Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Kemarahan sang bos besar


__ADS_3

Nina terbangun setelah mendengar alarm dari ponselnya. Nina kaget ketika melihat ada seorang lelaki tidur seranjang dengan nya. Nina hampr saja menjerit. Perlahan ingatannya berangsur pulih.


"Ya tuhan aku hampir saja melakukan hal bodoh", kata Nina setelah ingatannya terkumpul.


Nina mengambil ponselnya. Jam menunjukkan angka 6. Nina mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Nina melakukan ritual mandinya. Setelah setengah jam berada di kamar mandi, akhirnya Nina keluar. Nina berpakaian dan berdandan ala kadarnya. Kemudian dia membangunkan Jimmy, bosnya yang kini telah menjadi suaminya itu.


"Bang, bangun dah siang", kata Nina menggoyang-goyangkan tubuh Jimmy.


"Hmm emangnya jam berapa ini?", tanya Jimmy agak malas.


"Hampir jam tujuh", jawab Nina.


Jimmy membuka matanya. Di lihatnya wanita yang kini sudah menjadi isterinya itu sudah cantik dan wangi. Jimmy bangun dan bersandar di tempat tidur.


"Sini kemarilah", kata Jimmy pada Nina.


"Udah siang bang, mandi dulu sana", kata Nina menolak secara halus.


"Bentar nanti juga mandi, ayo sini", kata Jimmy sambil menarik tangan Nina.


Nina terpaksa menuruti kemauan Jimmy.


"Aku belum buat sarapan untuk abang", kata Nina.


"Kita sarapan di kantor aja nanti", kata Jimmy seraya menarik Nina ke dalam pelukannya.


Jimmy mencium pipi Nina.


"Wangi", kata Jimmy.


"Iya dong, aku kan udah mandi", kata Nina.


"Aku mau minta lagi boleh ya?", kata Jimmy mengangkat dagu Nina.


"Tapi aku udah mandi Bang", kata Nina protes.


"Tenang aja persediaan air kita banyak, mandi lagi nanti dengan Abang", kata Jimmy seraya mengecup bibir Nina.


"Tapi..", ucapan Nina tak terselesaikan karena Jimmy sudah mengeluarkan jurusnya.


Nina tak dapat menolak lagi saat Jimmy sudah membungkamnya dan tangannya bergerilya dengan lincahnya.


Nina melenguh. Jimmy bak kelaparan, ia menelusuri setiap inchi tubuh Nina. Stempel tak lupa di berikannya pada setiap sudut tubuh Nina. Nina mendesah. Jimmy sangat lihai bermain. Nina merasa melambung tinggi dengan permainan yang di ciptakan Jimmy.


Semakin Nina mendesah semakin Jimmy bersemangat. Permainan terus berlangsung sengit. Nina tak mau kalah, dia membalas setiap permainan yang di ciptakan oleh Jimmy. Sampai akhirnya keduanya mencapai puncaknya. Jimmy akhirnya menuntaskan tugas akhirnya. Keduanya merasa puas. Mereka terkulai di tempat tidur.


Nina memandang suaminya. Dia tersenyum pada Jimmy.


"Gimana mau lanjut?", goda Jimmy.


"Udah ahh, kita mau ke kantor", kata Nina seraya bangun dan turun dari tempat tidur.


"Kita mandi bareng ya biar cepat", kata Jimmy seraya melompat dari tempat tidur dan menggendong Nina menuju kamar mandi.


Kedua insan yang baru saja menikah itu terlihat sangat bahagia.


Jimmy tidak memikirkan akibat dari perbuatannya. Yang penting baginya, dia telah menikahi wanita yang di cintainya.


*****

__ADS_1


Sementara itu di kediaman keluarga Purnama berbanding terbalik dengan di apartemen Jimmy. Sang mama yang tidak melihat putra sulungnya dari kemarin jadi uring-uringan.


"Kemana sih tuh anak, handphonenya gak aktif, pulang ke rumah juga nggak bikin kesal orang tua aja", gerutunya sambil mondar mandir di ruang keluarga.


"Sudahlah ma Jimmy itu udah besar, pasti dia di apartemennya", kata sang suami enteng.


"Iya gak tahu juga sih pa, soalnya handphonenya gak aktif dari kemarin, di hubungi ke kantor katanya gak ada yang tahu Jimmy kemana", kata sang isteri kesal.


"Sudah nanti papa ke kantornya Jimmy, gak usah risau, Jimmy itu laki-laki gak akan di perkosa", kata sang suami nya santai.


"Papa ini gimana sih, bukannya nolongi nyari atau mikir gimana caranya Jimmy pulang ke rumah malah ngomong asal", kata sang isterinya marah.


"Iya iya nanti papa cari, ngomel mulu", kata suaminya seraya bangun dari duduknya dan menuju kamarnya.


"Papa mau kemana?", tanya sang isteri.


"Mau ke kantor Ma, ada apa lagi?", tanya sang suami.


"Baiklah, temukan Jimmy dan kabari mama",kata sang isteri.


"Iya ma, papa pergi dulu ya",kata Purnama singkat.


"Iya pa hati-hati", jawab Liana isterinya.


Purnama pergi ke kantornya dengan menenteng tas kecilnya.


Sesampainya di kantor Purnama langsung menuju ruangan Jimmy.


"Belum datang, kemana tuh anak?", gerutu Purnama.


Purnama menemui satpam jaga pagi ini yang kebetulan ada di ruang depan.


"Sini kamu", seru Purnama pada satpam tersebut.


"Kamu kemarin dinas ya?", tanya Purnama.


"tidak pak, kemarin saya libur, emangnya ada apa pak?", tanya sang satpam bingung.


"Yang dinas kemarin siapa?", tanya Purnama.


"Satria kalau gak salah pak", kata satpam yang namanya Rendi tersebut.


"Oh ya sudah kalau begitu, lanjutkan kerja", kata Purnama.


"Siap pak", kata Rendi sambil berlalu.


Purnama menuju ruangannya. Dia duduk di kursi singgasananya. Dia meletakkan tas kecilnya di atas mejanya. Lalu mengambil telepon genggamnya. Dia mencoba menghubungi Jimmy tapi nomor Jimmy masih belum aktif.


Sementara itu satpam yang bernama Manaf sudah menunggu di depan apartemen majikannya.


Jimmy dengan wajah sumringah menggandeng tangan Nina menuju mobil yang sedari tadi sudah menunggu mereka.


Jimmy membukakan pintu mobil untuk Nina.


Nina masuk ke dalam mobil di iringi oleh Jimmy.


"Langsung ke kantor ya pak?", tanya Manaf.


"Iya langsung ke kantor saja", kata Jimmy.

__ADS_1


Manaf langsung melajukan kendaraannya menuju kantor Jimmy. Jalan selalu ramai di saat jam kerja begini. Perlu sedikit kesabaran untuk mencapai tempat tujuan.


Setelah sampai kantor Manaf masuk ke tempat parkir khusus untuk mobil sang bos. Nina dan Jimmy turun. Nina tak mau ada orang yang melihatnya turun dari mobil Jimmy. Nina dan Jimmy mengambil jalan berbeda walau tujuan mereka berdua sama.


Jimmy lebih dulu mencapai ruangannya. Nina tak lama kemudian sampai juga ke ruangannya.


Manaf sesuai kesepakatan akhirnya pulang setelah menjemput sang bos. Manaf menerima amplop yang berisi uang dari Jimmy. Manaf segera berlalu.


Jimmy mengambil ponselnya yang ada di dalam tas kerjanya.


"Koq mati, pasti lowbatt nih baterai", gumam Jimmy.


Jimmy mecharge telepon genggamnya. Lalu mengaktifnya.


Banyak pesan yang masuk. Ada juga yang menelpon.


"Papa mama mereka menelpon ternyata", gumam Jimmy.


Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Tertera nama Papa di layar poselnya.


"Papa', kata Jimmy.


"Halo pa", kata Jimmy setelah tersambung dengan sang papa.


"Kamu dimana?", tanya Purnama.


"Di kantor, ada apa pa?", tanya Jimmy.


"Ke ruangan papa sekarang", kata Purnama menahan emosinya. Purnama langsung menutup teleponnya.


Jimmy yang sudah menyiapkan segala kemungkinannya, segera menuju ruangan sang Papa.


"Ada apa pa?", tanya Jimmy pada papanya.


"Kemana saja kamu dari kemarin menghilang?", tanya Purnama tegas.


"Gak kemana-mana pa, cuma ke apartemen ku saja", jawab Jimmy santai.


"Trus kenapa ponsel kamu gak aktif dari kemarin?",tanay Purnam penuh selidik.


"Aku juga baru tahu tadi pa kalau ponselku mati", jawab Jimmy.


"Jangan bohong kamu", kata Purnama dengan suara tinggi.


"Papa nanya sudah ku jawab jujur", kata Jimmy kesal.


" Kamu sengaja menghindar kan?", kata Sang papa.


"Aku tidak menghindar pa, aku hanya mencintai wanita lain, aku hanya ingin menikahi wanita pilihanku", jawab Jimmy sambil berlalu.


"Jimmy tunggu Jimmy...,", kata Purnama tapi sayang Jimmy telah meninggalkan ruangan tersebut.


.


.


.


jangan lupa beri vote, like dan komennya ya readers sayang.

__ADS_1


Mampir juga ke karya ku yang lain;


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2