
Pagi-pagi Ponsel Jimmy sudah berdering. Nina yang sudah bangun dari tadi melihat ponsel Jimmy.
"Penting amat pagi-pagi udah ada yang nelpon", gumam Nina.
Nina melihat kepada Jimmy. Jimmy sangat pulas tidurnya sampai-sampai ponselnya berbunyi dia tidak tahu. Nina mengangkat telepon tersebut.
"Sudah ku duga pasti kamu yang angkat, mana Jimmy?", kata suara dari seberang.
"Masih tidur, ada apa?", tanya Nina pelan.
"Ada apa tanyamu, dia itu bukan hanya suami elu tapi juga suami aku, paham", katanya lagi.
"Prili yang namanya berbagi itu gak enak, semua orang juga udah tahu kalau dia juga milik kamu, tapi tidak begini juga caranya. Pagi-pagi udah nelpon, apa ada urusan penting yang harus di tangani pagi-pagi begini?", tanya nina penasaran.
"Aku mau hari ini dia bersama ku, titik", Prili menutup teleponnya. Obrolan keduanya terhenti.
Mendengar ada suara orang di dekatnya, Jimmy terbangun dari tidurnya.
"Siapa yang nelpon?", tanya Jimmy pada Nina.
"Selir kamu", jawab Nina sambil meletakkan kembali ponsel Jimmy.
"Ada apa?", tanya Jimmy sambil kembali memeluk gulingnya.
"Pengen di belai", kata Nina pelan tapi ada nada marah di dalam kalimat tersebut.
Jimmy tidak mengomentari ucapan Nina, takut malah jadi ribut. Jimmy ingin suasana hati Nina kembali normal. Dia tahu kalau Nina masih emosi. Menjaga hati Nina itu lebih penting.
"Jam berapa sekarang?", tanya Jimmy agak malas.
"Jam enam", jawab Nina singkat.
"Kemarlah", ucap Jimmy pada Nina.
"Ada apa?bilang aja", jawab Nina yang duduk di depan meja riasnya.
"Kemari dulu baru ku bilangi", jawab Jimmy.
Dengan agak malas Nina menuju tempat tidur mendekati Jimmy.
"Mau bilang apa?", tanya Nina sambil duduk di pinggir tempat tidur.
Jimmy meraih tangan Nina. Di bawanya tangan Nina ke dadanya.
"Kamu tahu aku tak pernah berniat atau meminta untuk membagi cinta dan hidupku untuk wanita lain, tapi takdir berkata lain. Memang salahku terlalu percaya pada dia, sehingga takdirku harus juga bersamanya. Ku mohon, tak ada niatku untuk jauh darimu. Maafkan aku kalau ini harus terjadi. Pintaku padamu tetaplah berdiri di sampingku. Aku takkan bisa hidup tanpamu", ujar Jimmy panjang lebar.
Air mata lolos dari kelopak mata Nina. Ia tidak tahu harus ngomong apa. Yang jelas hatinya begitu perih. Isak tangisnya bertambah saat Jimmy merengkuhnya dalam pelukan.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi, aku tak kuat kalau lihatmu menangis terus menerus. Jadikan Prili teman agar hatimu tenang", ucap Jimmy lagi sambil mengelus punggung Nina.
"Aku mau buat sarapan dulu buat kamu", kata Nina mengalihkan pembicaraan.
"Kan ada mbak Yuni juga di dapur", kata Jimmy tetap memeluk Nina.
"Abang mandi dulu sana, udah siang nanti mau kerja", ujar Nina sambil menghapus sisa air matanya yang masih nempel di pipinya.
Jimmy duduk bersila, kedua tangan Nina di pegangnya.
"Pulang kerja aku nemui Prili dulu ya, malam aku tetap untuk kamu. Kasihan juga dia, dia kan lagi hamil, boleh ya?!", ujar Jimmy.
Nina tak bisa melarang, bagaimana pun Prili juga isterinya Jimmy.
"Itu hak kamu, aku tak punya hak melarangmu", ucap Nina tertunduk.
Jimmy mengangkat dagu Nina.
"Lihat mataku, kamu tahu aku tak pernah berbohong padamu. Percayalah aku dan hatiku tetap untuk kamu ", ucap Jimmy mantap.
"Kamu yakin?Prili punya keturunanmu sedangkan aku?aku tidak bisa mempertahankan anakmu anak kita", ucap Nina sedih.
"Hey... kita baru saja memulai, masih banyak waktu. Tenang aja, malam nanti kita akan buat lagi. Aku mau punya banyak anak dari kamu. Sabar ya", ujar Jimmy sambil mencubit gemas pipi Nina.
Nina tersenyum kecut.
"Abang mau mandi dulu ya ,sudah jangan sedih lagi", kata Jimmy sambil mengucek pucuk kepala Nina.
Tak lama Jimmy pun selesai dengan ritual mandinya. Jimmy tak melihat Nina. Jimmy segera mengenakan pakaian yang sudah di siapkan oleh Nina. Setelah selesai Jimmy keluar dari kamar dan menuju meja makan untuk sarapan.
"Ternyata kamu di sini, koq belum siap?", tanya Jimmy pada Nina.
"Emangnya mau kemana nyuruh aku siap-siap?", tanya Nina seraya menyiapkan sarapan buat Jimmy.
"Kamu kan harus perawatan sayang, servis buat aku", kata Jimmy genit.
"Gak perlu sepagi ini juga Bang, aku mesti ke toko dulu. Sudah beberapa hari ini belum di tengok", ucap Nina.
"Jadi maksudnya gak mau bareng nih?", celoteh Jimmy.
"Salonnya belum buka jam segini, kamu mau aku nunggu kayak patung di sana, bukannya gak mau bareng", ujar Nina.
"Iya udah, tapi jangan nggak. Biar tambah..", ucapan Jimmy cepat di potong Nina.
"Iya pasti. Tak usah di teruskan, aku sudah ngerti maksud abang", ucap Nina sambil menikmati sarapannya.
"Isteri cerdas", puji Jimmy.
__ADS_1
"Pujian itu hanya untuk aku kan?", kata Nina menyudutkan Jimmy.
"Sudah jangan mulai lagi, aku lagi makan. Jangan sampai selera makanku hilang", kata Jimmy sambil memasukkan.makanan ke dalam.mulutnya.
"Bukan mulai, tapi memastikan saja", jawab Nina sekenanya.
Jimmy tak menggubris ucapan Nina. Dia terus menyantap makanannya sampai habis. Nina juga tak lagi mengulang ucapannya. Sampai selesai makan tak ada lagi percakapan.
"Abang pergi dulu ya, hati-hati bawa mobilnya", ucap Jimmy.
"Iya tenang aja, aku belum mau mati koq", ujar Nina bercanda.
"Koq ngomongnya gitu?",tanya Jimmy tidak suka dengan ucapan Nina yang terdengar agak ketus tersebut.
"Serius amat sih Bang, orang cuma bercanda juga. Aku akan hati-hati, tenang aja", ucap Nina.
"Nah gitu kan enak dengarnya,", kata Jimmy.
Nina mencium punggung tangan suaminya. Tapi baru saja Jimmy mau melangkah tapi dia kembali memutar tubuhnya berhadapan dengan Nina.
"Ada yang lupa", ucap Jimmy.
"Apa?', tanya Nina bingung.
Belum sempat Nina mencari sesuatu yang di maksud Jimmy. Jimmy sudah bertindak cepat.
Cuupp...
Bibir Nina jadi sasaran kejahilan Jimmy. Nina bengong mendapat serangan mendadak seperti itu. Jimmy nyengir senang.
"Abang berangkat ya, jangan lupa nanti malam", kata Jimmy mengerling genit.
"Dasar!", gerutu Nina.
Jimmy tertawa renyah. Melihat Nina sudah bisa di ajak komunikasi sudah membuat hati Jimmy senang luar biasa. Nina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah Jimmy suaminya. Nina menggandeng tangan suaminya Jimmy. Nina mengantar Jimmy sampai depan. Jimmy masuk ke dalam mobilnya dan memberikan klakson pada Nina. Perlahan Jimmy melajukan mobilnya menuju jalan hitam yang panjang yang seperti tak ada ujungnya itu.. Nina baru masuk setelah mobil Jimmy tidak terlihat lagi di pandangannya.
.
.
.
SELAMAT MEMBACA YA READERSKU SAYANG....
Salam hangat selalu.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA READERSKU.
__ADS_1
Mampir juga ke karyaku lainnya ya:
Masih Ada Pelangi (tamat).