Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Sikap romantis


__ADS_3

Mereka bicara sangat kecil sekali. Setengah berbisik. Kalau bisa cicak pun tak dapat mendengar cerita mereka.


"Bukan apa-apa sih, kamu tahu sendirikan aku di besarkan di keluarga biasa buka golongan mereka, aku takut nanti orang tuanya menolakku", kata Nina.


"Nina sayang cinta itu tak pandang harta dan rupa, kalau memang mereka sayang pada anak mereka pasti kamu akan di terima dengan baik di keluarga mereka", jelas Tika.


"Gitu ya, tapi ada baiknya tak ada yang tahu dulu", kata Nina.


"Ngomong-ngomong cariin aku cowok juga dong, jadi pengen punya pacar juga nih", kata Tika mesem-mesem.


"Maaf ya gak ada stok", kata Nina sambil tertawa.


"Gitu amat sama teman juga, ya udah yuk kita kembali ke ruangan nanti kamu di marah bigboss lagi", kata Tika.


"Iya udah deh yuk", kata Nina.


Setelah membayar makanan mereka, mereka berdua menuju ruangan masing-masing.


Nina kembali ke meja kerjanya. Dan kembali bekerja.


"Serius amat kerjanya", kata Jimmy pada Nina.


Dugg....


"Auuwww", jerit Nina.


Nina yang tak menyadari kedatangan Jimmy kaget bukan alang kepalang ketika Jimmy sudah berada di belakang kursi kerjanya. Lutut Nina terbentur di kaki meja. Nina hampir saja terjatuh dari kursinya. Jimmy cepat menangkap bahu Nina dengan kedua tangannya.


"Eem m maaf sayang, aku tak bermaksud membahayakan dirimu", kata Jimmy setelah Nina kembali duduk ke posisinya.


Nina mengatur nafasnya. Debaran jantungnya masih terasa cepat. Perasaan kagetnya belum hilang.


"Sayang kamu tidak apa-apa?",tanya Jimmy yang melihat Nina masih juga diam.


"Maaf ya", kata Jimmy yang telah berjongkok memegang gagang kursi mengapit tubuh Nina. Kini posisi keduanya berhadapan.


"Boleh aku sendirian dulu?",tanya Nina tanpa merespon ucapan Jimmy. Jimmy menghela nafasnya


"Baiklah", kata Jimmy seraya bangun dan meninggalkan Nina menuju ruangannya.


Nina menggebrak mejanya. Hatinya sangat kesal.


"Lama-lama aku bisa jantungan di sini", gumam Nina.


Nina berusaha untuk tenang. Dia tak menampik kalau dia menyukai sikap romantis Jimmy padanya. Tapi Jimmy juga keterlaluan bersikap romantis di dalam kantor. Nina takut jadi bahan gosip di kantor tersebut.

__ADS_1


Di dalam ruangannya Jimmy nampak gusar. Dia cemas takut Nina kenapa-kenapa. Jimmy nekat membuka sedikit pintu ruangannya dan mengintip Nina. Di lihatnya Nina menelungkupkan wajahnya di atas mejanya dengan beralaskan kedua tangannya. Ingin rasanya Jimmy mendekati Nina kembali. Memeluknya dan menenangkan hatinya. Tapi Jimmy bukan tipe orang yang suka ingkar janji. Dia tidak mau Nina nantinya marah lagi padanya. Jimmy hanya bisa melihat Nina dari kejauhan.


Nina kembali bekerja setelah tenang. Jimmy tersenyum. Jimmy kembali ke meja kerjanya. Sampai jam pulang kerja, Nina hanya diam. Dalam benaknya dia harus cepat menyelesaikan tugasnya dan pulang tepat waktu.


Jimmy keluar dari ruangannya dan menghampiri Nina.


"Nanti malam aku ke rumah ya, dandan yang cantik", kata Jimmy sambil semyum penuh arti.


"Mau k...", Nina baru saja mau bicara tapi Jimmy sudah melangkahkan kakinya meninggalkan Nina yang masih bengong.


"Di kiranya aku ini patung apa, bicara sendiri lalu pergi begitu saja", kata Nina sambil bersiap untuk pulang.


Nina meninggalkan ruangannya dan pulang.


*****


Malam harinya seperti permintaan Jimmy, Nina berdandan sesuai keinginan Jimmy. Awalnya Nina risih karena Nina tidak terlalu suka yang berlebihan. Biasanya Nina hanya menggunakan alat make up wajib paling juga bedak, alis, maskara sama lipstik. Itupun paling saat kerja dan bepergian.


Dengan memakai rok selutut dengan di padukan baju kekinian ala-ala korea membuat Nina mirip seperti artis korea yang lagi naik daun.


Nina keluar dari kamarnya. Di lihatnya sang ibu lagi asik menonton sinetron favoritnya. Nina menghampiri ibunya.


"Bu, Nina pergi dulu ya, kunci Nina bawa aja ya biar gak ganggu ibu tidur", kata Nina.


"Dandan ginian mau kemana?pakai rok selutut gitu apa gak dingin malam-malam pakai gituan?", tanya sang ibu melihat penampilan Nina.


"Lohh gitu, ya udah hati-hati ya, jangan terlalu malam pulangnya", kata sang ibu.


"Iya bu", kata Nina seraya mencium punggung tangan ibunya.


Nina pun pergi. Jimmy sudah menunggu di depan rumahnya. Jimmy membukakan pintu mobilnya untuk Nina. Nina masuk dan menutup kembali pintu mobilnya. Jimmy melajukan mobilnya meniti jalan hitam tersebut.


"Kita mau kemana nih?", tanya Nina setelah dalam perjalanan.


"Ke suatu tempat yang sangat indah", kata Jimmy tanpa mengalihkan pandangannya. Matanya fokus ke jalan raya.


Nina tak bertanya lagi. Setelah setengah jam perjalanan, Jimmy menghentikan mobilnya di sebuah restoran yang menjadi tempat favoritnya.


"Kita makan dulu di sini, ayo turun", ajak Jimmy.


Nina tak membantah. Dia mengikuti Jimmy. Jimmy mengulurkan tangannya pada Nina. Nina agak ragu. Jimmy tak mau menunggu, dia mendekati Nina dan menggandeng tangan Nina. Ada desiran hangat mengalir di tubuh Nina. Setiap Jimmy menyentuhnya tubuhnya seperti di aliri listrik. Jimmy menarik tangan Nina. Nina mengikuti langkah Jimmy. Dan mensejajarinya.


Jimmy mengajak Nina masuk dan duduk di salah satu meja yang kosong. Pramusaji datang dan memberikan sebuah buku menu andalan mereka. Jimmy memilih menu dan memesannya. Pramusaji pun berlalu. Nina memandang Jimmy. Jimmy pura-pura tak melihat.


Tak lama pramusaji pun datang dengan membawa makanan yang sudah di pesan Jimmy. Setelah semua telah tersaji, pramusaji mempersilahkan Jimmy dan Nina untuk menikmati hidangannya. Jimmy dan Nina pun segera mengeksekusi hidangan tersebut. Jimmy memberikan suapannya untuk Nina. Nina menerimanya. Jimmy tersenyum. Kedua insan yang lagi jatuh cinta ini terus menikmati makannya. Sesekali pandangan mereka bertemu dan saling melempar senyum. Dunia terasa indah.

__ADS_1


Setelah selesai, Jimmy mengajak Nina ke suatu tempat. Setelah sampai Jimmy menghentikan mobilnya.


"Udah sampai, mari", ajak Jimmy.


Mereka turun dari mobil. Jimmy tegak di depan mobilnya. Mereka tegak di atas tebing tinggi. Di mana seluruh isi kota terlihat sangat indah di malam hari.


"Lihat, indah bukan?", tanya Jimmy pada Nina.


"Iya indah sekali, cantik banget lampu-lampunya", kata Nina kagum.


Jimmy naik ke kap mobilnya. Dan duduk di situ. Jimmy mengulurkan tangannya pada Nina.


"Ayo naik, duduk di sini", kata Jimmy.


Nina menerima uluran tangan Jimmy. Nina pun duduk di samping Jimmy.


"Nanti mobil kamu rusak gimana?", tanya Nina.


"Gak apa-apa, tenang aja mobilnya kuat koq",kata Jimmy.


Nina memandang kagum di depan sana. Pemandangan yang sangat indah. Nina membetulkan posisi duduknya. Memakai rok membuatnya susah untuk bergerak duduk di atas seperti ini. Beberapa kali Nina membenahi roknya karena kakinya terasa dingin.


Jimmy memperhatikan gerak-gerik Nina.


"Kenapa, dingin ya?", tanya Jimmy.


Nina tak menjawab. Nina hanya nyengir. Jimmy turun dan merentangkan kedua tangannya pada Nina.


"Sini turun", kata Jimmy.


Nina memegang tangan Jimmy dan melompat turun. Jimmy yang ada di bawah Nina menyambut Nina dengan sigap.


"Tunggu di sini", Jimmy masuk ke dalam mobilnya dan mengambil tikar plastik kecil dan jaketnya yang selalu di bawanya di dalam mobilnya.


"Duduk sini", kata Jimmy setelah menggelar tikar di atas rumput hijau di depan mobilnya.


"Kalau tahu mau ke sini, aku gak akan pakai pakaian seperti ini",batin Nina.


.


.


.


Bantu like, komen dan votenya ya readers yang baik....

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku yang lain:


Masih Ada Pelangi(tamat).


__ADS_2