
Jimmy terdiam. Lama Jimmy merenung. Jimmy memijit kepalanya yang terasa sedikit sakit.
"Papa ingin pernikahan ini segera kita laksanakan. Perut Prili semakin lama semakin membesar. Mumpung perutnya masih rata, belum kelihatan hamilnya, kita harus cepat bertindak, biar tidak timbul isu-isu tak sedap di dengar telinga", ujar Purnama.
"Emangnya kapan sih Pa acara nikahnya?", tanya Jimmy sambil masih memijit dahinya.
"Papa ingin besok kita laksanakan", kata Purnama santai.
"Apa?", Jimmy terperanjat.
"Lebih cepat lebih baik. Nikah dulu, dua bulan mendatang baru kita bikin resepsi", ujar Purnama.
"Gak mungkin lah Pa, ini terlalu cepat", Jimmy protes.
"Kamu cuma butuh datang ke rumah Prili besok, selanjutnya kita pikirkan nanti", kata Purnama tenang.
"Acara resepsi pasti terekspose Pa, Nina pasti tahu", kata Jimmy takut.
"Begini saja, kita buat resepsi untuk Nina dan Prili. Keduanya mendampingimu di pelaminan, bagaimana?", tanya Purnama.
"Ya ampun Pa, aku nikah sama Prili secara diam-diam, bagaimana bisa nantinya mereka di sandingkan?aku tidak mau, ini pasti buat masalah", ujar Jimmy.
"Ya sudah kamu bilang aja ke Nina kalau kamu menikah dengan Prili, jelaskan permasalahannya", kata Purnama.
"Aku gak bisa Pa", kata Jimmy bingung.
"Kalau gitu biar mamamu yang bicara sama Nina", ucap Purnama.
"Itu juga sangat tidak mungkin, Nina fisiknya masih lemah, aku takut dia pingsan setelah mendengar semua ini, bagaimana kalau di tangguhkan dulu acaranya Pa? tunggu sampai Nina sehat", ujar Jimmy.
"Kamu mau nama kamu rusak?lama kelamaan perut Prili semakin besar, ingat itu", pesan Purnama.
Jimmy di temukan dengan pilihan sulit. Jimmy bingung. Tapi dia juga harus bertanggungjawab atas kehamilan Prili.
"Sudahlah, jangan banyak alasan lagi, besok jam sepuluh kita sudah tiba di rumah Prili, jangan telat", kata Purnama seraya bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan Jimmy.
Jimmy terhenyak. Jimmy menyandarkan kepalanya di kursi malasnya. Ia memejamkan matanya.
"Ya tuhan, apa yang terjadi pada hidupku?", batin Jimmy.
"Kalau memang ini jalan hidupku, apa boleh buat, semua harus di jalani, maafkan aku sayang, aku terpaksa", gumam Jimmy seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Terlintas wajah Nina di benaknya. Jimmy ingin menjerit. Sesak di dada di rasakan oleh Jimmy.
Jimmy ingin keluar mencari angin segar, ruang ber AC tersebut tak mampu menghilangkan gerah di tubuhnya. Baru saja dia ingin melangkahkan kakinya, ponselnya tiba-tiba berdering. Jimmy mengambil ponselnya yang berada dalam saku celananya. Jimmy melihat layar ponselnya.
"Dia lagi", gumam Jimmy kesal. Ternyata Prili kembali meneleponnya.
"Ada apa?", tanya Jimmy setelah terhubung.
__ADS_1
"Cuma mau kasih tahu kalau pernikahan kita bukan hari minggu tapi besok", jelas Prili.
"Iya sudah tahu", jawab Jimmy ketus.
"Aku ke kantor kamu boleh ya?", tanya Prili.
"Nggak gak, gak usah. Jangan buat masalah di kantor ", jawab Jimmy.
"Aku cuma mau ketemu calon suami aku, apa salahnya sih?", tanya Prili kecewa.
"Aku sudah menuruti keinginan kamu, jangan buat masalah baru, ngerti?', ujar Jimmy.
"Iya iya gitu aja sewot",;kata Prili.
" Iya sudah aku masih banyak pekerjaan", Ucap Jimmy.
"Iya udah, besok datang lebih awal, jangan telat", ujar Prili
"Iya", jawab Jimmy singkat.
Jimmy mengakhiri obrolan mereka. Jimmy menghela nafasnya. Dadanya terasa sakit. Jimmy berusaha untuk tenang. Beberapa kali dia menghela nafasnya. Agak enakan. Jimmy membatalkan untuk keluar kantor. Dia membuka jendelanya. Ruangan itu terasa kurang udara bagi Jimmy. Jimmy melihat keluar jendela dari lantai tiga tersebut. Pikiran Jimmy berkelana.
Malam harinya Jimmy mencoba menghindari Nina. Jimmy lebih awal merebahkan tubuhnya, ia tidak mau bersitatap dengan isterinya tersebut. Jimmy tak tega melihat Nina yang masih belum begitu sehat tersebut.
"Bang, tumben tidurnya cepat?", tanya Nina melihat Jimmy sudah berada di tempat tidur.
"Kalau matanya belum mau tidur tak usah di paksakan",ujar Nina yang melihat sikap Jimmy yang terlihat gelisah.
Jimmy bangun dari rebahannya. Dia menyandarkan tubuhnya di tempat tidurnya.
"Sini, kemarilah", kata Jimmy pada Nina.
"Ada apa sih Bang, serius amat", tanya Nina sambil mendekat kepada Jimmy.
Nina menyandarkan kepalanya pada bahu Jimmy. Jimmy mengelus rambut Nina penuh perasaan. Nina memejamkan mata. Menikmati kasih sayang yang diberikan oleh Jimmy.
"Sayang, kalau kita punya anak nanti aku pengen punya anak yang banyak ya, mau ya?", tanya Jimmy menghilangak gwlisaa
"Sakitnya aja belum hilang, mau punya lagi, nantilah ya", kata Nina.
mi
"Iya nantilah sayang, kamu kan lagi sakit, kalau kamu udah sehat baru kita buat lagi", kata Jimmy sambil tersenyum kecut mengingat pernikahannya besok dengan Prili.
"Sayang, seandainya kalau suatu saat salah satu dari kita ada yang menyeleweng, apa yang harus kamu lakukan", umpan Jimmy.
"Aku akan meniggalkan cintaku, karena komitmen yang di buat sudah di langgar dan tidak berlaku lagi", ujar Nina santai.
"Gitu ya?", kata Jimmy.
__ADS_1
"Iyalah. Karena pernikahan itu adalah sebuah komitmen, kalau salah satunya ada yang berkhianat, berarti kesepakat batal", ujar Nina santai.
"Trus, kalau sudah memiliki anak gimana dong?", tanya Jimmy lagi.
"Itu tergantung kesepakatan kembali", jawab Nina.
Jimmy terdiam.
"Kamu nanya gitu ada apa sih?", tanya Nina.
"Cuma nanya doang, aku hanya pengen tahu tentang perasaanmu ke aku", kata Jimmy.
"Oh jadi kamu mau mencobanya, silakan saja, tapi ingat, tak ada cinta kedua kali dalam kamusku", jelas Nina seraya menjauh dari Jimmy.
"iya gitu aja merajuk, kamu itu cintaku, hidupku", kata Jimmy gemas melihat Nina yang merajuk.
"Gak makan rayuan", ujar Nina seraya menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Hati Nina galau karena ucapan Jimmy. Entah maksud Jimmy hanya untuk bercanda atau tidak, yang jelas terselip rasa sakit di lubuk hatinya yang paling dalam.
Jimmy memeluk tubuh Nina dari luar selimut. Nina membiarkan Jimmy memeluk pinggangnya yang ramping.
Lama tak ada interaksi, Jimmy membuka selimut Nina perlahan. Di lihatnya Nina sudah tertidur. Nafasnya sudah mulai teratur. Menandakan Nina sudah tertidur dengan pulas.
Jimmy membenahi selimut Nina. Di tutupnya tubuh Nina sebatas pinggang. Jimmy memandangi wajah polos tersebut.
"Maafkan aku sayang, aku terpaksa", batin Jimmy.
Jimmy bangun dari tempat tidurnya. Jimmy menuju dapur untuk mengambil air minum. Ponsel Jimmy berbunyi. Ada pesan yang masuk.
Jimmy kembali ke kamarnya. Dan langsung merebahkan tubuhnya, bersiap untuk beristirahat.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readers.
Jangan lupa like, kasih komen dan bantu votenya juga ya.
Terima kasih yang sudah like dan komen. Maaf jarang update. Tapi author tipe orang yang bertanggung jawab😁😁😁, slow respon ya readers.
Mampir juga ke karyaku lainnya ya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1