
Jimmy menyusul Rinal ke rumah sakit. Rinal terlihat gelisah. Jimmy menghampiri Rinal.
"Bagaimana keadaan Marsya?", tanya Jimmy langsung.
"Kata dokter harus di caesar karena letak bayinya melintang", ucap Rinal gelisah.
"Ohh. Semoga operasinya berjalan lancar. Keduanya terselamatkan", ucap Jimmy.
"Aamiin. Tapi aku takut banget kak", kata Rinal.
"Berdoa saja. Minta di lancarkan. Oh iya mama dan papa mana?", ucap Jimmy.
"Papa dan mama mengantar Wina ke lokasi perusahan baru. Rencananya Wina akan mengurus perusahaan di sana", jelas Rinal.
"Wina nya mau?", tanya Jimmy.
"Yang pasti melihat lokasi dulu, karena Wina yang ngotot mau kesana", ucap Rinal.
"Kakak gak yakin", ujar Jimmy.
"Kita lihat saja nanti kak", ucap Rinal.
"Maaf pak apa ada yang berdarah AB+?bu Marsya membutuhkan darah dengan golongan AB+", suara suster mengagetkan Rinal dan Jimmy.
"AB+? apa rumah sakit ini tidak ada persediaan?", tanya Rinal heran.
"Darah AB+ lagi kosong pak dan susah nyarinya", jawab sang suster.
"Mau nyari dimana darah AB, sedangkan aku darah A", gumam Rinal bingung.
"Kakak darah AB, ambil darah kakak saja", celetuk Jimmy.
"Serius kak?", tanya Rinal dengan wajah sumringah.
Jimmy mengangguk mantap.
"Ambil darah saya saja sus", ucap Jimmy cepat.
"Baik pak, mari ikut saya", ujar sang perawat.
"Kamu di sini aja, nanti dokter perlu kamu", kata Jimmy pada Rinal.
"Iya kak, aahh syukurlah", ucap Rinal seraya mengusap wajahnya deng telapak tangannya.
Jimmy mengikuti langkah sang perawat. Rinal dengan hati yang sedikit bercampur senang karena darah yang di minta sudah dapat, tapi kakinya tetap mondar-mandir di ruangan tersebut. Kegelisahan hatinya akan keselamatan bayi dan isterinya sangat mempengaruhi jiwanya.
Satu jam kemudian, Jimmy muncul dengan wajah sumringah. Rinal cepat menghampiri sang kakak.
"Bagaimana kak?apa kakak sudah mendonorkan darah kakak?", tanya Rinal langsung.
"Sudah. Malah sudah di gunakan untuk Marsya. Tenangkan diri kamu. Semua akan baik-baik saja", kata Jimmy menenangkan hati Rinal.
"Oohh syukurlah. Selamatkan keduanya tuhan", ucap Rinal seraya menengadah ke atas.
Jimmy mengajak Rinal untuk duduk di kursi tunggu. Rinal mengikuti langkah kaki Jimmy. Mereka duduk di kursi panjang di ruang tunggu tersebut. Jimmy memperhatikan gerak-gerik Rinal yang terlihat gugup dan gelisah.
Tak menunggu lama. Setengah jam kemudian dokter keluar dari ruangan tersebut. Rinal dan Jimmy cepat mendatangi sang dokter.
__ADS_1
"Dokter gimana isteri dan anak saya dok?", tanya Rinal langsung.
"Operasinya berjalan lancar. Isteri dan anak bapak dalam keadaan sehat. Untuk sementara belum bisa di jenguk. Tunggu sekitar setengah jam lagi baru boleh di jenguk. Di tunggu aja ya. Mari saya permisi dulu ya masih ada pekerjaan lain", kata sang dokter.
"Terima kasih banyak dok", ucap Rinal dan Jimmy serempak.
"Sama-sama", jawab sang dokter.
Sang dokter berlalu. Rinal langsung memeluk sang kakak.
"Terima kasih kak. Terima kasih banyak. Kalau tidak ada kakak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi", eluh Rinal.
"Segala sesuatu itu pasti ada jalan, kuncinya sabar", kata Jimmy setelah melerai pelukan mereka.
"Iya kak", ucap Rinal seraya mengusap air matanya karena haru dan bahagia.
Tak berapa kemudian, seorang perawat memanggil Rinal.
"Suaminya bu Marsya", panggil seorang perawat. Rinal cepat menyahut dan menghampiri.
"Iya sus, ada apa?", tanya Rinal.
"Silakan kalau ingin jenguk isteri bapak, isteri bapak sudah siuman", ucap sang perawat.
"Baik sus. Terima kasih banyak, sus", ucap Rinal dengan wajah gembira.
"Iya sama-sama pak", jawab sang perawat sambil berlalu.
"Ayo kak kita masuk", akak Rinal pada Jimmy.
Rinal dan Jimmy masuk ke dalam ruangan. Marsya terbaring lemah di tempat tidur.
"Masih di ruangan bayi, nanti juga di antar sini. Istirahat saja, jangan banyak gerak dulu", ucap Rinal takut.
"Selamat ya Sya", kata Jimmy ke Marsya.
"Iya kak, ma kasih", kata Marsya pelan.
Rinal duduk di samping tempat tidur Marsya. Melihat Rinal dan Marsya berbagi kebahagiaan, Jimmy memilih untuk keluar ruangan terlebih dahulu.
"Kakak mau kemana?", tanya Rinal.
"Mau nelpon mbakmu dan mama, mau kasih kabar tentang Marsya", ucap Jimmy.
"Ohh", ucap Rinal sambil manggut-manggut
Jimmy keluar dan segera menelpon sang mama.
"Iya Jim ada apa?", tanya sang mama setelah tersambung.
"Mama kapan pulangnya? Marsya sudah lahiran ma", kata Jimmy.
"Mungkin besok. Syukurlah kalau sudah lahir. Perempuan kan?", tanya sang mama.
"Iya ma", jawab Jimmy singkat.
"Perempuan lagi",ucap sang mama.
__ADS_1
"Emangnya kalau perempuan kenapa ma?", tanya Jimmy.
"Mama ingin anak kamu laki-laki", ucap mama Liana tanpa menjawab pertanyaan Jimmy. Seketika mama Liana memutus teleponnya.
Jimmy berdecak kesal mendengar ucapan sang mama.
"Dikira buat anak kayak buat boneka kali ya, bisa membentuk kelamin semau yang buat boneka. Ini bikin anak bukan bikin boneka", gerutu Jimmy kesal
"Telpon Nina dulu", gumam Jimmy.
Jimmy mendial nomor WhatsApp Nina.
"Sayang, Marsya sudah lahiran. Anaknya cewek", ujar Jimmy setelah tersambung dengan sang isteri.
"Pasti cantik seperti mamanya ya bang", komentar Nina.
"Abang belum lihat. Tapi pasti cantik, kalau ganteng kan cowok", ujar Jimmy sambil terkekeh.
"Bisa aja sih abang. Aku mau kesana boleh ya bang?", tanya Nina.
"Nanti aja tunggu mereka pulang. Jenguk mereka di rumah aja, lagian Iza pasti mau ikut", kata Jimmy.
"Iya juga sih", kata Nina.
"Menurut kamu anak kita cewek atau cowok?", tanya Jimmy memastikan.
"Abangkan dengar sendiri apa yang di katakan dokter waktu kita kontrol beberapa hari yang lalu, anak kita cewek", ucap Nina.
"Kan kemarin itu masih posisi menyamping. Jadi belum jelas jenisnya cewek atau cowok", dalih Jimmy.
"Bang, jangan terlalu banyak cerita. Jangan membuatku berharap banyak. Kita sudah lihat di USG kalau anak kita adalah berjenis kelamin perempuan. Jadi ya sudahlah, kita harus ikhlas. Kita hanya bisa berencana, semua Allah yang tentukan", ucap Nina.
"Iya juga sih", jawab Jimmy singkat.
Nina diam.
Tar"Iya sudah abang mau lihat Marsya dulu. Nanti aja jenguknya", kata Jimmy.
"Iya baik bang, salam buat Marsya ya", kata Nina.
"Oke sayangku cintaku i love you", ucap Jimmy.
Nina tertawa. Jimmy terkekeh. Obrolan berakhir. Jimmy kembali masuk ke ruangan Marsya. Setelah beberapa jam Jimmy mohon pamit dengan Rinal dan Marsya. Tinggallah Rinal dan Marsya di rumah sakit tersebut. Marsya tetap tinggal di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dalam penyembuhan luka operasinya. Jimmy keluar dari rumah sakit itu dan menuju tempat parkir. Jimmy menaiki mobilnya. Jimmy segera meninggalkan rumah sakit tersebut dan pulang menuju rumahnya.
.
.
.
.
.
Lanjut lagi bacanya ya readersku. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.
Terima kasih banyak untuk yang sudah like dan memberikan komentarnya.
__ADS_1
Mampir juga yukk ke karyaku yang lainnya:…
Masih Ada Pelangi (tamat).