Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Jenuh


__ADS_3

Umur kehamilan Marsya sudah memasuki trimester pertama. Perubahan pada postur tubuhnya sudah mulai terlihat. Daerah pinggang dan dada Marsya sudah terlihat berisi. Mual dan muntah sudah mulai berkurang. Walau masih terkadang timbul rasa mual tapi Marsya masih tetap ingin bekerja. Tiga bulan di rumah saja membuat Marsya merasa jenuh.


"Mas, sepertinya rasa mualku sudah mulai berkurang, aku mau kerja lagi ya. Bosan di rumah terus", pinta Marsya pada Rinal suaminya.


Marsya mendekati Rinal yang sedang memasang dasi di lehernya. Marsya membantu Rinal memasangkan dasi pada leher Rinal.


"Kita mendapatkan orok itu gak mudah. Butuh perjuangan dengan penantian yang panjang. Istirahat saja di rumah, jaga calon bayi kita. Mas tidak mau terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita", jelas Rinal seraya memegang kedua belah pipi Marsya dengan telapak tangannya.


"Tapi aku kan bosan mas di rumah terus", jawab Marsya sambil cemberut.


"No!kamu tetap di rumah. Jangan membantah. Mas berangkat dulu", ucap Rinal sambil mencium kening sang isteri.


Marsya hanya mendengus saat Rinal menutup pintu kamar mereka tanpa mengindahkan ucapannya.


Marsya kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur mereka. Tatapannya menerawang menyusuri dinding berwarna kream tersebut.


"Bosan banget di rumah terus. Mana aku gak boleh ngapa-ngapain lagi. Tiduran terus membuat tubuhku malah pegal-pegal semua", gumam Marsya.


"Sebaiknya aku nelpon mbak Nina aja deh", gumam Marsya seraya bangun dari rebahannya.


Nina mengambil ponselnya dan menelepon Nina.


"Halo mbak, mbak ada di rumah gak?", tanya Marsya setelah tersambung.


"Gak ada sih, biasa sama Iza di rumah. Ada apa Sya?", tanya Nina penasaran.


"Gak sih mbak, cuma Marsya pingin ke rumah mbak. Bosan mbak di rumah terus. Boleh ya?", tanya Marsya.


"Iya boleh dong Sya. Tapi ijin dulu ya sama Rinal", kata Nina.


"Entar gak di bolehin mbak sama dia. Gak usah deh mbak. Dia gak bakalan marah koq kan perginya ke tempat mbak juga", dalih Marsya.


"Iya udah deh tapi kamu minta di antar sama sopir aja ya, jangan pergi sendiri. Kamu kan masih sering mual, entar kalau ada apa-apa bahaya buat kamu", kata Nina mengingatkan.


"Iya udah deh mbak, nanti Marsya ijin sama mama aja", kata Marsya seraya mengakhiri obrolan mereka.


Marsya meminta ijin pada mama mertua. Dan di perbolehkan tapi dengan syarat pulang sebelum Rinal pulang dari kantor. Dan Marsya hanya boleh pergi jika di antar oleh pak Harto sopir keluarga pak Purnama. Marsya sangat senang walau cuma boleh pergi jika di antar oleh sopir.


"Gak papalah yang penting bisa buang penat", gumam Marsya setelah berada dalam mobil.


Pak Harto melajukan kendaraannya menyusuri jalan hitam nan panjang tersebut. Setelah setengah jam perjalanan mereka tiba di rumah Nina.


"Pak Harto boleh pulang, nanti jam satu jemput lagi di sini ya", ucap Marsya pada pak Harto.


"Baik non", kata pak Harto.


Marsya turun dari mobil. Dan pak Harto pergi setelah Marsya sudah berada di dalam rumah Nina.


"Tante", teriak Iza yang masih sedikit cadel dari jauh setelah melihat kedatangan Marsya.


"Halo sayang", Marsya sedikit menjongkok untuk dapat mencium pipi gembul Iza.


"Sayang tante Marsya baru sampai, ajak tante duduk dong", kata Nina pada Iza.

__ADS_1


"Tante ikut Iza aja ke kamar ", ucap Iza seraya menarik tangan Marsya.


"Iya sayang", jawab Marsya sembari mengikuti langkah Iza dari belakang.


Nina yang melihat aksi Iza hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Tante main sama Iza aja ya", pinta Iza setelah tiba di kamarnya.


"Boleh. Kita mau main apa nih?", tanya Marsya.


"Main kereta sama mobil", jawab Iza seraya mengambil mobil dan kereta api mainannya.


"Anak cewek itu mainnya masak-masak sama boneka bukan mobil dan kereta api", kata Marsya.


"Gak mau Iza mau mobil dan kereta aja", kata Iza protes dengan bibir mencucu.


Marsya dan Nina tertawa melihat aksi Iza.


Marsya mengikuti kemauan Iza. Iza sangat senang karena ada teman bermain. Nina meninggalkan Marsya dan Iza ke belakang sebentar. Tak lama Nina kembali lagi bergabung dengan Marsya dan Iza.


"Gimana rasanya Sya sudah di USG belum?", tanya Nina pada Marsya.


"Bulan ini belum mbak. Minggu depan jadwal kontrolnya", jawab Marsya.


"Semoga laki-laki ya Sya", kata Nina memberi sugesti pada Marsya.


"Kalau aku pribadi sih mau cowok mau cewek gak masalah. Dapat anak aja sujud syukur mbak", kata Marsya.


"Iya sih tapi kita mau tidak mau kepikiran juga permintaan mama. Aku berharap semoga kamu bisa mewujudkan keinginan mama", kata Nina dengan mata menerawang jauh.


"Terlihat dari cara dan raut mukamu", kata Nina sambil terkekeh.


"Mbak Na bisa aja. Mbak juga jangan menyerah, tuhan itu maha pengasih. Buktinya aku dan mas Rinal dengan penantian panjang akhirnya membuahkan hasil. Tetap semangat dan tetap solid kerja malamnya", kata Marsya sambil terkekeh.


"Mbak sama abang kerja siang malam Sya, abang kalau lagi mau tak kenal waktu dan suasana. Tancap gas aja pokoknya ", kata Nina sambil tertawa.


"Jadi kangen ama laki nih gara-gara mbak", kata Marsya sekenanya.


"Sepertinya bawaan orok lho itu", sergah Nina.


"Gasken aja Rinal pulang nanti", kata Nina lagi sambil tertawa. Marsya tak urung ikut tertawa juga.


Iza yang melihat mama dan tantenya asik tertawa jadi bengong. Di pandanginya mama dan tantenya satu persatu.


"Mama dan tante kenapa tertawa?", tanya Iza dengan bahasa cadelnya.


"Nggak sayang, tante Marsya lagi senang ada adek kecil di dalam perut tante Marsya", terang Nina.


"Adeknya mana koq gak keluar?", tanya Iza sambil celangak celinguk melihat perut Marsya.


"Adeknya masih di dalam sayang, masih kecil. Nanti kalau udah besar baru dia keluar", jelas Nina lagi.


"Nanti adeknya boleh main ya ma?", tanya Iza dengan lucunya.

__ADS_1


"Iya boleh dong sayang", kata Nina seraya membelai rambut Iza yang lebat dan hitam.


Iza tersenyum. Ia kembali bermain dengan mainannya. Mbak Yuni datang menghampiri.


"Hidangannya sudah siap Nya", kata mbak Yuni pada Nina.


"Iya mbak ma kasih ya. Ayo Sya kita makan dulu", ajak Nina pada Marsya.


Nina mengajak Marsya untuk makan bersama sedangkan Iza di bawa mbak Yuni.


"Iza makan siang dulu ya sayang. Sudah makan nanti bobo ya", kata mbak Yuni.


"Gak mau bobo, Iza mau main sama adek aja", jawab Iza polos.


"Adek mana?", tanya mbak Yuni bingung.


"Itu di dalam perut tante Marsya", jawab Iza dengan bahasa cadelnya.


"Ohh itu. Okelah yang penting sekarang Iza makan dulu ya", kata mbak Yuni.


Iza mengangguk tanda setuju. Mbak Yuni memberi Iza makan. Nina dan Marsya sedang melakukan ritual makan siang mereka.


Selesai makan Nina dan Marsya kembali ke ruang keluarga. Disana mbak Yuni sedang memberi Iza makan siang.


"Anak mama lagi makan ya?", tanya Nina pada Iza.


"Ma, Iza mau adek", kata Iza tanpa menjawab pertanyaan Nina sang mama.


Marsya dan Nina saling pandang.


"Iya nanti mama buatin ya. Sekarang anak mama makan dulu yang banyak biar cepat besar, biar cepat dapat adek, oke?", kata Nina seraya mengacungkan jempolnya.


"Oke", jawab Iza dengan muka riang.


Nina, Marsya dan mbak Yuni tertawa melihat kelakuan Iza yang lucu dan menggemaskan.


Hari sudah hampir jam satu siang. Dan jemputan Marsya sudah datang. Ia minta pamit dengan Nina sang kakak ipar. Kejenuhan Marsya sedikit terobati sekarang. Ia pulang dengan hati gembira setelah bermain banyak dengan si imut Iza.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa bantu like, komen dan beri votenya ya pembaca yang budiman.


Mampir juga yuk ke karyaku lainnya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2