Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Tamu tak di undang


__ADS_3

Sore harinya Nina terpaksa ikut dengan Jimmy. Tak ada percakapan selama perjalanan. Keduanya diam seribu bahasa. Sampai akhirnya tiba di bengkel yang mereka tuju.


"Udah sampai, kita cek dulu motornya", kata Jimmy seraya turun dari mobilnya di ikuti oleh Nina.


"Udah selesai ya mas motornya?", tanya Jimmy pada yang punya bengkel.


"Udah mas, itu di sebelah sana", kata yang punya bengkel menunjuk ke arah motor yang berjejer.


"Oohh, iya apa sudah di ganti semua yang rusaknya?", tanya Jimmy.


"Sudah mas, udah di bersihin, di ganti dan sekarang motornya seperti baru lagi", kata yang punya bengkel.


"Oke, berapa semuanya mas?", tanya Jimmy.


"Bentar", kata yang punya bengkel mengambil secarik kertas yang sudah di tulisnya dan tertera jumlah total pembayarannya.


"Ini mas, mas bisa cek dulu", katanya.


Jimmy membacanya dan meletakkan kembali kertas itu di meja yang punya bengkel. Jimmy mengambil dompetnya dan mengambil sejumlah uang yang tertera di kertas tersebut.


"Ini mas", kata Jimmy memberikan beberapa lembaran uang ratusan ribu pada yang punya bengkel.


"Pas mas, terima kasih ya", katanya.


"Iya mas sama-sama", jawab Jimmy.


"Ini kuncinya mas", katanya lagi.


Nina hanya melihat saja dari kejauhan.


Jimmy mengambil kunci tersebut. Dan mengambil motor tersebut dan membawanya ke dekat Nina. Jimmy mendekati Nina yang sedari tadi hanya melihat saja.


"Ini motornya, kamu bisa membawanya pulang sekarang", kata Jimmy.


"Biayanya gimana kak?apa potong gaji Nina saja ya?",kata Nina bingung bagaimana cara. mengganti uang Jimmy.


"Tak usah di pikirkan, anggap saja ini bonus buat kamu", kata Jimmy.


"Hheehh kak ma kasih", kata Nina merasa tak enak hati.


"Sudah yuk kita pulang", kata Jimmy.


"Aku bawa motor saja ya kak", kata Nina yang bingung dengan perkataan Jimmy.


"Iya iyalah masa motornya masuk dalam mobil, kamu naik motor dan aku ngiring dari belakang, ku antar kamu sampai rumah, takut nanti kamu ada apa-apa di jalan mengingat kaki kamu yang belum sembuh", jelas Jimmy.


"Hehee iya kak baiklah, terima kasih ya", kata Nina terkekeh.


Nina menaiki motornya dan menghidupkannya. Nina perlahan menjalankan motornya di ikuti mobil Jimmy dari belakang. Satu jam kemudian mereka sampai di rumahnya Nina.

__ADS_1


"Terima kasih ya kak, maaf lama di jalannya. Nina terlalu pelan bawa motornya", kata Nina setelah turun dari motornya.


"Ayo kak mampir dulu", ajak Nina pada Jimmy.


"Gak usah aku masih ada kerjaan, lain waktu saja ya", tolak Jimmy.


"Baiklah, sekali lagi ma kasih ya kak", kata Nina pada Jimmy.


"Iya sama-sama", Jimmy melambaikan tangannya, Nina membalasnya.


Nina memarkirkan motornya di teras. Nina masuk karena pintu sudah terbuka lebar. Nina memberi salam.


"Assalamualaikum",


"Waalaikum salam", jawab orang di ruang tamu.


Nina melihat adiknya Adel bersama seorang wanita.


"Mbak ada tamu mbak nih, dia udah lama nunggu mbak", kata Adel.


Nina mengeryitkan dahinya.


"Tamuku?siapa ya? sepertinya aku tak mengenalnya", batin Nina.


"Oh iya, tunggu ya aku ke kamar bentar", kata Nina. Tak lama Nina kembali muncul.


"klKarena mbak sudah ada, aku tinggal dulu ya", kata Adel.


"Udah lama ya nunggunya?", tanya Nina basa-basi.


"Lumayan juga sih. Maaf kalau kedatangan saya mengganggu kamu. Perkenalkan nama saya Resti isteri Ferdy", katanya.


Deg...


Jantung Nina seakan berhenti berdetak.


"Aku Nina, maaf ada apa Res?tahu dari mana kamu rumah ini?", tanya Nina penasaran.


"Tahu dari Ferdy, dia cerita semuanya tentang kamu", kata Resti menatap tajam ke arah Nina.


"Aku tahu karena mengikuti Ferdy sampai sini Nina", batin Resti.


"Trus apa hubungannya dengan aku?", kata Nina tak mengerti.


Resti mengeluarkan sebuah foto.


"Ini foto kamu kan?", tanya Resti ingin memastikan.


Nina mengambil foto tersebut. Nina terkejut karena itu memang fotonya. Terlihat di situ Nina menggunakan seragam sekolah dengan switter rajut krem kesayangannya. Foto yang sudah lama dan kelihatan sekali sudah buram.

__ADS_1


"Iya benar ini foto aku, dari mana kamu dapat foto ini?", tanya Nina penasaran.


"alAku nemu di dalam dompet Ferdy, aku mau tanya satu hal sama kamu", kata Resti mulai serius.


"Baiklah aku akan menjawab pertanyaanmu, silakan mau tanya apa", tantang Nina.


"Ada hubungan apa kamu sama Ferdy?", tanya Resti.


"Tak ada hubungan apa pun",jawab Nina seadanya.


"Gak mungkin ada asap kalau tidak ada api", ketus Resti.


"Resti, Ferdy itu sudah menjadi suami kamu, ku akui kami sempat ada hubungan di SMA dulu, tapi itu dulu sudah lama banget. Sampai akhirnya kami tamat dan Ferdy tak ada kabar. Dia menghilang begitu saja. Terakhir aku dengar Ferdy sudah menikah dan isterinya hamil. Semula aku terkejut tapi ya sudahlah, mau apa lagi, itu namanya gak jodoh iya kan?dan aku sudah melupakan Ferdy dan menganggap itu adalah masa laluku, lebih tidak", jelas Nina.


"Tapi sampai sekarang dia masih menyimpan foto itu di dalam dompetnya, aku sangat kesal apalagi dia selalu memujimu, katanya kamu itu baik, lembut, tidak suka kasar, cantik bla bla bla", kata Resti mulai dengan suara keras.


Nina mengubah tempat duduknya. Nina mendekat duduk di samping Resti. Nina menyobek fotonya yang dari tadi di pegangnya di saksikan oleh Resti. Lalu memegang tangan Resti.


"Resti, kita sama-sama wanita, aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang tapi perlu kamu tahu aku tidak ada hubungan lagi sama suami kamu, sekarang kami tak lebih dari teman. Jadi jangan ada pikiran macam-macam, kasihan kan dengan anak kamu di dalam, kalau kamu sedih dia juga sedih, tenang saja ku pastikan Ferdy tak akan bertemu denganku lagi, sekarang kita berteman ya?", pinta Nina.


" Yakin kamu tak ada hubungan apa pun dengan Ferdy lagi?", kata Resti menatap mata Nina.


"Iya percayalah, dia cuma masa laluku, apa sekarang kita berteman?", tanya Nina kembali.


Resti mengangguk dan memeluk Nina. Nina menepuk-nepuk punggung Resti biar Resti lebih tenang.


"Ternyata Ferdy benar, Nina tidak cuma cantik tapi juga baik hati dan penuh kelembutan", batin Resti.


"Ma kasih ya Nin, kamu sudah ngertiin aku, kalau begitu aku pulang dulu, maaf telah mengganggumu", kata Resti.


"Gak papa, malah aku senang akhirnya kita bisa berteman, Ferdynya aja yang gak becus", kata Nina sambil memegang bahu Resti.


"Baiklah aku pulang dulu, assalamualaikum", kata Resti.


"Waalaikum salam, main-main lah ke sini tapi kalau ke sini baiknya minggu aja ya biar kamu gak nunggu lagi", kata Nina pada Resti.


"Okelah",


Resti keluar dari rumah Nina. Nina mengantar Resti sampai depan. Nina masuk kembali setelah Resti menghilang dari pandangannya.


"Mbak"


serr...


----++++----


Bantu votenya ya, like dan komennya juga


Selamat membaca....

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2