Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Dayung bersambut


__ADS_3

Marsel menghidupkan mesin mobilnya. Dan perlahan melajukan mobilnya di jalan hitam tersebut.


"Emangnya kamu sering ke pantai?", tanya Marsel setelah lama berdiam.


"Nggak juga sih, itu pun rame-rame sama teman-teman aku", kata Sofi.


"Oohh kirain dengan pacar kamu", kata Marsel sedikit kesal


"Aku udah lama putus", kata Sofi.


"Loh kenapa?", tanya Marsel, pada hal di dalam hatinya dia sangat senang. Itu artinya ada peluang baginya untuk masuk ke dalam kehidupan Sofi.


"Gak apa-apa, gak jodoh aja", kata Sofi malas untuk membahas masalah pribadinya.


"Ohh gitu", kata Marsel tak mau memperpanjang cerita. Baginya Sofi sekarang harus bisa di taklukkannya. Jiwa playboynya bangkit kembali. Tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia ingin menjadikan Sofi pelabuhan terakhirnya.


Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka tiba di pantai. Cukup ramai karena itu merupakan hari libur. Banyak dari mereka yang membawa keluarga mereka untuk sekedar cuci mata di tempat tersebut.


Marsel mengajak Sofi untuk turun dari mobilnya.


"Ramai ya", kata Sofi berkomentar.


"Iya biasalah kan hari libur, atau kamu gak suka keramaian, kita cari tempat sepi", kata Marsel lagi-lagi menggoda Sofi.


"Iissh piktor mulu pikirannya", timpal Sofi.


"Maksudnya kalau kamu merasa gak nyaman kita pindah tempat, kita ke sini kan mau hiburan, kalau kamu merasa gak nyaman itu artinya bukan hiburan, iya kan?", kata Marsel.


"Iya sih, tapi aku suka koq, di sini indah sekali", kata Sofi seraya menuju bibir pantai.


"Jangan terlalu dekat nanti ada ombak kamu bisa basah loh", kata Marsel memperingatkan.


"Tenang aja aku bisa lari secepat kilat, jadi kalau ada ombak datang aku bisa lari", bantah Sofi.


"Terserah kamu deh, tapi gimana kalau kita duduk di sana aja, sepertinya seru banyak bebatuan", kata Marsel pada Sofi.


Sofi melihat ke arah yang di tunjuk Marsel.


"Tapi aku takut naik batunya, tinggi gitu", kata Sofi protes.


"Yang mau naik ke atas batu siapa?aku cuma ngajak kamu ke sana", jelas Marsel.


"Iya udah deh, yuukk", kata Sofi.


Marsel mengikuti langkah Sofi yang berjalan di depannya. Sofi melepas sepatunya diikuti oleh Marsel.


Sofi tertegun setelah sampai di dekat bebatuan tersebut.


"Ada apa?", tanya Marsel.


"Indah banget pemandangannya tahu gak sih?", kata Sofi.

__ADS_1


"Dari tadi juga udah tahu, makanya di ajak ke sini", kata Marsel sambil mencolek dagu Sofi gemas.


Sofi terkekeh. Sofi mengambil ponsel di tas kecilnya.


"Fotoin dong", kata Sofi memberikan ponselnya pada Marsel.


"Boleh", kata Marsel seraya mengambil alih ponsel yang ada di tangan Sofi.


Sofi sudah siap dengan gayanya. Marsel mengarahkan kameranya pada Sofi. Beberapa kali Marsel mengambil foto Sofi dengan berbagai gaya.


"Ini udah selesai", kata Marsel.


"Kamu gak mau foto?sini ponsel kamu nanti aku fotoin", kata Sofi.


Marsel mengambil ponselnya dan memberikannya pada Sofi. Dengan gaya maskulinnya Marsel di ambil fotonya oleh Sofi.


"Di tempat lain dong, jangan di sini terus pemandangannya", kata Sofi.


"Oke di situ, backgroundnya tanaman pantai, indah tuh", kata Marsel.


"Gimana kalau kita foto berdua?pasti lebih seru", kata Marsel lagi.


"Baiklah",kata Sofi tanpa penolakan.


Marsel berdiri di samping Sofi. Mereka berfoto selfi dengan berbagai macam gaya. Ketika untuk foto terakhir, Marsel ingin lebih berkesan. Di peluknya pinggang ramping Sofi, Sofi sempat kaget. Pandangan mereka bertemu. Aliran darah Sofi mengalir sangat cepat. Sentuhan tangan Marsel di pinggangnya membuat jantungnya seakan mau keluar.


"Lihat kamera, jangan lihat aku", kata Marsel tanpa menghiraukan apa yang di rasakan Sofi.


Sofi menurut saja kemauan Marsel.


"Senyum dong", kata Marsel membuyarkan lamunan Sofi.


Sofi tersenyum. Marsel mengambil foto mereka berdua. Sofi cepat melepaskan diri dari pelukan Marsel Setelah selesai berfoto.


"Kamu marah ya?maaf aku terlalu bersemangat, kamu juga yang mulai, tapi tenang aja aku gak macam-macam koq, cuma gitu doang", kata Marsel mengangkat kedua jarinya.pada Sofi.


"Kita duduk di sana yuk", kata Marsel pada Sofi untuk menghilangkan kekakuan.


Sofi mengangguk. Mereka menuju kursi panjang yanga ada di sana. Lama kedua terdiam. Sofi seperti kehilangan suaranya setelah apa yang tadi di lakukan Marsel padanya.


"Sofi kamu masih marah ya?maaf ya, jujur sejak bertemu kembali sama kamu, aku merasa ada yang beda dari kamu, aku menemukan sesuatu yang selama ini aku cari, aku merasa kamu adalah bayanganku, sifat kamu yang blak-blakan tidak neko-neko, itu seperti diriku, aku ....", Marsel tidak melanjutkan kalimatnya.


Marsel tanpa basa-basi berlutut di hadapan Sofi yang sedang tertunduk.


"Maaf ya", kata Marsel membuat hati seorang Sofi tersentuh.


"Apa yang kamu lakukan?ayo bangun, jangan seperti ini", kata Sofi bingung. Matanya melihat ke sana kemari. Tak enak kalau ada yang lihat.


Marsel malah mengambil kedua tangan Sofi.


Sofi merasakan tubuhnya panas dingin.

__ADS_1


"Beri maaf dulu", kata Marsel menggenggam erat tangan Sofi. Sofi tak ada pilihan. Sofi mengangguk.


"Bangunlah aku sudah maafin kamu", kata Sofi.


Marsel tersenyum. Tapi Marsel masih di posisinya semula.


"Sekarang dengar baik-baik ya, maukah kamu jadi pacarku?menjadi kekasihku?aku cinta kamu Sofi", kata Marsel menatap dalam mata Sofi.


Sofi seakan lidahnya keluh. Suaranya seakan menghilang.


"Jawablah", kata Marsel lagi sambil tetap menggenggam erat tangan Sofi.


Sofi memejamkan matanya. Sofi mengingat kembali kejadian hari ini. Dia begitu bahagia bersama lelaki ini. Dia merasa nyaman. Marsel membuatnya benar-benar tersanjung. Tapi apa ini tidak terlalu cepat, batin Sofi.


"Bagaimana, maukah kamu menerima cintaku?", tanya Marsel lagi.


Sofi membuka matanya. Sofi menatap ke dalam bola mata Marsel. Sofi tersenyum pada Marsel. Sofi mengangguk pelan tapi pasti.


"Ulangi lagi?", pinta Marsel.


Sofi mengangguk lagi tanda dia menerima Marsel menjadi kekasihnya. Marsel kegirangan. Marsel tak mengira kalau cintanya dayung bersambut Marsel mencium tangan Sofi beberapa kali. Sofi tersipu malu. Marsel bangun dari duduknya. Kembali dia mencium tangan Sofi.


"Terima kasih sayang, i love you", kata Marsel bahagia.


"Love you too", jawab Sofi.


Kedua insan yang lagi jatuh cinta itu berjalan bergandengan tangan menyusuri pinggiran pantai. Setelah merasa puas dan merasa lelah Sofi mengajak Marsel untuk kembali ke mobil.


"Capek, ke mobil yuk", kata Sofi.


"Baiklah", jawab Marsel.


Mereka menuju mobil tapi sebelum ke mobil, Marsel menyempatkan membeli es kelapa muda yang sudah di kemas dalam sebuah cangkir. Marsel juga membeli cemilan untuk mereka nikmati di dalam mobil nantinya.


Marsel memberikan satu cangkir es kelapa muda pada Sofi dan satu untuknya. Mereka menikmati es kelapa mudanya. Menikmati cemilan yang tadi di beli oleh Marsel.


Setelah selesai Marsel mengajak Sofi untuk pulang.


"Gimana masih mau jalan-jalannya atau pulang?", tanya Marsel.


"Pulang aja deh, dah capek", kata Sofi.


"Oke siap, perintah di laksanakan", kata Marsel membuat Sofi tertawa.


Marsel tersenyum melihat Sofi akhirnya bisa tertawa kembali. Marsel melajukan kendaraannya. Dan pulang.


.


.


Bantu like, komen dan votenya ya readers...

__ADS_1


Singgah juga di karyaku yang lainnya:


Masih ada pelangi(tamat).


__ADS_2