Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Suka cita


__ADS_3

Sudah dua minggu bayi Nina berada di rumah sakit. Nina yang kesehatannya sudah pulih tambah bersemangat untuk menjenguk bayinya. Jimmy tak melarang Nina lagi untuk menjenguk buah hati mereka.


Nina seperti biasa berdiri di depan jendela kaca. Ia hanya bisa memandangi bayinya dari luar. Sang bayi sudah bergerak aktif. Nina tersenyum. Raut wajahnya menunjukkan kalau hatinya sangat bahagia melihat kemajuan dari sang buah hati.


Dokter masuk ke dalam ruangan bayi tersebut. Dia memeriksa bayi-bayi tersebut satu persatu. Tiba bayi Nina yang di periksa. Dalam hati Nina berdoa, semoga bayinya sudah pulih dan bisa segera pulang ke rumah.


"Semoga kesehatannya sudah membaik dan bisa pulang hari ini", batin Nina.


Sang dokter keluar dari ruangan tersebut setelah memeriksa keadaan bayi-bayi yang ada di dalam ruangan itu. Nina cepat mendatangi sang dokter.


"Dokter", sapa Nina.


"Iya bu, ada apa?", tanya sang dokter.


"Bagaimana kesehatan bayi saya dok?", tanya Nina cepat.


"Ibu Nina ya?mari ikut saya", kata sang dokter.


Hati Nina yang tadi bahagia tiba-tiba menjadi cemas. Rasa takut dalam hatinya tentang bayinya membuat degup jantungnya bergerak dengan cepat.


Nina mengikuti langkah sang dokter. Dokter tersebut masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Nina.


"Silakan duduk", kata sang dokter pada Nina.


"Iya dok terima kasih", ucap Nina.


Nina duduk di kursi yang ada di depan meja sang dokter.


"Ibu sendirian?", tanya sang dokter ketika melihat Nina hanya sendiri.


"Iya dok, suami saya ada urusan yang tidak bisa di tinggalkannya", ucap Nina.


"Oohh gitu. Tadi saya sudah memeriksa kembali keadaan kesehatan bayi ibu", sang dokter menghentikan ucapannya. Dia mengambil lembaran berkas tentang catatan bayinya Nina. Nina menghela nafasnya. Hatinya harap-harap cemas. Ia menanti apa yang akan di ucapkan oleh sang dokter.


Dokter membuka berkas tersebut.


"Merujuk pada kondisi bayi ibu dari dalam keadaan abnormal sampai keadaannya sekarang ini, saya tulis disini setiap visit yang saya lakukan", dokter kembali menghentikan lagi kalimatnya.


Nina merasakan nafasnya terhenti. Ia sangat takut kalau-kalau dokter mengatakan sesuatu yang sangat tidak dia harapkan.


"Hari ke hari perkembangan bayi ibu sangat baik, jantung dan paru-paru nya sudah bekerja dengan baik. Dan juga saya katakan kalau hari ini bayi ibu sudah boleh di bawa pulang", kata sang dokter.


"Benaran dok?", kata Nina tak percaya dengan pendengarannya.

__ADS_1


Dokter mengangguk.


"Iya. Bayi ibu sudah pulih, semua sudah bekerja dengan baik. Baik itu jantung, paru-paru dan kulitnya sudah bisa menerima rangsangan dengan baik", jelas sang dokter.


Nina tak kuasa menahan rasa haru dan bahagianya. Air matanya berlinang. Hatinya sangat bersyukur karena akhirnya sang buah hati bisa di bawanya untuk pulang ke rumah.


"Alhamdulillah. Terima kasih banyak dokter. Saya akan menelepon suami saya dulu", ucap Nina sembari menghapus air matanya dengan tangannya dan menyalami sang dokter.


"Iya sama-sama", kata sang dokter.


Nina keluar dari ruangan dokter tersebut dengan tergesa-gesa. Dia ingin langsung mengabari Jimmy kabar gembira itu.


Nina mengambil ponselnya dan mendial nomor Jimmy.


"Ya sayang ada apa?", tanya Jimmy setelah tersambung.


"Anak kita sudah boleh pulang bang, jemput sekarang ya. Aku sudah tidak sabar untuk membawanya pulang ke rumah", jawab Nina cepat.


"Syukurlah. Kamu tunggulah disana, abang akan tiba dalam lima belas menit", ucap Jimmy.


"Hhah!kamu jangan bercanda bang, kamu emangnya punya sayap untuk terbang apa?aku pengen kamu cepat kesini tapi tidak dengan ngebut oke!?",kata Nina takut kalau Jimmy ngebut.


"Tenang aja sayang, abang akan hati-hati. Abang kan ingin bertemu dengan putri kecil abang yang cantik", ucap Jimmy.


"Iyaa sayang", ucap Jimmy.


Nina menutup obrolannya dengan sang suami. Nina menuju ruang administrasi. Ia mengurus segala sesuatunya disana. Setelah selesai Nina kembali menuju ruang bayinya.


Baru saja Nina datang, Jimmy pun tiba dengan nafas tersengal-sengal.


"Kamu itu naik mobil atau lari datang kemari?", tanya Nina ketika Jimmy datang dengan ngos-ngosan.


"Abang kan juga pingin cepat berjumpa dengan putri abang", jawab Jimmy di sela nafasnya yang masih ngos-ngosan.


"Duduk dulu deh, biar tenang dulu", ajak Nina pada suaminya Jimmy.


Jimmy menurut saja saat Nina menggandeng tangannya untuk duduk di kursi tunggu. Nina memberikan air mineral yang tadi di bawanya.


"Minum dulu biar lebih tenang", kata Nina.


Jimmy menerimanya dan langsung meneguk air mineral tersebut. Setelah agak tenang Jimmy mengajak Nina untuk mengambil bayi mereka.


"Permisi sus, apa anak saya sudah siap akan di bawa pulang?",tanya Jimmy pada seorang perawat jaga.

__ADS_1


"Ooh bayi bu Nina ya. Bentar ya bu saya ambil bayinya dulu. Bapak dan ibu bisa tunggu di ruangan ini dulu", kata sang perawat pada Jimmy dan Nina.


"Baik sus", jawab Jimmy.


Perawat tersebut meninggalkan Jimmy dan Nina. Ia masuk ke ruangan bayi untuk mengambil bayi mereka. Tak lama perawat tersebut muncul kembali dengan menggendong seorang bayi di pelukannya. Nina yang sudah tak sabar, ingin segera mengambil bayinya tapi sang perawat cepat mencegahnya.


"Maaf bu silakan cuci tangan terlebih dahulu demi menjaga bayi ibu. Biar terhindar dari kuman dan bakteri serta virus-virus jahat. Silakan cuci tangan disana", kata sang perawat menunjuk westafel yang ada di ruangan tersebut.


Nina tersenyum. Ia menghela nafasnya. Demi sang buah hati, Nina menuruti perintah sang perawat. Walau bagaimanapun ucapan sang perawat ada benarnya.


"Abang juga harus cuci tangan dulu ya", ucap Nina pada Jimmy yang melihat bayinya terus menerus dari tadi.


Nina menggandeng tangan Jimmy menuju westafel. Sang perawat tersenyum melihat tingkah Jimmy dan Nina. Nina mencuci tangannya terlebih dahulu. Setelah itu baru giliran Jimmy. Setelah selesai mereka kembali ke hadapan sang perawat yang sedang menggendong bayi mereka. Sang perawat menyerahkan bayi Nina padanya.


"Ini bu bayinya. Ia sangat cantik. Dia anak yang baik. Selama disini ia tidak rewel. Ajari pakai ASI eksklusif ya bu", kata sang perawat.


Nina menerima bayinya dengan senang hati. Hatinya sangat suka cita. Hari ini akhirnya ia bisa menggendong bayi mungilnya tersebut. Si putri kecil tersenyum. Sepertinya dia tahu kalau yang menggendongnya sekarang adalah mamanya.


Sang perawat mengambil sebuah buku dan sebuah tas kecil yang berisikan sebuah produk susu.


"Ini buku imunisasinya jika ingin imunisasi disini. Ini surat keterangan lahirnya dan ini ada tas yang berisikan susu formulanya", Kata sang perawat menyerahkan semuanya pada Jimmy.


"Untuk lebih afdhol ibu bisa menggunakan ASI. Dan untuk sampingan ibu bisa gunakan susu formula ini atau cari yang lebih cocok untuk bayi ibu", jelas sang perawat.


"Oke sus terima kasih banyak", ucap Nina.


Setelah semuanya selesai, akhirnya Jimmy dan Nina meninggalkan rumah sakit tersebut dan pulang menuju rumah mereka.


.


.


.


.


Lanjut bacanya ya readersku terkasih.


Jangan lupa kasih like, komen, dan juga votenya ya.


Mampir juga ke karyaku lainnya ya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2