Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Kembali mengubur rasa


__ADS_3

Nina mulai menikmati makan siangnya. Tapi baru saja Nina ingin memasukkan makanan tersebut ke mulutnya. Tiba-tiba mereka di kejutkan Jeritan Prili yang jatuh di lantai dengan posisi tertelungkup.


Setelah menumpahkan air, Prili bermaksud kembali ke tempat duduknya tapi kakinya tersandung kaki kursi yang diduduki oleh Jimmy. Tubuhnya limbung dan alhasil Prili jatuh dengan perut menyentuh lantai.


Semua mata memandang tak percaya. Mulut mereka semua membuka lebar. Jeritan Prili menyadarkan semuanya.


"Auww", jerit Prili.


Melihat Prili yang sudah mencium lantai, Jimmy cepat bertindak. Di angkatnya tubuh Prili dengan susah payah. Jimmy membawa Prili ke ruang keluarga. Nina, mama Liana dengan cepat mengikuti langkah Jimmy. Mbak Yuni membersihkan air yang tadi tumpah oleh Prili. Setelah itu mbak Yuni pun ikut melihat keadaan Prili. Makan siang bersama pun akhirnya rusak total.


Prili memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Sayang kamu siapin mobilnya ya, kita ke rumah sakit sekarang", kata Jimmy pada Nina.


Walau sakit hati pada rivalnya belum hilang, tapi melihat keadaan Prili seperti itu Nina pun tak tega.


"Baik Bang", kata Nina.


Nina mengambil kunci mobil dan segera menyiapkan mobil seperti yang di perintahkan oleh suaminya.


Wajah Prili sudah pucat pasi. Tubuhnya dingin menahan sakit. Jimmy mengangkat kembali tubuh Prili untuk di bawa ke rumah sakit. Jimmy merasakan pakaian Prili basah di area pahanya.


"Ma, koq basah ya?", tanya Jimmy pada mamanya.


"Coba mama lihat dulu", kata mama Liana seraya melihat area yang di maksud Jimmy.


Wajah sang mama berubah seketika. Kecemasan tergambar jelas di wajahnya.


"Ada apa Ma?", tanya Jimmy tak mengerti.


"Cepat nak, Prili perdarahan. Ayo cepat ke rumah sakit", kata sang mama cemas.


Prili yang masih dalam sakit masih sempat mendengar ucapan mertuanya. Ada perasaan takut yang menghampiri Prili. Prili yang sudah berada dalam gendongan Jimmy, cepat di bawa Jimmy menuju mobil yang sudah di siapkan oleh Nina.


"Sayang kamu di rumah aja ya, biar mama aja yang ikut", kata Jimmy pada Nina.


"Iya Bang", kata Nina menuruti perintah suaminya Jimmy.


Prili di letakkan di kursi tengah dengan di temani mama Liana. Sementara Jimmy mengemudikan mobilnya. Dengan gerak cepat Jimmy menstarter mobilnya dan langsung melaju.


"Cepat nak, darah semakin banyak keluar ini", kata mama Liana takut ketika melihat darah mulai membanjiri tempat duduk mereka.


Jimmy mempercepat laju kendaraannya. Jimmy fokus ke depan. Sudah beberapa mobil di lewatinya agar cepat tiba di rumah sakit.

__ADS_1


Wajah Prili semakin pucat. Di samping karena memang menahan sakit, Prili juga banyak mengeluarkan darah.


"Bertahanlah sayang bentar lagi kita nyampe", kata mama Liana pada menantunya Prili.


Mereka tiba di rumah sakit. Jimmy langsung membawa Prili ke unit gawat darurat. Pegawai rumah sakit dengan sigap membantu membawa Prili masuk ke dalam ruangan.


"Maaf pak bu, kalian tunggu di luar. Pasien akan segera mendapat penanganan", kata seorang perawat.


Mama Liana dan Jimmy mengerti. Mereka duduk menunggu di ruang tunggu.


"Sebaiknya kamu telepon mertua kamu, mereka berhak tahu", kata mama Liana mengingatkan Jimmy.


"Iya ma, hampir lupa", jawab Jimmy.


Dengan hati yang tak menentu, Jimmy menghubungi mertuanya.


"Iya Jimmy ada apa?", tanya mama Hanny setelah tersambung dengan Jimmy.


"Prili ma, dia di rumah sakit Medika kesuma sekarang. Mama kesini sekarang ma", kata Jimmy terbata-bata.


"Iya iya mama kesana sekarang", kata mama Hanny.


Mama Hanny langsung memutus obrolan mereka. Jimmy mondar-mandir di ruang tunggu tersebut. Mama Liana *******-***** jemari tangannya sendiri. Perasaan cemas pada mereka berdua sangat kentara.


Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Dokter..", kata Jimmy cemas.


"Apa bapak suami dari ibu Prili?", tanya dokter tersebut.


"Iya dok saya suaminya. Bagaimana isteri saya dok?", tanya Jimmy penuh ketakutan.


"Begini, kami perlu persetujuan dari pihak keluarga. Kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka. Karena resikonya sangat besar kalau berusaha menyelamatkan keduanya. Bisa-bisa keduanya tidak bisa terselamatkan", jelas sang dokter.


Jimmy terhenyak. Dia bingung membuat keputusan.


"Selamatkan ibunya dok", kata mama Hanny yang tiba-tiba ada di belakang mereka.


"Maaf ibu siapanya ibu Prili?", tanya dokter tersebut.


"Saya ibunya dokter, tolong selamatkan anak saya", kata mama Hanny sambil menangis.


"Bagaimana pak?sebagai seorang suami apa bapak setuju?", tanya dokter mempertegas.

__ADS_1


"Iya dok. Selamatkan ibunya ", kata Jimmy mantap.


"Baiklah kalau keputusan sudah bulat. Permisi", kata dokter tersebut.


Dokter itu kembali lagi ke ruangan tersebut.


"Han maafkan aku, kalau tidak aku ajak ke rumah Jimmy mungkin ini tidak akan terjadi", kata mama Liana sambil menangis.


"Bagaimana keadaan Prili, Li?", tanya Hanny pada Liana.


"Prili pendarahan Han. Dia terjatuh kesandung kaki kursi saat kami makan bersama. Kami pun tidak tahu persis kejadiannya. Ia menyiapkan makan buat Jimmy, setelah selesai ia bermaksud kembali ke tempat duduknya. Tak terduga saat ia memutar tubuhnya kakinya malah tersandung kaki kursi yang diduduki oleh Jimmy. Maafkan aku Han", kata Liana pada Hanny sahabatnya itu.


"Semua sudah terjadi Li. Dan itu bukan kesalahan kamu tapi Prili yang tidak hati-hati. Kita berdoa saja semoga Prili dan bayinya selamat", ujar Hanny.


Kedua sahabat itu saling berpegangan tangan, saling menguatkan.


Jimmy masih terlihat mondar-mandir. Hatinya tak tenang, gelisah menunggu berita dari sang dokter.


Satu jam telah berlalu. Pintu ruangan tersebut terbuka. Seorang dokter dengan jas putihnya sedang menuju ke arah Jimmy dan kedua mamanya.


"Bagaimana dok?", tanya Jimmy tak sabar.


"Dengan berat hati saya harus katakan, kami hanya bisa menyelamatkan ibunya. Maaf hanya itu batas kemampuan kami. Kami sudah berusaha menyelamatkan bayi bapak tapi takdir berkata lain. Selain umur bayinya belum cukup, benturan keras di perut ibunya membuat bayinya tidak bisa bertahan. Sekarang pasien belum sadarkan diri. Setelah pasien siuman bapak ibu baru boleh menjenguknya. Saya permisi dulu", kata sang dokter dengan gamblang. Dokter tersebut berlalu dari hadapan mereka bertiga. Mama Liana menutup mulutnya karena sedih cucu tidak bisa di selamatkan. Sedangkan mama Hanny tak bisa menahan air matanya ketika dokter berkata tidak bisa menyelamatkan cucu yang sudah di nanti-nantinya tersebut.


Jimmy yang sangat mengharapkan seorang anak, harus kembali mengubur rasanya untuk kedua kalinya setelah Nina keguguran waktu itu.


"Yang sabar ya nak, tuhan lebih sayang pada anakmu. Relakanlah", nasihat mama Liana pada anaknya Jimmy.


Jimmy terduduk lemas di kursi tunggu tersebut. Penantiannya untuk menggendong sang anak kembali tak tersampaikan. Jimmy menarik nafasnya kala wajah Nina melintas di benaknya.


"Semoga kamu bisa menjaga anakku yang sekarang ada dalam kandungan mu", batin Jimmy.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku terkasih.


Jangan lupa like, komen dan kasih votenya ya.

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2