Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Pernikahan Adel dan Kevin


__ADS_3

Setelah mengantar pulang Adel, Kevin pulang karena sesuai keinginan Adel. Adel ingin bicara dulu sama sang ibu tentang lamaran Kevin.


Adel menelpon Nina agar Nina dan Jimmy dapat datang ke rumah mereka. Jimmy dan Nina datang tepat waktu.


"Ada apa nih?tumben nyuruh mbak dan kakak kamu kemari pagi-pagi gini?", tanya Nina pada Adel setelah mereka duduk di ruang tamu.


"Ibu aja yang ngomong", kata Adel malu seraya menoleh ke sang ibu.


Bu Ratmi senyum-senyum. Nina dan Jimmy saling pandang.


"Hmm, gini lho si adek kamu ini kemarin ketemu sama teman lamanya", Bu Ratmi memandang ke arah Adel. Adel tertunduk malu.


"Cerita punya cerita temannya tersebut langsung ingin melamar", ujar bu Ratmi.


"Woow keren", ucap Nina spontan.


"Apaan sih mbak!?", ucap Adel berkomentar.


"Nah, si Adel minta persetujuan dulu dari kita. Dia tidak mau menjawab langsung. Kalau kita setuju, baru kita akan menerima lamaran dari nak Kevin", ujar bu Ratmi.


"Kevin?!", tanya Jimmy dan Nina serentak.


"Iya nak Kevin adiknya Marsel", jawab bu Ratmi.


"Kalau itu sih setuju banget, anaknya baik, mapan lagi", kata Jimmy cepat.


Muka Adel bersemu merah mendengar ucapan Jimmy.


"Mbak kamu gimana, setuju gak nih?", tanya bu Ratmi.


"Aku sih terserah Adelnya aja. Kalau Adel mau, kita hanya bisa memberikan restu", ucap Nina.


"Sekarang tinggal kamu, apa kamu sudah siap untuk mengarungi hidup berumah tangga?", tanya bu Ratmi pada Adel yang masih tertunduk.


Sesaat tak ada jawaban dari Adel. Bu Ratmi menyentuh paha Adel.


"Gimana?apa kamu telah siap untuk hidup bersama Kevin?", tanya bu Ratmi lagi.


"Terserah ibu aja", jawab Adel.


"Koq terserah ibu sih, kan yang mau nikah kamu bukan ibu", ucap bu Ratmi.


"Intinya Adel menerima lamaran Kevin, bu", ucap Nina.


Muka Adel kembali bersemu merah.


"Baiklah, kapan kira-kira nak Kevin dan keluarganya mau datang?", tanya bu Ratmi pada Adel.


"Kalau kalian setuju secepatnya", jawab Adel.


"Iya sudah, kami setuju", jawab Nina langsung.


Akhirnya kesepakatan pun di buat. Adel menghubungi si Kevin. Dan hari lamaran pun di tetapkan.


****


Lamaran hanya di hadiri kedua keluarga besar saja. Jimmy dan Marsel hubungan mereka akhirnya bukan hanya sekedar teman, bos dan bawahan tapi menjadi keluarga karena penyatuan Adel dan Kevin.


Marsel mewakili keluarga besar keluarganya yaitu Kevin sedangkan Jimmy mewakili keluarga besar Nina isterinya yaitu Adel.


Tak banyak cerita. Mereka saling menerima dan menentukan tanggal, hari baik dan juga maharnya.


Adel merasa seperti mimpi. Tidak menyangka jodohnya datang segampang dan secepat itu. Kevin yang dulu di anggapnya hanya bercanda dan hanya cinta monyet, ternyata membuktikan cintanya dan memproklamirkan diri kalau Kevin benar-benar layak untuknya.


Jodoh siapa yang tahu. Dan kalau sudah tiba waktunya maka jodoh akan datang dengan sendirinya.


Tiga bulan cukuplah untuk persiapan sebuah pernikahan. Adel masih di sibukkan dengan urusan bisnisnya. Begitupun dengan Kevin, dia masih bekerja walau hari pernikahan mereka sudah di ambang pintu.


"Sayang, biarkan karyawan kamu saja yang urus usaha kamu, bentar lagi kamu akan nikah lho. Pamali calon pengantin keluar rumah terus", ujar bu Ratmi pada Adel putri bungsunya itu.


"Ibu, nikahnya kan seminggu lagi, cukuplah waktu untuk bersiap dua atau tiga hari", dalih Adel.

__ADS_1


"Iya tapi kamu kan harus luluran segala macem, masa sudah mepet hari baru mau ini mau itu", ucap bu Ratmi.


"Iya ibu sayang, besok aku gak masuk lagi mulai standby di rumah", jawab Adel.


"Nah gitu dong, orang pada rame di rumah calon pengantinnya gak ada, gak enak di lihat orang", ujar bu Ratmi.


"Siap nyonya besar", ucap Adel.


"Nah gitu dong", kata bu Ratmi sambil mengucek-ucek rambut Adel.


"Adel pergi dulu ya bu, Adel akan pulang lebih awal hari ini", ucap Adel pada bu Ratmi.


"Iya sayang, hati-hati ya", kata bu Ratmi.


"Siap bu Ratu", kata Adel dengan lagak seorang prajurit.


Bu Ratmi tersenyum melihat ulah Adel. Bu Ratmi geleng-geleng kepala melihat kelakuan putri bungsunya itu.


"Sudah mau nikah masih kayak anak kecil", gumam bu Ratmi.


Adel pergi, bu Ratmi kembali ke belakang.


****


Pernikahan Adel dan Kevin berlangsung khidmat. Adel terlihat sangat ceria. Kevin sesekali mengulas senyumnya. Senyum selalu menghias di wajah keduanya.


Acara di lanjutkan dengan resepsi pernikahan. Banyak tamu-tamu yang hadir. Acara berlangsung sampai selesai.


"Begini ya ternyata jadi pengantin, capeknya full", ucap Adel setelah melepas pakaian pengantinnya.


"Belum di tambah serangan nanti malam, tambah capek", celetuk Nina.


"Ishh mbak Na otaknya mesum banget sih", ucap Adel.


"Lha emangnya lelaki nikah itu buat apa kalau nggak untuk nanam saham di kamunya", ucap Nina lagi.


"Ihh serem banget sih mbak ngomongnya", ucap Adel merinding.


"Ihhh berisik, pergi sana", kata Adel mengusir Nina dari hadapannya.


Nina keluar dari kamar Adel sambil tertawa.


"Gak jelas banget sih mbak Na, ngomongnya aneh-aneh", gumam Adel.


Malam harinya setelah suasana sudah sepi, Kevin masuk ke dalam kamar Adel. Di lihatnya Adel sudah tertidur dengan pulasnya. Kevin dengan hati-hati mendekati Adel yang sedang tertidur.


"Sayang, bangun dong", ucap Kevin pelan di telinga Adel.


Adel menggeliat. Adel tiba-tiba membuka matanya dan terkejut karena ada Kevin di sampingnya. Adel bangun dan melompat dari tempat tidur.


"Ngapain kamu disini?", tanya Adel bingung.


"Yaelah sayang kita kan udah nikah, masa gak boleh disini", ujar Kevin.


Sejenak Adel terdiam. Nyawanya sudah terkumpul. Adel menghela nafasnya.


"Trus kamu mau ngapain masuk ke kamarku?", ucap Adel merasa takut.


Kevin mendekati Adel yang tersandar di dinding kamar.


"Jangan mendekat, aku akan teriak", kata Adel bingung.


"Koq teriak sih sayang, ini malam pengantin kita. Malam pertama kita. Ayolah jangan begitu, kita sudah suami isteri", ucap Kevin sambilnterus mendekat. Adel terus beringsut ke sudut kamar. Kevin cepat mengungkung Adel dengan kedua tangannya.


"Kita nikmati malam pengantin kita sayang", ucap Kevin.


Suara Kevin seperti raksasa di telinga Adel.


"Menjauhlah dariku, please", kata Adel memelas.


"Kita duduk di tempat tidur aja, oke!?jangan begini gak enak nanti di dengar ibu kan malu", kata Kevin.

__ADS_1


Adel menurut saat Kevin menggandeng tangannya menuju tempat tidur.


"Duduklah", kata Kevin pada Adel.


Melihat Kevin tak bereaksi, Adel pun duduk.


"Apa aku terlihat menyeramkan untukmu?", tanya Kevin ke Adel.


Adel menggeleng sambil tertunduk. Kevin meraih dagu Adel agar wajah Adel terangkat.


"Aku sangat mencintaimu dari dulu, aku tak akan menyakitimu. Aku menyayangimu dari lubuk hatiku yang paling dalam. Jangan berpikir aku hanya ingin memanfaatkanmu. Aku ingin cinta ini abadi", kata Kevin.


Mata keduanya saling pandang. Adel mencari kekuatan disana. Kevin menyentuh tengkuk Adel dengan tangannya. Darah Adel berdesir seperti ada aliran listrik. Kevin mengecup lembut bibir Adel yang bergetar.


"Aku mencintaimu, aku tak akan menyakitimu", bisik Kevin di telinga Adel.


Adel merinding mendengar ucapan Kevin. Lagi-lagi Kevin mendaratkan kecupan di bibir Adel, kali ini lebih lama. Adel diam. Matanya terbuka lebar.


"Gimana aku mau cium kamu kalau matanya melotot gitu?", ucap Kevin sambil tertawa.


Adel merasa malu dengan ucapan Kevin. Adel memukul bahu Kevin gemas. Kevin menangkap tangan Adel. Tubuh Adel di rebahkan. Adel memejamkan matanya.


"Buka matamu sayang", ucap Kevin.


"Lha tadi katanya jangan membuka mata, sekarang malah nyuruh buka mata", ujar Adel kesal.


"Iya udah deh suka-suka kamu aja", kata Kevin seraya menggelitik pinggang Adel. Adel menggelinjang karena kegelian. Melihat tubuh Adel yang meliuk-liuk, hasrat kelelakian Kevin bangkit. Kevin merasakan adek manisnya mulai bangun.


Kevin menindih tubuh Adel. Dengan cepat Kevin meraup bibir Adel dengan bibirnya. Kevin ******* bibir Adel yang kenyal itu. Tangan Kevin merayap ke dada Adel. Adel terkejut.


"Vin, ahh", kata Adel.


"Aku mencintaimu sayang", ucap Kevin dalam birahinya.


Kevin semakin ganas. Adel awalnya memberontak tapi lama-kelamaan Adel mulai terbuai dan menikmati setiap sentuhan yang di lakukan oleh Kevin suaminya.


Jeritan dan lebguhan kecil tak putus keluar dari mulut Adel yang mungil.


"Sayang aku ingin ini boleh ya?", tanya Kevin ketika menyentuh area sensitif Adel. Barang yang paling berharga bagi seorang perempuan.


Adel yang sudah terangsang tak bisa berkata-kata lagi. Hanya anggukan kecil yang bisa dilakukannya.


Kevin menuntun Adek manisnya. Dan, ..


"Ahh sakit Vin", kata Adel mencengram erat bahu Kevin.


"Kita pelan-pelan saja ya sayang", ucap Kevin seraya kembali menusukkan adek manisnya. Adeo menggigit bibirnya. Setelah beberapa lama bekerja akhirnya Kevin dapat menembus pertahanan Adel. Darah segar keluar membasahi seprei. Menandakan pecahnya selaput virgin seseorang. Kevin mulai mempercepat gerakan maju mundurnya. Adel yang awalnya kesakitan akhirnya menikmati gerakan yang dilakukan oleh Kevin. Tangan Kevin tak tinggal diam, gundukan kembar Adel di remas, di pilin dan di ****. Adel melenguh indah. Sampai keduanya terkulai lemas setelah mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara.


Kevin tersenyum bangga karena dia telah memilih wanita yang tepat. Adel bisa menjaga dirinya sampai sekarang.


Permainan berlanjut lagi di pagi harinya. Dan akhirnya keduanya tersenyum karena merasa puas dan bahagia.


.


.


.


.


.


.


Lanjut lagi bacanya ya readersku semuanya.


Maaf bawaan hari jumat ya man-teman, sunnah rosul. Heheee.


Jangan lupa like, komen dan votenya ya.


Mampir juga ke karyaku yang lainnya ya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2