
"Habisi makannya beb, biar tenaganya banyak nanti malam", seloroh Rinal.
"Huuukkk", Marsya tersedak. Rinal cepat memberikan minum buat isteri tercinta.
"Penganten baru", ucap Marsel sambil tertawa.
Muka Marsya bak kepiting rebus.
"Mulut koq ngeyel mas", batin Marsya sambil melirik suaminya.
Rinal cuma nyengir. Marsya cepat menghabiskan makanannya. Setelah selesai Marsya cepat meninggalkan Rinal dan Marsel di ruangan tersebut.
Mereka berdiskusi, siapa yang paling cocok dan pantas menjadi seorang sekretaris. Setelah merasa pas dan cocok, akhirnya Marsel dan Rinal memutuskan untuk satu nama.
"Deal",
Rinal dan Marsel menyatukan genggaman tangan mereka dengan adu jotos. Keduanya senang walau terlihat sangat lelah karena akhirnya mereka berhasil menyelesaikan tugas mereka.
"Kita panggil aja langsung atau gimana kak?", tanya Rinal pada Marsel.
"Besok aja tidak enak sama yang lain. Hari ini kita cukupkan sampai disini saja dulu. Suruh mereka bubar. Beri tahu mereka bagi yang berhasil akan kita telepon besok dan di panggil lagi kemari. Suruh saja Manaf", ucap Marsel.
Manaf yang masih setia di depan pintu, cepat datang saat di panggil adik bosnya tersebut.
"Naf kemari!", seru Rinal.
"Iya pak ada apa?", tanya Manaf patuh.
"Beri tahu mereka semua, pengumumannya besok dan bagi yang berhasil akan mendapat panggilan dari kita besok", kata Rinal.
"Siap pak",
Manaf keluar ruangan dan menemui para pelamar. Walau berat hati, para pelamar meninggalkan kantor tersebut. Mereka sangat berharap pengumumannya akan di umumkan hari ini juga, ternyata masih menunggu besok.
"Udah lama-lama nunggu, gak tahunya masih besok juga", gerutu salah satu pelamar.
"Sabar mbak, mungkin mereka masih bingung menentukan siapa yang akan mereka pilih. Mungkin kita-kita ini terbaik dan bagus semua", celetuk pelamar satunya sambil terkekeh.
"Iya juga sih, iya udah deh pulang aja", kata pelamar yang tadi menggerutu.
Mereka akhirnya bubar, Manaf hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan para pelamar tersebut.
"Nina Trigusti Ayu. Namanya bagus ya kak, bisa sama lagi namanya dengan kakak ipar, Nina", ucap Rinal pada Marsel.
"Tapi ada yang beda, yang ini berhijab", ucap Marsel.
"Tapi tak kalah cantik dengan mbak Nina", ucap Rinal.
"Jangan ngomong gitu dekat Marsya kalau kamu kena goreng olehnya", kata Marsel sambil tertawa.
"Cuma memuji kak, gak lebih", dalih Rinal.
"Iya udah kita kembali ke ruangan kita", ajak Marsel.
"Kakak duluan aja ya, aku mau tengok my beib ku dulu", kata Rinal.
"Iya udah, yuuk", ucap Marsel.
Mereka berpisah jalan. Marsel kembali ke ruangannya sedangkan Rinal menuju di mana sang isteri berada.
"Hai beib", kata Rinal seraya duduk di pinggir meja Marsya.
__ADS_1
"Ehh koq duduk disini, nanti ada kak Jimmy lho", kata Marsya merasa tidak enak.
"Takut amat sama sang bos", Rinal menggoda Marsya.
"Mas, ini tempat kerja. Duduk itu di kursi bukan di meja. Lagi pula adab yang baik itu harus duduknya di kursi. Kalau mejanya patah dan kamu terjatuh, yang repot kamu juga. Ujung-ujungnya merepotkan banyak orang. Ayo turun mas", kata Marsya.
Rinal tak bergeming. Dia malah memandangi gerakan mulut Marsya yang komat-kamit.
"Mas, mas!",
Tanpa sadar Marsya memperbesar volume suaranya. Rinal terlonjak dan turun dari meja. Sedangkan Jimmy yang lagi asik dengan laptopnya, kaget mendengar suara Marsya. Jimmy cepat keluar dari ruangannya.
"Marsya ada apa?", tanya Jimmy cemas.
Marsya gelagapan. Rinal menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Jimmy mendekati Rinal dan Marsya.
"Tadi ku dengar kamu menjerit, ada apa?", Jimmy mengulang pertanyaannya pada Marsya.
"Nggak kak, cuma tadi ada kecoa", kata Marsya sedikit berbohong.
"Kakak kira ada apa. Kamu ngapain disini?katanya lagi menginterview koq ada disini ", kata Jimmy pada Rinal.
"Sudah selesai kak. Besok pengumumannya. Pokoknya sesuai ekspektasi", ujar Rinal.
"Iya sudah kakak percayakan sama ku", ucap Jimmy sambil berlalu dari hadapan Rinal dan Marsya.
"Kamu juga sih, jadi orang nyeleneh amat", ucap Marsya.
"Maaf", ucap Rinal seraya merapatkan kedua telapak tangannya didepan dada.
"Ya udah deh, mas ke ruangan mas aja dulu ya", ucap Rinal yang melihat Marsya hanya diam saja.
Rinal menuju ruangannya meninggalkan Marsya yang masih betah dalam diam. Marsya menghela nafasnya. Rasa kesalnya sedikit berkurang setelah Rinal menjauh darinya.
Keesokan harinya Marsel menghubungi nama yang menjadi target interview lanjutan. Cuma satu nama. Marsel menyuruh target langsung datang ke kantor.
Satu jam kemudian target pun tiba. Dengan anggun sang target datang menemui panggilan Marsel.
Sang target mengetuk pintu ruangan Marsel.
"Masuk", ucap Marsel.
Sang target masuk.
"Silakan duduk", ucap Marsel.
Sang target pun duduk di kursi depan Marsel.
"Menurut biodata kamu, kamu baru lulus dari universitas terkemuka di Yogyakarta, betul?", tanya Marsel.
"Betul pak", jawab sang target.
"Kamu lulusan terbaik dari fakultas kamu, itu secara teori. Apa kamu mampu menerapkan ilmu yang sekarang kamu miliki? karena secara praktek biasanya kita tidak selalu sama dengan teori yang kita pelajari", kata Marsel.
"Insyaallah pak. Saya akan berusaha untuk menerapkan ilmu yang saya dapat dan seandainya ada kendala atau ada yang tidak bisa saya pahami mohon bimbingannya pak", jawabnya.
"Baiklah kalau begitu. Selamat anda di terima di posisi ini", kata Marsel seraya mengulurkan tangannya sebagai bentuk ucapan kepada sang target.
Seakan tak percaya sang target menerima uluran tangan Marsel.
"Benar nama kamu Nina?", tanya Marsel.
__ADS_1
"Iya pak. Nina Trigusti Ayu. Panggil saja Nina", katanya sopan.
"Oke. Apa kamu tahu siapa nama pimpinan perusahaan ini?", tanya Marsel.
"Tahu pak tapi saya belum tahu orangnya", jawab Nina.
"Nanti juga kamu akan tahu. Karena kamu yang akan menjadi sekretarisnya. Satu hal yang perlu kamu ketahui, isterinya bos kita juga bernama Nina, jadi jaga nama baik Nina. Tugas kamu akan di jelaskan nanti oleh Marsya. Untuk dua hari ini kamu akan di training oleh Marsya. Kerja sama yang baik sangat di perlukan disini. Jadi sebagai sekretaris kamu harus aktif menyikapi setiap masalah yang ada. Ulet dan telaten sangat di butuhkan dalam bekerja", jelas Marsel.
"Siap pak. Mohon bimbingannya", jawab Nina merendah.
"Mari saya antar ke Marsya. Nanti segala sesuatunya tanyakan langsung dengannya", kata Marsel lagi.
"Baik pak", jawab Nina.
"Mari ikut saya", kata Marsel.
Nina mengikuti langkah Marsel.
"Sya, ini partner kamu. Training dia. Jelaskan tugas, aturan dan kewajibannya disini. Saya serahkan semuanya sekarang sama kamu", ucap Marsel.
"Baik pak", jawab Marsya.
Marsel meninggalkan Marsya dan Nina di tempat tersebut.
"Mari silakan duduk", ucap Marsya pada Nina.
Setelah duduk. Mereka saling berkenalan. Marsya mulai mentraining Nina. Tidak terlalu sulit karena Nina lulusan terbaik. Ia mudah memahami segala sesuatunya.
Sampai training hari kedua Nina tak mengalami kendala apapun. Marsya lega karena Nina tidak sulit menerima penjelasan dan arahan darinya.
"Selama dua hari ini kamu tidak mengalami kesulitan, semoga apa yang ku jelaskan bisa kamu ingat dan pahami dengan mudah", ucap Marsya.
"Iya bu, terima kasih banyak. Ibu menjelaskannya sangat gamblang dan detail sehingga saya mudah untuk menerimanya", jawab Nina.
"Panggil kakak aja, kita sama disini", kata Marsya merendah.
"Baik kak", kata Nina.
"Untuk hari ini cukup. Besok kamu sudah mulai bisa bekerja", ucap Marsya.
"Baik kak. Terima kasih banyak kak", kata Nina.
"Sama-sama", jawab Marsya.
Nina menyalami tangan Marsya. Setelah itu ia meninggalkan ruangan tersebut dan pulang.
.
.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku terkasih.
Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya di tunggu.
Mampir juga yuukk ke karya yang lain:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).