
Siang itu Marsel dengan tergopoh-gopoh datang menemui Jimmy.
"Kenapa lu? kayak ketemu hantu di siang bolong aja", sergah Jimmy.
"Bro nanti malam temani aku dong ke rumahnya Sofi ", kata Marsel.
"Tumben lu minta di temani, biasanya juga langsung nyosor ", ledek Jimmy.
"Aku serius bro. Sepertinya Sofi tidak mau lagi pacaran sama aku", kata Marsel serius.
"Kenapa emang, apa ada masalah antara kalian berdua?",tanya Jimmy.
"Bukan itu bro, masalahnya Sofi udah kebelet kawin ini ", kata Marsel bingung.
"Yaelah bro, itu aja bingung. Iya datangin aja ke rumahnya lamar dia, beres kan!?", kata Jimmy enteng.
"Songong lu. Kayak gak pernah ngalamin aja. Gugup ni mau ketemu calon mertua ", ujar Marsel.
"Iya udah nanti ku temani. Jam berapa?", tanya Jimmy.
"Jam tujuh ku jemput", kata Marsel.
"Oke. Ini acaranya langsung ngelamar atau temu keluarga dulu?", tanya Jimmy.
"Temu keluarga dulu. Langsung nyusun tanggal yang tepat untuk lamarannya ", ujar Marsel.
"Oke siap", kata Jimmy.
"Huuhh", Marsel menghempaskan nafasnya.
"Tenang bro, santai saja. Di jamin kamu akan nikahi Sofi secepatnya ", kata Jimmy menggoda Marsel.
Marsel garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Elu sebutannya aja playboy ketiban mau nikah gugupnya setengah mati", ledek Jimmy.
"Urusannya beda bro. Di tolak cewek bisa cari yang lain. Nah di tolak calon mertua bisa berabe urusannya. Malunya itu yang gak nahan", sergah Marsel.
"Baiklah ku tunggu kamu di rumah jam tujuh", kata Jimmy mengingatkan.
"Oke. Aku balik lagi ke ruanganku ya", kata Marsel semangat.
Jimmy mengacungkan jempolnya tanda setuju. Setengah berlari Marsel keluar dari ruangan Jimmy. Jimmy hanya tersenyum melihat ulah sahabatnya itu.
****
Jimmy baru tiba di rumahnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Jimmy mengambil ponselnya. Tertera nama Prili di layar ponsel.
"Sayang kamu koq gak datang ke sini sih?kamu ke mana aja?", tanya Prili tanpa basa-basi.
Sebelum menjawab Prili, Jimmy menghela nafasnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Untuk hari ini tidak bisa ke sana karena ada sedikit urusan yang tak bisa di tinggalkan", kata Jimmy menjelaskan.
"Urusan apa sih?pasti Nina melarang kamu kan untuk datang ke aku", tebak Prili.
"Kamu itu ngomong apa sih?sudah aku pusing ", kata Jimmy memutus obrolan mereka.
Jimmy kaget kala Nina sudah berdiri di depannya.
"Koq kaget gitu?santai aja kali Bang", ledek Nina.
Jimmy terdiam dalam kegalauan.
"Apa Nina tahu ya kalau yang nelpon barusan adalah Prili?", batin Jimmy.
Nina meninggalkan Jimmy yang masih bengong di ruang tamu. Nina masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian Jimmy pun menyusul Nina ke kamar.
"Malam ini Marsel mau ke rumahnya Sofi, dia minta di temani sama aku", kata Jimmy membuang kekakuan.
"Udah tahu", jawab Nina singkat.
Jimmy mengeryitkan dahinya.
"Jangan lupa Sofi adalah saudara aku, jadi semua yang terjadi padanya aku tahu",kata Nina tanpa menoleh ke arah Jimmy.
"Oh iya aku lupa", kata Jimmy seraya menepak dahinya.
Jimmy melepaskan atribut di tubuhnya. Cuma ****** ***** yang masih tersisa. Nina asik dengan ponselnya tanpa menghiraukannya apa yang di lakukan Jimmy suaminya. Jimmy sengaja merebahkan tubuhnya agar Nina menegurnya. Tapi Nina tetap bungkam. Jimmy memainkan telapak kaki Nina dengan jari tangannya. Nina menarik perlahan kakinya. Nina tahu Jimmy berusaha untuk membujuknya agar tidak marah lagi padanya.
"Apa kamu mau ikut ie rumah Sofi malam ini?", tanya Jimmy walau dia tahu Nina tidak meresponnya.
"Kembalikan", kata Nina seraya mengulurkan tangannya ke Jimmy.
Dengan sigap Jimmy turun dari tempat tidur. Nina mengejarnya. Terjadilah kejar-kejaran di dalam kamar tersebut.
Tiba-tiba Nina merasakan pusing dan sakit pada perutnya.
"Aahh", Nina memegangi perutnya.
"Sayang kamu kenapa?", kata Jimmy seraya memegang bahu Nina.
Nina menepiskan tangan Jimmy. Nina meringis menahan sakit. Melihat itu Jimmy membopong tubuh Nina dan merebahkan Nina di tempat tidur.
"Sayang, ku mohon bicaralah. Kamu kenapa?", Jimmy memelas.
"Ahhh", cuma itu kata yang keluar dari mulut Nina.
Jimmy tidak mau ambil resiko, dengan cepat Jimmy mengambil pakaiannya dan segera memakainya. Jimmy mengambil ponselnya dan kunci mobil. Jimmy cepat membopong tubuh Nina dan di bawanya menuju mobilnya.
"Mbak Yuni cepat mbak, bantu buka mobilnya", teriak Jimmy ketika melihat mbak Yuni lagi beres-beres di ruang tengah.
Mbak Yuni dengan tergopoh-gopoh membukakan pintu mobil tuannya.
__ADS_1
"Nyonya kenapa tuan?", tanya mbak Yuni khawatir.
"Aku juga gak ngerti mbak, ini mau di bawa ke dokter dulu", kata Jimmy cepat.
Jimmy meletakkan Nina dengan sangat hati-hati. Jimmy menutup pintunya dan segera masuk ke mobil. Jimmy melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Beberapa mobil di lewatinya dengan lincah. Jimmy melirik ke arah Nina. Di lihatnya Nina masih meringis kesakitan.
"Sabar sayang kita akan segera sampai", kata Jimmy tanpa mengurangi kecepatan mobilnya.
"Pelan Bang, aku takut", sergah Nina di sela sakitnya.
Jimmy terpaksa mengurangi kecepatan mobilnya. Jimmy fokus ke jalan raya. Melihat Nina kesakitan pikiran hanya satu, harus cepat sampai di tempat dokter.
Tak lama mereka sudah tiba di tempat yang dituju. Jimmy turun dari mobilnya. Dia membukakan pintu untuk Nina. Nina ingin turun dan berjalan sendiri tapi Jimmy melarangnya.
"Biar di gendong, gak usah jalan", ujar Jimmy.
Nina yang memang lagi menahan sakit, tidak menolak saat Jimmy menawarkan diri untuk menggendongnya. Jimmy menggendong Nina menuju ruang dokter. Kebetulan belum ada pasiennya. Jimmy langsung membawa Nina masuk ke ruang dokternya.
"Tolong isteri saya dok, ia sangat kesakitan", kata Jimmy.
"Langsung ke tempat tidurnya aja pak", kata sang dokter.
Nina di baringkan di sana.
"Maaf bapak tunggu di sana dulu, saya akan periksa isteri bapak", ujar sang dokter.
Jimmy mengerti. Dia pun duduk di kursi yang telah di sediakan di ruang dokter tersebut. Dengan harap-harap cemas, Jimmy sampai keringatan. Jimmy meremas jari-jemarinya sendiri. Beberapa kali Jimmy menelan ludah karena tenggorokannya terasa kering.
Cukup lama Jimmy menunggu. Tak di pungkiri hatinya sangat cemas dengan keadaan tersebut.
Dokter keluar dari ruang periksa. Sang dokter mencuci tangannya terlebih dahulu. Jimmy sudah tak sabar ingin mengetahui keadaan Nina isterinya. Sang dokter duduk di kursinya.
"Bagaimana keadaan isteri saya dok?", kata Jimmy tak sabar.
"Begini, sepertinya kandungan isteri bapak sangat lemah. Saya sarankan untuk menjaga isteri bapak untuk tidak menyebabkan kandungannya bermasalah", jelas sang dokter.
"Ada apa dengan kandungan isteri saya dok?", kata Jimmy cemas.
"Sekarang isteri bapak lagi hamil, jaga jangan sampai janinnya terganggu", jelas sang dokter lagi.
"Hamil?!", kata Jimmy.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku...
Jangan lupa like, komen dan votenya juga dong ya.
__ADS_1
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).