Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Biar gak kebablasan


__ADS_3

Marsel kembali ke ruangannya. Dia menelpon Rinal dari ponselnya.


"Dimana?", tanya Marsel langsung.


"Sudah di parkiran. Nanti aku langsung ke ruang kak Marsel", kata Rinal dari seberang.


Marsel memutuskan obrolan mereka. Selang beberapa menit Rinal datang ke ruangannya.


"Kakak kamu ingin kita memindahkan Nina ke perusahaan cabang", kata Marsel setelah Rinal duduk di kursinya.


"What?!", Rinal terkejut.


"Besok kamu yang antar Nina kesana", ucap Marsel lagi.


"Koq dadakan gini sih kak, biar aku yang bicara sama kakak. Sepertinya ada yang salah ini", ucap Rinal seraya bangun dari tempat duduknya.


"Eehhh tunggu", kata Marsel.


Tapi Rinal sudah berlalu menuju ruangan sang kakak. Marsel mengejar Rinal sampai ke ruangan Jimmy. Nina sang sekretaris melongo melihat bos-bosnya kejar-kejaran.


Jimmy terkejut saat pintu ruangannya di buka dengan paksa. Rinal duduk dengan cepat pada kursi di depan sang kakak. Marsel yang datang belakangan mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


"Kakak mengambil keputusan secara sepihak, kenapa tidak meminta pendapat kami terlebih dahulu. Aku tidak setuju Nina di pindahkan ke cabang. Biarkan dia disini", ucap Rinal.


Jimmy yang tadi sedang membaca sebuah buku, menutup kembali buku yang sedang di bacanya tersebut. Jimmy menghela nafasnya. Marsel yang sangat mengenal sifat sahabatnya itu hanya diam dan masih berdiri di tempatnya semula.


"Sebelum kakak menjelaskan semuanya, kakak mau nanya terlebih dahulu pada kamu", kata Jimmy pada Rinal sambil memajukan kursi tempat duduknya agar lebih merapat ke mejanya.


"Apakah kamu sangat mencintai Marsya?", tanya Jimmy dengan mata menatap tajam ke arah Rinal.


"Tidak perlu di tanya, kakak juga sudah tahu jawabannya", jawab Rinal ketus.


"Jawab pertanyaan kakak", kata Jimmy berat.


Menandakan ada amarah dalam kalimatnya.


"Iya pastilah kak. Aku menikahinya karena aku sangat mencintainya", jawab Rinal.


"Hal yang sama pada kakak. Kakak juga sangat mencintai isteri kakak", jawab Jimmy.


"Apa hubungannya dengan isteri-isteri kita?", tanya Rinal belum mengerti.


"Marsel, apa kamu belum memberi tahu permasalahannya pada Rinal?", Jimmy tidak menjawab pertanyaan Rinal. Jimmy malah melontarkan pertanyaan yang kini di tujukan pada si Marsel.


"Tadi sih aku baru mau menjelaskan semuanya pada Rinal, Rinal main lari aja kemari. Makanya langsung ku kejar kesini",jawab Marsel.


"Ini ada kursi, betah amat tegak di situ", kata Jimmy menyadarkan Marsel.


Marsel duduk di kursi di samping Rinal.


"Baiklah sekarang kamu dengar baik-baik. Setiap orang punya masa lalu, dan Nina mbak kamu kakak ipar kamu itu pernah punya kekasih namanya Ferdy. Dan kekasihnya itu kakak sepupunya Nina ini si sekretaris yang baru saja kamu rekrut tersebut",jelas Jimmy.


"Ohh jadi kakak cemburu gitu dengan mbak Nina", kata Rinal sekenanya.


"Mulut kamu tuh ember banget ya. Ferdy itu gila. Waktu kami baru menikah, dia berusaha merebut mbak kamu itu dariku dan hari ini dia datang kesini memanfaatkan si Nina ini sebagai tameng untuk mencelakai aku dan dengan begitu mungkin dia akan lebih mudah merebut mbak kamu itu dari aku. Dia itu sakit, gak waras. Oleh karena itu si Nina ini kakak pindahkan ke cabang. Kakak bisa saja memberhentikannya tapi tidak kakak lakukan. Karena kakak lihat di orangnya baik dan cerdas. Jadi kakak pindahkan saja ke cabang biar si Ferdy tidak lagi berurusan dengannya dan kakak", jelas Jimmy.


"Oohh gitu. Tapi sayang lho kak. Si Nina ini punya segalanya. Dia tidak hanya cantik, berpenampilan menarik, dia juga punya skill yang mumpuni", jelas Rinal.


"Jangan-jangan kamu suka sama dia!?", tebak Jimmy.

__ADS_1


"Kakak ngomong apa sih, bisa di kebiri Marsya aku kalau dia mendengar ucapan kakak", kata Rinal menghindar.


Marsel dan Jimmy tertawa mendengar ucapan Rinal.


"Makanya lain kali dengarkan dulu alasan orang, baru berkomentar. Ini masalahnya aja belum tahu, eehh udah main hantam aja. Kena batunya kan", ledek Jimmy.


Rinal menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah. Tugas kamu besok antar si Nina ke cabang kita yang ada di luar kota tapi dengan syarat isteri kamu harus kamu bawa. Untuk jaga-jaga biar gak kebablasan ", kata Jimmy lagi.


"Iya iya. Ribet banget sih", kata Rinal sambil berlalu.


Tinggal Jimmy dan Marsel sekarang.


"Kamu urus semuanya. Jangan sampai si Nina salah paham. Jelaskan duduk persoalannya secara garis besarnya saja", kata Jimmy pada Marsel.


"Oke bro. Siap laksanakan", kata Marsel lagaknya seorang tentara.


"Hubungilah Rini sekarang biar tidak terjadi kekosongan", kata Jimmy lagi pada Marsel.


"Oke. Kalau begitu aku permisi dulu. Akan ku urus sekarang juga", ucap Marsel.


Marsel meninggalkan ruangan Jimmy. Jimmy mengambil ponselnya. Dia ingin menelpon Nina sang isteri.


"Hai sayang lagi apa?", kata Jimmy setelah melihat wajah Nina di layar ponselnya.


"Ini", kata Nina mengarahkan kamera ponselnya ke arah puteri kecilnya.


Nina lagi menyusui sang bayi. Terlihatlah daging kenyal si Nina yang putih mulus yang kini ukurannya lebih besar dari biasanya. Mata Jimmy berkedip-kedip.


"Kamu sengaja ya memperlihatkannya pada abang?", tanya Jimmy.


"Iya gak perlu di perlihatkan juga kali. Cukup jawab aja", kata Jimmy.


Nina menjauhkan kameranya dari wajah Iza si imut. Nina senyum-senyum sendiri.


"Kamu kenapa senyum-senyum?", tanya Jimmy.


"Sepertinya suamiku tersayang ini sudah gak sabar menahan puasanya", goda Nina.


"Ahh nggak. Abang kuat koq", jawab Jimmy.


"Sabar abang sayang, nanti ku beri servis spesial. Beberapa hari lagi koq ya", kata Nina.


"Benar nih gak lama lagi?", tanya Jimmy bersemangat.


"Iya paling seminggu lagi", jawab Nina.


"Iya masih lama dong sayang", kata Jimmy lemas.


"Nunggu seminggu lagi masa gak tahan sih bang", kata Nina.


"Iya tahan sih tahan sayang tapi ini rasanya kepala udah mumet", kata Jimmy seadanya.


"Makanya santai, jangan piktor melulu. Kerja aja biar hilang penatnya ya dan biar gak kebablasan juga", kata Nina.


"Tapi benar ya seminggu lagi?", tanya Jimmy.


"Iya tergantung juga sih bang. Bisa lebih tapi bisa juga kurang dari seminggu ", jawab Nina.

__ADS_1


"Iya koq gitu sih sayang", kata Jimmy kembali lemas.


"Sabar aja bang, kalau udah bersih pasti di servis", jawab Nina.


"Iya udah deh. Abang sabar menanti", kata Jimmy.


Nina mengalihkan kameranya ke wajah Iza putri kecil mereka. Iza sudah kenyang. Ia tertidur kembali dengan pulasnya.


Jimmy mengelus layar ponselnya. Wajah Iza yang imut terkadang membuat Jimmy selalu rindu dengan buah hatinya itu.


"Tidurnya pulas banget ya", ujar Jimmy.


"Kalau udah kenyang, dia pasti tidur lagi bang", kata Nina.


Jimmy memperhatikan wajah anaknya.


"Kalian sangat mirip", kata Jimmy.


"Iya iyalah bang, dia kan anakku tapi kata orang wajahnya masih berubah-ubah. Bentar mirip mamanya, bentar mirip papanya. Yang pasti dia mirip kita bang", ujar Nina.


"Iya dong, masa mirip Ferdy", ucap Jimmy.


"Abang ngomong apa sih, Ferdy koq di bawa-bawa", kata Nina cemberut.


"Koq cemberut gitu wajahnya?abang hanya teringat aja dengan si Ferdy mantan kamu itu", kata Jimmy.


"Sudah aahh. Malas. Abang makan balik ke rumah ya, aku masak kesukaan abang hari ini", kata Nina.


"Oke sayangku cintaku i love you muacchh", kata Jimmy.


"Genit", kata Nina.


"Genit sama isteri sendiri juga kan berpahala", dalih Jimmy.


"Iya deh. Di tunggu ya di rumah abang sayang", kata Nina mesra.


"Iya sayang bye..",


"bye..", jawab Nina.


Obrolan panjang pun berakhir. Nina kembali ke dapur membantu mbak Yuni menyiapkan masakan spesialnya untuk sang suami tercinta. Sedangkan Jimmy kembali melanjutkan membaca bukunya yang tadi tertunda oleh si Rinal.


.


.


.


.


.


Lanjut lagi ya readersku semuanya.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.


Like, komen dan votenya di tunggu ya readersku terkasih.


Mampir juga yuukk ke karyaku lainnya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2