cucu laki-laki ma", kata Rinal sedikit kesal.


"Itu kan keinginan mama. Iya kan sayang?", kata mama Liana pada Marsya.


"Iya ma, semoga", jawab Marsya singkat.


"Iya udah kami keluar dulu ya, kamu istirahat saja dulu", kata Nina yang melihat suasana sudah mulai tidak kondusif lagi.


"Iya mbak. Ma kasih ya udah datang", kata Marsya pada Nina.


Nina tersenyum dan mengangguk.


"Ayo ma kita keluar dulu", kata Nina seraya menggandeng tangan sang ibu mertua.


Mama Liana menurut saja saat Nina menggandeng tangannya untuk keluar dari kamar Rinal dan Marsya.


.


.


.


.


.


Bantu like, komen dan juga votenya ya readersku sayang.

__ADS_1


Mampir juga ya ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2