Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Usaha tak mengkhianati hasil


__ADS_3

Walau sedang hamil Prili tidak mau berdiam diri saja. Ia sibuk mempersiapkan segala kebutuhannya menyambut resepsi pernikahannya dengan Jimmy.


Keluarga Wibowo sengaja menyewa gedung khusus untuk acara resepsi anaknya. Gedung besar dan megah dengan muatan mencapai 1000 orang tersebut akan menjadi tempat yang sangat indah dan menakjubkan.


Dari luar sampai dalam gedung semua sudah tertata sangat rapi dan indah. Begitu memanjakan mata. Siapa saja yang melihatnya akan terkagum-k,agum melihat keindahan pemandangan tersebut.


"Jadi gak sabar duduk di pelaminan", batin Prili.


"Sayang, sebaiknya kamu istirahat saja biar orang yang kerjakan. Kamu itu lagi hamil lho, kalau kamu kecapekan tidak bagus juga untuk janin kamu", ucap Hanny sang mama.


"Gak papa Ma Prili kuat koq", bantah Prili.


"Bagaimana kalau kita cari makan aja dulu", ajak sang mama mengalihkan perhatian Prili.


"Nanti aja deh Ma belum lapar", kata Prili lagi.


"Udah ayo mama udah lapar ini", ajak sang mama Hanny seraya menggandeng tangan Prili.


Mau tak mau Prili akhirnya menuruti kemauan sang mama.


"Ma, undangannya sudah di sebar semua ya?", tanya Prili di sela makan mereka.


"Sudah, itu urusan mama. Kamu tenang aja", ucap sang mama sambil menikmati santapannya.


Prili manggut-manggut.


"Teman-teman kamu gak mau di undang nih?", tanya sang mama.


"Cukup telepon aja, mereka pasti datang", jelas Prili.


"Ya sudah jangan lupa di telepon", ucap sang mama.


Prili dan sang mama menikmati ritual makan mereka. Prili makan dengan lahapnya. Makanan yang terhidang di atas meja habis tak bersisa. Sang mama melongo melihat cara makan Prili yang tak biasa.


"Kenyang banget Ma, perutku rasanya penuh sesak", ujar Prili seraya menyandarkan tubuhnya di kursi makan tersebut.


"Pastilah kenyang banget, lihat piring ini semuanya bersih tak bersisa oleh kamu", kata sang mama.


Prili hanya terkekeh mendengar pernyataan mamanya.


"Iya semoga bayinya sehat, kuat dan pintar. Mama jadi tak sabar nimang cucu", ujar mama Hanny.


"Sabarlah Ma nanti juga pasti bisa nimang cucunya. Menurut mama, ini cowok atau cewek?", tanya Prili seraya mengelus lembut perutnya yang masih rata.


"Mama sih apa pun jenisnya yang penting sehat. Mau laki, mau perempuan gak soal yang penting sehat aja udah", jawab sang mama lugas.


"Kalau aku sih maunya laki-laki, biar jadi penerus papanya", kata Prili sambil senyum penuh arti.


"Iya mama yakin dia pasti seperti kamu, pintar dan energik", kata sang mama seraya menunjuk perut Prili.


Prili tersenyum.

__ADS_1


"Ayo Ma kita kembali ke gedung", ajak Prili setelah selesai semuanya.


"Kita pulang aja, rasanya mama capek banget ini", ujar sang mama.


"Iih mama, kita kan belum lihat hasil akhirnya. Bagaimana kalau tidak sesuai dengan ekspektasi", ujar Prili.


"Percayakan saja pada orang-orang di sana, mereka ahlinya. Kita pulang sekarang mama dah capek ", jelas mama Hanny.


"Tapi Ma..", bantah Prili.


"Jangan membantah", kata mama Hanny seraya bangun dari tempat duduknya dan menggandeng tangan Prili menuju mobil mereka.


Prili tak menolak lagi. Ia mengikuti langkah sang mama walau sedikit kesal.


****


Sementara itu Nina mulai sibuk dengan pekerjaan barunya. Ia mulai merehab rumah toko yang baru di belinya.


Harinya di penuhi dengan aktifitas yang berawal dari sebuah hobi baginya. Hobi kuliner yang dulu di lakoninya sekarang dia ingin membuat hobi itu menjadi sebuah usaha yang mumpuni.


Nina mengembangkan senyumnya saat melihat usahanya mulai menampakkan hasilnya.


"Lumayan walau belum seratus persen tapi hasilnya sudah terlihat, benar kata orang usaha tak akan mengkhianati hasil", gumam Nina sambil tersenyum.


Nina pulang ke rumahnya. Mbak Yuni membukakan pintu untuknya.


"Mbak, tolong bawa barang-barang yang ada di mobil ya, aku gerah banget ini mau cepat-cepat mandi", kata Nina.


Nina menuju kamarnya. Ia melempar tas kecilnya di tempat tidur. Nina mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Tak lama gemericik air mulai terdengar. Nina bernyanyi-nyanyi kecil di sana.


Tanpa sepengetahuan Nina, Jimmy pulang dari kantor dan langsung masuk ke kamar. Jimmy memanggil-manggil Nina tapi Nina tidak mendengar. Jimmy melepas atribut di tubuhnya. Jimmy mengambil celana short pant di lemarinya.


Jimmy merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya yang empuk. Jimmy memejamkan matanya. Pikirannya berkecamuk. Dia ingin mencari cara untuk berbicara dengan isterinya Nina.


Nina keluar dari kamar mandi dengan handuk masih melilit di tubuhnya yang langsing. Nina kaget saat melihat Jimmy sudah berada di tempat tidur.


Nina mendekati Jimmy yang sedang memejamkan matanya. Nina menyentuh bahu Jimmy yang kekar. Jimmy merasakan tangan dingin menyentuhnya.


"Bang, udah pulang?", tanya Nina.


Jimmy membuka matanya. Matanya terpana saat melihat Nina dengan handuk masih melilit di tubuhnya. Aroma wangi yang menyebar dari tubuh Nina membuat Jimmy bangun dari tidurannya. Rambut Nina yang menjuntai basah menebarkan aroma sampo yang wangi. Jimmy memandangi tubuh isterinya dari atas sampai bawah.


"Kamu sudah bersih ya?sudah keramas?", tanya Jimmy.


"Kalau iya kenapa?", tanya Nina.


Jimmy tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Jimmy menarik tangan Nina. Nina menabrak tubuh Jimmy. Jimmy jatuh ke tempat tidur dengan posisi Nina berada di atas tubuhnya.


"Bang, iih jahat banget sih", gerutu Nina seraya ingin bangun dari tempat tidurnya.


Jimmy yang kepalanya memang lagi mumet, tak ingin momen tersebut terlewatkan begitu saja. Jimmy memeluk erat tubuh Nina. Di ciumnya tengkuk Nina yang wangi. Jimmy meresapi aroma tubuh Nina.

__ADS_1


"Kami wangi sekali sayang, apa kamu melakukannya untukku?", tanya Jimmy.


"Tadi aku gerah banget jadi mandinya sambil rendaman, terasa segar sekarang", jawab Nina.


"Kamu memang segar dan wangi", kata Jimmy seraya menyusuri leher isterinya.


"Bang ohh..", kata Nina melenguh.


"Kamu sangat menggairahkan", kata Jimmy seraya tangannya mulai melepaskan handuk yang melilit tubuh Nina.


"Bang nanti aja ini kan udah sore", ucap Nina protes.


"Memang kalau sore gak boleh ya!?", tanya Jimmy yang tangannya mulai bergerilya kemana-mana.


"Boleh sih tapi kan aahhh...", jawab Nina tak dapat meneruskan kata-katanya karena Jimmy menyentuh area sensitifnya. Nina melenguh.


Nina tak dapat menolak lagi saat Jimmy semakin menggila dengan aksinya. Nina menggigit bibirnya sendiri saat Jimmy bermain-main di bawah sana. Jimmy tidak memberi kesempatan pada Nina untuk bergerak. Jimmy menyusuri setiap inchi tubuh Nina. Nina bak cacing kepanasan. Tubuhnya meliuk-liuk indah. Jimmy semakin bersemangat. Tubuh yang selalu di rindukan oleh Jimmy itu, kembali bisa di nikmatnya.


"Aku sangat merindukanmu sayang", bisik Jimmy di telinga Nina.


Nina tak menjawab. Nina memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang di berikan Jimmy suaminya.


Birahi keduanya sudah di ubun-ubun. Nina sudah pasrah dalam pelukan Jimmy. Jimmy tak ingin permainan itu cepat selesai. Dia membuat Nina bagai terbang ke langit ke tujuh. Nina tak henti-hentinya meroceh. Sampai akhirnya Nina tak mau permainan tersebut di mainkan oleh Jimmy sendiri, Nina mendorong tubuh Jimmy sehingga Jimmy jatuh terbaring di tempat tidur. Sekarang Nina mengambil alih permainan. Jimmy melenguh panjang saat mulut kecil Nina mulai bermain di bawahnya. Nina terus dan terus mempermainkan perasaan Jimmy. Jimmy mendesis seperti ular kobra.


Jimmy tak tahan lagi. Tubuh Nina di rebahkannya. Nina siap menerima serangan Jimmy. Keduanya melenguh panjang saat benda tumpul itu menerobos masuk ke dalam gua tersebut.


Jimmy mulai berpacu. Awalnya pelan, lama-lama semakin cepat dan cepat. Tubuh Nina berguncang mengikuti gerakan Jimmy.


Aaarrggg....


Penyatuan pun akhirnya terjadi. Keduanya mencapai puncak klimaksnya. Nina memeluk erat tubuh Jimmy. Jimmy membungkam mulut Nina dengan mulutnya. Jimmy mengejang. Dan akhirnya tubuhnya terkulai di atas tubuh Nina. Keduanya terlihat sangat puas.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readers...


Maaf kalau jarang update.


Jangan lupa like dan komennya ya. Votenya juga ya readers.


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2