
Setelah beberapa bulan buka usaha sendiri di bidang pertanian, Adel semakin mandiri. Ia sudah bisa menyisihkan uang untuk di tabungnya. Tekadnya sudah bulat, ia ingin menjadi pengusaha di bidang pertanian. Dari pembibitan sampai menyediakan alat dan bahan untuk pertanian. Tentunya Adel tidak bekerja sendirian. Dengan di bantu sang kakak ipar, kini usaha Adel maju dengan pesat.
Sepak terjang Jimmy di dunia bisnis sangat berpengaruh dalam usaha yang di rintis oleh Adelia sang adik ipar. Nama Adel perlahan banyak di kenal orang, terutama di kalangan usaha pertanian. Banyak yang mendrop bibit baik untuk lahan sendiri maupun persero.
Nama Adel akhirnya sampai ke telinga Kevin adik si Marsel. Kevin yang kini sudah bekerja di sebuah perusahaan ternama di pulau seberang, menjadi teringat akan penolakan yang pernah di lakukan Adel terhadapnya.
"Ternyata kamu benar-benar membuktikan kalau kamu belum mau dekat dengan lelaki manapun sebelum kamu berhasil. Wanita keras kepala dan cerdas. Salut!", ucap Kevin melihat keberhasilan Adel yang kini sudah banyak tersebar di media sosial.
"Aku akan datang padamu. Kita lihat, apa kamu akan tetap menolakku untuk yang kedua kalinya!?", gumam Kevin.
Kevin yang kini juga sudah sukses di bidangnya, sudah hidup mapan dengan segala kelebihannya. Kevin pernah di tawari Marsel untuk bekerja di perusahaan Jimmy tapi Kevin menolaknya dengan alasan dia mau berjuang sendiri tanpa pengaruh nama besar sang kakak.
Berkat usaha keras Kevin, kini dia telah menjadi orang sukses. Dengan segala kegigihannya, kini Kevin telah menuai hasil kerja kerasnya tersebut.
Kevin sengaja mengambil cuti untuk beberapa hari. Selama bekerja Kevin belum pernah cuti atau sekedar liburan karena memang tidak ada tujuan.
Kevin merupakan orang kepercayaan sang bos besar. Berkat kejujuran dan kerendahan hatinya, Kevin akhirnya mendapat tempat spesial di hati sang bos.
Kevin mendapat izin libur beberapa hari. Kevin sangat senang akhirnya Kevin bisa menemui Adel. Walau sudah mempunyai mobil berkelas, Kevin tetap menggunakan mogenya untuk bertemu dengan Adel.
"Maaf permisi, bisa bertemu dengan Adelia ehmm maksudku bu Adel?", tanya Kevin pada seorang karyawan Adel.
"Bu Adel baru saja keluar", kata sang karyawan.
"Apa bu Adel nya kembali lagi kemari atau tidak?", tanya Kevin.
"Karena sudah sore, ku rasa beliau langsung pulang ke rumahnya", kata karyawan itu lagi.
"Ohh gitu. Kalau gitu permisi dulu. Mari", kata Kevin sopan.
Sang karyawan hanya tersenyum dan memberi sedikit anggukan. Kevin menuju rumah Adel. Ternyata Adel tidak ada di rumahnya. Kevin mengetuk pintu dan mengucap salam. Bu Ratmi yang mendengar ketukan di pintu, cepat menyongsong dan menjawab salam sang tamu.
"Assalamualaikum", ucap Kevin dengan tangan masih mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam", jawab bu Ratmi.
Bu Ratmi membuka pintu rumahnya. Bu Ratmi tersenyum.
"Adel nya ada bu?", tanya Kevin langsung.
"Belum pulang. Dengan nak siapa dan dari mana?", tanya bu Ratmi yang tidak lagi mengenali Kevin.
"Saya Kevin bu", jawab Kevin.
"Kevin adiknya Marsel?", tanya bu Ratmi tak percaya dengan pendengarannya.
"Iya bu", kata Kevin seraya mencium punggung tangan bu Ratmi.
"Kevin, apa kabar?lama tak terdengar kemana aja?", tanya bi Ratmi beruntun.
"Biasa bu, cara anak lelaki. Merantau", ujar Kevin.
"Ayo masuk. Tunggu Adel di dalam aja", ajak bu Ratmi.
__ADS_1
"Apa tidak ngerepotin ibu nih?", tanya Kevin.
"Ahh nggak. Ibu juga tadi lagi nyantai nonton tivi. Ayo masuk", kata bu Ratmi.
"Baik bu, terima kasih ", kata Kevin seraya meletakkan helmnya di meja tamu yang ada di teras.
"Silakan duduk!biar ibu buatkan teh dulu", ujar bu Ratmi.
"Jadi ngerepotin ibu nih", ucap Kevin.
"Ahh gak papa, ayo silahkan duduk. Ibu tinggal dulu ya ke belakang", kata bu Ratmi.
"Iya bu ma kasih", kata Kevin sopan.
Kevin duduk di sofa yang empuk tersebut. Sedangkan bu Ratmi pergi menuju dapur.
****
Sementara itu Adel sedang berada di rumah sang kakak.
"Mbak, ini ada sedikit rejeki. Aku angsur aja ya hutangku. Mohon di terima", ucap Adel.
"Simpan aja dulu, siapa tahu nanti kamu ada keperluan lain", ucap Adel.
"Kalau nanti sih urusan gampang, paling aku pinjam lagi sama mbak", ucap Adel sambil terkekeh.
"Makanya pegang aja dulu sama kamu",, ucap Nina.
"Gak bisa, mbak harus pegang dan simpan uang ini. Biarkan aku belajar bertanggungjawab dengan uang yang ku pinjam dari mbak dan kak Jimmy. Cuma aku gak bisa mengembalikan secara penuh, aku akan bayar dengan cara menyicil aja", kata Adel.
"Tapi mbak, aku gak enak sama kak Jimmy. Apalagi waktu itu aku ngomongnya pinjam bukan minta", kata Adel tak enak hati.
"Sudah gak usah sungkan. Bang Jimmy pasti ngerti", ucap Nina.
"Tapi mbak..", ucapan Adel cepat di potong oleh Nina.
"Sudah gak usah pakai tapi-tapian, pakai aja dulu. Kamu bisa menabung untuk mengembalikannya nanti", kata Nina pada Adel
"Iya udah deh. Kalau gitu aku pulang dulu ya mbak. Kasihan ibu, nanti nyari aku. Tadi aku gak bilang kalau mau kemari", kata Adel.
"Gak makan dulu!?", kata Nina
"Gak usah, udah sore. Pulang dulu ya, salam buat Iza", kata Adel yang tidak melihat Iza dari tadi.
"Iya hati-hati jangan ngebut. Kasihan mobil barunya nanti lecet", canda Nina.
"Ahh mbak bisa aja. Aku jadi malu nih, secara modal masih minjem", kata Adel merendah.
Nina dan Adel tertawa. Tawa keduanya membangunkan Iza yang sedang tertidur. Iza turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar menuju tuang tamu.
"Ma", panggil Iza.
Tawa Adel dan Nina terhenti.
__ADS_1
"Eehh anak mama sudah bangun rupanya", ucap Nina.
Iza berjalan menuju sang mama. Iza meletakkan kepalanya di pangkuan sang mama.
"Halo sayang", sapa Adel pada Iza yang telihat manja di pangkuanku sang mama.
Iza menelungkupkan wajahnya di pangkuan sang mama.
"Mau ikut tante gak nih?", tanya Adel. Iza mengangkat wajahnya.
"Ikut kemana?", tanya Iza langsung.
"Pulang ke rumah nenek. Mau ya?", Tanya Adel.
Iza menatap wajah sang mama meminta persetujuan.
"Boleh gak ma?", tanya Iza pada pada sang mama.
"Nanti kalau kamu udah gde baru boleh ikut", jawab Nina.
"Kata mama nggak boleh ikut, tante takut ya kalau pulang sendiri?", tanya Iza dengan wajah menggemaskan.
"Nggak sih. Kalau gitu tante pulang dulu ya. Nanti nenek nyariin tante", jawab Adel.
"Salam buat ibu ya", kata Nina.
"Iya mbak. Tante pulang dulu ya sayang", kata Adel pada Nina dan Iza.
"Iya tante", kata Iza.
Nina dan Iza mengantar Adel sampai depan. Adel masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumahnya.
"Motor siapa nih?", gumam Adel setelah melihat ada motor di depan rumahnya. Adel masuk ke dalam rumahnya.
"Kevin!",
.
.
.
.
.
Lanjut lagi bacanya ya readersku semuanya. Salam hangat selalu.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Terima kasih banyak untuk yang sudah like dan memberikan komentarnya ya.
Mampir juga yukk ke karyaku yang lain:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1
"