
Adel dan ibunya sedang menikmati makan malamnya. Awalnya mereka merasa kesepian tanpa adanya Nina tapi sekarang mereka sudah terbiasa.
"Ibu tahu nggak, hari ini mbak Na dan kak Jimmy ngadain syukuran di kantornya, acaranya rame banget tapi cuma para pegawai dan karyawannya saja yang ikut merayakan, tidak mengundang orang luar", celetuk Adel di sela makan mereka.
"Oh ya?", sang ibu senang.
Adel mengangguk sambil mulutnya terus mengunyah.
"Trus kamu bisa tahu dari mana?", tanya sang ibu penasaran.
"Ibu sayang, ini jaman internet. Semua bisa di akses di media sosial, mereka memposting acaranya di media sosial, jadi Adel bisa langsung tahu", kata Adel.
"Oh gitu. Kapan ya mbak kamu ke sini?", tanya sang ibu, ada rasa kangen menyelinap di hatinya.
"Kalau ada waktu pasti dia kemari", kata Adel santai.
Sang ibu tiba-tiba kehilangan selera makannya. Adel melihat ibunya, ada kerinduan yang mendalam tergambar jelas di matanya.
Adel cepat menyelesaikan makannya.
"Bu, makannya di habiskan dulu, setelah itu kita akan menemui mbak Na", kata Adel.
"Hari sudah malam Adel, tidak mungkin kita ke rumahnya malam-malam gini, rumahnya kan jauh",ujar sang ibu.
Di saat mereka lagi asik mengobrol tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya.
"Siapa sih malam-malam bertamu?", gerutu Adel.
Adel membuka pintunya. Seorang ibu paruh baya tegak di depan pintu mereka. Adel memandangi wanita tersebut dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Bu Liana?!ayo masuk Bu", kata Adel.
Liana masuk ke dalam rumah. Dan mengambil tempat duduk walau belum di suruh duduk.
"Mana ibu kamu?aku mau bicara sama dia", kata Liana tegas.
"Bentar ku panggilkan dulu", kata Adel sambil berlalu.
"Eeh Bu Liana, apa kabar?", kata Ibunya Adel.
"Tidak usah basa-basi deh. Ratmi, aku datang kemari untuk memperjelas hubungan Nina sama Jimmy", kata Liana.
"Syukurlah akhirnya kamu merestui hubungan dan perkawinan mereka", kata ibunya Adel yang bernama Ratmi tersebut.
"Bukan itu maksudnya, aku ingin Nina dan Jimmy bercerai", kata Liana lantang.
Ratmi terbelalak. Adel yang menguping pembicaraan mereka pun ikut terkejut.
"Mmmm maksud kamu apa sih?aku nggak ngerti",kata Ratmi yang belum jelas alur ceritanya.
__ADS_1
"Asal kamu tahu ya, sebelum Jimmy menikahi Nina, Jimmy sudah kami jodohkan. Tapi Nina lebih di pilih oleh Jimmy untuk pendamping hidupnya", jelas Liana.
"Iya mungkin Jimmy lebih nyaman dengan pilihannya sendiri ketimbang di jodohkan", kata Ratmi tak mau kalah.
"Iya mungkin anak kamu pakai ilmu apa gitu"', kata Liana sinis.
"Jangan fitnah kamu ya", kata Ratmi geram.
Melihat situasi memanas, Adel akhirnya keluar dari persembunyiannya.
"Maaf nyonya kalau maksud kedatangan nyonya hanya bikin ribut di sini, dengan berat hati silakan nyonya meninggalkan rumah kami", kata Adel tanpa bermaksud kurang ajar.
"Anak kecil tidak usah turut campur, ini urusan orang dewasa", kata Liana ketus.
"Silakan keluar nyonya, jangan buat keributan di sini, gak enak di dengar tetangga", ujar Adel lagi.
"Baiklah. Tapi perlu kalian ketahui kalau perjodohan ini akan berlanjut ke jenjang pernikahan, silakan mundur atau siap jadi wanita kedua Jimmy", kata Liana mengancam.
Adel murka. Adel ingin protes tapi Ratmi sang ibu cepat mencegah Adel. Liana dengan tatapan sinis, melangkah gontai meninggalkan kediaman Ratmi.
"Ibu bagaimana sih, koq diam aja" kata Adel protes.
"Biarkan saja, toh yang penting mbakmu dan Jimmy tidak terusik", ujar Ratmi.
"Bagaimana kalau bu Liana nekad?", tanya Adel pada ibunya.
"Pokoknya aku tidak rela kalau mereka cerai", kata Adel.
Ratmi menghela nafasnya. Dadanya terasa sakit. Ratmi mengurut dadanya. Melihat itu Adel menghentikan bicaranya. Ia menyarankan pada ibunya untuk beristirahat.
"Sebaiknya ibu tidur saja, istirahat. Lupakan soal mbak Na, ku yakin mbak Na bisa mengatasinya", kata Adel menenangkan sang ibu.
"Iya kamu benar, kepala ibu juga pusing, periksa jendela dan pintu, kali aja ada yang belum terkunci",kata Ratmi sang ibu.
"Iya Bu", kata Adel menurut.
Ratmi menuju kamarnya, ia meminum obatnya. Lalu Ratmi mengerjakan ibadahnya selaku umat muslim. Setelah itu Ratmi merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.
Pikiran Ratmi menerawang. Dia teringat akan Nina yang masih hamil muda.
"Kenapa tuhan selalu memberimu ujian anakku? semoga kamu kuat dan bisa menyelesaikan masalahmu dengan baik", batin Ratmi.
Lama Ratmi merenung. Dia tidak mengerti apa yang harus di lakukannya. Karena merasa lelah berpikir, akhirnya Ratmi tertidur juga.
Sementara itu Liana sudah sampai di rumahnya.
"Mama dari mana?", tanya Wina yang baru melihat mamanya pulang.
"Anak kecil tahu apa?", Kata Liana sambil berlalu dari hadapan Wina.
__ADS_1
Wina ingin menyusul sang mama tapi tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi.
"Kak Rinal, tumben malam-malam telepon", kata Wina melihat layar ponselnya.
"Iya Kak, ada apa nih?tumben nelpon jam segini", tanya Wina kepada Rinaldy sang kakak.
"Apa kamu tahu tentang kak Jimmy dengan isterinya?", tanya Rinal penasaran.
"Oh tentang itu, mereka sudah menikah mungkin ada tiga bulananlah kalau gak salah", jelas Wina.
"Oh gitu, trus kata mama kak Jimmy akan menikah, itu nikahnya dengan siapa? wanita mana yang rela menikah dengan suami orang.", tanya Rinal menyelidik.
"Sebenarnya mama tidak tahu kalau kak Jimmy ada hubungan asmara dengan mbak Nina. Mama menjodohkan kak Jimmy dengan anaknya teman mama, anak semata wayang pewaris tunggal dalam keluarganya", jelas Wina.
"Kak Jimmy sudah menikah ngapain mama masih menginginkan kak Jimmy tetap menilahi gadis itu?", tanya Rinal .
"Karena Prili pewaris tunggal",kata Wina.
"Mama koq jadi gitu ya?", kata Rinal.
"Mama gak enak sama temannya, dia sudah terlanjur janji dengan tante Hanny mamanya Prili", kata Wina.
"Trus Prilinya tahu belum masalahnya?", tanya Rinal.
"Entahlah aku juga tidak tahu, yang jelas mama ingin perjodohan ini berlangsung ke jenjang pernikahan", kata Wina.
"Senekad itu kah mama?bagaimana perasaan isterinya kak Jimmy. Iya sudah, kakak cuma penasaran aja.silakan tidur, jangan tidur terlalu malam tidak baik untuk kesehatan", nasehat Rinal ke adiknya.
"Iya kakak sayang, Wina tidurnya gak malam-malam banget kak", kata wina.
"Iya sudah dulu ya", kata Rinal pada Wina.
Obrolan pun berakhir. Wina melihat jam di ponselnya.
"Sudah malam, kak Rinal benar sebaiknya aku tidur saja", kata Wina seraya berjalan menuju kamarnya.
Wina masuk ke dalam kamarnya dan Wina merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Tanpa babibu, Wina tidur dengan ponsel masih dalam genggamannya.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya readers.
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1