Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Satu doa


__ADS_3

Wina masuk ke dalam rumah dengan muka cemberut. Jimmy masih di luar. Dia mau menelpon Nina terlebih dahulu. Telepon tersambung.


"Ya bang ada apa?", tanya Nina langsung setelah terhubung.


"Abang di rumah mama sekarang, kamu kesini ya. Mama ulang tahun hari ini", kata Jimmy pada Nina.


"Kenapa baru bilang sekarang sih bang?aku kan mau buat kado untuk mama", kata Nina protes.


"Abang juga lupa, baru tahu tadi dari Wina. Berangkatlah, hati-hati bawa mobilnya ", kata Jimmy.


"Iya bang", jawab Nina.


Obrolan pun berakhir. Jimmy masuk ke dalam rumah. Di lihatnya Wina sedang berbaring di sofa di ruang tengah.


"Mama mana?", tanya Jimmy ketika tak melihat sang mama.


"Lagi ke belakang ambil air minum", kata Wina tanpa memandang sang kakak.


Sang mama muncul dengan membawa segelas air putih di tangannya.


"Kamu ini gimana sih, bawa mobil gak kira-kira. Lihat nih adik kamu sampai pucat gini menahan rasa takut akibat ulah kamu", kata mama Liana pada Jimmy seraya memberikan air putih tersebut kepada Wina.


"Duduk dulu minum air hangat-hangat kukunya biar segar", kata mama Liana pada Wina.


Wina menerima air tersebut dan meminumnya. Wina meneguk habis air di dalam gelas tersebut.


"Mama tidak tahu aja sih ma, Wina kalau bawa mobil terkadang juga suka ngebut", dalaih Jimmy.


"Kalau jalan langgeng ya gak apa-apa kali kak, bukan nyalib-nyalib gitu", protes Wina.


"Apa pun alasan kalian, tidak di perbolehkan ngebut-ngebut di jalan apalagi nyalib kendaraan lain. Berbahaya. Masih enak kalau kecelakaan gak fatal. Lah kalau sampai beruntun gimana?bukan kita aja yang rugi, orang lain yang tak bersalah pun ikut jadi korban. Jadilah pengendara yang baik. Taati aturan lalu lintas. Ingat, nyawa gak jualannya ", jelas sang mama.


"Dan kamu juga, udah tua masih mau kebut-kebutan ", tunjuk sang mama pada Jimmy.


"Sebenarnya tadi mau cepat sampai rumah aja sih ma, jangan sampai mama lama menunggu", kata Jimmy membela diri.


"Mama tidak mau dengar lagi kalian kebut-kebut di jalanan. Mama udah tua. Mama ingin lihat anak-anak mama semua sehat. Mama selalu berdoa semoga kalian selalu di beri umur panjang. Jadi sayangi diri kalian, karena kalau onderdil sudah lepas melepas maka itu tidak akan ada artinya lagi. Sayangi tubuh kalian. Karena sehat itu sangat mahal nak", nasihat sang mama.


"Tuh dengar", kata Wina pada Jimmy.


"Iya iya", jawab Jimmy.


"Oh iya papa mana ma?", tanya Jimmy lagi.


"Tadi di belakang", ucap sang mama.


Jimmy memberi isyarat pada Wina untuk membawa kue ulang tahun untuk sang mama ke belakang. Wina pun mengerti. Wina membawa barang belanjaannya ke belakang.

__ADS_1


"Panggil papa sekalian", ucap Jimmy pada Wina.


"Oke", jawab Wina.


Tak lama Wina kembali bersama sang papa. Dengan membawa kue ulang tahun di tangannya.


"Selamat ulang tahun mamaku sayang. Mama terbaik sedunia", ucap Wina seraya memberikan kue pada sang mama.


Mama Liana menerima kue itu dengan mata berkaca-kaca.


"Terima kasih sayang", kata mama Liana.


Mama Liana meletakkan kue tersebut di atas meja. Wina mencium pipi sang mama dan memeluk erat sang mama.


"Selamat ulang tahun ya ma, semoga panjang umur, sehat selalu, selalu menjadi mama terbaik dan terhebat buat kami", ucap Wina sambil memeluk sang mama.


Mama Liana tak kuasa menahan air matanya. Rasa bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Wina melepaskan pelukannya. Mama Liana mengelus lembut pipi Wina.


"Terima kasih sayang", kata mama Liana lagi.


"Iya ma sama-sama", jawab Wina.


Jimmy maju dan mencium pipi sang mama. Jimmy juga memberikan pelukannya untuk sang mama.


"Selamat hari lahir mama. Apa pun kata orang, mama adalah mama super duper buat kami. Sehat terus ya ma", kata Jimmy.


Pak Purnama maju mendekati sang isteri setelah Jimmy bergeser beberapa langkah.


"Selamat hari lahir isteriku. Doaku cuma satu menualah bersamaku", kata Purnama seraya memeluk isterinya tersebut.


"Doanya cuma satu pa?", goda sang isteri.


"Doa yang lain sudah di wakilkan sama Jimmy dan Wina", kata Purnama sambil terkekeh.


Jimmy dan Wina saling pandang dan akhirnya mereka tertawa bersama.


"Oh iya ma ini ada sesuatu buat mama dari kami, tepatnya dari kakak tercinta", kata Wina sambil terkekeh. Wina menyerahkan kotak kecil berwarna silver kepada sang mama.


"Apa sih sayang?gak usah repot-repotlah. Doa kalian lebih berharga bagi mama", ujar mama Liana.


"Buka ma, sepertinya menarik", kata pak Purnama semangat.


Mama Liana menerima hadiah tersebut dari tangan Wina. Ia membuka kotak kecil berwarna silver tersebut.


"Waahh cantik sekali ini sayang, pasti harganya mahal", kata mama Liana.


"Spesial buat bunda ratu", kata Jimmy seraya membungkukkan badannya dengan tangan satu di lipat di perut dan satu di lipat ke belakang, seperti seorang yang sedang memberi hormat pada sang raja atau ratu.

__ADS_1


Mama Liana tersenyum mengembang. Hatinya sangat bahagia walau sebenarnya kebahagiaan itu belum lengkap.


Tiba-tiba ponsel Wina berdering. Wina melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Hai kak Rinal", kata Wina setelah tersambung.


"Mana mama?", kata Rinal langsung.


Wina langsung mengarahkan kamera ponselnya pada sang mama.


"Halo mamaku yang cantik, selamat ulang tahun ya ma. Semoga panjang umur, sehat selalu, selalu jadi mama yang terbaik buat kami, love you mom. Miss you muachh", kata Rinal seraya mengecup jarinya dan di hembuskan ke layar ponselnya.


"Iya sayang sama-sama. Kirain kamu lupa", ucap mama Liana.


"Nggak lah ma karena Rinal buat alarm khusus untuk ultah mama. Ini baru bangun tidur langsung nelpon",jawab Jimmy.


"Baru bangun tidur?!udah jam berapa sekarang Rinal?apa kamu tidak masuk kuliah", tanya sang mama.


"Rinalkan udah gak kuliah lagi ma, udah mau tamat. Capek belajar terus", jawab Rinal.


"Walau mau tamat, janganlah tidur gak kenal waktu gitu. Sudah mau malam lagi kamu baru bangun tidur, gimana sih?", ujar mama Liana.


"Di sini baru jam satu siang mama, masih enak tidur-tiduran", protes Rinal.


"Ya udah mandi sana" kata sang mama.


"Ya ma bye",


Video call berakhir. Wina meletakkan ponselnya di samping tempat duduknya.


"Ayo ma kita potong kuenya dulu. Strawberrynya dan cerrynya bikin menarik hati ", jelas Wina.


Sang mama mengiris kue tersebut. Setelah itu mama Liana menyuapi Pak Purnama. Purnama menerima suapan kue tar tesebut. Lanjut memberikan suapan pada Jimmy dan Wina.


.


.


.


Lanjut bacanya ya readersku sayang.


Bantu like, komen dan juga votenya ya.


Jangan lupa mampir juga ke karyaku lainnya ya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2