
Pernikahan Tika dan Dedi tiba. Acara akad di langsungkan di rumah Tika. Acara berlangsung dengan hidmat dan lancar. Di lanjutkan dengan acara resepsi di panggung. Tika terlihat anggun dengan gaun pengantin yang di kenakannya. Dedi terlihat gagah dengan pakaian yang melekat di tubuhnya. Jimmy dan Nina duduk di barisan depan. Beberapa kali Jimmy menangkap tatapan Dedi pada isterinya Nina. Nina tak memperhatikannya. Nina lebih fokus pada Tika yang terlihat sangat anggun hari ini.
"Hmmm", Jimmy mengeluarkan suara kecil dari mulut.
Nina memalingkan wajahnya kepada Jimmy. Hanya melihat sebentar lalu kembali matanya beralih ke Tika.
"Dasar brengsek, isterinya ada di samping masih saja sempat-sempatnya memandangi isteri orang", batin Jimmy geram pada Dedi.
"Bang lihat Tika cantik banget hari ini sampai mataku tak mau berpindah dari wajahnya", ucap Nina di telinga Jimmy.
"Dan di sebelahnya sangat gagah bukan?", balas Jimmy.
"Iya bang Dedi terlihat sangat gagah hari ini. Keduanya sangat serasi", ucap Nina jujur.
Jimmy menghempaskan nafasnya secara kasar. Nina tidak tahu ada hati yang berkecamuk mendengar ucapannya. Acara berjalan terasa seperti sangat lambat bagi Jimmy. Dia ingin sekali meninggalkan tempat tersebut. Tapi tetap di tahannya. Sampai acara selesai, Jimmy masih duduk manis di tempat duduknya.
"Bang, ayo kita ke atas panggung salaman sama pengantinnya", ajak Nina pada Jimmy.
"Kan belum mau pulang juga, nanti aja nemuin mereka tunggu mereka turun dari panggung", ucap Jimmy tak berminat.
"Iya udah deh, kita makan aja dulu ya", ajak Nina.
"Itu lebih baik", ucap Jimmy seraya bangun dari tempat duduknya.
Jimmy memeluk pinggang Nina dan menuju meja makan. Nina walau agak malu diperlakukan begitu oleh suaminya di depan orang banyak tapi dalam hatinya merasa senang diperlakukan sangat manis oleh sang suaminya.
Mereka makan di tempat khusus tamu VIP. Setelah selesai makan Jimmy dan Nina kembali ke tempat duduk semula.
"Bang tamu perlahan mulai sepi, apa kita naik aja untuk ngucapin selamatnya?", tanya Nina.
"Tunggu sampai mereka turun aja", kata Jimmy malas.
"Kelamaan bang", ucap Nina.
"Iya udah deh yuk, tapi kamu jangan bersalaman sama si Dedi", kata Jimmy santai.
Nina mengeryitkan dahinya. Tapi ia tetap patuh sama perintah suaminya. Nina mengikuti suaminya dari belakang.
"Selamat bro, semoga menjadi imam yang baik dan cepat dapat keturunan", ucap Jimmy menjabat tangan si Dedi.
"Terima kasih bro", jawab Dedi dengan senyum mengembang. Nina hanya merapatkan kedua telapak tangannya seraya membawa kedepan dadanya.
__ADS_1
"Selamat ya", ucap Nina. Dedi hanya mengangguk.
Jimmy melaju menuju mempelai wanitanya yaitu Tika. Nina mengiringi langkah sang suami.
"Selamat ya Tika. Semoga menjadi keluarga yang samara. Jadi isteri yang baik biar suami betah di rumah", ucap Jimmy dengan sedikit memperbesar volume suaranya.
Dedi tersenyum mendengar ucapan Jimmy.
"Selamat sobatku, semoga cepat dapat momongan ya. Jangan lupa minum vitamin ya", goda Nina ke Tika.
"Pasti dong sayangku", balas Tika.
Nina dan Tika cipika cipiki setelah itu Jimmy dan Nina bermaksud untuk turun tapi cepat di cegah oleh Tika.
"Eehh foto dulu bos jangan turun dulu", teriak Tika kecil.
"Foto dulu buat kenangan", ulang Tika.
Jimmy maju dan berdiri di samping Dedi dan Nina di samping Tika. Walau terasa eneg berdekatan dengan si Dedi tapi Jimmy tetap profesional. Dia tetap tersenyum ketika photografer meminta mereka untuk berekpresi. Nina hanya senyum simpul melihat tingkah sang suami yang masih terlihat kaku walau dia sudah berusaha untuk rileks. Setelah selesai Jimmy dan Nina langsung pamit untuk pulang. Jimmy tak segan-segan memeluk pinggang Nina di depan Dedi. Dan menggandeng tangan Nina saat turun dari panggung.
Ada perasaan iri di hati Dedi melihat kemesraan dan kebahagiaan yang di perlihatkan oleh Jimmy. Dedi iri karena tidak bisa memiliki Nina.
Lain dengan Jimmy. Dia merasa seperti memenangkan sebuah pertandingan. Dia tersenyum sambil terus melangkah dengan tangan Nina masih erat dalam genggamannya.
Tiba di rumah mereka langsung menuju kamar. Nina ingin membuka gaunnya tapi dengan cepat Jimmy menawarkan jasanya.
"Sini biar abang bantu", ucap Jimmy seraya mendekati Nina.
Nina diam saja saat Jimmy membuka retsliting bajunya di bagian belakang. Dengan pelan Jimmy menggeser baju Nina yang sudah terbuka ke arah bahu. Harum tubuh Nina menyeruak. Aroma minyak wangi yang lembut masih terendus di hidung Jimmy. Jimmy menikmati aroma tersebut. Dia memejamkan matanya.
"Bang sudah selesai belum?", suara Nina mengagetkan Jimmy.
"Belum sayang dikit lagi, tetap menghadap depan. Abang akan bantu", ucap Jimmy.
Jimmy bukannya melepaskan retsliting baju Nina, ia sibuk melepaskan bajunya sendiri. Setelah selesai melepaskan pakaian di tubuhnya, Jimmy membantu Nina melepaskan gaunnya. Kini Nina dengan celana pendek ketat dan kaos dalam yang masih melekat di tubuhnya. Dada Nina yang kini terlihat besar dan menonjol membuat gairah Jimmy menjadi naik. Tanpa sungkan Jimmy langsung meremas bukit kembar Nina dengan gemas.
"Iihh mulai deh", kata Nina seraya menuju lemari ingin mengambil baju.
"Eiit mau kemana, lihat kamu telah membangunkan singa yang lagi tidur", kata Jimmy seraya menunjuk celananya yang terlihat penuh sesak.
"Nanti aja bang, kita kan baru pulang", tolak Nina secara halus karena tubuhnya terasa sangat lelah.
__ADS_1
"Nanti gimana?kamu bisa lihat kan ini udah bangun", dalih Jimmy seraya menarik tubuh Nina.
Jimmy tak memberi kesempatan pada Nina untuk menolak. Dia yang sudah terlanjur gemas dengan bukit kembar Nina, langsung saja membuka pengait bra Nina dan melemparnya ke sembarang arah. Terpampanglah dua bukit kembar yang besar berisi menantang di depan mata. Jimmy tak mau berlama-lama, dia langsung meraih bukit kembar Nina. Dengan lahap mulut Jimmy seperti bayi di dada. Tak urung Nina melenguh juga. Isapan Jimmy membuat air susu Nina keluar seketika. Jimmy menikmati air susu tersebut. Di remas, di hisap, di pelintir di usap, di jelajah oleh Jimmy.
"Bang ohhh..", cuma itu yang bisa Nina ucapkan.
Nina membawa Nina ke tempat tidur. Jimmy merebahkan tubuh Nina. Dan membuka pakaian Nina yang tersisa. Jimmy meregangkan paha mulus Nina dan mengangkat kaki Nina ke atas. Jimmy langsung menghujamkan senjatanya yang sudah tegak menjulang dari tadi. Nina melenguh.
"Oohhh abang",
Jimmy langsung berpacu dengan sengit. Terlintas wajah Dedi seketika. Jimmy kembali tersenyum. Dia semakin menggenjot Nina dengan semangat.
"Cuma aku yang memilikinya, cuma aku yang menikmatinya, cuma aku. Iya aku", batin Jimmy seraya memandang wajah Nina yang menikmati permainannya.
Jimmy terus berpacu. Tangannya tak tinggal diam. Bergerilya di dada Nina. Nina memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan suaminya.
"Sayang oohhh..", ucap Jimmy semakin mempercepat pacuannya. Tubuh Jimmy bergetar. Nina pun seperti terbang ke langit ke tujuh.
Aarggghh..
Mereka berpelukan erat. Tubuh keduanya mengejang. Jimmy menyemburkan kembali lava panasnya ke dalam rahim Nina. Dan akhirnya terkulai lemas. Jimmy terkulai di atas tubuh Nina. Nina mengelus punggung sang suami. Keduanya merasa bahagia karena telah mencapai ******* secara bersamaan.
Permainan singkat tapi sangat menggairahkan membuat keduanya sangat bahagia. Walau Nina tahu, itu adalah kemarahan secara halus yang di lakukan oleh Jimmy tapi Nina merasa senang karena Jimmy selalu melampiaskan kemarahannya dengan gairah seksnya.
Nina memeluk tubuh kekar suaminya itu. Karena kelelahan, Jimmy akhirnya tertidur. Nina melepaskan pelukannya dan menuju kamar mandi. Ia membersihkan dirinya, setelah itu mengerjakan ibadahnya.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ya semuanya. Maaf lama updatenya. Tapi author akan tetap hadir dan akan menyelesaikan ceritanya sampai selesai.
Lanjut bacanya ya...
jangan lupa like, komentar dan votenya ya..
__ADS_1
Salam sayang untuk semua.
Wassalam,