
Jimmy kembali ke kantor seperti biasanya. Kali ini dia tidak sendiri lagi di kantor. Dia sekarang bersama Rinal sang adik. Rinal datang lebih awal karena hari ini dia akan merekrut sekretaris baru untuk sang kakak. Marsya yang merupakan sekretaris sang kakak sekaligus isterinya akan menjadi sekretarisnya nantinya. Rinal ingin yang menjadi sekretarisnya saat ini adalah sang isteri, selain tidak akan canggung dia juga selalu bisa berdekatan dengan sang isteri.
Pengumuman yang di pasang Rinal di media sosial, membuat peserta pelamarnya membludak. Melihat itu Marsya hanya geleng-geleng kepala.
Rinal mendatangi ruangan isteri tercintanya. Rinal merangkul Marsya dari belakang kursi yang di duduki sang isteri.
"Jadi kamu merekrut sekretaris baru buat kak Jimmy hari ini?", tanya Marsya pada suaminya sekaligus adik dari bosnya tersebut.
"Jadi dong beb. Kalau aku merekrut sekretaris untukku nanti ada yang cemburu lagi", kata Rinal sambil mendekatkan wajahnya di telinga Marsya.
"Kalau urusan kerja sih gak masalah kecuali kalau kamu main mata sama dia, beda urusannya", ucap Marsya.
Rinal melepaskan rangkulannya pada Marsya, berdiri di depan meja Marsya.
"Bijak. I like it. So, kita akan mencari yang bukan hanya pintar tapi yang cantik dan juga bohay", kata Rinal seraya memainkan tangannya membentuk seperti gitar.
"Kamu nyari sekretaris atau nyari peragawati sih?", kata Masya cemberut.
Rinal malah ketawa mendengar pertanyaan isterinya.
"Ketawa lagi, senang amat sepertinya", kata Marsya dengan muka masam.
Mendengar ada yang tertawa, Jimmy keluar dari ruangannya.
"Ada apa?senang banget sepertinya", ucap Jimmy. Pandangannya tertuju pada adiknya Rinal.
"Ini lho kak yang kita bicarakan kemarin. Mau cariin sekretaris baru buat kakak", jawab Rinal.
"Terus lucunya di mana?tawa kamu sampai bergema di ruangan ini", tanya Jimmy penasaran.
"Lagi pingin ketawa aja kak, olahraga muka", jawab Rinal enteng.
"Kamu itu ada-ada saja. Ya sudah kerja sana, jangan berduaan melulu", ucap Jimmy.
Ucapan Jimmy membuat pipi Marsya bersemu merah. Jimmy masuk kembali kedalam ruangannya.
"Kamu juga sih. Mau interview itu di depan sana bukan disini. Aku mau kerja, entar aku di pecat kak Jimmy kalau terus meladeni kamu", ucap Marsya seraya menjauhkan Rinal dari meja kerjanya.
"Gitu amat sih beb dengan suami sendiri", sergah Rinal manja.
Marsya menghela nafasnya. Ia tak lagi memperdulikan Rinal yang masih merengek seperti bayi minta susu. Ia kembali mengutak-atik laptopnya.
"Begini amat rasanya punya suami bau kencur, mintanya di emong melulu", batin Marsya.
Melihat Marsya tak lagi menggubrisnya, Rinal akhirnya pergi keluar dari ruangan tersebut. Rinal menemui Marsel yang sedang sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk mewawancarai para pelamar yang sudah ramai mengantri di luar kantor.
"Kita harus cepat dan harus selesai hari ini juga. Kamu lihat sendiri peserta begitu banyak. Kamu juga sih tidak membatasi usia. Jadi membludak pesertanya", ucap Marsel.
"Gampang kak, kita kan menerima umur 25 sampai 30 nih, kita wawancara serius dengan yang umur segitu aja, yang lain tetap kita wawancarai tapi formalitasnya aja sebagai bentuk kita masih menghargai mereka", ucap Rinal ringan.
__ADS_1
"Iya tapi tetap menguras tenaga dan memakan waktu", ucap Marsel.
"Kan kita berdua juga yang kerja, jadi pasti cepat selesai", dalih Rinal.
"Iya sudah kita mulai sekarang", kata Marsel pada Rinal.
"Ayo", kata Rinal seraya menduduki meja yang telah di sediakan untuknya.
Marsel memanggil satpam yang ada diluar kantor.
"Naf, kamu panggil satu persatu pesertanya ya, setelah yang satunya selesai wawancara baru kau panggil lagi, begitu seterusnya", jelas Marsel pada satpam yang bernama Manaf.
"Siap pak", kata Manaf mantap.
"Laksanakan", kata Marsel cepat.
"Siap", kata Manaf mantap.
Manaf mulai memanggil dua peserta. Marsel dan Rinal sudah siap di meja mereka. Satu menuju meja Marsel dan satu menuju meja Rinal. Marsel dan Rinal mulai mewawancarai pelamar tersebut. Berbagai pertanyaan di ajukan. Setelah selesai di lanjutkan dengan peserta lainnya, begitu seterusnya.
Jam sudah menunjukkan makan siang, Marsel dan Rinal terus melakukan wawancaranya. Marsya yang menunggu suaminya untuk makan siang bersama mulai kesal karena yang di tunggu belum datang-datang juga. Marsya menelpon Rinal suaminya tapi tidak di angkat.
"Kamu nggak makan Sya?", tanya Jimmy pada sekretaris sekaligus adik iparnya tersebut.
"Nunggu Rinal kak, mungkin masih sibuk", jawab Marsya.
"Iya kak", jawab Marsya tetap sopan.
Jimmy meninggalkan Marsya yang masih mematung. Marsya tak sabar lagi menunggu Rinal karena memang perutnya sudah lapar.
Akhirnya Marsya mendatangi Rinal. Rinal yang melihat kedatangan sang isteri langsung memberikan senyuman termanisnya.
"Sudah jam berapa ini?makan dulu yuk", ajak Marsya di saat waktu jeda Rinal karena satpam memanggil peserta lainnya.
"Tanggung sayang, tinggal beberapa orang lagi atau gini aja pesan aja makanannya kita makan di sini aja oke?!sekalian pesani juga untuk kak Marsel dan Manaf. Gimana?", tanya Rinal.
"Iya udah deh, ku pesan dulu ya", kata Marsya seraya menjauh dari Rinal yang masih akan melakukan interview. Marsya memesan makanan yang tak jauh dari kantor mereka. Tak perlu datang, Marsya cukup menelpon dari kantor.
Melihat sang suami masih sibuk, Marsya akhirnya kembali ke meja kerjanya. Tak lama menunggu pesanan pun datang.
"Ini bu pesanannya", kata seorang wanita yang membawa pesanan Marsya. Marsya menerimanya.
Setelah membayar pesanannya, Marsya membawa makanan tersebut ke tempat Rinal dan Marsel.
"Akhirnya selesai juga, ayo kak kita makan. Kasih Manaf satu, beb", kata Rinal pada Marsel dan kepada Marsya sang isteri setelah mereka menyelesaikan wawancaranya.
Marsya mengambil satu fan memberikannya pada satpam yang bernama Manaf.
"Terima kasih bu", kata Manaf.
__ADS_1
Marsya mengangguk.
"Pinggangku oh pinggangku", keluh Marsel seraya memutar-mutar tubuhnya biar rileks.
"Makan dulu biar tenaganya pulih kak", kata Rinal lagi.
"Gara-gara elu sih kebablasan", kata Marsel bersungut.
"Iya udah, yang penting di traktir makan hari ini", kata Rinal.
"Boleh di makan sekarang nih?", tanya Marsel.
"Besok", jawab Rinal sengit.
Marsya menyenggolkan sikunya di tangan Rinal suaminya.
"Iya sekarang lah, perut udah keroncongan gini. Ayo kita sikat", kata Rinal pada Marsya dan Marsel.
Mereka mulai mengeksekusi makanannya. Terlihat mereka sangat lahap makannya. Menandakan kalau perut memang sudah patut di isi. Marsya yang masih canggung dekat dengan Marsel karena bagaimanapun Marsel bos keduanya setelah Jimmy, Marsya makan agak malu-malu.
"Habisi makannya beb, biar tenaganya banyak nanti malam", seloroh Rinal.
"Huuukkk", Marsya tersedak. Rinal cepat memberikan minum buat isteri tercinta.
"Penganten baru", ucap Marsel sambil tertawa.
Muka Marsya bak kepiting rebus.
"Mulut koq ngeyel mas", batin Marsya sambil melirik suaminya.
Rinal cuma nyengir. Marsya cepat menghabiskan makanannya. Setelah selesai Marsya cepat meninggalkan Rinal dan Marsel di ruangan tersebut.
Mereka berdiskusi, siapa yang paling cocok dan pantas menjadi seorang sekretaris. Setelah merasa pas dan cocok, akhirnya Marsel dan Rinal memutuskan untuk satu nama.
"Deal",
.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.
Komen, like dan votenya di tunggu ya.
__ADS_1