
Jimmy memilih restoran yang unik dan cantik. Restoran dengan gaya klasik dan ala-ala eropa membuat takjub para pengunjungnya.
Pramusaji datang dengan membawa lembaran kertas menu kepada Jimmy dan Nina.
"Silakan tuan mau pesan apa?", kata pramusaji dengan menyodorkan menu andalan mereka .
"Saya pesan makanan spesial yang ada di sini", kata Jimmy santai.
"Oh baiklah tuan, permisi", pramusaji meninggalkan Jimmy dan Nina.
Jimmy memandang Nina yang hanya diam saja dari tadi. Mata Nina beredar mengamati indahnya restoran tersebut.
"Belum makan aja hatiku udah senang melihat restoran ini, apa lagi makanannya pasti enak-enak", batin Nina.
"Nin", Jimmy buka suara.
"Iya kak", jawab Nina tanpa menghentikan pandangannya.
"Kamu lihat apa sih?", tanya Jimmy melihat Nina serius dengan pandangannya.
"Coba kak Jimmy lihat deh, interior bangunannya unik dan cantik, hati pun ikut adem lihatnya", kata Nina dengan polosnya.
"Kamu suka?", Jimmy bertanya kembali.
Nina hanya mengangguk.
"Besok-besok kita akan ke sini lagi", kata Jimmy.
Nina menghentikan aktifitasnya. Matanya beralih ke Jimmy. Nina ingin bertanya tapi keburu datang pramusaji dengan membawa makanan di tangannya. Pramusaji menghidangkan makanan yang di bawanya.
Setelah selesai pramusaji meninggalkan mereka berdua.
"Silakan tuan", kata pramusaji dan berlalu.
"Banyak banget sih kak", kata Nina melihat berbagai jenis makanan ada di atas meja tersebut.
"Ayo kita mulai, perutku udah laper banget nih", kata Jimmy.
Nina mengambil makanan beberapa saja. Jimmy yang sudah lapar dari tadi, mulai menikmati makanan tersebut. Nina pun mulai mengeksekusi makanan yang ada di piringnya. Tak ada suara. Sesekali Jimmy melirik Nina yang makannya khusyuk tanpa melihat kiri kanan.
Setelah selesai mereka kembali ke mobil.
"Kak", Nina buka suara.
"Iya", kata Jimmy tanpa melihat ke arah Nina.
"Aku boleh nanya nggak?", tanya Nina.
Nina penasaran dengan Jimmy dan perkataan ibunya beberapa hari yang lalu. Nina ingin bertanya walau hatinya sedikit ragu.
"Tapi sebelumnya aku minta maaf, kak Jimmy jangan tersinggung atau marah ya", kata Nina memutar tubuhnya hingga menghadap ke Jimmy.
"Tanya apa?", kata Jimmy tak berani beradu pandang dengan Nina.
"Kita kan sering jalan bareng, makan bareng, ngobrol bareng, apa kak Jimmy tidak takut kalau nanti ada yang marah?", tanya Nina memancing Jimmy.
"Maksud kamu?", Jimmy balik bertanya.
"Cewek kak Jimmy mungkin", kata Nina santai.
__ADS_1
"Nina aku belum pernah punya cewek, teman wanita banyak tapi tak satu pun yang aku pacari", kata Jimmy seraya menghadap ke Nina.
Jimmy memandang ke mata Nina.
Deg ..
jantung Nina seakan berhenti.
"Hemmm", Nina menetralkan debaran jantungnya.
Nina kembali melanjutkan pertanyaannya.
"Trus sekarang maksud kak Jimmy apa?jujur aku takut orang akan salah paham pada kita", kata Nina memberanikan diri menatap mata Jimmy.
"Nina kamu sudah besar, kita sudah dewasa, ku rasa kamu mengerti semuanya", kata Jimmy memandang ke depan jalan.
"Aku hanya tidak mau orang salah paham melihat kedekatan kita", kata Nina membetulkan tempat duduknya..
"Sebaiknya kak Jimmy gak usah sering-sering lagi ke rumah, gak enak nanti aku di fitnah orang macam-macam", kata Nina menunduk.
Jimmy memutar tubuhnya. Jimmy memberanikan diri mengambil tangan Nina dan menggenggamnya. Jantung Nina seakan berhenti berdenyut.
"Apa kamu butuh pernyataan?baiklah dengar baik-baik Nina Puspita", kata Jimmy menyebut nama Nina lengkap.
Nina mengangkat dagu Nina yang menunduk.
"Dengarkan sebuah pernyataan baik-baik, aku suka kamu", kata Jimmy hampir tak terdengar dengan pandangan sayu.
"Cuma suka?!", tanya Nina polos.
"Ya ampun Nina kamu itu bukan anak kecil lagi, masa' sih kamu gak ngerti?", kata Jimmy frustasi seraya melepaskan pegangannya pada tangan Nina.
Jimmy yang dari tadi gemas dengan pertanyaan Nina, Jimmy dengan gerakan cepat mencamplok pipi Nina dengan kecupan. Mata Nina membulat sempurna dan mulut membuka lebar.
Jimmy tertawa melihat reaksi Nina.
"Sudah gak usah gitu juga kali", goda Jimmy.
"Kamu jahat sih kak, belum juga jawab main nyosor aja", kata Nina merajuk.
"Baiklah kalau kamu masih belum paham juga, akan aku jelaskan. Aku cinta kamu Nina Puspita", kata Jimmy memandang dalam ke mata Nina.
Nina seakan tak percaya apa yang barusan di dengarnya.
"Spa?coba ulang sekali lagi", kata Nina ingin memperjelas pendengarannya.
"Aku cinta kamu Nina Puspita", kata Jimmy seraya berbisik di telinga Nina.
Nina merinding merasakan hembusan nafas Jimmy di tengkuknya. Nina terdiam.
"Koq diam, jawab dong aku juga butuh persetujuan", goda Jimmy.
Nina hanya tersenyum.
"Koq senyum", kata Jimmy.
"Kak Jimmy sudah tahu jawabannya", kata Nina tertunduk malu.
"Apa itu artinya kamu juga mencintaiku?", tanya Jimmy tak mengerti takut salah.
__ADS_1
Nina mengangguk pelan.
Hati keduanya berbunga-bunga. Dunia seakan milik mereka berdua. Jimmy dengan girangnya meraih tubuh Nina masuk ke dalam pelukannya. Tak ada penolakan dari Nina. Nina memejamkan matanya. Jimmy pun sama. Beban Jimmy seakan hilang. Tergantikan dengan sebuah kebahagiaan. Cinta yang berbalas membuatnya tersenyum sumringah.
"Terima kasih ya sayang, aku bahagia", kata Jimmy mengecup dahi Nina.
Nina tersenyum.
"Kamu tahu sejak pertemuan kita kembali saat kamu mencemaskanku aku sudah jatuh hati sama kamu",jelas Jimmy.
"Benarkah?", tanya Nina tak percaya seraya melepaskan pelukan Jimmy.
"He-eh",jawab Jimmy.
"Kenapa gak bilang dari waktu itu", goda Nina sambil terkekeh.
"Kamu tuh ya udah mulai berani menggoda rupanya", kata Jimmy.
"Nggak sih cuma aku risih aja selama ini atas kelakuan kamu yang nggak jelas", kata Nina sedikit cemberut.
"Udah yuuk kita pulang, mulai hari ini jangan keganjenan lagi ya sama Marsel", kata Jimmy menegaskan kata-katanya.
"Koq gitu ngomongnya, kak Marsel kan teman kamu dan sudah kamu anggap seperti saudara sendiri", kata Nina.
"Justru itu jangan buat masalah", kata Jimmy acuh.
"Iya deh", kata Nina tidak mau memperuncing masalah.
Jimmy mulai menghidupkan mesin mobilnya. Dia mulai mejalankan kendaraan tersebut dengan pelan.
Sekarang Nina mengerti akan perhatian dan kekesalan yang selama ini di tunjukkan Jimmy padanya. Nina melihat ke arah Jimmy yang lagi khusyuk mengendarai mobilnya. Nina tersenyum melihat laki-laki yang menjadi bosnya itu dan sekarang menjadi kekasihnya itu.
"Kamu kenapa senyum-senyum gitu", kata Jimmy yang sempat melirik ke arah Nina.
"Nggak rasanya lucu aja", kata Nina dengan pandangan lurus ke depan.
"Jadi kamu menganggap ini lucu?",kata Jimmy.
"Bukan gitu maksudku kamu yang kaya dengan pemegang perusahaan ternama pastinya banyak cewek-cewek cantik yang berada di sekeliling kamu",kata Nina.
"Banyak, banyak banget malahan", kata Jimmy tersenyum.
"Tuh kan benar",kata Nina cemberut.
"Ya iyalah sayang, duniaku kan berhubungan dengan banyak orang, pasti banyak lah wanita-wanita di sekelilingku", kata Jimmy.
"Sejak kapan kamu panggil aku sayang?",tanya Nina masih dengan cemberut.
"Sejak malam ini lah sayang, jangan marah gitu dong, hilang tuh cantiknya", goda Jimmy.
.
.
.
Jangan lupa bantu vote, like dan komennya ya readers...
Mampir juga ke karya author yang lainnya:
__ADS_1
Masih ada pelangi (tamat).