Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Muak


__ADS_3

Matahari sudah bertengger di ufuk barat. Nina pulang ke rumahnya. Ada rasa sedikit lega setelah bertemu sang ibu. Rasa sesak di dadanya yang tadi menghimpitnya, kini perlahan menghilang.


"Dia belum pulang juga", gumam Nina.


Nina menghela nafasnya dan menghembuskannya secara kasar. Masih terbayang dibenaknya, bagaimana Prili begitu mesra memperlakukan Jimmy. Jimmy juga sangat menyukai perlakuan Prili.


Nina mencoba untuk berlapang dada. Mencoba untuk ikhlas. Tapi terasa begitu sulit.


"Aku sudah bisa menerima kehadiran Prili, tapi kenapa hatiku begitu sakit melihat kemesraan mereka. Ya allah kuatkan aku", kata Nina. Tak terasa buliran bening lolos meluncur di pipi putihnya. Nina berusaha untuk tegar tapi tetap sangat sulit di lakukannya.


Terlintas di ingatan Nina waktu Adel lebih menyuruhnya berpisah dari pada bertahan dengan Jimmy.


"Apa aku harus berpisah dengannya?tapi aku sangat mencintainya", gumam Nina perang batin.


Nina kembali menghela nafasnya dan di hembuskannya secara kasar. Nina menuju kamar mandi. Ia merendam tubuhnya dalam bathtub. Ia ingin panas di hatinya segera mereda. Lama Nina berada di sana. Setelah merasa cukup, Nina keluar dari bathtub tersebut dan Nina menyelesaikan ritual mandinya.


Nina keluar dari kamar mandinya. Di lihatnya Jimmy sudah berbaring di tempat tidurnya. Hati Nina masih terasa jengkel. Dia pura-pura tidak melihat kehadiran Jimmy.


"Koq jam segini baru mandi, dari mana saja kamu?", tanya Jimmy pelan tapi kata-kata itu membuat Nina mengerutkan dahinya.


"Apa tadi Abang bilang?dari mana saja iya?kalimat itu lebih cocok di peruntukan buat Abang bukan buat aku. Tapi ku rasa Abang tak akan pergi ke lain tempat bukan?", Ledek Nina.


"Jangan memulai, aku capek",ucap Jimmy.


"Pasti capek banget ya, udah jalan berdua, di keloni pula", sindir Nina.


"Apa maksud kamu?", tanya Jimmy pura-pura tidak mengerti.


Nina tersenyum getir. Baru beberapa bulan menikah ia merasa sudah kehilangan Jimmy. Dia seperti tidak mengenal Jimmy yang sekarang.


"Abang sayang, aku sudah lihat kegiatan kamu hari ini. Gagal makan sama aku, eehh makan dengan yang lain. Enak ya banyak stok", sindir Nina pedas.

__ADS_1


"Jadi sekarang kamu sudah mulai berani ya?!sejak punya usaha sendiri jadi lebih bagus ngomongnya ", kata Jimmy berdalih.


"Tidak ada hubungannya dengan usaha bisnis yang sekarang aku lakoni Bang. Abang harus ngerti aku lagi sibuk, capek. Bilangnya gak suka, gak cinta tapi baru dengar suara mendayuh-dayuh aja udah bertekuk lutut. Abang kira aku senang dengan keadaan rumah tangga kita sekarang ini, semua harus berbagi. Mana janji Abang yang akan selalu ada buat aku?mana yang katanya hanya aku yang di cinta, mana?", teriak Nina.


Air matanya tak bisa di bendungnya lagi. Lolos dengan sempurna mengalir deras di pipi mulus Nina. Nina terduduk di kursi meja riasnya.


Jimmy tidak tahu harus ngomong apa. Ada rasa bersalah dalam dirinya. Tapi Jimmy yang gengsian tidak mau menunjukkan kalau dirinya salah.


"Aku tahu kamu capek, aku ngerti kamu juga sibuk tapi kenapa tidak bisa untuk beberapa saat meluangkan waktu untuk kita", ucap Jimmy.


Nina masih sesunggukan. Hatinya benar-benar hancur.


"Baiklah ku akui hari ini Prili memang bersamaku tapi tidak minta di keloni seperti yang kamu duga, aku selalu menjaga jarak dengan Prili", ujar Jimmy berusaha untuk bicara dengan jujur.


"Apa dengan berkata seperti itu aku bisa memaafkan kamu?kenapa kamu tidak bisa memahami perasaanku Bang?", ucap Nina.


Jimmy menghela nafasnya. Dia mencoba untuk tidak memperkeruh keadaan. Jimmy mendekati Nina di rangkulnya Nina dari belakang. Nina menepiskan tangan Jimmy yang melingkar di lehernya.


Jimmy tidak mau kalah. Dia menarik Nina ke dalam pelukannya. Nina memberontak. Jimmy mengkungkung erat tubuh Nina. Nina berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Nina putus asa.


Nina ingin cepat bangun dan melepaskan diri dari Jimmy. Tapi tenaga Nina kalah kuat dengan tenaga Jimmy. Dengan gampangnya Jimmy mengubah posisi. Kini giliran Jimmy yang menindih tubuh Nina.


"Makanya jangan berprasangka buruk sama laki, ini akibatnya", kata Jimmy seraya membungkam mulut Nina.


"Mmm...", suara Nina menahan serangan Jimmy.


Tangan Jimmy tak tinggal diam. Tangannya bergerilya mencari gundukan kenyal di dada Nina. Nina masih berusaha untuk melepaskan diri. Kaki Jimmy mengapit kaki Nina sehingga Nina susah bergerak. Jimmy semakin liar. Baju Nina di tarik paksa sehingga kancing-kancingnya berhamburan kemana-mana. Baju tersebut di lempar begitu saja oleh Jimmy. Jimmy melepas pengait bra Nina sehingga tampaklah gundukan putih bak salju menyeruak. Nina menutupi gundukan tersebut dengan kedua telapak tangannya.


Jimmy tersenyum menyeringai.


"Jangan harap aku akan melepaskan kamu sekarang", kata Jimmy seraya menyingkirkan tangan Nina dan dengan gesit Jimmy mengarahkan mulutnya menuju daging kenyal tersebut.

__ADS_1


"Hentikan Bang, aku muak lihat kamu", jerit Nina.


"Kamu bisa diam gak sih?entar mbak Yuni dengar lagi", ucap Jimmy menghentikan sejenak aktifitasnya.


"Biarin, biar dia tahu macam apa suami aku", kata Nina kesal.


"Baiklah berteriaklah sekuat tenagamu", kata Jimmy seraya tangan kirinya merayap di sela paha Nina.


"Lepas", kata Nina masih marah.


Jimmy yang sudah di bakar birahi. Dengan paksa dia menarik pakaian bagian bawah Nina. Paha Nina di paksa Jimmy untuk membuka. Mulut Nina kembali di bungkam Jimmy. Dengan cepat Jimmy memasukkan senjatanya ke dalam miliknya Nina. Nina kaget. Belum hilang kaget Nina, Jimmy sudah memompa di atas tubuh Nina. Dengan masih dalam kungkungan Jimmy, Nina harus rela Jimmy suaminya menikmati tubuhnya walau harus dengan paksa.


Nina bak patung bernyawa membiarkan Jimmy berpacu di atas tubuhnya. Nina memejamkan matanya. Dia tidak mau melihat wajah Jimmy yang sekarang tambah leluasa menjelajah setiap inchi tubuhnya.


Sampai pada akhirnya Jimmy tak kuat lagi menahan lahar panas yang akan menyembur keluar.


Aarrgghh..


Jimmy menekan senjatanya lebih dalam. Nina meneteskan air matanya. Dirinya merasa cuma sebagai pemuas nafsu suaminya. Hatinya terasa pilu. Dalam situasi seperti ini pun suaminya masih bisa menyalurkan hasratnya.


Jimmy terbaring lemas di samping Nina. Nina menuju kamar mandi. Nina kembali mengguyur tubuhnya dengan air. Ia seperti sangat jijik dengan bekas sentuhan Jimmy. Sedangkan Jimmy sudah tertidur dengan pulasnya.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku sayang...


Jangan lupa like, komen dan juga kasih votenya ya.

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2