Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
cemburu tandanya cinta


__ADS_3

Jimmy melihat ke arah Prili sebentar, Prili memberi senyum terindahnya buat Jimmy.


"Kalau kamu belum makan, keluar gih sana bawa Prili", kata sang mama memberi jalan.


"Sudah ma, tapi kalau Prili belum makan nanti di pesanin di kantin", kata Jimmy tanpa bermaksud merendahkan.


"Kamu ini gimana sih, ajak Prili pergi keluar gitu", kata sang mama.


"Lain kali aja ya Prili, aku masih sibuk nih", kata Jimmy memberi alasan.


"Iya gak papa Jim", kata Prili.


"Kamu gak bisa istirahat bentar apa?", tanya sang mama.


"Nantilah Ma, nantikan banyak waktu",kata Jimmy lagi.


"Iya udah mama dan Prili pulang dulu ya, awas jangan tidak nepati janji dosa loh", kata sang mama memperjelas.


"Iya", kata Jimmy singkat.


Liana keluar dari ruangan Jimmy bersama Prili. Mereka kembali berpapasan dengan Nina.


"Ehh nyonya udah mau pulang", kata Nina ketika melihat mamanya Jimmy keluar dari ruangan Jimmy.


"Iya Nin, Jimmy katanya masih sibuk, gimana kerjanya lancar kan?", tanya Liana mamanya Jimmy.


"Alhamdulillah lancar Nya", kata Nina sambil melirik Prili.


"Oh iya ini kenalin calonnya Jimmy namanya Prili", kata Liana dengan senang hati memperkenalkan Prili pada Nina.


Bagai terjatuh dari pohon yang tinggi, Nina seakan mau pingsan mendengar perkataan Liana mamanya Jimmy. Hati Nina terasa hancur berkeping-keping. Ingin rasanya Nina lari dari hadapan keduanya. Tapi Nina sadar kalau hubungan asmaranya dengan Jimmy belum di ketahui oleh mamanya Jimmy.


Prili mengulurkan tangannya pada Nina. Nina sedikit gemetar karena menahan emosi yang bergejolak di dadanya. Nina menyambut uluran tangan dari Prili.


"Prili",


"Nina",


Keduanya saling menyebutkan nama masing-masing. Nina merasa dirinya sangat jauh berbeda dengan Prili. Prili sangat berkelas dan berpendidikan tinggi. Tiba-tiba Nina merasa minder. Nina yakin Jimmy pasti lebih memilih Prili dari pada dia.


"Oh iya Nin kami permisi dulu ya, bilang sama Jimmy, jangan kebanyakan kerja pikirkan masa depan juga. Karena sepertinya dia nurut sama kamu", kata mamanya Jimmy enteng.


"Iya baik nyonya", kata Nina berusaha menetralkan suasana hatinya.


Prili tersenyum pada Nina.


"Masa iya Jimmy nurut sama sekretarisnya ini, tak ada yang spesialnya", batin Prili.


Nina membalas senyuman Prili walau terasa hambar.

__ADS_1


Liana mamanya Jimmy meninggalkan Nina yang masih terpaku. Lama Nina tegak terpaku memandang ke arah perginya mamanya Jimmy, Nina seakan tak percaya apa yang tadi di dengarnya dari mamanya Jimmy.


Jimmy keluar dari ruangannya. Di lihatnya Nina tegak terpaku di samping mejanya. Jimmy menghampiri Nina dan memeluk pinggang Nina dari belakang. Nina sampai terlonjak karena kaget. Tanpa sengaja siku Nina mengenai ulu hati Jimmy. Jimmy meringis. Mulut Nina mengangah. Nina panik. Melihat Jimmy kesakitan Nina cepat bertindak. Di dudukannya Jimmy di kursinya dan mengelus lembut di bagian ulu hati Jimmy yang terkena sikunya. Nina membuka tasnya dan mengambil minyak angin yang selalu di bawanya di dalam tasnya. Tanpa pikir panjang di bukanya kancing baju Jimmy dan di angkatnya kaos dalam Jimmy lalu di poleskannya minyak angin tersebut di bagian ulu hati Jimmy. Nina sangat cemas apalagi melihat Jimmy yang masih meringis kesakitan. Nina mengelus terus bagian yang sakit. Jimmy merasa enakan dan sedikit lega bernafas.


"Kamu juga sih suka aneh-aneh, kena akibatnya kan", kata Nina ketika melihat Jimmy sudah tidak kesakitan lagi.


Nina baru sadar apa yang di lakukannya pada Jimmy. Nina mundur selangkah ke belakang.


"Maaf telah lancang membuka bajumu, aku sangat cemas melihat kamu meringis kesakitan", kata Nina tulus.


"Gak papa sayang, malah aku senang itu artinya kamu sayang sama aku, makin cinta jadinya", kata Jimmy membetulkan posisi duduknya.


"Mendekat sini, kamu harus tanggung jawab, tadi kamu membuka baju ini, sekarang kamu harus mengancingkannya kembali", goda Jimmy.


"Enak aja, kancing sendiri. Nanti ada yang lihat, mati aku", kata Nina polos.


"Mau di kancingkan gak nih?atau mau di paksa dulu baru mau", tanya Jimmy pada Nina.


"Sudah sana ke ruangan kamu, nanti ada yang lihat kamu seperti itu gimana?", kata Nina takut nanti ada yang salah mengartikan melihat semuanya.


"Baiklah", kata Jimmy.


Jimmy bangun dari duduknya. Dan menggandeng tangan Nina masuk ke dalam ruangannya.


"Eehh", kata Nina kaget.


Jimmy membawa Nina masuk ke dalam ruangannya.


"Kamu mau apa?", Nina ketakutan.


"Mau makan kamu", kata Jimmy menggoda Nina.


"Oke oke sini aku kancing kembali, awas ya jangan macam-macam, kalau kamu tidak sopan akan aku bilang sama mama kamu biar kamu batal nikahin tuh cewek",kata Nina kesal.


Jimmy terdiam. Nina mengancingkan baju Jimmy dengan cepat.


"Selesai, aku keluar dulu", kata Nina ingin cepat keluar dari ruangan Jimmy setelah selesai mengancingkan baju kemeja Jimmy.


"Sebentar, kita harus bicara", kata Jimmy menahan Nina.


"Kekasihku sayang, mama kamu memilih yang terbaik buat kamu, aku bukan apa-apa di banding Prili. Mama kamu benar, Prili tepat buat kamu", kata Nina kemudian bermaksud pergi dari hadapan Jimmy.


Tapi Jimmy meraihnya dan membawanya kedalam pelukan Jimmy.


Nina tak kuasa. Nina menangis di pelukan Jimmy.


"Aku tidak akan menerima perjodohan ini, dia memang cantik, berkelas tapi kamu lebih cantik dan hati kamu berkelas, sudahlah jangan menangis, aku akan berjuang untuk cinta kita", kata Jimmy sambil mengelus rambut Nina.


Nina melepaskan pelukan Jimmy.

__ADS_1


"Aku memang cinta sama kamu, tapi apa dayaku seandainya kisah kita cuma sampai di sini, aku akan profesional menjadi sekretaris yang baik", kata Nina menatap dalam mata Jimmy.


"Sudahlah jangan di bahas lagi, aku tidak mau kamu berpikir kalau aku akan meninggalkan kamu, aku sudah cerita sama kamu kalau aku tak mudah jatuh cinta, aku hanya jatuh cinta sama kamu, jadi sudahlah tak usah di bahas lagi, tapi setidaknya aku senang dengan kamu marah, cemburu tandanya cinta", kata Jimmy meyakinkan Nina dan tersenyum.


"Kita lihat saja nanti", kata Nina seraya berlalu dari hadapan Jimmy.


Jimmy menggebrak mejanya. Nina kaget tapi tak mengurungkan langkahnya keluar dari ruangan Jimmy.


Tiba-tiba Marsel datang. Marsel melihat Nina keluar dari ruangan Jimmy.


"Kamu tidak apa-apa?", tanya Marsel yang melihat Nina terburu-buru keluar dari ruangan Jimmy.


"Tidak Pak, tidak apa-apa", kata Nina gugup.


Marsel mengernyitkan dahinya.


"Kenapa mereka?", batin Marsel.


Marsel menuju ruangan Jimmy dan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Hei apa di sini baru terjadi gempa?", tanya Marsel melihat kertas berserakan di lantai.


"Perang dunia keempat", jawab Jimmy tanpa melihat kepada Marsel.


"Koq bisa?", tanya Marsel seraya memunguti kertas yang berserakan tersebut.


"Ada apa kemari?", tanya Jimmy tanpa menggubris pertanyaan Marsel.


"Lah kan kita ada pertemuan dengan pak Mirwan bentar lagi", kata Marsel mengingatkan.


"Oh iya aku lupa", kata Jimmy seraya mengambil jasnya dan memakainya. Jimmy merapikan pakaiannya.


"Ayo", kata Jimmy pada Marsel.


Marsel hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya ini. Marsel tahu pasti terjadi sesuatu antara Jimmy dan Nina.


"Kami pergi dulu, kalau ada apa-apa telpon saja", kata Jimmy pada Nina.


Nina hanya mengangguk. Hanya tatapan mata mereka yang berbicara. Marsel mengikuti langkah Jimmy yang sangat cepat. Seperti ada amarah di setiap langkahnya kaki Jimmy.


.


.


.


Bantu vote, like dan komennya ya readers


Mampir juga ke karyaku yang lain:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


"


__ADS_2