
"Pesan makan siang untuk para pegawai kita, hari ini kita makan bersama ", kata Jimmy pada Marsya.
"Baik pak", kata Marsya mengiyakan perintah bosnya.
Jimmy kembali ke ruangannya dengan senyum mengembang. Dia mengakui kemampuan Marsel dalam bertarung. Sangat bisa di andalkan.
Satu jam kemudian pesanan makan siang pun tiba. Marsya membagi-bagikan makanan tersebut pada semua pegawai di kantor tersebut.
Mereka menyantap makanan tersebut dengan sangat gembira.
"Sepertinya bos lagi menang tender ini",kata salah satu pegawai.
"Yang penting bersyukur. Itu artinya bos kita mau berbagi kegembiraan dengan kita", jawab salah satu pegawai lainnya.
"Udah makan aja. Inilah yang di namakan rejeki tidak terduga", jawab yang lainnya lagi.
Mereka semua manggut-manggut tanda setuju. Kebersamaan itu memang indah. Tak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan dengan apapun. Berkumpul, makan bersama dengan bersenda gurau merupakan nikmat yang tak terhingga. Jarang-jarang bisa berkumpul bersama walau kerja satu atap.
Jimmy sengaja belum makan karena menunggu sang pencetus kebahagiaan tersebut.
Marsel muncul dengan senyum mengembang menghiasi wajahnya. Jimmy yang sedari tadi memang menunggu kedatangan Marsel, langsung menyambut Marsel dengan pelukan.
"Hebat bro. Selamat!bangga dengan usahamu. Ayo kita makan dulu. Sengaja nunggu kamu, kita makan bareng", kata Jimmy seraya mengajak Marsel duduk di sofanya.
"Itu di luar pada rame kenapa?",tanya Marsel tak mengerti.
"Sebagai bentuk rasa syukur, aku traktir mereka semua makan siang", jawab Jimmy seraya membuka bungkusan makan siangnya.
"Oohhh kirain mereka demo", kata Marsel seraya menyambet bungkusan satunya untuk di garap.
"Sedikit berbagi, semoga berkah", kata Jimmy.
"Yuppss hidup itu indah bila berbagi", jawab Marsel.
Jimmy mengangguk tanda menyetujui pernyataan Marsel. Kedua sahabat tersebut mulai menyantap makan siang mereka. Sambil bercerita dan di selingi tawa mereka akhirnya menyelesaikan makan siang mereka.
"Kamu aku kasih dispensasi. Mulai besok kamu boleh libur untuk menyiapkan segala keperluan untuk acara married kamu. Dan kamu boleh pilih mau bulan madu kemana, dari tiket, tempat sampai kamu pulang kembali biar aku yang urus", kata Jimmy.
"Benar ni bro?", tanya Marsel.
"Iya masa' aku ngibul", jawab Jimmy.
"Terima kasih banyak bro. Aku sayang kamu", kata Marsel seraya mencium pipi Jimmy.
"Iissshh main nyosor aja nih anak. Ini aku bukan Sofi. Sabar, tinggal beberapa hari lagi", canda Jimmy seraya mengelap pipinya bekas di cium Marsel.
Marsel tertawa lepas. Jimmy ikut-ikutan tertawa.
****
Jam pulang kantor telah tiba. Jimmy menjemput Wina di kampusnya. Wina sudah menunggu kedatangan Jimmy kakaknya.
__ADS_1
"Lama amat sih kak. Orang nunggu dari tadi", gerutu Wina.
"Kata mama pulang kantor, lagian kenapa kamu gak nelpon agar kakak cepat jemput kamu", jawab Jimmy.
"Mama pasti nunggu kita", kata Wina lagi.
"Memangnya ada apa dengan mama?", tanya Jimmy penasaran.
"Ya ampun kakak, mama itu ulang tahun hari ini. Masa' kakak lupa sih", kata Wina.
"Oh iya ya. Sumpah kakak lupa. Terlalu banyak urusan akhir-akhir ini, jadi kakak lupa dengan ulang tahun mama. Kalau gitu kita cari kado dulu buat mama", ujar Jimmy seraya melajukan kendaraannya.
"Entar mama nunggu lagi kak", kata Wina.
"Bilang aja jalanan macet. Ribet amat", ujar Jimmy enteng.
"Iya udah cepatan ", kata Wina.
Jimmy menyusuri jalan hitam nan panjang tersebut. Dia melanjutkan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Menurut kamu mama pinginnya apa ya?", tanya Jimmy pada adiknya Wina.
"Bingung juga sih kak. Mama udah punya semua", jawab Wina.
"Kita beli kue aja dulu, setelah itu kita beli cincin atau gelang aja gimana?", tanya Jimmy minta persetujuan dari Wina.
"Boleh juga tuh", jawab Wina tanda setuju.
"Ini kak, cantik banget. Aku suka", ucap Wina.
"Kira-kira pas gak di tangan mama?", tanya Jimmy.
"Iya juga ya", kata Wina ragu.
"Coba kamu paskan di jari kamu", kata Jimmy.
Wina mencoba cincin tersebut di jari manisnya. Dan cincin tersebut pas bertengger di jari manis Wina.
"Cantik. Sangat cocok di jari kamu. Ambil aja buat kamu. Mama kita beliin gelang aja",kata Jimmy.
"Benaran ini kak?", kata Wina tak percaya.
"Iya benaran. Pilih gelang aja untuk mama", kata Jimmy.
Wina kembali memilih gelang untuk sang mama. Wina mengambil gelang dengan bentuk uliran bambu. Terlihat unik dan elegan.
"Ini unik kak. Mewah dan sangat elegan", kata Wina.
"Iya udah itu aja. Ini mbak", kata Jimmy menyerahkan cincin dan gelang kepada yang punya toko.
Wina melihat angka yang tertera pada kwitansi pembayaran tersebut. Harga yang fantastis.
__ADS_1
"Semoga rejeki kakak bertambah banyak lagi ya kak", batin Wina seraya memandang wajah kakaknya.
"Ini kamu aja yang pegang. Terima kasih mbak", kata Jimmy pada Wina dan pada yang punya toko.
Wina sangat bangga pada sang kakaknya. Kakaknya tidak sayang dengan hartanya untuk orang tua dan saudara-saudaranya.
"Kak, terima kasih ya", kata Wina setelah tiba di dalam mobil.
"Iya sama-sama", jawab Jimmy.
Jimmy kembali melajukan kendaraannya. Jalan sedikit ramai karena memang jam pulang kantor. Jalan sedikit merambat. Wina beberapa kali melihat arloji di tangannya.
"Tunggu ya ma, kami pasti datang", batin Wina.
"Wina pakai sabuknya", perintah Jimmy.
"Jangan bilang kakak mau ngebut", tebak Wina.
"Ngebut sih nggak tapi sedikit menambah kecepatan ", elak Jimmy.
"Apa bedanya", kata Wina protes.
"Udah pasang aja", kata Jimmy.
Walau tak setuju tapi Wina tetap menuruti perintah sang kakak.
Jalur sebelah kiri sedikit langgeng. Jimmy mengambil jalan tersebut biar lebih mudah untuk menambah kecepatan mobilnya. Jimmy menyalib mobil yang ada di depannya. Wina mengelus dadanya. Satu mobil, dua mobil, tiga mobil dengan santai di lewati oleh Jimmy.
"Kak aku belum nikah loh, aku mau berumur panjang", celetuk Wina di sela takutnya.
"Kakak juga belum mau mati, bini kakak dua, semuanya mau di kasih makan", jawab Jimmy enteng.
"Ya pelan dikit kenapa sih", ujar Wina sengit.
"Tenang kakak masih tahu adat di jalan. Gak apa-apa ", ucap Jimmy sambil nyengir kepada Wina.
Wina berpegangan erat pada gagang pintu dan jok kursi. Wina tak henti-hentinya istiqfar. Jimmy hanya tersenyum melihat Wina. Tak ada suara lagi. Wina terpaksa hanya bisa bungkam ketika beberapa kali Jimmy menyalib mobil yang ada di depan mereka.
.
.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku. Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya.
Mampir juga yuk ke karyaku yang lain:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).