
Jimmy kembali ke kantor seperti biasa. Marsya masuk ke ruangan Jimmy dengan setumpukan map di tangannya.
"Koq bisa numpuk gini berkasnya Sya?", tanya Jimmy setelah Marsya meletakkan tumpukan berkas tersebut di mejanya.
"Lah iya bapakkan baru masuk", jawab Marsya enteng.
"Maksudnya semua urusan kan sudah saya kuasakan di Marsel. Koq bisa numpuk gini?",kata Jimmy.
"Iya pak semua sudah di urus pak Marsel, sudah beres semua tapi tetap perlu tanda tangan bapak sebagai pemilik perusahaan", jelas Marsya.
"Gak jalan ini namanya. Iya udah buka berkasnya, yang mana yang perlu di tandatangani biar cepat", ujar Jimmy.
Dengan sigap Marsya membuka berkas-berkas tersebut. Dan memberikan lembaran yang perlu di tandatangani oleh bosnya tersebut.
Berkas pertama selesai. Lanjut berkas kedua, ketiga dan seterusnya sampai selesai.
"Sudah?", tanya Jimmy pada Marsya.
"Sudah pak, sudah selesai ", jawab Marsya kembali menyusun berkas tersebut.
"Kamu boleh keluar. Panggil Marsel sekarang, suruh ke ruangan saya", kata Jimmy pada Marsya.
"Baik pak", kata Marsya yang sekarang sudah jauh berubah. Sikapnya lebih sopan. Berpakaian lebih elegan dan pantas. Perubahan yang sangat segnifikan.
Marsya keluar dari ruangan Jimmy. Ia kembali ke meja kerjanya dan memanggil Marsel melalu telepon kantor.
"Pak, di panggil pak bos. Sekarang di tunggu di ruangannya", kata Marsya pada Marsel.
Marsya menutup teleponnya. Tak lama muncul Marsel. Marsel langsung menuju ruangan Jimmy. Dan seperti biasa Marsel langsung masuk. Jimmy yang sudah mengenal kebiasaan temannya itu cuma bisa diam.
"Ada apa manggil, kangen ya?", tanya Marsel dan duduk di kursi di depan meja Jimmy.
"Kamu kan sudah ku beri kuasa kenapa bisa berkasnya numpuk gini?", tanya Jimmy pada Marsel tanpa memperdulikan candaan Marsel.
"Yang namanya memberi kuasa itu perlu juga tanda tangan si pemilik masbro, kamu kemarin gak sempat kasih tanda tangan. Kalau gitu kita buat tanda tangan kamu dengan stempel, biar setiap ada urusan gak perlu cari atau nunggu kamu lagi, gimana?", tanya Marsel.
"Boleh juga. Kamu urus saja gimana bagusnya", kata Jimmy.
"Untuk urusan dan lain-lainnya sudah selesai semua, tinggal tanda tangan kamu aja. Kalau sudah selesai di tandatangani hari ini akan langsung ku urus biar cepat tayang. Biar aku cepat dapat cutinya", kata Marsel sambil tersenyum.
"Iya sudah bawa nih berkas. Semua sudah di tandatangani. Kalau bisa selesaikan hari ini juga", kata Jimmy semangat.
"Siap bos. Aku bawa ya berkasnya ", kata Marsel.
"Iya. Kalau ada sedikit-sedikit sandungan kamu bisa atasi sendiri. Kalau masih tidak bisa baru aku akan turun tangan", kata Jimmy.
"Siap bosque ", kata Marsel.
Marsel mengambil tumpukan berkas tersebut dan segera membawanya ke ruangannya. Jimmy menghela nafasnya.
__ADS_1
"Marsel akan cuti. Prili lagi sakit. Nina juga butuh aku", Jimmy kembali menghela nafasnya.
Jimmy mencari jalan keluarnya. Lama Jimmy berpikir siapa yang bisa di andalkan untuk posisi sementara menggantikan Marsel. Susah mencari orang seperti Marsel. Selain setia, dia juga jujur. Ulet dan tahan banting.
"Rinal bulan depan baru selesai. Tika tidak punya skill di bidang Marsel. Marsya belum teruji kemampuannya", gumam Jimmy sambil terus berpikir.
Tiba-tiba ponsel Jimmy berbunyi. Jimmy mengangkat teleponnya.
"Iya ma ada apa?", tanya Jimmy setelah melihat di layar ponselnya.
"Kamu di mana?", tanya mama Liana.
"Di kantor. Kenapa ma?", tanya Jimmy.
"Oh di kantor, kirain masih di rumah mertua kamu", kata mama Liana.
"Tadi pagi pulang ke rumah, setelah itu ke kantor. Memangnya ada apa ma?", tanya Jimmy.
"Gak jadi lah. Iya udah nanti kalau pulang kantor, jemput Wina ya. Tadi dia naik gojek, mobilnya sekarang di bengkel, gak tahu rusaknya apa", kata sang mama.
"Iya ma. Mama yakin gak kenapa-napa?", tanya Jimmy penasaran.
"Nggak. Mama gak kenapa-napa. Iya udah nanti jangan lupa jemput adek kamu ya", kata mama Liana lagi.
"Iya ma", jawab Jimmy.
Obrolan di telepon pun berakhir. Jimmy jadi kepikiran sama mamanya.
Kepala Jimmy terasa sedikit pusing. Beban pikiran yang di rasanya sangat menguras tenaganya. Jimmy meminta Marsya untuk mengambilkannya air hangat di dapur kantor.
"Marsya tolong ambilkan air hangat ya", kata Jimmy.
"Untuk apa pak?", tanya Marsya tak mengerti.
"Untuk minum Marsya, emangnya untuk mandi", kata Jimmy.
Marsya terkekeh. Marsya cepat menuju dapur kantor dan mengambil segelas air hangat.
"Ini pak airnya", kata Marsya seraya meletakkan segelas air di meja Jimmy.
"Terima kasih ya", kata Jimmy.
"Iya pak sama-sama", kata Marsya.
Marsya keluar dari ruangan Jimmy. Jimmy mengambil obat sakit kepala yang ada di laci kerjanya. Jimmy selalu menyediakan obat di laci kerjanya. Setiap ada keluhan pusing atau lainnya, Jimmy tinggal meminum obat tersebut sesuai sakitnya.
Jimmy meminum obat tersebut dengan menggunakan air hangat yang di bawakan oleh Marsya barusan.
Setelah 30 menit Jimmy merasa agak enakan. Pusing di kepalanya sedikit berkurang.
__ADS_1
Jimmy bangun dari kursinya dan mencari file yang ada di brankasnya.
"Semoga Marsel dapat menembus proyek besar ini", gumam Jimmy setelah menemukan file tersebut.
Sementara itu Marsel sedang berjuang untuk mendapatkan proyek yang di maksud Jimmy. Proyek dengan dana yang fantastis tersebut tidak menciutkan nyali Jimmy untuk mendapatkan proyek tersebut.
Marsel dengan data yang konkrit dan pengalaman kerja di bidangnya sangat mudah bagi Marsel untuk beradu saing dengan para pejuang proyek lainnya. Dengan keterampilan dan tekad yang kuat, kemampuan Marsel tidak dapat di ragukan lagi. Memang Marsel adalah orang kepercayaan sekaligus orang yang dapat di andalkan oleh Jimmy.
Jimmy keluar dari ruangannya dan berhenti di depan meja Marsya. Tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi. Jimmy melihat layar ponselnya.
"Marsel. Semoga ada kabar baik", batin Jimmy.
"Gimana?", tanya Jimmy langsung.
"Hampir saja bro", jawab Marsel.
"Apa maksud kamu?", tanya Jimmy dengan nada tinggi.
Marsya yang mendengar menjadi kaget. Marsya mengelus dadanya.
"Hampir kita terjungkal bos. Tapi tenang aja semua bisa ku tangani", jelas Marsel.
"Yes!itu baru kabar bagus", kata Jimmy dengan suara lantang.
Lagi-lagi Marsya mengelus dadanya. Rasa kaget yang tidak di buat-buat. Jimmy melihat Marsya.
"Kamu kenapa?", tanya Jimmy tanpa dosa.
"Nggak pak, cuma sedikit kaget aja dengan suara lantang bapak", kata Marsya tergagap.
"Pesan makan siang untuk para pegawai kita, hari ini kita makan bersama ", kata Jimmy pada Marsya.
"Baik pak", kata Marsya mengiyakan perintah bosnya.
Jimmy kembali ke ruangannya dengan senyum mengembang. Dia mengakui kemampuan Marsel dalam bertarung. Sangat bisa di andalkan.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku terkasih.
Bantu like, komen dan juga votenya ya.
__ADS_1
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).