
"Jimmy kamu..", sang mama menutup kembali pintu kamar Jimmy. Dia kaget melihat Jimmy yang sedang bugil.
Jimmy cepat memakai celana pendeknya.
"Untung tadi cepat melompat ke tempat tidur dan bisa membelakangi mama, kalau tidak malu banget nih", kata Jimmy dan kemudian memanggil sang mama.
"Ada apa Ma?", seru Jimmy dari dalam.
"Kamu sudah pakai celananya?", kata mamanya.
"😁😁udah Ma", kata Jimmy sambil terkekeh.
Sang mama masuk ke dalam kamar Jimmy.
Di lihatnya putranya sudah memakai celana pendeknya.
"Kamu kenapa sih pakai bugil segala?", kata sang mama protes.
"Jimmy kan lagi ganti pakaian Ma, dari pada ribet melepaskan satu persatu, Jimmy lepasin aja langsung semuanya", jelas Jimmy.
"Mama juga masuk gak ketuk pintu dulu", kata Jimmy protes. Sang mama menghela nafasnya.
"Ya udah, mama cuma pengen tahu luka operasi kamu gimana?", tanya sang mama sambil memegang iga Jimmy yang sebelah kiri.
"Sudah kering, sudah nyatu kulitnya, masih nyeri nggak?", tanya sang mama.
"Nggak Ma, Jimmy juga hati-hati kalau bergerak gak sembarang", kata Jimmy.
"Iya udah habiskan obatnya, nanti kalau sudah habis kita kontrol lagi", kata sang mama.
"Sepertinya udah sembuh Ma, gak usah kontrol lagi", kata Jimmy membantah.
"Jangan keras kepala, ini demi kesehatan kamu, mama tidak mau terjadi apa-apa nantinya", kata sang mama meninggikan suaranya.
"Iya deh terserah Mama", kata Jimmy tak mau berdebat dengan sang mama.
"Iya udah minum terus obatnya, mama keluar dulu, pakai baju nanti masuk angin", kata sang mama mengingatkan putranya.
"Iya ma, Jimmy masih panas, masih gerah", kata Jimmy.
Sang mama keluar meninggalkan Jimmy di kamarnya.
"Mama main nyosor aja gak bisa ketuk pintu dulu apa, terus aku masih di anggap anak kecil aja, aku kan udah gede Mama", gumam Jimmy seraya merebahkan tubuhnya di kasur empuknya.
Jimmy yang keras kepala, bila sudah berhadapan dengan mamanya selalu tak bisa berkutik.
"Lagi bete ni nelpon Nina aja kali ya", gumam Jimmy seraya mengambil ponselnya dan mendial nomor Nina.
"Ada apa pak?", kata Nina setelah nomor mereka terhubung.
__ADS_1
"Nggak cuma nelpon aja, jangan panggil pak ya kalau lagi berdua, kan sudah di bilangi", kata Jimmy pada Nina.
"I-iya pak eehh kak maaf", kata Nina terbata.
Jimmy dan Nina lama mengobrol di telepon.
Mereka cekakak cekikik. Mereka melupakan profesi mereka yang atasan dan bawahan. Saat ini mereka hanya tahu sebagai mantan kakak kelas dan adik kelas.
"Iya kamu itu dulunya kutu buku, pendiam dan kuper, beda dengan sekarang yang supel dan ramah", kata Jimmy memuji.
"Itu kan berkat kak Jimmy dan kak Marsel juga", kata Nina bangga.
"Bisa aja kamu Nin",kata Jimmy.
"Iya betul, ternyata berteman dengan orang ceria kita juga ikutan ceria juga ya", kata Nina sekenanya.
"Iya makanya cari teman itu yang bisa bikin suasana jadi happy, jangan cari yang pendiam juga, kalau sama-sama diam entar seperti kuburan loh", kata Jimmy sambil terkekeh.
"Terima kasih ya kak, kamu baik banget", kata Nina memuji.
"Iya sama-sama", kata Jimmy.
Tak terasa hari mulai gelap menandakan hari sudah mulai malam. Jimmy mengakhiri obrolannya bersama Nina.
*****
Keesokan harinya, Nina bekerja seperti biasanya. Mulai hari ini Nina sudah memakai motor dari kantornya.Tapi sebelum ke kantor Nina menyempatkan diri untuk membeli helm terlebih dahulu.
"Cantik, ini aja deh", gumam Nina.
Nina membawa helm tersebut ke kasir. Nina membayar helm tersebut
Pramuniaga bermaksud membungkus helm tersebut dan ingin memasukkannya ke dalam sebuah kotak tapi cepat di cegah oleh Nina.
"Nggak usah di masukkan ke kotak mas, mau di pakai langsung", kata Nina pada pramuniaga tersebut.
"Ohh", kata pramuniaga itu dan memberikan kembali helm tersebut pada yang empunya.
"Terima kasih ya", kata Nina seraya memakai helm tersebut.
"Iya mbak sama-sama, kalau butuh yang lainnya cari di sini saja, kita lengkap di sini, semua aksesoris kita punya", kata pramuniaga mempromosikan tokonya.
"Iya mas baiklah, permisi", kata Nina.
Nina meninggalkan toko tersebut dan kembali menuju sepeda motornya. Nina menaiki motornya dan menstrarter motornya. Ketika dia mau memutar motornya, ada seseorang yang menyapanya.
"Nina ya?", tanya pria itu.
"iya", jawab Nina dengan sedikit bingung di wajahnya.
__ADS_1
"Aku Dedi, masa kamu gak inget?", kata Dedi mengingatkan.
"Dedi Apriyan?", tanya Nina memastikan.
"Iya, tuh inget", kata Dedi.
"Ingetlah tapi karena kamu pakai masker dan berkaca mata jadi gak keciren", kata Nina.
Dedi melepaskan maskernya.
"Nah gitu baru keciren sama kamunya", kata Nina.
Dedi memandang wajah Nina. Banyak yang berubah dari seorang Nina.
"Tambah cantik aja kamu sekarang Nin", kata Dedi memuji Nina sambil pandangannya tak lepas dari wajah Nina.
"Bisa aja kamu Ded", kata Nina tersenyum simpul. Dedi memang dari dulu suka memujinya tapi Nina selalu menghindar setiap Dedi ingin dekat dengannya.
"Kapan-kapan boleh ya main ke rumahmu?masih di tempat yang lama kan rumah kamu?", tanya Dedi memastikan.
"Iya belum pindah, masih di tempat yang dululah, belum bergeser sejengkal pun ", kata Nina membuat Dedi tertawa, Nina pun ikutan tertawa.
"Sepertinya kamu mau kerja, boleh minta nomor ponselnya gak?siapa tahu nanti ada perlu", kata Dedi merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan ponselnya.
"Oohh boleh", kata Nina seraya mengeluarkaN ponselnya.
Dedi dan Nina pun bertukar nomor ponsel. Setelah merasa cukup mereka pun akhirnya berpisah. Nina melihat arlojinya sebentar, lalu menghidupkan mesin motornya dan segera menuju kantornya.
Nina mempercepat laju kendaraannya. Walau begitu Nina tetap hati-hati dalam menjalankan sepeda motornya. Kendaraan di jalanan tidak terlalu padat. Jadi lebih mudah bagi Nina menjalankan sepeda motornya.
Nina memarkirkan sepeda motornya di tempat khusus parkir untuk para karyawan kantor. Nina meletakkan kaitan helmnya di sangkutan jok dalam, biar lebih aman.
Nina menuju ruangannya. Ruangan Nina yang berada di lantai dua membuat Nina harus menaiki lift biar cepat sampai di ruangannya. Kantor masih agak sepi, karyawannya belum banyak yang datang.
"Aku kecepatan datangnya kali ya, masih sepi", kata Nina saat menuju meja kerjanya.
"Perasaan kursinya kemarin aku masukin ke bawah meja, kenapa sekarang bisa membelakangi meja?!", kata batin Nina.
Nina melangkah perlahan menuju meja kerjanya. Dan tiba-tiba kursinya berputar.
"Hai...",
.
.
.
Jangan lupa kasih like, komen dan juga votenya ya readers....
__ADS_1
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).